
Special thx to Friska Wijayantie, yang sudah ikutan promo di grup fb NTOS berkali-kali.
Maaf, baru nemu postingannya ... π₯°
Double up.
...
"Siapa tadi ...?"
Victoria tersentak.
Baru saja ia duduk dengan segelas air hangat dihadapan Leo, manakala pria itu telah lebih dulu membuka matanya.
"Luiz." ujar Victoria perlahan, tanpa berusaha menyembunyikannya. "Dia mengkhawatirkan dirimu ..." sambung Victoria lagi, sambil bergerak cepat membantu Leo, saat pria itu terlihat berusaha bangkit dari tempat tidur.
"Buka mulutmu." ujar Victoria.
Leo pun membuka mulutnya, membiarkan Victoria menjejalkan dua butir vitamin sekaligus keatas lidahnya, dan menelannya dengan bantuan segelas air hangat.
"Habiskan minumnya, karena kata dokter, hal itu baik untuk menurunkan demam di tubuhmu."
Tidak menjawab, tapi Leo telah menunjukkan kepatuhannya dengan menandaskan isi dari gelas tersebut.
Victoria menaruh kembali gelas tersebut keatas nakas, sementara Leo kembali membaringkan tubuhnya keatas ranjang, langsung memejamkan matanya, karena kepalanya yang masih terasa pening.
"Aku akan membuka bajumu, agar aku bisa mengkompres bagian tubuhmu yang lain." ujar Victoria lagi.
Tak ada sahutan, dan mata Leo terus terpejam.
Namun manakala kedua tangan Victoria bergerak untuk meloloskan kaos yang menempel ditubuh Leo, pria itu pun tidak berusaha melawannya.
Kemudian Victoria mulai melakukannya dalam diam, saat ia melakukan kompres secara telaten di beberapa bagian tubuh Leo sesuai dengan apa yang disarankan dokter John, yakni di dahi, di leher dan di kedua ketiak.
Selama lebih dari lima tahun, Victoria sudah begitu sering melihat tubuh pria yang adalah suaminya itu, namun entah kenapa tangannya tetap merasa tremor saat harus menyentuh, apalagi tersentuh secara tak sengaja di beberapa bagian tubuh yang begitu sempurna.
Begitu sering ...
Dalam diam Victoria membathin getir.
Leo memang tidak pernah pulang setiap hari secara rutin. Pria itu begitu sering menghilang dan lebih banyak hidup diluar apartemennya sendiri sejak mereka menikah, dan Victoria tinggal disana.
Tapi setiap kali Leo kembali, sangat jarang terjadi jika ia tidak memangsa Victoria dengan ganas.
Terkadang Victoria merasa dirinya tak lebih dari sebuah pelampiasan has rat oleh pria itu, namun pada kenyataannya memang seperti itulah arti dirinya dimata Leo sejak awal mereka bertemu, dan melakukannya untuk yang pertama kali.
Dimata Leo, seorang Victoria hanyalah sebatas partner di ranjang, tak pernah memiliki arti lebih. Pria itu tak pernah bersikap lembut padanya, baik dalam pembicaraan, apalagi disaat mereka sedang bercinta.
Pedih rasanya jika mengingat semua itu, namun selama ini Victoria terus bertahan.
Tanpa terasa berbagai lamunan yang sama memenuhi benak Victoria, sehingga saat tersadar Victoria telah melihat wajah Leo yang telah terdiam teduh.
Lambat laun nafas Leo pun terdengar berhembus teratur, namun Victoria tetap duduk disampingnya tanpa berpindah seinchi pun. Terus mengamati wajah tampan yang terlelap dihadapannya.
'Victoria, apa yang telah membuatmu bertahan sekian lama ...?"
__ADS_1
'Terluka, dan terluka, tanpa pernah usai ...'
'Aoakah semua itu karena cinta ...?'
Victoria meringis saat menyadari, betapa berisik bathinnya saat ini.
'Aku butuh bukti, bukan hanya kata-kata ...'
'Lepaskan aku, Vic. Karena selagi kau begitu egois, dan tidak bisa membiarkan aku bahagia tanpa dirimu ... maka seumur hidupku aku tidak akan percaya kalau perasaanmu padaku itu nyata!!'
Itu adalah kalimat Leo untuknya. Begitu kejam.
Kalimat seperti itu sudah terlalu sering terucap dari bibir Leo, dan selalu terucap tanpa henti.
Victoria bahkan tidak bisa lagi menghitung sudah sebanyak apa ia menerima kalimat serupa.
'Leo, benarkah semua yang kau katakan?'
'Kalau aku bisa membuktikannya dan benar-benar pergi darimu, apakah kau bisa mempercayai diriku?'
Memikirkan hal itu tanpa sadar telah membuat sepasang mata Victoria bertelaga.
Victoria telah menitikkan air mata tanpa suara, dihadapan Leo yang terlelap ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
Gerah.
Leo terbangun, karena merasa tubuhnya sangat kepanasan.
Leo justru merasa panas, karena kini tubuhnya telah dibanjiri keringat, sehingga ia merasa gerah dan sekujur tubuhnya terasa lengket.
Leo bangkit dan duduk diatas ranjangnya. Berusaha mengumpulkan nyawanya yang seolah masih terburai sedikit demi sedikit.
Belum juga kesadarannya pulih betul ia telah dikejutkan dengan sosok Victoria, yang tertidur dikursi yang berada tepat disampingnya.
"Kenapa dia bisa tidur dalam keadaan duduk seperti itu? Apa punggungnya tidak sakit tidur dengan posisi seperti itu ...?" Leo bergumam pelan sambil menyingkirkan dua buah sapu tangan yang masih berada di kedua ketiaknya satu persatu, menaruhnya kedalam baskom berisi air yang tergeletak di lantai, tepat disisi kursi yang diduduki Victoria.
Perlahan Leo telah mengangkat tubuh Victoria dengan berhati-hati, kemudian menaruhnya diatas ranjang.
Setelah itu ia bergegas kedalam kamar mandi, buru-buru membersihkan dirinya seolah dikejar waktu.
Tidak sampai sepuluh menit saat Leo keluar dari kamar mandi dengan balutan bathrobe. Terlihat segar khas orang baru mandi.
Leo telah berpakaian dengan rapi dalam waktu yang super singkat, tak lupa menyambar jaket hitam, ponsel, kaca mata hitam serta kunci mobilnya yang tergeletak ditempat yang sama, yakni diatas meja yang dilengkapi dengan sofa.
Sesaat yang lalu saat Leo telah mengaktifkan ponselnya, Leo telah menemukan beberapa chat milik Paul yang merupakan asisten pribadi sekaligus merangkap sebagai managernya.
Sejak semalam Paul telah mengingatkan Leo tentang jadwalnya untuk hari ini, dan pagi ini pria itu pun tak lupa mengirim beberapa message sebagai pengingat.
Jadwal Leo pada hari ini telah dimulai pada pagi hari, dimana Leo telah di undang oleh salah satu stasiun televisi terkemuka di negeri ini, sebagai bintang tamu dalam sebuah acara talk show dengan rating yang tinggi, dan itu artinya dia harus buru-buru berangkat saat ini juga.
Leo melirik sekilas wajah Victoria yang tertidur pulas seolah sangat kelelahan, dan ia pun mendekat hanya untuk menyentuh pipi Victoria sekilas.
"Kasihan, ia pasti kelelahan karena menungguiku dan mengurusi diriku semalaman." desis Leo, sambil beranjak dari dalam kamarnya.
Hatinya iba melihat Victoria, namun ia pun tak bisa berlama-lama.
__ADS_1
Tepat jam enam pagi ...
Manakala dengan kecepatan sedang mobil sport milik Leo meninggalkan pekarangan rumah megah milik keluarga Arshlan ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Victoria, dimana Leo?"
Lana bertanya saat menyadari, Victoria yang muncul sendirian di meja makan tanpa Leo, dengan menentang sebuah travel bag berukuran sedang.
Selain Lana, di meja makan tersebut sudah ada Arshlan, Luiz, juga Dasha yang telah berseragam lengkap, khas siswi sekolah menengah atas.
"Leo, telah pergi pagi-pagi sekali, Momm," ujar Victoria sesuai dengan kenyataannya.
"Ck ... ck ... ck ... anak itu benar-benar ..."
Lana mendengus kesal menyadari Leo yang telah pergi, tanpa sarapan terlebih dahulu, sementara Arshlan yang duduk didekat Lana terlihat tenang.
"Momm, Dadd, aku juga hendak pamit pagi ini." ucap Victoria lirih.
"Pamit? Kenapa terburu-buru?"
"Aku harus masuk kerja, Momm."
"Bekerja?" kali ini Arshlan telah bertanya terlebih dahulu sebelum Lana, yang sebenarnya hendak melontarkan kata yang sama.
Bukan hanya Arshlan dan Lana yang terkejut, mendengar pernyataan Victoria. Namun Luiz dan Dasha yang sedari tadi membisu sambil fokus dengan sarapan masing-masing pun ikut mengangkat wajah tanda terkesima, tanpa bisa tercegah.
"Iya, Dadd, aku sengaja bekerja untuk mengisi waktu luang."
"Memangnya kau bekerja dimana, Vic?" tanya Lana yang tak bisa mencegah tatapannya untuk menguliti penampilan Victoria dari bawah sampai keatas yang terlihat sangat santai, sama sekali tidak mencerminkan penampilan wanita yang bekerja kantoran pada umumnya.
"Aku menjadi dekorator bunga di Mega florist. Kebetulan owner dari florist tersebut adalah teman lamaku, Momm."
Lana sedikit terkesima mendengarnya, begitupun yang lainnya.
Menjadi dekorator bunga?
Victoria yang dulunya seorang wanita karir yang begitu hebat?
Sungguh semua itu sangat diluar ekspektasi semuanya, meskipun sudah jelas Victoria telah mengatakan, bahwa ia hanya mengisi waktu luang!
"Baiklah, kalau begitu sarapanlah lebih dulu," titah Lana lagi namun Victoria telah menggeleng perlahan.
"Tidak usah, Momm, karena aku nyaris terlambat." tolak Victoria
"Duduk dan sarapanlah, Vic, biar aku yang akan mengantarmu dan Dasha sekalian, agar kau tidak terlambat ..." ujar Luiz tiba-tiba lagi tanpa menoleh.
Semua yang ada di meja makan tersebut tak ada satu pun yang bersuara, pasca ucapan dingin Luiz.
"Luiz benar, Vic, duduklah dan sarapanlah dulu dengan tenang. Nanti biar Luiz yang akan mengantarmu ..." ucap Arshlan, seolah sengaja mengurai suasana yang terlihat kaku, membuat Victoria semakin tidak bisa menolaknya.
...
Bersambung ...
Jangan lupa supportnya yah π€
__ADS_1