
Untuk beberapa saat Arshlan masih terdiam, terpaku ditempat yang sama yakni pada sepasang kelopak mata yang memancarkan tekad yang menggebu.
"Tuan, terima kasih.." Lana berucap lirih.
"Terima kasih..?"
"Hhmm.. terima kasih untuk hari ini. Terima kasih karena Tuan bersedia menunjukkan diriku tanpa rasa ragu.." jemari Lana terangkat guna membelai rahang yang dipenuhi bulu nan halus milik Arshlan.
Arshlan tersenyum mendengar kalimat penuh makna yang mendalam. Ia mengambil jemari Lana dan mengecupnya sesaat, sebelum akhirnya kembali menaruhnya ditempat semula, diatas rahangnya.
Sejujurnya didalam hati Arshlan pun belum menemukan jawabannya, tentang apa yang sedang ia harapkan dengan melakukan semua ini.
Yang Arshlan tau hanyalah ia begitu yakin saat menanti kehadiran Lana, sampai-sampai ia lupa memikirkan alasannya. Alasan mengapa perasaannya begitu menggebu dan berdebar.
Seumur hidupnya Arshlan belum pernah merasakan perasaan seperti itu. Perasaan sabar menanti seorang wanita yang ingin ia genggam tangannya agar bisa ia tunjukkan kepada dunia, bahwa dirinya satu-satunya pemilik yang berhak.
Arshlan menundukkan wajahnya, menatap Lana yang tersenyum masih sambil membelai wajahnya. "Hari ini kau telah terlihat oleh semua orang. Apa kau tau artinya semua itu didalam kehidupanmu kelak..?" bisik Arshlan balas membelai pipi Lana yang putih dan sangat halus.
Lana menggeleng perlahan. Tidak tau, dan tidak peduli. Karena yang bisa membuat Lana peduli hanyalah satu hal, yakni berada di samping Tuan Arshlan dan dimiliki oleh pria itu seutuhnya.
"Itu artinya, mulai hari ini kau juga harus bisa menjaga dirimu.."
"Tuan, selama ini aku selalu menjaga diriku dengan baik.." kilah Lana acuh, masih lebih tertarik menyusuri setiap inchi permukaan wajah Arshlan daripada memikirkan sesuatu yang masih terlalu berat untuk dipikirkan oleh otak kecilnya.
"Sudah kuduga kau pasti tidak pernah sedikitpun memikirkan, apa dampaknya jika kelak hidupmu terhubung begitu dekat dengan kehidupanku,"
"Memangnya ada apa, Tuan? bukankah kedepannya aku hanya harus bernafas seperti biasa..?"
Lagi-lagi Arshlan tersenyum mendengar kalimat polos itu. Ia mencubit kecil pipi Lana. "Kedepannya, kau akan lebih sering didekati oleh orang-orang yang tidak hanya bermaksud baik, tapi juga bermaksud buruk.."
"Bukankah didunia ini akan selalu ada orang yang berniat buruk..?" pungkas Lana perlahan, terus membelai karena menyadari Arshlan sangatlah suka disentuh, meskipun itu hanya berupa sentuhan ringan.
"Hhhm.. dan sejauh yang aku lihat, kau masih terlalu naif untuk bisa membedakan mana yang baik dan tidak, mana yang tulus dan tidak.."
"Bagaimana Tuan bisa menilaiku terlalu naif hanya dalam kurun waktu yang singkat..?"
Arshlan tertawa kecil seraya mengacak pucuk kepala Lana. "Bagiku.. kehidupanmu bak sebuah buku yang terbuka. Aku hanya perlu membacanya, dan aku akan mengetahui seluruh isi didalamnya."
Lana menatap Arshlan dengan tatapan yang dipenuhi keraguan akan kalimat pria tampan itu.
"Dan kau Lana.. kau adalah sebuah pribadi yang selalu menilai semua orang dengan sangat lugu. Sikapmu itu membuat kau mudah diperalat oleh orang lain, khususnya orang-orang terdekatmu sendiri.."
"Tapi mereka.."
"Kau harus tau satu hal.. bahwa orang yang memperlakukanmu dengan baik adalah orang yang tidak pernah meminta imbalan. Selagi dia memberimu makan atas apa yang telah kau lakukan.. maka tidak ada salahnya jika kau meragukan kebaikannya, meskipun hanya didalam hatimu."
"Tapi Tuan tidak boleh mengatakan semua orang yang berada didalam hidupku berhati buruk."
"Benarkah..? kalau begitu berikan aku satu contoh." pungkas Arshlan cepat, membuat Lana terpana, namun detik berikutnya dia telah berucap perlahan.
"S-Siska..?"
"Temanmu yang bersama Aldo itu..?"
__ADS_1
Lana mengangguk yakin, namun wajahnya terlihat sendu. "Tuan.. sejujurnya aku merasa bersalah. Tadi aku tidak menyapa Siska dengan baik karena aku tidak mau Tuan merasa aku membagi perhatianku untuk orang lain.." imbuhnya jujur, dengan nada suara yang lesu, namun Arshlan malah menatapnya dengan senyum aneh.
"Apa kau yakin dia sebaik itu? apa benar selama ini dia melakukan sesuatu untukmu tanpa meminta apapun..?"
"Tuan, sebelum bersama denganmu, Siska benar-benar memperlakukan diriku dengan baik.."
"Benarkah..? memperlakukan dirimu dengan baik tapi lebih memilih tidak bicara denganmu, dan mengabaikan dirimu, hanya karena kau mengincar pria kaya seperti diriku.."
"Tapi itu karena.."
"Dan kau bahkan menjadi sangat pintar memijat hanya karena setiap malam kau harus memijatnya selayaknya seorang putri."
Lana terhenyak, ia sungguh terkejut karena Tuan Arshlan bahkan mengetahui semua seluk-beluk terkecil tentang masa lalunya dengan begitu mudah.
'Ibarat buku terbuka yang bisa ia baca kapan saja..'
Lana lagi-lagi tercekat, menyadari bahwa pria itu ternyata tidak main-main dengan setiap ucapannya.
"Apa kau tau..? hanya dengan memikirkan hal itu, terkadang saat kau memijatku, rasanya aku ingin mematahkan kedua tanganmu.."
"Egh.. k-kenapa sekarang Tuan malah ingin mematahkan kedua tanganku? memangnya apa salahku..?"
"Karena kedua tanganmu itu pernah menjadi budak untuk tubuh orang lain." ungkap Arshlan lagi-lagi terlihat sangat posesif.
Lana terhenyak mendengar ucapan tajam tanpa unsur canda didalamnya. Kali ini Arshlan bahkan telah menatap Lana dengan lekat, mengintimidasi, dan tanpa berkedip.
"Aku memberimu ampun." ujar Arshlan dengan wajah yang telah berubah dingin tepat diatas wajah Lana yang memucat. "Tapi mulai sekarang jagalah kedua tanganmu, kalau kau tidak mau kehilangan keduanya sekaligus."
Mendengar itu Lana menelan ludahnya kelu, tapi Arshlan telah berucap lagi.
Usai berucap kalimat yang membuat seluruh bulu kuduk Lana meremang, Arshlan telah menarik tubuh Lana kedalam rengkuhannya.
XXXXX
Lama mereka terdiam, hanya saling berpelukan.
"Tuan.." panggil Lana perlahan setelah terdiam cukup lama.
"Hhhmm.."
"Ucapan Tuan membuatku takut, tapi aku bahagia mendengarnya. Aku senang karena Tuan telah menjadikan diriku hanya milik Tuan seorang.."
Usai berucap demikian Lana semakin mempererat pelukannya di tubuh kekar Arshlan, yang diam-diam tersenyum mendapati kalimat jujur itu.
Lana memejamkan matanya, tidak tidur namun meresapi kehangatan yang memeluknya dengan utuh.
Kehangatan yang membuat tubuhnya seolah dikelilingi aroma tubuh Tuan Arshlan yang wangi, yang hanya dengan menghirupnya saja membuat jiwa Lana terasa ikut melayang ke nirwana.
Arshlan tersenyum dalam diam saat menyadari jemari Lana menyusup kesela-sela antara kancing kemejanya, kemudian mengusap lembut disana.
Arshlan tau gadis itu tidak sedang berusaha menggodanya. Lana memang senang mengagumi Arshlan secara terang-terangan, tanpa menyadari jika pergerakan lembutnya dapat dengan mudah membuat jakun Arshlan turun naik menelan saliva.
Mendadak otak Arshlan telah sibuk menghitung hari, memastikan apakah Lana telah melewati masa periodenya atau belum manakala gadis itu berbisik pelan.
__ADS_1
"Tuan.."
"Hhmm.."
"Apa Tuan tidak menyadari sesuatu..?"
Arshlan menunduk guna mendapati wajah yang berada diatas dadanya dan sedang menengadah kearahnya itu.
Sepasang mata Lana bergerak indah, membuat Arshlan mengecup bibir Lana sedetik, sebelum akhirnya menggeleng.
"Tentang apa?" tanya Arshlan singkat.
Lana tersenyum malu-malu. "Malam ini aku sungguh berani memakai gaun berwarna putih.."
Kedua alis Arshlan nampak bertaut. "Lalu..?"
"Ayo tebak dulu, Tuannn.." Lana merajuk manja didada Arshlan, berucap seolah ingin mengajak Arshlan bermain tebak-tebakan.
Arshlan terlihat sedikit menerawang, seolah memikirkan sesuatu.
Sejujurnya Arshlan benci pembicaraan bertele-tele, karena dirinya sendiri adalah pribadi yang to the point.
Namun entah kenapa setiap kali melakukannya dengan Lana, Arshlan malah menikmati perasaannya yang ditarik ulur oleh gadis ingusan itu.
Arshlan menatap Lana lagi sejurus.
'Gaun berwarna putih..?'
Mendadak sepasang mata Arshlan seolah berpijar, saat dirinya merasa telah mendapatkan sebuah clue tentang sesuatu.
"Kau.. kau.. kau sudah tidak.."
Lana telah menertawakan Arshlan yang tergeragap dengan susunan kalimat yang belepotan.
"Lana, jangan bercanda.." sepasang mata Arshlan terlihat melotot, namun mengendur perlahan mendapati Lana yang telah menggeleng berkali-kali.
"Aku tidak bercanda.."
"Apa kau serius..?"
"Tentu saja.." ujar Lana sambil tersenyum manis, membuat Arshlan menatap gadis itu berjenak-jenak, karena otaknya seolah nge-lag begitu saja.
"Tuan kenapa diam..? Tuan tidak apa-apa kan?" Lana mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Arshlan yang sempat terpana.
"Her..!" panggil Arshlan serentak kepada asistennya yang duduk dibangku depan.
"Iya Tuan?"
"Siapkan heli. Aku mau ke pulau malam ini..!"
...
Bersambung..
__ADS_1
Mana hadiahnya..? vote.. vote.. vote.. mana nih yang mau ngasih vote..? 😅
Bunga.. kopi.. bunga.. kopi.. buat yang mau double up.. lempar buang tuangkan kopi.. ðŸ¤