
"Kenapa Dasha tidak terlihat, Momm?"
Luiz tidak bisa lagi menahan diri untuk bertanya manakala menyadari ia tidak menemukan sosok Dasha di meja makan.
"Jelas saja tidak terlihat, Dasha kan tinggal di asrama dan nanti pulang di akhir minggu ..." Lana menjawab pertanyaan Luiz sambil menuangkan air mineral ke gelas Arshlan sampai penuh.
Alis Luiz bertaut mendengar jawaban itu. "Momm, sejak awal aku tidak setuju kalau Dasha tinggal di asrama."
Lana tidak langsung menjawabnya, melainkan menaruh tubuhnya terlebih dahulu keatas kursi makan, tepat disisi Arshlan yang sedang menikmati makan malamnya dengan tenang.
Pria itu sejak tadi hanya menyimak pembicaraan Lana dengan Luiz, tanpa berniat menyela.
"Dalam dua bulan kedepan mereka akan menghadapi ujian akhir kelulusan, karena itulah sekolah mengharuskan semua siswa kelas tiga untuk diasramakan, agar memudahkan dalam mengontrol pembelajaran ..."
Luiz terdiam mendengar penjelasan Lana. Dalam hati ia tak habis merutuki dirinya sendiri.
Ditengah kesibukan hari perdananya menangani berbagai pekerjaan yang begitu banyak, Luiz telah bersusah payah segera pulang kerumah, hanya demi mengejar sesi makan malam bersama keluarga dan bisa menemui Dasha di meja makan.
Tapi kenyataannya, gadis itu malah berada di asrama untuk satu minggu ke depan.
"Luiz, kau sudah selesai?" Arshlan bertanya begitu melihat Luiz telah menaruh sendok dan garpunya keatas piring.
"Iya, Dadd, aku sudah kenyang."
"Kenapa makanmu sedikit sekali?" kali ini Lana yang bersuara.
"Aku ingin bisa beristirahat secepatnya, Momm. Aku sangat lelah, karena hari ini pekerjaanku sangat banyak."
"Apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Arshlan lagi.
Luiz mengangguk. "Iya, Dadd. Semuanya berjalan dengan lancar, tapi dalam beberapa hari kedepan mungkin aku akan menjadi sangat sibuk, sehingga aku akan sering melewatkan makan malam di rumah ..."
"Tidak apa-apa. Bekerjalah dengan baik, dan yang penting kau harus tetap makan tepat waktu, karena kau juga harus menjaga kesehatanmu."
"Iya, Dadd. Kalau itu sudah pasti." angguk Luiz, membenarkan nasihat Arshlan untuknya. Kemudian ia telah berdiri dari duduknya dan menunduk takjim kearah Arshlan dan Lana. "Aku pamit ke kamar Dadd, Momm ..."
Arshlan dan Lana pun mengangguk nyaris bersamaan, melepas kepergian Luiz yang telah melangkah kearah lift, menuju lantai dua.
Sementara itu ...
Sejak dari dalam bilik lift hingga kedalam kamarnya, Luiz terlihat terus merenung.
Luiz tau jika Dasha memang sedang marah padanya, karena persoalan tadi pagi, dan itu terbukti dengan ponselnya yang tidak bisa dihubungi Luiz sama sekali.
Tapi mendengar dari Mommy bahwa tak berapa lama lagi gadis itu akan selesai menempuh pendidikan di sekolah menengah atas, membuat Luiz berpikir bahwa Dasha juga memerlukan waktu serta konsentrasi penuh dalam belajar.
"Ujian akhir kelulusan?" Luiz seolah bergumam pada dirinya sendiri, begitu tubuhnya terhempas sempurna keatas ranjang.
"Tapi masih dua bulan kedepan ..." bergumam lagi, kali ini diiringi dengan memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa pening yang mendadak menyerang, menyadari bahwa ia kembali harus lebih banyak bersabar dan bersabar.
"Beginilah nasib mencintai seorang bocah. Haihh ... Dashaaaa ... kenapa juga kau dan usiamu itu masih sangat kecil untukku ...?"
Luiz benar-benar kalut menahan siksa bathin akibat perasaannya yang meluap-luap.
__ADS_1
Luiz memang harus memupuk kesabaran, kalau tidak ingin dikecam pedofil jika ketahuan mencintai gadis berumur enam belas tahun.
Bukan cuma itu, dengan brengseknya Luiz bahkan pernah melakukan tindakan, yang nyaris mengarah pada perbuatan asusila disaat Dasha masih berumur sebelas tahun.
"Hiiii ..."
Hanya dengan membayangkan semua kekhilafan yang pernah ia lalukan, membuat Luiz merasa ngeri sendiri.
Tapi mau bagaimana lagi?
Luiz bahkan tidak bisa menyangkal, bahwa hatinya begitu ingin memiliki Dasha seutuhnya, yang pada akhirnya, semuanya akan berujung pada peperangan bathin yang tak kunjung usai ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
Seminggu terakhir ini Luiz bukannya sengaja ingin menyibukkan diri, melainkan ia memang benar-benar sangat sibuk.
Hari-hari pertamanya menjalankan perusahaan raksasa dengan anak perusahaan yang tersebar nyaris disemua pelosok negeri membuat seluruh waktu, tenaga dan pikiran Luiz habis terkuras.
Alhasil Luiz sering pulang malam, dan ada beberapa kali ia memilih tidak pulang kerumah sama sekali.
"Setelah Luiz dan Leo beranjak dewasa, rumah ini semakin hari semakin terasa sepi." Lana menggerutu seorang diri, begitu ia masuk kedalam kamar dan menutup pintunya.
Pada awalnya kehadiran Dasha sebenarnya bisa meminimalisir rasa kesepian Lana, namun hal itupun tidak berlangsung lama. Karena seiring waktu berlalu, Dasha juga telah beranjak remaja, dan memiliki dunianya sendiri.
"Apakah aku perlu menambah jumlah pengawal dan maid dirumah ini agar kau tidak merasa rumah ini sepi?"
Lana melotot tajam mendengar kalimat ringan Arshlan kepadanya. "Sayang, kau sengaja ingin membuatku marah ya?"
Arshlan yang sedang duduk disofa sambil menonton berita malam dengan secangkir kopi hitam diatas meja, langsung tertawa mendengar dumelan itu. "Aku kan hanya bercanda." selorohnya, masih dengan sisa tawa disudut bibir.
Arshlan tersenyum melihat wajah cemberut Lana yang khas.
"Kau hanya perlu mengatakan tentang rasa kesepianmu itu kepada menantumu Victoria, agar kembali merencanakan program kehamilan, dan persoalan tentang kesepianmu itu selesai." ujar Arshlan sambil menyesap kopi hitam miliknya dengan santai.
Lana duduk disamping Arshlan tanpa kata, karena kalimat Arshlan barusan sanggup membuat dirinya tercenung.
Arshlan berkata benar, tapi Lana terlanjur merasa malu untuk membicarakan keinginannya tersebut dengan Victoria, setelah sekian lama ia selalu menolak kehadiran Victoria, bahkan berusaha memisahkan Leo dari wanita itu.
Menyadari hal itu, diam-diam disudut hati Lana merasa sangat menyesal.
Karena akhir-akhir ini, Lana mulai menyadari, bahwa selama ini ia telah berlaku tidak bijak dan tidak adil, kepada Victoria, menantunya sendiri ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Kita makan saja, tidak perlu menunggu Luiz." ujar Arshlan usai menghempaskan tubuh keatas kursi makan, kearah Lana yang langsung mengerinyitkan alis.
"Ada apa, sayang? Apakah Luiz tidak pulang lagi malam ini?"
Arshlan mengangguk perlahan. "Sepertinya. Sebuah kontrak kerja dengan perusahaan asing untuk permintaan suku cadang dengan jumlah permintaan yang cukup besar sepertinya harus diselesaikan sesegara mungkin ..."
Dasha mematung mendengar pembicaraan itu, selera makannya mendadak langsung hilang, menguap entah kemana.
Alhasil sepanjang makan malam, Dasha lebih banyak berdiam diam diri daripada berceloteh seperti biasanya.
__ADS_1
Namun saat Nyonya Lana bertanya ada apa, dengan entengnya ia menjawab ...
"Aku sedang sariawan, Nyonya,"
"Sariawan? Itu pasti karena kau jarang makan sayur dan buah, Dasha."
Dasha mengangguk lesu.
"Jangan lupa minum air putih yang banyak agar tubuhmu fit, tidak lesu seperti itu."
"Iya Nyonya,"
"Dasha, kau harus menjaga kesehatanmu dengan baik. Jangan sampai sakit. Ingat baik-baik, ujian akhir kelulusan tinggal dua bulan lagi."
"Iya Nyonya, aku akan mengingatnya ..."
Dan Dasha pun kenbali tertunduk dalam, menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya, tentang kerinduannya pada sosok Luiz.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Menyebalkan ...!"
Dasha telah melempar ponselnya keatas ranjang, disusul tubuhnya yang rebah terlentang menatap langit-langit kamar, dimana seraut wajah Luiz malah tergambar begitu saja diatas sana tanpa permisi.
"Tuan Luiz ... aku membencimu ..." desis Dasha, teramat kesal, nyaris menangis.
Dasha memiringkan tubuhnya lagi, kembali meraih ponselnya yang tadi ia hempaskan.
Jemari Dasha yang lincah membuka galeri foto di ponselnya, hanya demi melihat seraut wajah Luiz yang berada disana.
Kemudian ia mulai menyentuh permukaan layar ponselnya penuh perasaan, pada garis wajah Luiz yang terlihat sangat tampan.
"Tuan, kau sendiri yang bilang aku milikmu dan kau adalah milikku. Tapi kenapa Tuan lebih suka mengabaikan aku daripada memperlakukan aku selayaknya kekasih ...?"
Dasha telah berucap lirih kearah foto Luiz, manakala ingatannya kembali pada kejadian nyaris seminggu yang lalu, dimana Luiz tega menyepelekan dirinya demi Nona Victoria.
Hari itu Dasha merasa teramat kesal, sehingga nekad memblokir nomor kontak Luiz seharian agar pria itu tidak bisa menghubunginya.
Namun setelah seharian bersikukuh dengan rasa cemburu dan keras kepala, malamnya mata Dasha tidak bisa terpejam sedikitpun.
Kerinduannya akan sosok Luiz membuatnya nekad membuka kembali akses blokir dari nomor kontak Luiz, namun Dasha malah tidak mendapatkan apa-apa disana.
Tidak ada satu pun message dari Luiz, yang masuk di kotak pesan!
Tidak hanya itu.
Bahkan hari demi hari telah berlalu, dan Luiz tak kunjung memberi kabar. Mengirim sepenggal pesan pun tidak pernah, apalagi menelepon!
'Luar biasa, baru sebentar bersama mantan kekasih, dan dia telah melupakan seisi dunia ...!'
Dasha menaruh ponselnya disisi bantal, dimana seraut wajah Luiz yang ia zoom, nampak memenuhi layar ponselnya.
Perasaan Dasha telah bercampur aduk, antara kesal dan rindu ...
__ADS_1
...
Bersambung ...