
Usai menaikkan bibirnya sejenak tanda cemberut, Lana mulai merubah strategi demi membuat Arshlan mengalah padanya.
Ia mulai merayu, membelai, mengecup dimana-mana, namun gerakannya terhenti begitu Arshlan kembali berucap dengan nada dingin.
"Empat tahun yang lalu, sepasang suami istri gila uang itu sudah berjanji untuk tidak mengusikmu sebelum memikul dua koper berisi uang tunai sekaligus ...!" kecam Arshlan sengit, tak lupa melotot tajam kearah Lana yang masih berada diatas tubuhnya sambil tersenyum genit.
"Yang lalu biarlah berlalu, sayang, ayah bahkan sudah tiada ..." kilah Lana dengan jemari yang menyelusup diatas permukaan kulit Arshlan yang terasa hangat.
Lana memang benar, kira-kira tiga bulan yang lalu Robi telah meninggal dunia karena serangan jantung, yang membuat Mona menguasai seluruh uang dan beberapa aset milik Robi yang tertinggal, termasuk sebuah toko yang selama ini menjadi lahan utama mata pencaharian Robi.
"Cihh ..." Arshlan membuang wajahnya, mencoba mengalihkan perhatiannya dari gemuruh didadanya akibat sentuhan jari-jemari Lana yang semakin terang-terangan bergerilya.
"Sayang, kali ini Ibu hanya ingin meminta bantuanku untuk membujukmu, agar kau bersedia mengambil alih toko milik ayah yang dikuasai Mona. Kemudian, dia ingin kau membelinya ..." ujar Lana sambil menurunkan wajahnya sehingga hanya berada beberapa inchi saja dari atas wajah Arshlan.
"Membelinya? untuk apa aku membeli sebuah toko kecil?"
"Memang tidak berguna untukmu. Tapi setidaknya ibu tidak sedang meminta uang dengan cuma-cuma, melainkan menjual sesuatu."
"Menjual sesuatu yang bukan miliknya, melainkan milik mantan suaminya? Cihh ... bahkan Mona masih lebih berhak dari dirinya ..." Arshlan tertawa sinis.
"Tapi sayang ..."
"Kenapa? Kenapa harus meminta bantuan dari dirimu?"
"Tentu saja karena suamiku adalah Tuan Arshlan yang hebat. Suamiku bisa melakukan apa saja jika dia mau. Semua keinginannya selalu terpenuhi ..."
"Tidak semua keinginanku bisa terpenuhi ..." ucap Arshlan sambil lalu namun cukup membuat semua pergerakan Lana yang berusaha menggoda Arshlan terhenti begitu saja.
Lana tertegun berjenak-jenak lamanya sebelum akhirnya berujar lirih saat ia mengingat sesuatu. "Sayang, maafkan aku. Maaf karena aku selalu menjadi kelemahanmu. Aku tau ... bahwa kau tidak bisa mewujudkan keinginan terbesarmu, karena diriku. Karena itu adalah sesuatu yang tidak bisa lagi aku berikan.."
"Sssstt ..."
Mengambang.
__ADS_1
Kalimat Lana seolah tertelan kembali kedalam sanubari begitu Arshlan merengkuhnya dengan utuh. Sengaja membuat Lana bungkam.
Jika sudah seperti ini, Arshlan sungguh menyesali pembicaraan mereka di waktu yang lalu.
Saat itu usai bercinta Lana iseng bertanya apa keinginan terbesar Arshlan, dan dengan nada bercanda Arshlan telah menyebut kehadiran seorang gadis cilik.
Arshlan sungguh tak menyangka jika selorohannya yang bertujuan canda semata justru membuat Lana sedih dan telah menjadi buah pikir istri kecilnya itu hingga detik ini.
'Seorang gadis cilik?'
'Itu adalah hal yang mustahil ...'
Arshlan tersenyum kecut.
Karena pada kenyataannya, mereka berdua, dirinya dan Lana, memang telah kehilangan kesempatan itu untuk selama-lamanya ...
🍄🍄🍄🍄🍄
Semua berawal dari keegoisan dirinya yang membuat Lana harus ditimpa kemalangan berkali-kali.
Usai melahirkan si kembar Luiz dan Leo dalam keadaan yang sangat menegangkan, disaat yang sama rahim Lana harus diangkat setelahnya.
Yah ... itulah kenyataan yang tak bisa Arshlan perbaiki.
Semua karena dirinya, semua karena kesalahannya ...!
"Semua ini salahku."
"Lana, jangan bicara seperti itu lagi. Kau pasti tau bahwa sebenarnya bukan kau yang bersalah, melainkan aku. Aku satu-satunya yang bersalah atas semua hal buruk yang terjadi dimasa lalu." bujuk Arshlan seraya menyusut ujung telaga milik Lana yang tak berhenti tergenang.
"Dan kalau ada orang yang harus meminta maaf atas semua yang telah terjadi, maka akulah orangnya ..."
Lana terlihat menggeleng lemah. "Tidak, sayang jangan bicara seperti itu ..."
__ADS_1
"Lana, kau pun sama sekali bukan kelemahanku ... tapi sebaliknya, kau adalah kekuatanku. Hari ini aku sudah memiliki dirimu, Luiz dan Leo, dan itu sudah cukup. Aku tidak menginginkan hal yang lain lagi ... sungguh ..." kalimat panjang milik Arshlan terdengar bergetar.
Lana tidak menjawab, namun Arshlan bisa merasakan dada gadis itu yang turun naik saat berusaha keras mengendalikan dirinya.
"Suatu saat nanti kita juga bisa mempunyai anak gadis. Tidak hanya satu, melainkan dua sekaligus. Kelak ... saat Luiz dan Leo dewasa, dan mereka akan bertemu wanita yang mereka cintai lalu menikahinya ..."
"Sayang, aku pasti akan menjadi mommy yang posesif untuk Luiz dan Leo ..." kilah Lana sambil mengeratkan pelukannya yang melingkar ditubuh Arshlan.
Tak bisa dipungkiri, kalimat Arshlan terasa begitu sejuk, dan mampu membuat Lana terhibur, hanya dengan membayangkan si kembar beranjak dewasa, menikah, dan berharap mereka akan selalu hidup bahagia selamanya, bersama orang yang mereka cintai hingga akhir hayat.
"Katakan saja pada Marina bahwa kau akan memberikan uang seharga toko itu, tanpa perlu mengusik toko, apalagi dirimu ..." kalimat Arshlan selanjutnya telah membuat Lana menatap sepasang manik mata gelap milik Arshlan.
Lana tak menyangka jika secepat itu lagi-lagi Arshlan setuju membantu ibu, meskipun dengan catatan tegas bahwa itu adalah pertolongan untuk yang terakhir kalinya.
Tatapan Lana berbinar-binar saat Arshlan menyelami kedalamannya, membuat Arshlan tersenyum saat menyadari ia telah berhasil mengembalikan keceriaan Lana.
Arshlan pun menganggukkan kepala. "Dengan satu syarat ..." kilah Arshlan seraya menatap lekat sepasang manik mata Lana yang bergerak-gerak indah, menandakan jika wanita itu sedang merasa luar biasa bahagia.
"Baik, katakan sayang, katakan ..."
Kali ini Arshlan tertawa kecil, menyadari bahwa sifat Lana bahkan tidak pernah berubah.
Setiap kali Arshlan bisa mengikuti kemauannya ... maka wanita itu akan merasa senang berlebihan, ibarat bocah yang dihadiahi sekantung coklat.
Polos, dengan kemanjaannya yang alami, khas Lana.
...
"Rahim Lana telah diangkat. Lalu bocah dibawah ini ...?" 🤔
Jangan lupa support dulu babnya sebelum lanjut yah ... 🥰
__ADS_1