
Lana menuruni anak tangga satu persatu dengan wajah cemberut.
"Sudah cukup. Setiap saat dia selalu marah.. dan setiap kali dia marah dia selalu melempar barang pecah belah padaku. Aku tau dia marah.. tapi apa dia tidak tau bahwa tindakannya itu bisa membahayakan orang lain..? Huhh..!! aku tidak mengerti.. kenapa orang menjengkelkan seperti Nona Maura itu bisa memiliki wajah seperti peri..??"
Tepat dianak tangga terakhir Lana berhenti, sambil berkacak pinggang.
"Aku bersumpah.. meskipun aku kasian melihat dia lumpuh seperti itu, tapi aku tidak akan pernah membiarkan dia menginjak harga diriku lagi..!! terserah kalau dia mau melempar gelas, piring, vas bunga.. tapi jangan harap aku mau membereskan kekacauan akibat semua tindakan brutalnya. Aku tidak mau lagi..! huhh..!!"
Lana mengangkat wajahnya, berniat menuju dapur. Ia berencana ingin minum segelas air mineral terlebih dahulu, sebelum beranjak tidur.
Hari ini sama sekali tidak indah.. yang ada malah sangat melelahkan. Belum lagi saat Lana mengingat betapa marahnya Tuan Arshlan kepada dirinya.. mendadak hati Lana yang awalnya begitu marah, lambat laun melemah.
"Tuan.. apakah kau tidak tau? kau sangat jahat kepadaku. Tapi mau bagaimana lagi..? aku sangat menyukaimu.." ucap Lana sendu sambil melangkah perlahan kearah dapur. Seluruh ruangan telah berubah temaram karena sebagian besar lampu utamanya telah dipadamkan.
Namun, belum sempat mencapai dapur mendadak langkah Lana terhenti. Sepasang mata Lana sontak melotot bahkan nyaris keluar dari cangkangnya, keringat dinginnya mendadak mengucur deras, jantungnya pun ikut-ikutan berdebar keras.
"A-apa itu..?" desis Lana panik, rasanya ia ingin berlari mendapati pemandangan menyeramkan ditengah temaram, dimana sebuah bayangan yang terlihat naik turun, nampak semakin mendekat kearahnya, namun naasnya bukannya secepatnya melarikan diri, yang ada sepasang kaki Lana yang bergetar hebat dipenuhi ketakutan justru seolah terpatri kuat dilantai. Tubuh Lana bahkan semakin terasa kaku dalam sekejap.
Tuk..
Tukk..
Tukkkk..
Bunyi menyeramkan itu terdengar semakin dekat, Lana refleks menutup matanya dan nyaris meloloskan sebuah teriakan..
"S-ssee... seettt..."
'Bukkk..!!'
"Aduhh..!"
Batal berteriak 'setan', mulut Lana malah mengeluarkan kata 'aduh' terlebih dahulu, begitu merasakan bahunya dihantam sebuah benda tumpul.
"Kurang ajar. Kau mau meneriaki aku setan..?!" sebuah suara khas terdengar menyapa telinga Lana.
'Egh..?'
Lana mencoba mengintip dengan membuka matanya sedikit, karena sepertinya barusan ia mendengar sebuah suara yang sangat familiar milik Nyonya Alexandra.
"Nyonya Alexandra..?" Lana terpekik begitu menyadari Nyonya Alexandra benar-benar berada dihadapannya, sedang memperbaiki kembali letak kruk miliknya.
Ternyata yang dilihat Lana berupa bayangan hitam yang turun naik itu tak lain dari bayangan tubuh Nyonya Alexandra yang tengah berjalan pincang dengan bantuan kruk-nya, sedang melintasi ruangan ditengah temaram.
'Penyihir tua ini.. jadi dia telah menggunakan kruk miliknya untuk menghajarku..?'
__ADS_1
Bathin Lana kesal, sambil mengusap perlahan bahunya yang masih terasa sakit.
"Apa yang kau lihat..?!" tanya Nyonya Alexandra ketus.
"Aaaa.. tidak.. tidak ada, Nyonya. Aku hanya heran kenapa Nyonya belum tidur. Itu saja.."
"Bagaimana aku bisa tidur jika mendengar wanita gila diatas sana berteriak-teriak sejak tadi sambil membanting benda..!" gerutu Nyonya Alexandra. "Dan itu pasti ulahmu, kan?"
Tanpa sempat menghindar, tiba-tiba wanita tua itu telah mengangkat kruk nya kembali dan menghantamkannya cukup keras ke lengan kanan Lana.
"Aduh..! astaga Nyonya..! kenapa kau memukulku lagi..?!" protes Lana.
"Karena aku ingin. Lalu kau mau apa? mau melawanku..?!"
"Nyonya, kalau kau memukulku terus, lama-lama aku bisa mati!"
"Kau tidak akan mati hanya karena aku memukulmu. Tapi kau benar-benar akan mati jika kau terus membuat ulah.."
"Ish.. memangnya aku melakukan apa-apa..?" pungkas Lana dengan wajah tak berdosa.
"Ck ck ck.. sudah kuduga kau memang benar-benar belum mengenal Arshlan." Nyonya Alexandra terlihat menyeringai kearah Lana, separuh mengejek.
Mendengar itu Lana sedikit termanggu. Mendadak sebuah pemikiran melintas dibenaknya. Bahwa keberadaan Nyonya Alexandra yang telah mengenal Tuan Arshlan lebih dari dua puluh tahun lamanya pasti membuat wanita tua itu mengenal sifat Tuan Arshlan dengan baik.
Yah.. Lana selalu berpikir tentang Taun Arshlan nyaris setiap saat. Memikirkan sifat serta tingkah laku Tuan Arshlan yang begitu cepat berubah dan sulit sekali untuk ia pahami.
"Mmm.. Nyonya, apa malam ini kau memerlukan sesuatu..?" tanya Lana memulai aksinya guna mendekati Nyonya Alexandra.
"Aku haus. Ambilkan aku air.. dan bawakan kekamarku." titah Nyonya Alexandra masih dengan ekspresi wajah serta nada suara yang tidak bersahabat.
"Nyonya, malam ini dingin sekali. Bagaimana kalau aku membuatkan secangkir teh untukmu..?" tanya Lana dengan sikapnya yang semanis madu.
Nyonya Alexandra terlihat berpikir sejenak, menatap Lana dengan pandangan menaksir-naksir, sebelum akhirnya mengangguk.
"Baiklah, karena kau yang menawarkannya boleh saja. Bawakan aku secangkir teh hangat.."
XXXXX
Lana mengetuk pintu kamar Nyonya Alexandra beberapa kali, sebelum akhirnya mendorongnya perlahan.
"Permisi, Nyonya, ini teh hangatnya." ucap Lana tak lupa menyunggingkan senyum manisnya begitu melihat Nyonya Alexandra yang duduk berselonjor kaki diatas ranjang dengan sebuah buku ditangan.
"Hhhm.."
Nyonya Alexandra hanya mengintip sejenak gerak-gerik Lana sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali fokus dengan bacaannya.
__ADS_1
Lana menaruh nampan yang ada ditangannya keatas meja kecil yang berada tepat disisi tubuh Nyonya Alexandra.
"Nyonya.. silahkan diminum tehnya.."
"Taruh saja disitu."
"Nyonya.."
"Ada apa lagi..?!"
Lana mengeluarkan senjatanya, berupa sebuah botol minyak zaitun miliknya yang diambilnya dari kamar setelah selesai menyeduh teh untuk Nyonya Alexandra.
"Nyonya, pasti lelahkan.. mau aku pijat kakinya..?"
Nyonya Alexandra menatap Lana kesal. "Kau mau mengejekku yah?" tuduhnya.
"Egh..?"
"Sudah tau kakiku pincang, kau malah ingin memijatnya..!"
"Astaga Nyonya.. aku benar-benar berniat ingin memijat.. bukan mengejek.." ujar Lana membela diri. "Lagian meskipun pincang tapi kan kaki Nyonya dua-duanya masih bisa digerakkan dan tentu saja masih bisa merasakan sakit dan kelelahan. Iya kan..?" rayu Lana dengan mimik bersungguh-sungguh.
Mendengar pembelaan diri yang disertai wajah serius milik Lana membuat Nyonya Alexandra akhirnya terdiam.
'Bocah ini ada benarnya juga. Justru karena kakiku pincang makanya aku sering merasa kakiku menjadi dua kali lipat lebih lelah saat menopang tubuhku sendiri..'
"Bagaimana Nyonya..? sungguh aku benar-benar serius ingin memijat Nyonya.."
"Baiklah.. baiklah.. karena kau benar-benar suka sekali memaksa maka aku memberimu kesempatan!"
"Nah.. begitu kan lebih baik.." ujar Lana buru-buru menempatkan tubuhnya disisi ranjang, tepat disisi kedua kaki Nyonya Alexandra yang sedang berselonjor santai.
Tangannya dengan sigap membuka penutup botol minyak zaitun miliknya, dan mulai membalurkannya kepermukaan kaki kanan Nyonya Alexandra terlebih dahulu dengan hati-hati, sebelum akhirnya menempatkan kedua jemarinya disana.. mulai memijat dengan mahir.
Iya, mahir.
Karena demi mendapatkan uang jajan dan bisa mengisi pulsa di ponselnya, sewaktu menumpang hidup dengan Siska, nyaris setiap malam Lana selalu menawarkan tenaganya untuk memanjakan sahabatnya itu dengan memijat.
Tidak hanya kaki.. melainkan juga tangan dan punggung.
Sejenak Lana teringat akan Siska, namun secepat kilat Lana telah menepis kembali semua pemikiran itu, mencoba fokus pada tujuan awalnya yang bahkan saat ini telah membuatnya melangkah begitu jauh..
.
.
__ADS_1
.
Next.. jangan lupa supportnya pliiiss.. 🙏🙏🙏