
Double up.
...
Sebutir aspirin telah berada ditelapak tangan Victoria namun ia urung meneguknya.
Entah darimana datangnya kesadaran aneh itu, namun Victoria memilih untuk mengambil tas tangannya terlebih dahulu guna meraih ponsel yang ada didalamnya.
Victoria merasa ia harus meyakini sesuatu, yang belum apa-apa sudah membuat jantungnya berdegup tak teratur.
Sebuah aplikasi pengingat di ponsel milik Victoria telah membuat jemari Victoria bergetar, sampai-sampai obat yang berada ditelapak tangannya meluncur jatuh kedalam tas.
"Kau sudah meminum obatnya?" suara berat Leo dari arah pintu kamar mandi menyapa telinga Victoria.
Saat Victoria menoleh, sosok Leo yang sedang bertelanjang dada terlihat sedang mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil.
Sepasang mata elangnya yang tajam terasa menusuk hingga kedalam aliran darah Victoria.
"S-sudah ..."
Memilih berbohong, sehingga jawabannya sedikit tergeragap.
Victoria menjatuhkan ponselnya kedalam tas, dan menaruhnya kembali keatas meja rias.
Berdiam disana berjenak-jenak lamanya hingga membuat alis Leo berkerut nyata mendapati pemandangan tersebut.
"Kalau sudah, sebaiknya kau berbaring saja." ucap Leo lagi sambil mendekat, menyentuh bahu Victoria yang serentak bangkit dari duduknya.
Tanpa membantah wanita itu sudah merebahkan tubuhnya keatas ranjang dengan punggung menghadap kearah Leo.
Semua gerak-geriknya masih dibawah pengawasan Leo yang menatapnya sedikit bingung.
Leo menaruh handuk kecil yang ada ditangannya keatas sandaran kursi bekas duduk Vioctoria, tanpa kata ia pun ikut menyusul wanita itu ke atas ranjang yang sama.
"Jangan memunggungiku." ujarnya seperti biasa, selalu saja kesal acap kali melihat punggung Victoria yang tidur membelakangi dirinya.
Lagi-lagi tanpa kata dan banyak protes, Victoria membalikan tubuhnya begitu saja kearah Leo, yang dengan gerakan sigap telah menarik keseluruhan tubuh Victoria agar bisa leluasa ia bawa kedalam pelukan.
Hening.
Dalam keremangan Victoria tidak bisa memejamkan kedua matanya. Wajahnya beradu dengan permukaan dada bidang milik Leo sementara dagu pria itu menempel didahinya.
Belum ada yang bicara, hanya terdengar hembusan nafas yang lirih bersahut-sahutan.
"Apa pusingnya belum hilang?" tanya Leo perlahan, sebelah tangannya yang bebas bergerak kedalam lebatnya rambut Victoria, berusaha memijat lembut kulit kepala yang menguarkan aroma shampoo yang segar.
"Sedikit." jawab Victoria lirih.
"Padahal malam ini aku ingin menghukummu, tapi melihat keadaanmu yang lemas begini, sepertinya aku harus menundanya ..." ucap pria itu, membuat Victoria kembali terdiam sejenak.
'Leo ingin menghukumku ...?'
'Kali ini apalagi kesalahanku ...?'
'Apa karena pertandingan volley pantai tadi sore ...?'
Bathin Victoria sibuk menerka dalam diam, tak menyangka jika Leo sengaja menyabotase dirinya seperti ini hanya karena ingin menghukumnya seperti yang selalu pria itu lakukan.
Yah, hukuman.
Hukuman ala Leo adalah hukuman yang panas dan mendebarkan, menyenangkan dan membuat candu.
Sesungguhnya hukuman seperti itu, Victoria pun menyukainya, kalau saja semuanya bisa dilakukan Leo dengan sedikit cinta, serta tidak pernah berakhir dengan tubuh Victoria yang remuk tak bersisa, sementara Leo tidak pernah sedikit pun merasa iba.
"Kali ini apalagi kesalahanku ...?"
Leo menyeringai mendengar pertanyaan lirih Victoria, setelah sebelumnya wanita itu hanya diam.
"Beraninya kau masih bertanya apa kesalahanmu?" Leo menarik wajahnya menjauhi dahi Victoria, sengaja mengambil jarak agar ia bisa leluasa menatap wajah wanita yang sejak tadi berada dalam pelukannya.
__ADS_1
"Apakah kau marah karena aku menjadi tim penyemangat Tuan El dan Tuan Dimitri?"
"Kalau kau sudah tahu aku akan marah karena keputusanmu itu, lalu kenapa kau ..."
"Aku tidak punya pilihan. Bos Luna memintaku untuk menjadi tim penyemangat lawanmu dan Luiz. Lalu aku bisa apa?"
"Bisa apa? Kau kan bisa menolaknya! Memangnya kau tidak punya mulut untuk menolaknya dan menentukan pilihanmu sendiri?!" Leo terlihat berucap dengan wajah yang super kesal.
Kekesalan Leo memang tidak tanggung-tanggung. Karena saking kesalnya rasanya ia ingin memukul wajah El yang terus berusaha mendekati Victoria dengan berbagai cara, namun anehnya masih bisa mencuri-curi pandang kearah wanita cantik lainnya yang datang bersama Luiz.
Dasar buaya darat!
"Kau pikir pria seperti El akan benar-benar menyukaimu? Ha-ah?!"
Victoria terhenyak mendengar pernyataan Leo. Ia sungguh tidak percaya bagaimana mungkin Leo bisa menyimpulkan hal seperti itu?
El menyukainya ...?
Tentu saja tidak mungkin ...!
El adalah pria yang disukai banyak wanita, mana punya waktu melirik wanita tanpa kelebihan seperti dirinya?
"Leo, kau tidak perlu berkeras hati untuk membuatku menyadari siapa diriku. Aku bahkan tidak sepercaya diri itu sehingga mengharapkan Tuan El menyukaiku."
"El memang tidak mungkin menyukai wanita jelek seperti dirimu!"
"Lalu kenapa kau begitu suka memeluk wanita jelek seperti diriku? Apakah seleramu memang serendah itu?" pungkas Victoria dengan nada suara yang datar, sedikit bergetar.
Victoria telah gagal menyembunyikan kekesalan hatinya saat harus menerima ejekan Leo untuk dirinya.
Pria itu ... tak pernah sekalipun menganggap Victoria istimewa. Leo begitu suka mengejeknya, dan sangat menikmati moment disaat hati Victoria terluka karena perkataannya ... terlebih tindakannya!
"Kata siapa aku suka memelukmu? Yang ada aku hanya suka menyiksamu."
Sepasang mata Victoria telah melotot tajam kearah Leo yang membalas tatapan itu dengan senyum mengejek.
"Dasar breng sek!"
"Uhh,"
Kepalan tangan Victoria melayang ke dada Leo tanpa tercegah, membuat Leo mengaduh kecil dibuatnya karena tak menyangka jika Victoria akan meninjunya.
"Victoria, kau ..."
"Rasakan!"
Victoria memeletkan lidahnya, kemudian secepat kilat ia membalikkan tubuhnya, menjauh dari rengkuhan Leo yang sejak tadi menguasai seluruh tubuhnya.
"Kau ... beraninya kau memunggungiku terang-terangan?!" Leo mendelik geram menghadapi ulah nekad Victoria.
"Urus saja dirimu sendiri ..."
"Apa kau bilang ...?!"
"Kau tuli yah?"
"Victoria kau ..." leher Leo semakin tercekat menerima sanggahan demi sanggahan yang terucap lancar. "Aku hitung sampai tiga, kalau kau tidak berbalik, maka kau akan tahu sendiri akibatnya ...!"
Victoria menulikan telinganya. Namun entah darimana datangnya sebuah rasa pahit telah memenuhi ulu hatinya, membuat Victoria merasa jika dadanya seolah ingin meledak, sementara suara Leo mulai terdengar menghitung mundur.
"Tiga ... dua ... sa ..."
Victoria bangkit begitu saja.
Awalnya Leo sempat tersenyum penuh kemenangan saat mengira Victoria hendak bangkit kearahnya, namun akhirnya berbalik tercengang karena yang ada Victoria justru berlari secepat kilat kearah kamar mandi, menghilang disana tanpa menutup pintu terlebih dahulu dan ...
"Hoeeekkkk ...!"
Leo tersentak bangun mendengar suara Victoria yang sedang mengeluarkan isi perutnya.
__ADS_1
"Victoria ...?!"
Langkah kakinya yang hendak terayun terhalang bunyi ponselnya yang berdering nyaring.
Leo ingin mengacuhkannya, namun manakala menyadari yang menelepon adalah Mommy Lana, Leo pun memutuskan untuk menerima panggilan tersebut sambil melanjutkan langkahnya mendekati pintu kamar mandi.
"Halo Momm ...?"
"Leo, untuk weekend besok apakah kau dan Victoria akan ..."
"Hoeeekkk ...!"
Kalimat Lana yang sedang bicara diseberang sana sontak terputus begitu mendengar suara aneh yang tertangkap telinganya.
Pada awalnya Lana hendak menanyakan perihal kesediaan Leo dan Victoria untuk kembali menghabiskan weekend bersama dirinya dan Arshlan, namun Lana telah lebih dulu tertegun mendengar suara seseorang yang sedang mencurahkan isi perutnya di belakang sana.
"Leo ... apakah itu ... Victoria ...?" tanya Lana hati-hati, sambil berharap-harap cemas.
"Iya, Momm. Victoria sedang tidak enak badan, tadi sore dia mengeluh pusing, sekarang dia malah mual ..."
"Mual?"
"Sepertinya penyakit asam lambungnya sedang kumat."
"Apa dia sudah makan?"
"Tadi aku telah memesankan sup ayam yang hangat untuknya, tapi ia hanya makan sedikit."
"Seharusnya kau memanggil dokter."
"Victoria terlalu keras kepala untuk hal itu, Momm," jawab Leo lesu. Ia sengaja berhenti sejenak dibingkai pintu, mengawasi Victoria yang masih tertunduk didepan wastafel.
Lana terdiam lagi.
"Leo, bawalah Victoria ke rumah ini." putus Lana kemudian, dengan penuh keyakinan.
"Disini sedang hujan deras, Momm," ucap Leo menunjukkan keberatannya untuk memaksakan diri datang malam ini juga.
"Baiklah, kalau begitu besok pagi."
"Akan aku usahakan, Momm,"
"Jagalah Victoria."
"Iya, Momm. Baiklah, dan maaf, karena aku harus menutup teleponnya dulu ..."
"Iya, sayang ... jagalah menantu Mommy dengan baik ..."
"Hoekkkk ..."
Suara Victoria terdengar lagi.
Leo pun buru-buru mematikan sambungan telepon tersebut dan mendekati Victoria, sementara nun jauh disana, Lana justru tercenung lama ditempatnya.
Didalam lubuk hati Lana telah mengharapkan sesuatu, namun ia tidak bisa menyimpulkannya dengan gegabah sebelum ia bisa membuktikannya.
Leo mengusap punggung Victoria berkali-kali, seolah ingin meredakan rasa tidak nyaman yang membuat perut Victoria seolah jungkir balik.
"Sudah?" tanya Leo saat melihat Victoria memutar keran, dan mulai membasuh mulut dan wajahnya.
"Hhmm."
"Berbaringlah, aku akan menelepon room service untuk membawakan teh hangat." ucap Leo lagi sambil menuntun Victoria keluar dari kamar mandi, kembali ke arah ranjang ...
...
Bersambung ...
Double up.
__ADS_1
Victoria disuguhi teh anget, author boleh dong kopi anget ... 😅