
Leo sudah jatuh tertidur, namun Victoria tetap tak tenang.
Kondisi tubuh Leo yang masih hangat membuat Victoria tidak bisa tinggal diam, dan hanya menatap pria itu begitu saja.
Beberapa saat yang lalu Victoria telah menelepon dokter John, yang merupakan dokter pribadi dari keluarga Arshlan.
Dokter John, sebenarnya ikut menjadi salah satu tamu di pesta yang baru saja usai, dan masih dalam perjalanan pulang kerumahnya.
Namun saat mendapati telepon dari Victoria yang telah memberitahukan dirinya bahwa Leo sedang sakit, tanpa berpikir dua kali, dokter John langsung memutarbalik kemudi, untuk kembali menuju kediaman keluarga Arshlan yang megah.
"Aku akan sampai dalam waktu sepuluh menit." begitu janji dokter John di telepon kepada Victoria.
"Seharusnya tidak lama lagi dokter John akan tiba, sebaiknya aku akan menunggunya di bawah ..."
Perlahan Victoria memindahkan kepala Leo yang terlelap keatas bantal, sebelum akhirnya beringsut turun dari tempat tidur.
Sambil mengancingkan simpul dari bagian luar piyama tidur miliknya, Victoria pun berjalan kearah pintu, bermaksud menjemput dokter John yang akan datang untuk memeriksa keadaan Leo.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Bagaimana keadaannya, dokter?" wajah Victoria terlihat sangat cemas begitu dokter John selesai memeriksa.
Pria paruh baya itu kini terlihat sibuk mengulik tas yang berisikan peralatan dokter miliknya, yang juga terdapat beberapa jenis obat-obat didalam sana.
Dokter John menatap Victoria dengan seksama, sebelum berucap.
"Nyonya Vic, tidak perlu khawatir karena kelihatannya Tuan Leo hanya sedikit kelelahan. Dia membutuhkan istirahat dalam beberapa hari sampai kondisinya pulih, dan aku juga akan memberikannya vitamin sebagai penambah daya tahan tubuh."
"Tapi suhu tubuhnya hangat, dokter. Tadi Leo juga sempat mengeluh sakit kepala ..."
"Iya, Nyonya, Tuan Leo memang agak demam. Selain vitamin aku tetap akan memberikan obat pereda demam. Tapi mengingat Tuan Leo yang telah mengkonsumsi minuman beralkohol, dan alkohol itu sendiri bisa berada dalam peredaran darah hingga dua puluh empat jam lamanya, maka aku khawatir mengkonsumsi obat pereda demam dalam waktu dekat, dapat menimbulkan interaksi negatif didalam tubuh Tuan Leo."
"Jadi maksud dokter?" tanya Victoria lagi dengan wajah penuh kebingungan.
"Aku sarankan untuk tidak minum obat pereda demam tersebut minimal dua puluh empat jam kedepan." pungkas dokter John.
Mendengar itu wajah Victoria semakin terlihat kalut. "Lalu apa yang harus aku lakukan, dokter? Apakah ada cara lain untuk meredakan demamnya jika dia tidak minum obat? Aku ... aku tidak tega hanya melihatnya seperti ini tanpa melakukan apa-apa ..."
Saat mengatakan itu suara Victoria telah bergetar seolah menahan tangis.
"Nyonya Vic tidak perlu khawatir, karena suhu tubuh Tuan Leo yang hangat hanya dikarenakan kelelahan dan pengaruh alkohol juga." ujar dokter John mencoba menenangkan hati Victoria yang resah mendapati keadaan Leo.
Dimata Victoria selama ini, Leo itu ibarat sebuah robot. Selalu sehat, kuat, dan tidak pernah terlihat sakit atau lesu sedikitpun.
Wajar saja jika menghadapi kondisi Leo saat ini membuat Victoria panik. Jika saja ia punya keberanian untuk membangunkan seisi rumah, mungkin Victoria sudah berteriak sekuat tenaga.
"Begini saja, Nyonya Vic, untuk sementara Tuan Leo harus memperbanyak minum air mineral hangat dibantu kompres dengan handuk yang juga hangat, serta mengkonsumsi vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh." kalimat dokter John, telah mengurai segala pemikiran yang berkecamuk dalam benak Victoria begitu saja.
Kemudian setelah termenung beberapa detik akhirnya kepala Victoria terlihat mengangguk demi merespon perkataan dokter John.
"Baiklah, dokter. Aku akan mengingat semuanya ..." ujar Victoria lirih.
"Kalau begitu aku aku permisi dulu, Nyonya."
"Baik, dokter, mari aku mengantar dokter kebawah ..."
__ADS_1
"Vic ..."
Belum mencapai pintu, namun langkah Victoria dan dokter John telah terhenti takkala mendengar panggilan Leo yang menyeruak tiba-tiba.
"Jangan pergi ..."
Victoria mematung mendengar permintaan Leo tersebut.
"Aku hanya akan mengantarkan dokter John dan ..."
"Jangan pergi ... jangan tinggalkan aku ..."
Victoria semakin terdiam ditempatnya, namun masih belum menoleh.
"Nyonya Vic, tidak apa-apa, tidak perlu mengantar juga. Sebaiknya Nyonya menemani Tuan Leo disini, karena beliau pasti sangat membutuhkan kehadiran Nyonya ..."
πΈπΈπΈπΈπΈ
Tubuh Luiz yang lelah telah rebah sempurna keatas ranjang, namun seolah ada sesuatu yang terus mengganjal, yang membuatnya kembali memeriksa ponsel.
"Aneh ..."
Luiz bergumam dengan sedikit heran.
Biasanya di malam seperti ini, Luiz terlalu sering dibuat pusing dengan bunyi notifikasi chat yang tak kunjung selesai, yang datangnya dari Dasha, namun kali ini Luiz malah tidak menemukan satu pun nama Dasha yang masuk dalam kotak masuk pesan di ponselnya.
"Apa Dasha sebegitu sedihnya menerima teguran Daddy, sampai-sampai aku kena imbas kesedihannya juga?"
Luiz kembali merenung.
Akhirnya dengan terpaksa Luiz menaruh ponselnya kembali ketempat semula, yakni keatas nakas.
Untuk beberapa saat Luiz pun mencoba memejamkan matanya, namun selalu gagal.
Kantuknya seolah pergi entah kemana, membuat Luiz memutuskan bangkit dari tempat tidur.
"Sebaiknya aku mencari angin dan jalan-jalan sebentar diluar ..." desis Luiz yang langsung menyeret langkahnya menuju pintu kamarnya dan keluar dari sana.
Namun saat Luiz berada diluar kamar, ia malah melihat dokter John yang baru saja keluar dari pintu kamar Leo.
"Dokter John?" sapa Luiz dengan alis bertaut, langkahnya terayun mendekat.
"Oh, Tuan Luiz, selamat malam ..."
"Malam, dokter, ada apa ini? Apakah ada yang sakit?" tanya Luiz dengan mimik wajah yang langsung berubah khawatir.
"Tuan Leo ..."
"Leo sakit?" potong Luiz seolah tak sabar.
"Tidak serius, hanya efek dari kelelahan saja ..."
"Ohh ..." Luiz mengangkat alisnya. Separuh hatinya lega, namun separuh hatinya lagi masih merasa khawatir dengan kondisi saudara kembarnya.
"Baiklah, Tuan Luiz, aku permisi dulu." dokter John pamit sambil menundukkan kepalanya dengan takjim.
__ADS_1
"Baiklah dok, terima kasih." jawab Luiz.
Sepeninggal dokter John, Luiz mematung tepat didepan pintu kamar Leo.
Didalam hatinya ia merasa bimbang, antara ingin tahu keadaan Leo dan disisi lain merasa enggan.
Namun rasa khawatir yang menyelimuti dirinya membuatnya mengalahkan segala rasa ragu yang bergelayut, sampai akhirnya sebelah tangannya pun terangkat untuk mengetuk.
Tok ... tok ... tok ...
Luiz menunggu sejenak.
Tak berapa lama ia mendengar bunyi handle pintu yang diputar dari dalam, dan seraut wajah lesu milik Victoria muncul dihadapan Luiz begitu saja.
"Luiz ...?" terlihat sekali jika Victoria sangat terkejut dengan kehadiran Luiz di jam yang tak biasa.
"Egh, aku ... tadi aku melihat dokter John keluar dari kamar ini. Apakah Leo sedang sakit?" tanya Luiz sedikit tergeragap.
Victoria mengangguk perlahan. "Iya, tapi kata dokter, Leo hanya kelelahan."
"Apakah dia sudah minum obat?"
Victoria menggeleng, wajahnya terlihat diliputi kesedihan. "Belum bisa, kecuali vitamin ..."
"Kenapa?"
"Leo masih mabuk, tidak bisa minum obat dalam dua puluh empat jam kedepan, jadi aku hanya bisa membantunya dengan kompres."
Luiz termenung sejenak, sambil menelan ludahnya kelu. Ingin melihat langsung keadaan Leo, namun disisi lain dirinya pun segan karena hari sudah sangat larut.
"Luiz, kau jangan khawatir. Aku pasti akan merawat dan menjaga Leo dengan baik." ujar Victoria, seolah ia bisa memahami betapa besarnya kekhawatiran Luiz, pada saudara kembarnya.
Luiz mengangkat wajahnya. Sepasang mata mereka bertaut canggung, namun Victoria yang menunduk terlebih dahulu.
"Baiklah ..." putus Luiz pada akhirnya, sambil menghembuskan nafasnya berat.
Kemudian Luiz menatap Victoria yang tertunduk jengah dihadapannya dengan lekat.
Setelah menimbang beberapa saat akhirnya Luiz pun memutuskan untuk berucap perlahan.
"Victoria ..." suara Luiz terdengar begitu dalam.
"I-iya ..." wajah Victoria tertunduk dalam saat menjawabnya.
"Berjanjilah padaku, jika kau butuh sesuatu dan jika kau memerlukan bantuan ... hubungilah aku secepatnya tanpa sungkan."
Victoria kembali mengangkat wajahnya dengan ragu, namun saat sepasang mata mereka kembali bertatapan, kepalanya pun kembali mengangguk.
"Baiklah, Luiz. Kalau ada apa-apa aku berjanji akan menghubungimu ..."
Dan Luiz pun tetap termanggu ditempatnya, sampai pintu kamar tersebut tertutup perlahan ...
...
Bersambung ...
__ADS_1
Aq pengen banget bisa double up dan triple up lagi, tapi sekarang lagi sibuk banget π₯Ί maaf yah ... π€