TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 101. Tiket Free


__ADS_3

Luiz melihat kemunculan El terlebih dahulu dengan wajah yang dipenuhi senyum aneh, sebelum akhirnya mendapati Florensia yang menguntit di belakang punggung pria itu dengan wajah yang malah cemberut.


"Ada apa dengan wajahmu?" bisik Luiz kearah Florensia yang kembali memilih mendekatinya yang sedang duduk dikursi berteman secawan wine, sedangkan El lebih memilih bergabung dengan Leo, Victoria dan Dasha yang berada di sisi yang lain.


"Tidak ada apa-apa." jawab Florensia dengan intonasi suara datar, sembari menghempaskan tubuhnya keatas kursi di sisi Luiz. Wajah Florensia jelas terlihat sedang kesal terlipat.


"Kenapa kau bisa muncul bersama El?" usut Luiz.


"Aku tidak tahu kalau dia yang mengantarkan travel bag ayah hingga kedalam bagasi mobil."


"Benarkah?"


Florensia mengangguk kecil.


"Kau ... tidak sedang berusaha membuka peluang untuknya, kan? Ingat baik-baik perjanjian kita Flo, karena kau yang telah merancangnya sejak awal ..."


Mendengar kalimat bernada curiga milik Luiz, serentak Florensia langsung melotot kesal.


Detik berikutnya gadis itu kembali menegakkan punggungnya, kemudian dengan nekad menuangkan wine ke cawan kosong yang ada diatas meja, meneguknya seperti orang kehausan.


Sementara Luiz hanya menatap tindak-tanduk wanita itu dengan acuh, tanpa berusaha mencegahnya sedikitpun.


"Luiz, tolong berhentilah mencurigaiku. Aku sudah cukup pusing dengan semua kenyataan yang aku hadapi malam ini. Kau sudah berhasil memanipulasi keadaan, dan aku berusaha menerimanya sebagai bagian dari kelalaianku yang terlalu meremehkanmu. So ... jangan coba-coba menambah beban pikiranku lagi ...!"


Luiz malah tertawa mendengar kemarahan Florensia kepadanya.


Wajar saja jika Florensia merasa geram, begitu ia menyadari bahwa saat ini Luiz telah memanfaatkan dirinya secara terang-terangan, untuk terus berada dalam permainan yang seharusnya menjadi pemainan Florensia, tapi kini malah berbalik mempermainkan dirinya!


Sungguh konyol!


Meskipun Florensia bahkan tidak mengetahui secara pasti apa tujuan Luiz serta apa yang sesungguhnya sedang direncanakan oleh pria itu, yang seolah sengaja memperalat kehadiran Florensia, guna menggiring Dasha untuk menjauh.


Sepanjang malam Luiz telah berhasil mengunci pergerakan Florensia untuk terus bersama dengannya, sambil menikmati pemandangan menyakitkan hati, bagaimana El dan Dasha yang mau tak mau menjadi dekat karena keadaan.


Apakah Luiz tidak merasakan hal yang sama panasnya dengan Florensia?


Mustahil ...!


Tadi saja Luiz bahkan berniat mematahkan batang hidung El, manakala dengan entengnya pria itu meminta Dasha untuk menyuapinya!


Beruntungnya Florensia masih bisa mencegahnya bertindak diluar kendali, karena kalau tidak, pastilah pesta ini pasti telah kacau balau sejak tadi.

__ADS_1


Florensia terlihat menuang kembali wine kedalam cawan miliknya hingga penuh, langsung meneguknya separuh dengan tatapan lurus kedepan.


Kearah El dan Dasha yang terlihat sedang bercanda dan tertawa riang bersama pasangan Leo dan Victoria.


Leo adalah pribadi yang hangat, sementara Dasha merupakan tipe gadis yang selalu ceria.


Leo dan Dasha, adalah partner yang tepat dari sumber keusilan dan kelucuan, setiap kali keduanya bertemu. Tak heran jika kebersamaan ke-empat orang didepan sana terlihat semakin akrab serta dipenuhi canda tawa, sementara disini ... Luiz dan Florensia hanya mampu menjadi penonton.


Jauh didalam lubuk hati Luiz, sebenarnya ia juga kasihan dengan posisi Florensia.


Luiz juga merasa dirinya sudah memperlakukan Florensia dengan tidak adil, namun mau bagaimana lagi, untuk kali ini Luiz memilih sedikit tega.


Florensia boleh saja marah kepadanya, tapi semua itu tidak akan bisa mematahkan keputusan Luiz guna meneruskan semua sandiwara yang justru di gagas oleh Florensia sendiri.


Luiz telah bertekad.


Bahwa dirinya tidak akan pernah mengalah, sebelum Dasha melangkah keluar dari pintu rumah keluarga Arshlan, guna menjemput masa depannya yang masih teramat panjang.


🌸🌸🌸🌸🌸


Karena hari mulai larut, maka Lana dan Arshlan pun memutuskan untuk tidak lagi kembali ke halaman samping, menyisakan para kaum muda menikmati malam itu dengan santai.


Leo bahkan mengajak serta para maid dan pengawal untuk sedikit bersantai bersama, merayakan kebahagiaannya yang tiada tara, menikmati malam dengan langit yang sangat cerah, sejenak melepas kepenatan dari semua pekerjaan dan tanggung jawab yang selama ini membelit.


"Kau benar Dasha, dan aku telah menyisihkan beberapa tiket khusus vvip, yang salah satunya adalah milikmu ..."


"Benarkah?!" Dasha terlonjak senang mendengarnya.


"Tentu saja. Kau kan penggemar setiaku. Mana mungkin aku melupakanmu ...?"


Dasha tidak bisa lagi menyembunyikan bagaimana senangnya ia mendengar semua perkataan Leo, karena sejak awal Dasha dan kawan-kawannya nyaris kehilangan harapan untuk mendapatkan tiket penayangan perdana dari Love Desire 2, dikarenakan keberadaan mereka yang telah berada didalam asrama lebih dari sebulan lamanya dalam rangka menghadapi ujian akhir nasional, sehingga mereka tidak diperkenankan memegang ponsel, yang pada akhirnya telah mengakibatkan mereka tidak dapat melakukan pemesanan tiket tersebut secara online, seperti yang biasa mereka lakukan.


"Leo, kalau kau punya beberapa tiket penayangan perdana dari filmmu sekaligus, kenapa kau tidak menawarkan kami semua? Masa iya kau hanya menawarkan Dasha seorang ...?" imbuh El kearah Leo yang sontak menatapnya serta merta.


"Boleh, hanya saja aku tidak yakin kalau kau ingin menontonnya ..."


"Tapi aku juga ingin mendapatkan tiket tersebut. Kau tidak menawarkan aku?" kali ini Victoria yang berucap, membuat Leo langsung menoleh kearah wanita itu dengan alis bertaut.


"Kau benar-benar ingin pergi menontonnya?" tanya Leo lembut, namun ada nada khawatir didalam suaranya, akan kondisi Victoria yang sedang dalam kondisi hamil pada trimester awal.


Victoria mengangguk sungguh-sungguh, sinar matanya bersinar penuh harap. "Kalau kau mengijinkannya, aku ingin datang kesana bersama Dasha."

__ADS_1


"Disana sangat ramai, Vic, kalau hanya kalian berdua yang datang, aku justru khawatir ..."


"Jangan lupakan aku. Aku juga akan berada disana untuk menjaga dua wanita cantik ini sekaligus. Kau tidak perlu merasa khawatir ..." pungkas El dengan wajahnya yang semringah tanpa dosa. "Tentu saja hanya jika kau mau mempercayaiku, dan tidak menaruh kecurigaanmu lagi setelah semua ini ..." imbuhnya lagi sambil senyam-senyum kearah Leo yang sedikit melotot mendengar kalimatnya yang tidak tahu malu.


"Tuan Leo, ide Tuan El boleh juga ..." bisik Dasha, yang langsung mendapatkan dukungan penuh dari Victoria, meskipun di detik berikutnya keduanya langsung mengkerut karena mendapati pelototan Leo.


"Kalian berdua diam saja. Aku yang akan memutuskan apakah dia layak aku berikan kepercayaan untuk mendampingi kalian atau tidak ..." pungkas Leo kearah Dasha dan Victoria yang kompak menaikkan bibirnya dua centi sebagai balasan atas kalimat Leo.


Leo tahu bahwa sepanjang malam El telah menunjukkan sifat yang menyenangkan, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Dasha dan Victoria untuk mengakrabkan diri dengan El.


El juga bukannya tidak tahu jika Leo masih belum bisa mempercayai dirinya seutuhnya, namun anehnya ia masih saja berani menggoda El dengan mengucapkan kalimat usil seperti itu.


"Leo, jadi kau masih mencurigai niat baikku ...?"


"Mencurigai niat baikmu? Heh ... untuk apa aku merasa seperti itu setelah saat ini kau berada ditengah-tengah keluarga Arshlan dan melihat semuanya ...?" pungkas Leo cepat, tak ingin terlihat sebagai pria posesive yang pencemburu.


Victoria bahkan harus mencubit kecil lengan Leo karena merasa tidak enak dengan El, yang justru tertawa kecil menerima kesewotan Leo, tidak terlihat jika kalimat sarkas milik Leo bisa mempengaruhinya sedikitpun.


"Baiklah, itu artinya kau setuju jika besok malam, aku akan menjadi pengawal yang keren untuk Dasha dan istrimu ..." ujar El dengan mimik kemenangan.


"Hhmm ..."


Dasha dan Victoria terlihat saling pandang, namun menahan diri untuk bersorak karena tak ingin Leo menarik kembali keputusannya.


Pada kenyataannya Leo sedikit tidak rela, namun akhirnya ia pun harus mengiyakan tawaran El.


Leo tidak sudi memperlihatkan warna perasaannya yang masih saja jeolous, disaat El bahkan dengan mudahnya menunjukkan rasa sportif yang tinggi, saat mengetahui semua kenyataan demi kenyataan yang ada didepan matanya.


El benar-benar menunjukkan sifat selaku pria sejati yang bisa menerima kenyataan dengan mudah, menghadapinya dengan berani, sekaligus membuka diri.


'Si alan, pria jelek bernama El ini, benar-benar sangat keren dan gentleman ...!'


Bathin Leo, sambil merutuk dalam hati, takkala ia harus memuji El dalam diam.


"Leo, apakah kau masih punya dua tiket free ...?"


Suara yang menyapa merdu, dengan tiba-tiba menyeruak begitu saja, membuat semua yang berada disana menoleh keasal suara tersebut, dimana Florensia terlihat berdiri dengan wajahnya yang berhiaskan senyum.


Sementara ditangan kanannya, terdapat segelas cawan yang penuh terisi wine ...


... NEXT

__ADS_1


Jangan lupa di LIKE dulu sebelum NEXT yah ... πŸ™


__ADS_2