
Mereka baru saja menikah, hanya dengan mendatangi balai milik pemerintah, dan tidak sampai setengah jam mereka telah kembali melangkah keluar dengan status yang baru.
Lana terlalu bahagia, sehingga ia tidak lagi memikirkan apapun. Dibenaknya hanya dipenuhi rasa cinta yang akhirnya berbalas, dia tidak pernah menaruh curiga sedikitpun meski semuanya berjalan begitu cepat.
"Tuan, apa kita akan kembali ke Black Swan?" tanya Lana begitu mereka menghirup udara luar.
"Untuk apa?"
"Aku belum berpamitan kepada Madam Lori.. terlebih Lin.."
Arshlan tersenyum tipis. "Kau lupa siapa kau sekarang? kau telah menjadi istriku, untuk apa kembali kesana dan menjadi pelayan.. dan bertemu dengan para pelayan..?"
Lana termanggu untuk beberapa saat, seolah baru menyadari bahwa ternyata saat ini dirinya benar-benar telah menjadi seorang cinderella dalan sekejap.
Yah.. cinderella, asalkan tidak dengan bagian dimana bunyi loncengnya akan berdentang tepat di jam dua belas malam, saat kenyataan akan mengembalikan semuanya ke awal.
"Mulai detik ini tugasmu hanya khusus melayaniku saja.." bisik Arshlan ditelinga Lana, sambil menyeringai dalam diam.
Dan Lana belum sempat menyela kalimat yang entah mengapa membuatnya merasa mengigil tanpa sebab itu, manakala Her terlihat mendekati Arshlan dengan langkah tergesa.
"Tuan.." nafas Her nyaris tercekat.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Arshlan yang sontak mengalihkan fokusnya kearah asistennya yang terlihat panik.
"Gawat Tuan.."
"Apa yang terjadi?" Arshlan mengerinyit, semakin keheranan.
"Aku baru mendapat laporan, bahwa pabrik yang ada di kota x telah terbakar.
"Apa kau bilang?!" Arshlan tersentak kaget.
"Iya Tuan, laporan terakhir menyebutkan bahwa sumber api berasal dari unit f, dan kalau tidak dapat segera ditangani, kemungkinan besar api akan merambat ke unit g yang merupakan unit terdekat.."
Arshlan terlihat memijat dahinya yang mendadak pening.
Pabrik di kota x adalah pabrik automotif kedua terbesar milik Arshlan yang berada diluar ibukota.
Dan yang membuat pikiran Arshlan semakin kacau, karena pabrik itu saat ini tengah berpacu dalam memproses produk terbaru dalam jumlah besar-besaran setelah mendapatkan, sebuah kontrak kerjasama eksklusive dengan dua perusahaan asing sekaligus, yang sedang memiliki proyak besar dalam pembuatan mobil dengan merk terbaru.
Pabrik dikota x itu bergerak dalam beberapa komponen produksi, dan telah sekian lama menjadi pemasok komponen blok mesin dan blok transmisi untuk beberapa produsen mobil asing maupun dalam negeri.
Diantaranya komponen tangki bahan bakar, dan yang paling utama adalah die cast aluminium, yang merupakan cetakan injeksi plastik, yang selama ini memproduksi komponen body atau badan mobil, juga panel-panel plastik untuk dashboard, lampu, hingga roda kemudi.
__ADS_1
Sederet mitra kerja sama yang merupakan pemain besar dalam pasar otomotif bahkan telah menjadi konsumen Arshlan dari tahun ke tahun, sehingga kemampuan dan reputasi perusahaan milik Arshlan yang bergerak dibidang automotif tersebut dinilai sudah tidak perlu diragukan.
Perusahaan Arshlan bahkan telah memasok sejumlah komponen body dan trim pilar untuk sebuah merk perusahaan mobil suv nomor satu didunia.
"Apakah ada korban jiwa..?" Arshlan kembali bertanya.
"Untuk sementara belum ada tuan. Hanya ada beberapa orang yang sempat terhirup asap karbon monoksida sehingga mengalami sesak nafas, tapi semuanya telah mendapatkan pertolongan pertama dari tim medis dan keadaan mereka mulai berangsur pulih, meskipun masih dalam perawatan dan masih menggunakan ventilator sebagai alat bantu untuk bernafas normal." Her melaporkannya dengan sangat detail.
"Syukurah.." gumam Arshlan. "Her.." panggilnya lagi.
"Iya Tuan?"
"Siapkan jet, dan kau akan ikut denganku kesana untuk meninjau langsung.." putus Arshlan pada akhirnya. "Pergi ambil mobilmu, karena kita akan menuju bandara sekarang juga.."
"Baik, Tuan.." Her pun mengangguk, tanpa membuang waktu lebih banyak Her bergegas menuju mobilnya yang masih berada diparkiran.
Begitu Her berlalu Arshlan menatap Lana yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan Arshlan dan Her tanpa menyela sedikitpun, meski didalam hati dirinya pun merasa sedikit terpukul dengan tragedi yang telah ia dengar barusan.
"Sopir akan mengantarmu kerumah. Tunggulah aku disana." ujar Arshlan sambil menyentuh lembut pipi Lana yang mengangguk patuh.
"Iya, Tuan. Pergilah untuk mengurus semuanya, aku pasti akan menunggumu.." Lana tersenyum sambil menaruh jemarinya diatas punggung tangan Arshlan yang masih mengusap pipinya, meremasnya lembut.
Melihat pemandangan yang manis itu Arshlan pun tersenyum. Ia mengambil tangan mungil itu, kemudian mencium punggung tangan mungil nan halus, yang terlihat begitu kontras dengan tangan kekarnya.
Saat mobil Her terparkir tepat disebelah mobil Arshlan, Arshlan pun langsung mengamit bahu gadis itu, membawanya menuju mobilnya yang terparkir.
"Pergilah.." ujar Arshlan sambil tersenyum, yang lagi-lagi dibalas Lana dengan anggukan patuh.
Detik berikutnya Lana telah memeluk pria itu dengan erat.
"Hati-hati Tuan.."
"Hhhmmm.."
"Cepatlah kembali.."
"Setelah aku memastikan semuanya baik-baik saja, maka secepatnya aku akan kembali.."
"Aku akan menunggu.." Lana mengangkat wajahnya. Celah bibirnya sedikit terbuka saat menatap Arshlan, yang membuat Arshlan tak bisa menahan diri untuk tidak melu mat bibir yang merekah itu dengan penuh gelora, meskipun hanya sesaat, tidak sampai berjenak-jenak lamanya seperti biasa.
"Pergilah, beristirahatlah yang banyak, dan persiapkan dirimu sebaik-baiknya, karena saat aku datang, aku pastikan akan membuatmu terjaga sepanjang malam.." bisik Arshlan sebelum benar-benar menutup pintu mobilnya, usai membuat seluruh permukaan wajah Lana merona merah.
Pria itu baru beranjak dari sana, begitu mobil yang membawa Lana hilang dibelokan, sebelum akhirnya kakinya melangkah masuk kedalam mobil Her yang kini telah berada tepat dihadapannya.
__ADS_1
XXXXX
Lana tidak bisa menahan keterkejutan nya begitu melihat pemandangan bangunan yang berdiri megah bak istana didalam dongeng.
Bahkan villa Black Swan yang berukuran besar itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan istana mewah yang ada dihadapan matanya saat ini.
Luar biasa.. jadi selama ini, Tuan Arshlan tinggal dirumah sebesar ini..?
Lana tak henti berdecak kagum.
"Silahkan turun, Nyonya.." seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu untuk Lana. "Mari ikutlah denganku.." ujar pria itu lagi seraya membungkuk hormat.
Lana melangkah ragu melewati teras yang megah dan sedikit bergidik saat menyadari ada begitu banyak pengawal dengan seragam yang sama disetiap sudutnya.
Semuanya berpenampilan rapi berbalut jas necis, dengan ear phone ditelinga.
Penampilan rapi para pengawal pribadi Tuan Arshlan, mengingatkan Lana pada adegan-adegan drama korea yang sering ditontonnya.
'Ini rumah atau penjara? dimana-mana ada saja pengawal..'
Lana membathin, namun kakinya terus melangkah mengikuti kemana pun sang pengawal membawanya meskipun sejak tadi matanya terus jelalatan kesana-kemari, menatap penuh kekaguman pada keseluruhan bagian rumah yang begitu megah namun dalam penataannya terkesan minimalis dengan warna-warna gelap yang dominan. Pilar-pilar rumah tersebut bahkan jauh lebih besar dari ukuran tubuh Lana.
"Silahkan Nyonya.." suara pengawal itu kembali terdengar, saat mempersilahkan Lana masuk kedalam sebuah bilik kecil, yang lagi-lagi membuat Lana terkesima.
'Ini gila.. rumah ini bahkan memiliki lift seperti yang ada di hotel besar dan pusat perbelanjaan..!'
'Oh astaga Lana.. kau sungguh pintar mencari suami..'
Lana tersenyum bangga saat menyadari hati kecilnya sedang memuji dirinya sendiri.
Tapi memang semua itu ada benarnya juga.
.
.
.
Bersambung..
Pantengin terus, karena akan ada double up..! 🤗
Follow my IG. @khalidiakayum
__ADS_1
Follow my FB. Lidia Rahmat
Support jangan lupa yah guys.. Thx and Lophyuu all.. 😘