TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 108. Mematahkan Sesuatu


__ADS_3

Follow my Ig. @khalidiakayum


...


"Tuan Leo, kau ini kenapa? Aku mau dibawa kemana?"


Beberapa menit yang lalu pintu kamar Dasha baru saja diketuk.


Saat membukanya Dasha tidak merasa curiga sama sekali. Bahkan awalnya Dasha justru mengira itu adalah maid yang hendak memberitahukan jika makan siang sudah siap, karena saat ini memang hampir mendekati jam makan siang.


Dasha sungguh tak menyangka ia malah menemukan wajah jutek Leo tepat dibingkai pintu kamarnya, yang kemudian langsung menangkap kedua pergelangan tangan milik Dasha tanpa ampun.


"Tidak usah banyak bertanya, karena kali ini aku benar-benar akan memberimu pelajaran. Kau tidak mungkin lolos!"


"Hah?! Memberiku pelajaran? Enak saja ... memangnya apa salahku ...?"


"Masih bertanya apa salahmu? Aha ... selama ini kau selalu memandang remeh diriku, kan? Kau tidak pernah takut kepadaku apalagi sekarang Victoria juga gemar membantumu dan mendukungmu. Kau memang harus bertemu dengan pawangmu yang sesungguhnya!"


"T-tunggu ... tunggu dulu ..." Dasha bersikeras melepaskan diri, apalagi saat menyadari Leo terus menyeretnya untuk memasuki ruang kerja Tuan Arshlan.


Dasha tahu persis bahwa selama ini ruangan itu hanya dikuasai oleh dua orang, yakni Tuan Arshlan dan Luiz.


Sekarang sudah jelas-jelas Tuan Arshlan tidak berada di villa ini, jadi sudah pasti 'pawang' yang dimaksud Leo pastilah ... Luiz!!


Semakin mendekati pintu, usaha Dasha yang ingin meloloskan diri semakin keras.


Sayangnya, tubuh atletis Leo sudah pasti bukanlah lawan yang seimbang bagi tubuh mungil milik Dasha.


Kemudian hanya dengan sebelah tangannya yang besar Leo telah memborgol kedua pergelangan kecil milik Dasha sekaligus, sementara sebelah tangannya yang lain membuka handle pintu dengan bergegas.


Brakk ...!


Pintu itu langsung terpentang lebar, sanggup mengagetkan Luiz yang sedang menekuri sesuatu diatas meja.


Alis Luiz sontak mengerinyit aneh mendapati pemandangan yang berada tepat didepan matanya, dimana Leo dan Dasha saling berjibaku dalam beradu kekuatan.


"Apa-apaan kalian?" tegurnya setelah keterkejutannya mereda.


"Luiz, aku sengaja menculik bocah ini untuk kuserahkan padamu." Leo menyeringai usil begitu ia berhasil menyeret tubuh mungil Dasha hingga sampai kehadapan Luiz.


Luiz memijat pelipisnya sejenak, sebelum akhirnya memutusan untuk mengesampingkan map file yang ditinggalkan daddy Arshan tadi pagi untuk ia pelajari.


Luiz sudah hafal luar kepala dengan situasi yang terjadi tepat didepan batang hidungnya.


Sudah terlalu sering Luiz melihat kekonyolan Leo dan Dasha yang seperti ini disepanjang hidupnya, mana mungkin Luiz merasa kaget lagi ...?


"Kalau ingin bermain-main, pergilah keluar. Kalian kan tahu sendiri bahwa ruangan ini bukanlah ruangan yang bisa kalian pakai untuk bermain." nada suara Luiz yang tegas dan datar terdengar menegur keduanya yang sontak terdiam.


"Dengar Luiz, aku justru tidak ingin bermain-main, melainkan aku ingin mengadukan pengkhianat kecil ini ..." Leo menuding Dasha yang dengan cepat menepis ujung jari telunjuk Leo yang menempel di pucuk hidungnya.


Masih tanpa kata, Luiz hanya menatap Leo dan Dasha yang berdiri dihadapannya sambil melotot satu sama lain.


"Aku telah mengetahuinya, bahwa Dasha telah menerima sogokan dua puluh empat batang cokelat dari El, dan hanya karena cokelat itulah sejak awal dia tak berhenti melambaikan tangannya dan bersorak terang-terangan, serta semakin berani menunjukkan keberpihakan dia untuk El ..." Leo telah mengadu dengan wajahnya yang kesal.


"Itu tidak benar!"


"Itu benar. Kau bahkan mengundang Victoria berpesta cokelat dikamarmu ...!"


"Iya, tapi cokelat itu adalah hadiah, bukan sogokan!"


"Alaaahh ... mengaku saja ..."


"Tidak. Karena itu bukan sogokan."


"Itu sogokan, Dasha!"


"Bukan!"


"Sudah aku bilang itu hadiah ...!"


"Hadiah ... hadiah ... lalu apa alasannya ia mau memberimu hadiah seperti itu jika bukan karena sogokan? Kau bahkan bukan gadisnya, apa sekarang kau sedang ge-er dan berpikir El sedang mendekatimu ...?"


"Berhenti ..." Luiz melerai kalimat Leo yang sepertinya tidak hanya membuat telinga Dasha gerah, melainkan telinganya juga.

__ADS_1


'Dua puluh empat batang cokelat ...?'


'Jadi El benar-benar memberikan cokelat sebanyak itu untuk Dasha ...?'


'What the hell ...'


'Sepertinya aku terlalu meremehkan pria itu ...'


Luiz membathin geram, dalam hati.


"Aku mencurigaimu!" tukas Leo lagi seolah tak peduli dengan kalimat Luiz yang tadi melerainya.


"Mencurigaiku? Tuan Leo, aku hanya mendukung Tuan El saja karena aku ingin, lalu apa salahnya? Siapa juga yang sedang ge-er ...?"


"Kalau kau masih tak mau mengakui bahwa dua puluh empat batang cokelat itu adalah sogokan, maka sudah kupastikan bahwa kau memang sedang ge-er ...!" ejek Leo lagi semakin sengit dalam menyudutkan Dasha agar mau mengakui maksud sebenarnya dari puluhan cokelat pemberian El dihadapan Luiz.


"Tuan Luiz, jangan dengarkan Tuan Leo. Semua itu tidak benar." Dasha mencoba membela diri dalam meyakinkan Luiz dengan tatapan penuh kesungguhan, namun yang ada Luiz justru memalingkan wajahnya.


"Jangan bohong!" tepis Leo semakin berani.


"Aku tidak berbohong ...!"


"Tidak salah lagi. Kau ... kau pasti menyukai ...!!"


"Leo, just stoped it ...!!"


Dasha dan Leo sama-sama tersentak mendengar kalimat keras itu. Keduanya kini membisu, tak berani lagi saling adu argumentasi saat menyadari wajah Luiz yang terlihat sedang menahan kekesalan yang sudah di ubun-ubun.


"Leo, kau sudah gila yah?" hardik Luiz tak tahan lagi.


Hanya mendengar tuduhan Leo yang tak berdasar tersebut, Luiz bahkan telah merasa lehernya seolah sedang menelan bara api, apalagi jika semua yang diucapkan Leo adalah kebenaran, bahwa Dasha benar-benar menyukai El ...?


Entahlah ... Luiz bahkan tidak bisa membayangkannya.


"Kenapa kalian berdua selalu seperti ini? Kalau tidak bercanda hingga kelewat batas ... maka kalian akan bertengkar tanpa mengenal lelah ..."


"Maaf Tuan Luiz, tapi semua itu karena Tuan Leo yang seenaknya menuduhku seperti itu ..." ujar Dasha dengan raut wajah yang dipenuhi kesedihan, karena mendapati kemarahan Luiz padanya.


"Kenapa kau malah menyinggung masalah umur?" protes Luiz lagi-lagi menepis kalimat Leo.


Jujur saja telinga Luiz merasa tak nyaman saat Leo kembali mengusik masalah perbedaan usia.


Luiz merasa malu, karena usianya dan El bahkan sepertinya tidak terlalu jauh berbeda, namun kenyataannya ia telah tergila-gila kepada seorang bocah seperti Dasha.


Ponsel Luiz yang tergeletak diatas meja bergetar lirih.


Dua alis Luiz bertaut saat membaca nama yang tertera di permukaan layar ponselnya itu.


'Victoria ...?'


Luiz bergumam dalam hati, detik berikutnya ia memilih menerima panggilan tersebut seraya mengangkat wajahnya menatap kearah Leo.


"Halo, Luiz, apakah Leo sedang bersamamu?" suara Victoria terdengar diseberang sana.


"Iya, ada apa?"


"Leo meninggalkan ponselnya di kamar. Tolong katakan padanya, bahwa managernya telah menelepon berkali-kali, sepertinya ada sesuatu yang penting ..."


"Baiklah akan aku sampaikan."


"Terimakasih, Luiz,"


Luiz menaruh kembali ponselnya keatas meja.


"Siapa?" tanya Leo penasaran, karena saat bicara di ponsel, Luiz terus menatapnya.


"Victoria."


Sepasang mata Leo membola. "Ada apa?"


"Katanya managermu terus menelepon, sepertinya penting ..."


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengecek ponselku dulu ..."

__ADS_1


Tanpa membuang waktu lebih lama, Leo pun melesat keluar.


Leo seolah lupa begitu saja dengan keberadaan Dasha, yang akhirnya hanya mematung dengan gestur tubuh super kikuk, begitu menyadari kini dirinya telah terjebak hanya berdua dengan Luiz, dalam keheningan yang panjang.


"Aku ... aku akan kembali ke kamarku saja ..." kilah Dasha salah tingkah.


"Kemarilah ..."


"Egh?"


Dasha mematung mendengar titah yang terucap dengan nada yang datar, lengkap dengan tatapan yang menghujam tajam bak mata pisau.


"Kau belum tuli kan?"


"Egh, anu ... aku ... aku ..."


"Kemarilah."


Lagi-lagi.


Dasha menggigit bibirnya kuat-kuat dengan hati yang bimbang.


Di sisi lain ia enggan saat membayangkan betapa sakit hatinya yang selama beberapa hari telah menjadi penonton kemesraan Luiz dan Florensia, di sisi lain ia juga merasa takut pada sorot mata yang bersinar tajam, di sisi lain juga Dasha tak bisa membohongi hatinya, yang dipenuhi dengan kerinduan.


Perlahan namun pasti langkah Dasha pun terayun lambat, mendekati pria yang duduk tenang dengan tatapan matanya yang seolah ingin menelan Dasha hidup-hidup.


"T-Tuan Luiz aku ..."


Bugh.


Hanya dalam sekejap, tubuh mungil Dasha telah jatuh diatas pangkuan Luiz.


"T-Tuan ..."


"Jangan lagi."


"A-appaa ..."


"Kalau kau berani bersorak dan memberikan perhatian untuk pria lain seperti yang kau lakukan saat kompetisi showjumping pagi tadi, maka aku akan mematahkan kedua tanganmu ini sekaligus. Kau mengerti?"


Bibir Dasha gemetar mendapati bisikan yang lebih mirip ancaman menakutkan, yang terucap tepat ditelinganya.


Saking dekatnya, Dasha bisa merasakan hangatnya nafas Luiz yang sebagian besar telah menyapu tengkuknya hingga meremang, namun semua itu nyatanya tak cukup ampuh meredam kekesalan yang terlanjur bertahta dihati Dasha.


"Aku hanya bersorak dari kejauhan untuk Tuan El, dan Tuan ingin mematahkan kedua tanganku. Lalu bagaimana denganku, Tuan ...?"


Luiz terhenyak mendengar ucapan lirih itu.


"Apa maksudmu?" tanya Luiz, tatapan mereka kini terkunci satu sama lain ... tak ada satu pun yang berniat mengalah dan berpaling.


"Tentang kebersamaan Tuan Luiz dengan Nona Florensia ... aku hanya ingin memastikan, apakah Tuan Luiz benar-benar ingin bersama Nona Florensia di masa depan? Apakah aku benar-benar tidak lagi punya harapan ...?"


"Tentu saja. Apakah kau pikir kau bisa menentang keputusan kedua orang tuaku?"


Dasha menggeleng lemah. Hatinya hancur berantakan mendengar kalimat Luiz yang terucap dengan mudahnya, namun ia menguatkan diri untuk tidak terlihat rapuh, apalagi menangis dihadapan Luiz.


"Kalau begitu aku pun tak peduli, Tuan. Seperti Tuan yang hendak mematahakan kedua tanganku ... aku juga harus mematahkan sesuatu agar semuanya sepadan ..."


"K-kau ...?!"


Luiz membeku saat jemari Dasha terangkat dan menyentuh dadanya yang sedang berdebar tak menentu.


"Tuan ... karena kau sangat kejam, maka aku pun ingin mematahkan sesuatu yang ada didalam sini ..."


"Dasha, kau ..."


"Hatimu. Aku akan mematahkan hatimu, Tuan Luiz ... aku bersumpah akan mematahkannya ..."


...


Bersambung ...


LIKE, Comment, Gift, and Vote yah 🥰

__ADS_1


__ADS_2