TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
MENCARI PETUNJUK


__ADS_3

Sesaat setelah Lana melepas kepergian Tuan Arshlan dirinya telah berniat untuk mengunjungi dapur, yang menjadi area yang bisa ia datangi.


Tapi begitu sampai disana, Lana seperti orang asing. Meskipun ada enam orang yang berada didalamnya dengan dua diantaranya pastilah seorang chef karena berpakaian serba putih dan mengenakan topi yang tinggi, namun tak ada satu pun dari mereka yang sudi menyapa Lana lebih dahulu, yang notabene merupakan nyonya rumah.


"Dimana letak kulkasnya?" tidak ingin membuat mentalnya down, dengan percaya diri Lana menyapa seorang maid yang terlihat sedang melap beberapa peralatan dapur dengan sebuah serbet.


"Itu, disana Nyonya.." tunjuk maid tersebut, sambil buru-buru menundukkan kepalanya.


Lana berjalan cuek kearah yang ditunjuk, dimana kulkas super besar telah menempel, nyaris memenuhi satu bagian dari dinding.


"Bagaimana cara membukanya?" Lana bertanya lagi kearah seorang maid yang berjalan sambil memegang baskom bening yang entah berisi apa.


Maid tersebut menaruh baskomnya keatas meja marmer besar yang berada ditengah dapur terlebih dahulu, sebelum mencontohkan bagaimana caranya membuka kulkas super modern tersebut.


"Begini Nyonya.."


"Ohh.." Lana menatap takjub begitu pintu kulkas terbentang, ia seolah merasa sedang berada disebuah supermarket dimana berbagai model bahan makanan tumpah ruah didalam sana. "Eitt, sebentar, aku ingin mengambil susu, bisa sekalian tunjukkan dimana letaknya?" Lana mengurungkan niat sang maid yang sepertinya hendak kembali beranjak dengan terburu-buru.


"Susu ada di rak yang ini, Nyonya.."


Lagi-lagi Lana terhenyak melihat sederet susu yang berjejer, mulai dari susu bubuk, susu kalengan, sampai susu fullcream instan yang langsung bisa diminum seperti incarannya.


Lana telah mengambil beberapa kotak sekaligus, berniat membawa kekamarnya yang sudah tak ubahnya sebuah kamar tahanan, sebelum sebuah pembicaraan singkat yang lirih menyapa gendang telinganya.


"Simpan semua kedalam freezer untuk hidangan nanti malam."


"Baik, Chef.."


"Tunggu sebentar.." ujar Lana membuat dua orang yang berbincang tersebut sontak menoleh kearahnya.


Mendengar pembicaraan singkat tentang makan malam itu, membuat Lana merasa penasaran untuk mencari petunjuk.


"Apakah yang sedang kalian bicarakan adalah makan malam sebentar dengan tamu istimewa Tuan Arshlan?"


Lana melirik sejenak potongan fillet ikan yang terlihat segar. Kemudian mencoba tersenyum ramah kepada dua orang yang mengangguk bersamaan dengan gerak yang sedikit kikuk.


"Wah.. apakah itu bluefin tuna?" ujar Lana dengan sepasang mata berbinar.


"Darimana Nyonya tau kalau ini bluefin tuna?" saat ini yang menjawab adalah pria yang mengenakan topi putih paling tinggi, yang sejak tadi diam-diam menyimak apa yang diucapkan Lana.


"Aku hanya menebaknya. Ternyata benar yah..?"


"Nyonya benar. Ini memang bluefin tuna.."


Dalam hati Lana terhenyak. Padahal Lana tadi hanya asal menebak, karena pernah membaca sebuah artikel bahwa bluefin tuna merupakan salah satu ikan termahal di pasar internasional, tidak menyangka jika selorohan asal-asalannya justru bisa menarik perhatian pria yang kalau Lana tidak salah menduganya pastilah merupakan chef kepala dirumah megah ini.


Seperti mendapatkan sebuah peluang, Lana telah mendapatkan celah untuk mengorek sedikit informasi dari rencana Tuan Arshlan untuknya.


"Aku harap tamu istimewa Tuan Arshlan akan menyukai semua sajiannya.." pungkas Lana kemudian.


"Apakah yang nyonya maksudkan adalah Nona Rosalin..?"


Mata Lana mengerjap. "Rosalin..? ahh.. iya.. Nona Rosalin.." ujar Lana dengan senyum dibuat-buat, yang akhirnya bisa membuat keenam pasang mata yang ada didapur itu tertarik menatap Lana dengan perhatian penuh.


'Wanita yang aneh..! suaminya hendak membawa wanita kedalam rumahnya, tapi dia masih bisa berdiri dan tersenyum dengan bodohnya.."


Seperti itu kira-kira maksud yang ditangkap Lana dari enam pasang mata yang masih menatapnya dengan lekat.


"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?" tanya Lana dengan mimik polos.

__ADS_1


Empat orang maid dan dua orang chef tersebut sontak menggeleng bersamaan sambil masing-masing mengalihkan pandangan.


"Apa kalian mengkhawatirkan aku..?" ujar Lana dengan berhati-hati sambil tersenyum, nada suaranya tidak berubah sedikit pun. "Aku senang kalau kalian memiliki perasaan empati, tapi kalian tidak perlu bertanya-tanya tentang diriku, cukup fokus bekerja, dan persiapkan makan malam sebentar dengan sebaik-baiknya.."


Tak ada yang menjawab, tapi Lana tau enam orang tersebut hanya sedang berpura-pura sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Baiklah, teruskan pekerjaan kalian. Meskipun aku ingin berlama-lama disini dan berbincang.. tapi aku juga tidak mau mengganggu kalian. Lagipula aku juga harus kembali kekamar sesegara mungkin.."


Lana telah beranjak keluar. Ia memilih menaiki tangga daripada menggunakan lift yang tadi membawanya turun.


"Nyonya.."


Sebuah suara menahan langkah Lana yang baru saja menapaki anak tangga kedua.


Lana berbalik. Seorang pria paruh baya, berkaca mata, dengan setelan jas berwarna abu-abu berdiri tak jauh dari anak tangga sambil menatap Lana.


"Perkenalkan, aku adalah Asisten Jo." ujar pria itu sambil menunduk takjim. "Nyonya, aku minta maaf karena kemarin telah lalai dan melupakan tugasku untuk melayani Nyonya.. sehingga.."


"Tidak apa-apa. Asisten Jo, jangan sungkan seperti itu. Lagipula aku memang sedang berencana untuk mengurangi porsi makanku.." ujar Lana sekenanya.


Lana tau saat ini Asisten Jo hanya sedang mengelabui Lana dengan mengaku bahwa yang terjadi kemarin adalah murni karena kelalaian dirinya.


"Aku akan memastikan, kedepannya hal itu tidak terjadi lagi, Nyonya."


Lana menggeleng. "Asisten Jo, tidak perlu repot. Aku sudah diijinkan untuk mengurus diriku sendiri. Ini buktinya.." ucap Lana sambil memperlihatkan beberapa kotak susu kemasan yang berada dalam pelukannya.


"Tapi Nyonya.."


"Begini saja.." pungkas Lana. "Kalau ada yang aku butuhkan, anda adalah orang pertama yang akan aku hubungi."


Asisten Jo terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah Nyonya."


"Asisten Jo," panggil Lana.


"Iya Nyonya..?"


"Aku ingin meminta bantuanmu untuk yang pertama kali."


"Katakan saja Nyonya,"


Lana turun kembali. Ia menghentikan langkahnya kira-kira satu meter tepat dihadapan Asisten Jo, yang sejak tadi belum beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri.


"Tolong gambarkan seperti apa sosok Nona Rosalin yang akan datang nanti malam sebagai tamu istimewa Tuan Arshlan.."


"Ha-ah?" Asisten Jo terhenyak mendapati pertanyaan Lana yang tidak bisa ia prediksi sejak awal.


"T-tapi Nyonya.."


"Apakah dia seorang publik figur..?"


Asisten Jo menelan ludahnya sebelum akhirnya menjawab ragu. "Dia.. adalah seorang model.."


"Seperti apa kesehariannya dan penampilannya..?"


Asisten Jo terdiam lagi mendengar pertanyaan Lana yang semakin menuntut.


"Kalau kau tidak bisa menggambarkannya seperti apa, berikan aku referensi dari beberapa foto yang menggambarkan keseharian Nona Rosalin. Kau pasti tau aku tidak diperkenankan untuk memegang ponsel. Tapi kau pasti punya kan..?" pungkas Lana lagi.


"Tapi Nyonya.."

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya penasaran saja. Oh iya, aku juga membutuhkan pakaian yang layak untuk nanti malam.. bisa tidak aku memesan pakaian secara online?"


"Nyonya, sebaiknya aku harus menghubungi Tuan Arshlan terlebih dahulu untuk meminta ijin."


"Baiklah, aku akan menunggu disini."


Asisten Jo nampak mengambil jarak sambil mengeluarkan ponselnya, untuk menghubungi Tuan Arshlan.


XXXXX


Saat ponselnya berdering, Arshlan masih berada didalam mobil yang hendak membawanya ke kantor pusat.


'Asisten Jo?'


Alis Arshlan bertaut saat membaca nama yang tertera jelas di layar ponselnya. Tanpa berpikir panjang Arshlan langsung menerima panggilan tersebut.


"Iya, ada apa Asisten Jo?"


"Tuan, Nyonya Lana ingin mengetahui sosok Nona Rosalin lewat ponselku. Apakah aku bisa menunjukkannya?"


"Apa? ingin tau tentang Rosalin? tapi untuk apa?" tanya Arshlan dengan alis bertaut. Apalagi saat menyadari Lana telah mengetahui perihal Rosalin yang hendak menjadi tamu istimewanya nanti malam.


"Aku tidak tau, Tuan. Nyonya Lana mengatakan ia hanya penasaran sehingga ingin melihat seperti apa penampilan Nona Rosalin."


"Kalau begitu turuti saja kemauannya. Berikan ponselmu kepadanya, dan biarkan dia melihat semua foto-foto cantik milik Rosalin sampai puas. Tapi kau harus ingat Asisten Jo, awasi Lana terus, jangan sampai Lana menggunakan ponselmu untuk hal yang lain."


"Baik, Tuan. Aku mengerti. Oh iya Tuan, ada satu hal lagi.." ungkap Asisten Jo.


"Apalagi Asisten Jo?"


"Nyonya Lana ingin memesan pakaian secara online,"


"Sudah.. turuti saja apa keinginannya."


"Tapi Tuan.. apakah tidak ada hal spesifik yang harus dipertimbangkan untuk pakaian Nyonya Lana..?"


"Maksudmu..?"


"Seperti range harga, atau model yang.."


"Tidak perlu. Biarkan saja dia mau memesan pakaian yang seperti apa, dengan harga berapapun itu tidak masalah buatku. Toh aku juga tidak akan mungkin menengoknya disaat ada Rosalin. Jadi biarkan saja dia mau membeli apapun untuk membuat dirinya menarik, karena aku tidak mungkin tertarik!"


Usai berucap demikian, Arshlan langsung mematikan sambungan telepon tersebut.


'Huhh.. membuang waktuku untuk menelpon hanya untuk mengurusi bocah yang tidak ada gunanya itu..'


Dalam hati Arshlan merutuk kesal, sambil membuang pandangannya keluar jendela, dimana puncak gedung kantor pusat miliknya yang menjulang megah, telah terlihat dari kejauhan.


.


.


.


Bersambung..


Like, Comment, Favoritekan, Vote..! biar author tambah semangad bikin double up! 🤗


Thx and Lophyuu all.. 😘

__ADS_1


__ADS_2