TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 28. Ingin diakui


__ADS_3

Double up.


...


"Tuan Luiz ...?!"


Luiz langsung menengadah begitu mendapati keasyikannya yang sedang mengawasi keceriaan Dasha harus terburai oleh sapaan suara seorang wanita.


'"Astaga, ternyata benar. Aku nyaris meragukan pandanganku sendiri namun ternyata feeilngku tidak pernah salah, kau benar-benar Tuan Luiz."


Luiz tersenyum kecut saat menyadari siapa gerangan wanita cantik yang sedang menatapnya dengan tatapan mata yang berbinar-binar itu.


Wanita cantik itu ... dia adalah Melanie.


Sebenarnya Luiz hanya mengenalnya sambil lalu, sebagai salah satu dari sekian banyak wanita yang pernah berkencan dengannya.


Melanie adalah seorang manager pemasaran yang bekerja disalah satu perusahaan berkembang milik rekan bisnis Luiz.


Hanya butuh dua kali pertemuan saja, dan Luiz langsung berhasil membawa Melanie keatas ranjang, melakukan one night stand semalam penuh, sebelum keduanya kembali kedunia nyata.


Setelah semalam yang menggairahkan, dikesempatan berikutnya Melanie sempat gencar melakukan berbagai trik pendekatan, demi mendapatkan hati Luiz.


Namun Melanie menjadi berkali-kali lipat patah hati, saat menyadari dikemudian hari, Luiz dengan tanpa canggung telah menggandeng wanita lain, dan dikemudian hari, menggandeng wanita yang lain lagi.


"Hai, Mel ... bagaimana kabarmu?" Luiz tersenyum sedikit kikuk.


Luiz tidak menyangka jika kehadirannya ditempat umum seperti saat ini, ternyata masih begitu mudah dikenali seseorang, meskipun Luiz telah datang dengan menggunakan topi yang sengaja menutupi sebagian besar wajahnya, dari siapapun yang mengenal dirinya, namun pada kenyataannya Melanie bahkan bisa mengenalinya dengan begitu mudah pada malam ini.


"Kabarku baik, kau sendiri?" tanya Melani lagi masih dengan wajah yang dipenuhi senyum tanpa henti.


"Seperti yang kau lihat ..." Luiz menjawab diplomatis.


Detik berikutnya, pupil mata Luiz sedikit melebar manakala menyadari Melanie telah menghempaskan tubuhnya tepat disamping Luiz.


"Tuan Luiz, aku tidak percaya bisa bertemu denganmu ditempat seperti ini, dengan penampilan yang sangat jauh berbeda dengan yang aku kenal. Aku bahkan tadi sempat ragu saat harus menyapa."


Melanie telah berbicara panjang lebar, karena merasa begitu gembira bisa menemukan sosok pria yang sangat ia kagumi, ditempat yang tidak terduga, dan Luiz bahkan sendirian. Tidak bersama seorang wanita cantik seperti yang sudah-sudah.


"Kau sendiri, apa yang kau lakukan ditempat ini?" tanya Luiz lagi basa-basi, sementara ekor matanya telah menangkap jika diujung sana, Asisten Todd telah beranjak menjauhi Dasha dan kawan-kawannya, setelah menerima berjubel pesanan yang terlontar dari mulut ketiga remaja tersebut.


"Aku? Untuk apalagi aku datang ketempat ini kalau tidak untuk menonton?"


Luiz membisu, masih sibuk mencuri-curi pandang kearah sosok Dasha diam-diam, yang terlihat menoleh kesana-kemari seolah sedang mencari sesuatu.

__ADS_1


"Aku datang kesini bersama kedua temanku, tapi tadi mereka berpamitan ke toilet lebih dahulu dan belum juga kembali."


"Mm ... benarkah? baiklah, kalau begitu selamat bersenang-senang ..." ucap Luiz begitu saja, sambil bersiap untuk beranjak demi menghindari berbicara panjang lebar dengan Melanie.


"Tuan Luiz, bagaimana kalau sebaiknya kita pergi bersama saja?"


Tubuh kekar milik Luiz kembali terduduk karena pergelangan tangannya yang tiba-tiba telah tertahan oleh sebuah genggaman tangan yang halus, namun memegangnya dengan teguh.


Luiz terhenyak mendapati ajakan penuh makna, yang terucap to the point dari bibir yang berwarna nude, disertai ekspresi wajah merayu yang terlihat sangat menawan, dengan sapuan make up flawles yang pas.


Senyum Melanie ikut bermekaran dipenuhi jerat.


Mungkin dilain waktu Luiz tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas seperti saat ini, karena Melanie juga terbilang cukup cantik dan memiliki fisik menarik, ditunjang dengan karir yang bagus.


Ibaratnya Melanie merupakan wanita idaman pria masa kini. Paket super duper komplit!


"Tuan Luiz ..."


Melanie memindahkan tubuhnya dengan gerak gemulai, hingga merapat ketubuh Luiz yang masih saja bergerak gelisah, terlebih saat merasakan dua buah benda kenyal yang kini menggenjet lengannya yang kekar berotot terbalut hoodie slim fit.


"Kebetulan sekali jika Tuan Luiz sedang sendiri, dan aku pun sangat merindukan saat-saat, dimana kita bersama tempo hari ..." bisik Melanie begitu dekat ditelinga, hingga deru nafas wanita itu seolah menyapu lembut seluruh tengkuk yang terbuka, membuat bulu kuduk Luiz mau tak mau ikut meremang.


"Mel, jangan seperti ini ..." Luiz yang sempat terlena untuk sepersekian detik berusaha mengurai kedua lengan Melanie yang masih setia memeluk lengannya begitu rapat.


"Tuan Luiz ..."


"Benarkah ...?"


"Melanie ..."


"Siapa dia? Kekasihmu yang baru atau hanya seseorang yang kembali datang, dari sebuah malam panas yang begitu sulit untuk dilupakan, sehingga berharap bisa mengulangnya ...?" de sah nafas Melanie semakin terasa hangat menyapu seluruh permukaan kulit sensitif milik Luiz.


Mendapati perlakuan Melanie yang semakin intim membuat Luiz pun semakin gelagapan.


Luiz justru bertambah panik saat baru menyadari, jika sepasang matanya tidak lagi menangkap bayangan ketiga remaja labil, yang awalnya berdiri dibawah sebuah poster besar yang mengiklankan film berjudul Love Desire yang diperankan oleh Leo.


"Kemana mereka pergi?" tanpa sadar Luiz telah bergumam dengan wajah yang celingak-celinguk kesana kemari.


"Tuan Luiz, siapa yang sedang kau maksudkan?"


"Aku ... aku sedang mencari seseorang ..."


"Mencari siapa, Tuan ...?" kepala Melanie ikut celingak-celinguk kesana kemari, meskipun ia tidak tau siapa yang sedang dicari oleh Luiz.

__ADS_1


"Melanie, tolong lepaskan aku. Aku harus mencarinya ..." ujar Luiz datar, kali ini sambil menatap wajah Melanie dengan tatapan dingin.


Hilang sudah basa-basi ramah-tamah yang biasanya sering ditampakkan Luiz, berganti dengan wajah dingin dengan aura kepanikan yang nyata, disepasang matanya yang bergerak liar.


"T-tapi ..."


"Kau tuli yah? Apakah kau tidak mendengar bahwa Tuan Luiz menyuruhmu melepaskan kedua tangan nakalmu dari tubuhnya?"


Luiz tersentak mendengar kalimat yang terucap judes itu.


"Dasha ...? Hhh ... syukurlah ..." Luiz menatap gadis itu sambil menghembuskan nafasnya lega.


Melihat sosok Dasha telah membuat Luiz lega setengah mati, karena tadi dirinya bahkan sempat memikirkan hal-hal yang buruk tentang gadis itu.


Saking leganya, Luiz luput memperhatikan ekspresi wajah keruh Dasha yang telah menatapnya dengan wajah yang dipenuhi rasa kesal dan amarah yang membuncah.


Gadis mungil berumur enam belas tahun itu bahkan sedang berdiri berkacak pinggang dihadapan Luiz, tanpa merasa gentar sedikitpun.


Akhirnya, meskipun dengan sedikit ragu dan merasa tidak rela, mau tak mau Melanie melepaskan juga belitan kedua lengannya dilengan Luiz.


Wajah Melanie dipenuhi rasa keheranan saat ia menghujamkan tatapannya kearah Luiz dan Dasha berganti-ganti.


"Luiz, apa-apaan ini? siapa bocah ini ..?"


Luiz terlihat memijak tengkuknya sejenak sebelum kemudian mengangkat wajahnya, hendak berucap dengan tatapan yang lurus kearah Melanie.


"Melanie, dia adalah ..."


"Tuan Luiz, awas saja kalau kau mau memperkenalkan aku sebagai adikmu lagi, dihadapan wanita-wanita yang terang-terangan mengejarmu!" sengit Dasha seolah bisa menebak apa yang ingin diucapkan Luiz.


Seminggu yang lalu, Luiz dengan entengnya mengakui dirinya sebagai adik dihadapan wanita centil bernama Helena. Sekarang, Dasha telah mencegah pria itu untuk melakukan hal yang sama.


"Ha ... ha ... ha ... kelucuan apa ini? Memangnya kau ingin mendapat pengakuan seperti apa dari Tuan Luiz, adik kecil ...?" bisa-bisanya Melanie terbahak saat menyaksikan bocah kecil yang begitu beraninya berkacak pinggang dihadapan seorang Luiz, lengkap dengan bibirnya yang naik dua centi karena cemberut.


"Bukan urusanmu, nenek tua!" umpat Dasha yang bukan main dongkolnya karena merasa telah ditertawakan.


"Whattt ...?!" sepasang mata Melanie nyaris keluar dari cangkangnya, mendapati kalimat kasar tersebut.


"Dasha, siapa yang telah mengajarimu berucap kasar seperti itu?" ujar Luiz yang tak kalah terkejut.


"Jangan membelanya, Tuan. Masih untung aku hanya mengumpat, dan tidak meninju wajahnya yang menyebalkan itu ...!"


... NEXT

__ADS_1


__ADS_2