
Luiz memperhatikan seorang maid yang sedang membersihkan meja yang ada diruangan Arshlan.
Dua gelas bekas kopi hitam dan sebuah papan catur bahkan masih berada diatasnya.
"Siapa yang datang, dadd?" tanya Luiz, tak bisa menyembunyikan rasa keheranannya.
"Oh itu ..." Arshlan terlihat semringah saat menyadari maksud dari kalimat Luiz. "Seorang lawan yang cukup tangguh ..." imbuh Arshlan lagi saat dirinya mengingat sosok El yang baru saja menemaninya, beradu otak diatas papan catur.
Luiz yang menghempaskan tubuhnya keatas sofa sontak mengerinyit mendengar jawaban Arshlan tersebut.
"Dua kali remis." ujar Arshlan lagi menjelaskan, sebelum akhirnya ikut menghempaskan tubuhnya keatas sofa, tepat dihadapan Luiz. "Bukankah itu adalah bukti bahwa dia adalah lawan yang tangguh?"
"Dia ...? Siapa 'dia' yang daddy maksudkan?"
"Anak sulung dari seorang teman Daddy dan ... oh iya, katanya dia juga mengenalmu, mengenal Leo juga ..."
Kali ini alis Luiz benar-benar bertaut.
'Mengenalku dan mengenal Leo juga ...?'
'Sebenarnya Daddy sedang membicarakan siapa?'
Luiz membathin, namun entah kenapa ia malah mendapat firasat yang justru tidak menyenangkan dengan pembicaraan ini.
"Lionel Winata. Kau mengenalnya, kan?"
Luiz terhenyak dari duduknya. "El ...? Maksud Daddy ... El ...?"
Arshlan kembali mengangguk dengan senyum, namun tidak dengan Luiz, karena saat ini Luiz justru merasa jantungnya sedang berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
'Kebetulan gila macam apa ini ...?'
'Kenapa pria itu juga berada di ranch ini ... dan disaat seperti ini ...?'
Luiz memijat pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut, berusaha menghilangkan pening yang terasa semakin menggerogoti pikirannya.
'Padahal persoalan satu belum selesai, sudah muncul persoalan baru. Persoalan baru belum tersentuh ... malah datang lagi yang baru!'
Haih ...!'
'Kalau terus-menerus seperti ini rasanya aku bisa gila!!'
Lagi-lagi bathin Luiz mengamuk.
"Dadd, jadi El juga akan ikut serta dalam pesta barbeque sebentar?" tanya Luiz memastikan.
Arshlan pun mengangguk. "Mommymu bahkan langsung menelepon Nyonya Laras guna meminta ijin, agar dia bisa menahan putra sulungnya untuk bermalam disini ..."
Lagi-lagi Luiz menahan dirinya yang berusaha mati-matian untuk tidak terkejut mendengar semua kenyataan yang serba kebetulan dihadapannya.
"Mommymu langsung menyukai El begitu melihatnya. Apalagi sewaktu mengetahui El adalah pria single, mendadak ia telah berandai-andai begitu tinggi, jika dirinya memiliki seorang anak gadis, sudah pasti dia ingin menjodohkannya dengan El ..."
"Jadi karena itu juga Mommy sangat bersikeras agar aku menjemput Dasha ...?" tanya Luiz serentak, seolah sedang kebakaran jenggot.
Arshlan tertawa mendengar tuduhan Luiz untuk Lana.
"Luiz ... Luiz ... kalau menyangkut Dasha, kau selalu saja sangat sensitive ..." imbuh Arshlan masih dengan tawanya.
'Jadi benar ...?'
'Huhh, enak saja ...!'
'Memangnya siapa yang paling berhak menentukan masa depan Dasha selain aku ...?!'
Luiz tak henti-hentinya menggerutu dalam hati.
"Tidak boleh, Dadd. El terlalu tua untuk Dasha ...!"
__ADS_1
Lagi dan lagi, Arshlan hanya menyumbangkan tawanya saat menanggapi kekesalan Luiz yang semakin meningkat.
"Kau ini ... memangnya kau tidak mengenal watak mommymu? Itu hanya sebatas pemikiran halu mommymu saja, jadi kau jangan khawatir seperti itu ..." pungkas Arshlan dengan nada santai.
Luiz terdiam. Seketika ia merasa malu terlihat sedikit out of control dihadapan Arshlan.
"Kau benar, Luiz, Dasha masih sangat muda. Dia harus bisa mengenyam pendidikan yang setinggi-tingginya ..."
Luiz termanggu mendengar kalimat bijak Arshlan, tentang gambaran masa depan cemerlang, yang diam-diam sedang dirancang kedua orang tuanya untuk Dasha.
"Luiz ... masa depan Dasha masih sangat panjang, daddy dan mommy sendiri bahkan tidak setuju jika Dasha berhenti sampai disini saja. Dasha harus bisa mengenyam pendidikan yang baik, agar kelak bisa menjadi wanita yang kuat, pintar, dan mandiri ... terlebih wanita yang tangguh dikemudian hari ..."
Luiz semakin tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia merasa tertampar keras oleh kalimat panjang milik Arshlan barusan, yang menyadarkan Luiz akan seberapa besar keegoisannya sehingga menginginkan Dasha menghentikan cita-citanya, hanya sebatas pada lulusan sekolah menengah atas saja.
"Lalu apa rencana daddy untuk masa depan Dasha kelak, Dadd?" lirih Luiz lagi, seraya menyembunyikan rasa patah hati yang bercampur dengan perasaan patah semangat, akibat menyadari pemikiran egoisnya yang selama ini hanya berkutat untuk memiliki Dasha.
Luiz benar-benar lupa bahwa ada begitu banyak hal yang lebih penting mengenai masa depan gadis itu, selain perasaan cintanya yang begitu ingin memiliki Dasha untuk dirinya sendiri.
"Luiz, Daddy dan Mommy sangat berharap jika Dasha bisa meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dasha harus masuk ke sebuah universitas ternama dan bergengsi di luar negeri, agar bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya disana."
Duarr ...!!
Seperti suara petir yang telah mengacaukan seisi jagat raya, mungkin seperti itu pula warna perasaan Luiz saat ini.
Mendadak wajah polos milik Dasha melintas dengan jelas di kedua pelupuk matanya, membuat Luiz tak bisa lagi mengelak.
Luiz pasrah dengan semua kenyataan yang terpampang didepan matanya.
'Daddy berkata benar ...'
'Bahwa masa depan Dasha jauh lebih penting dari segalanya ...'
'Termasuk perasaan cintanya ...'
πΈπΈπΈπΈπΈ
Rupanya, sejak tadi pria itu tengah mengawasi dirinya yang sedang berkuda melintasi padang rumput yang menghijau, dengan kedua lengan kekar yang terlipat di dada, dan sepertinya pria itu memang sengaja berdiri disana untuk menunggunya.
Begitu laju kuda yang ditunggangi El melambat, dengan gesit El telah melompat turun dari pelana.
Pria itu terlihat sangat mahir saat menuntun kuda yang tadi ia tunggangi dengan gagah, kemudian menambatkan tali kekangnya ke salah satu tiang tambatan yang ada disana.
Sementara itu ...
Luiz yang berdiri tak seberapa jauh terlihat terus mengawasi tindak-tanduk El.
'Seorang lawan yang tangguh ...'
Kalimat daddy Arshlan kembali memenuhi benak Luiz, menyadarkan Luiz pada sekian banyak kelebihan pria yang sering disapa 'El' tersebut.
Usai menambatkan tali kekang dengan sempurna pada tambatan, El terlihat mendekati Luiz dengan senyum tipis.
"Nice to meet you, Tuan Luiz ..." sapa El penuh keramahan, namun yang ada Luiz malah tersenyum, nyaris kecut.
"Panggil saja aku Luiz, tanpa perlu embel-embel 'Tuan'. Kau bahkan menyebut kedua orangtuaku dengan panggilan Uncle dan Aunty dengan begitu akrab, lalu bagaimana mungkin kau masih memanggilku dengan panggilan se-formal itu ..." protes Luiz to the point, dengan wajah datarnya yang terukir jelas.
"Baiklah Luiz, tak mengapa, karena setelah semua ini, sepertinya kita akan semakin sering bertemu ..." ujar El penuh percaya diri, sedikit pun tak terusik dengan wajah Luiz yang dingin.
"Sepertinya kau sangat menikmati setiap kali kita dipertemukan oleh takdir secara tak sengaja ..."
El mengangkat bahunya. "Well ... yang jelas aku bahkan tak menyangka, jika hanya dalam kurun waktu yang relatif singkat, aku telah mengalami begitu banyak hal yang luar biasa di tempat ini ..."
Luiz terlihat menyeringai kecil. "Itu karena kau sangat kurang kerjaan, sehingga kau rela menjadi kurir hanya demi mengantarkan sebuket bunga."
El menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Hanya berusaha membagi sedikit rasa canggungnya saat harus bicara dengan pria yang sangat terlihat sekali sifat datarnya seperti Luiz.
"Aku akui, awalnya aku memang sengaja mengantarkan bunga untuk mengetahui keadaan Victoria ..." ujar El jujur.
__ADS_1
El merasa tak ada gunanya berbohong dan mengarang cerita kesana kemari, karena sekurang-kurangnya Luiz pasti telah mengetahui semua kisah tentang asal muasal keberadaannya di ranch milik keluarga Arshlan yang fenomenal ini.
"So ... apakah sudah kau dapatkan jawaban dari rasa ingin tahumu?"
"Lebih dari cukup." pungkas El membuat Luiz kembali tersenyum kecut campur mengejek.
Sejujurnya Luiz tidak memiliki masalah apapun dengan El. Karena pada kenyataanya, Luiz justru kesal karena pria dihadapannya terbukti masih saja penasaran dengan Victoria, yang notabene merupakan istri dari Leo, saudara kembarnya.
'Pria penabur pesona ini ...'
'Memangnya dia tidak cukup jika hanya menjadikan Florensia sebagai fokus dari rasa keingintahuan, agar aku bisa secepatnya terbebas dari jerat perangkap Florensia ...?'
Luiz membathin geram, namun ia memilih menekan amarahnya itu jauh kedalam bilik hatinya.
"Kau pasti terkejut mengetahui semua hubungan ini kan?"
El menyandarkan sebagian kecil bobot tubuhnya ke tiang selasar yang berada tepat disebelah Luiz, sambil menganggukkan kepalanya.
"Semuanya sangat mengejutkan. Tentang hubungan baik antara kedua orang tua kita, tentang status Victoria sebagai istri Leo dan kehamilannya, juga tentang kau dan Leo yang adalah saudara kembar ..."
Luiz mengerling sejenak kearah El. "Itu belum seberapa. Bersiaplah, karena kau bahkan belum mengetahui bagian terpentingnya." imbuh Luiz.
"Apa maksudmu, Luiz?" El menatap Luiz dengan seksama. "Apakah yang kau maksudkan ada hubungannya dengan Florensia?"
"Cih ... ternyata kau masih bisa mengingat Florensia juga ..."
El membuang wajahnya. "Kau bukan kekasihnya, maksudku ... belum ... jadi kau tidak bisa memonopoli Florensia begitu saja ..."
"Ada apa? Apakah sekarang kau bertekad mengejarnya?"
"Sejujurnya aku sedang menunggu restu ayahnya, dan itu tidak ada hubungannya denganmu ..."
"Kalau kau seserius itu, seharusnya kau tidak berada disini demi wanita lain ..."
El termanggu mendengar penuturan Luiz yang begitu telak.
'Luiz berkata benar.'
'Apa yang aku lakukan ditempat ini ...?'
'Aku bahkan baru sadar bahwa aku terlihat sangat plin-plan, meskipun sejak awal aku telah menetapkan hati untuk serius dengan Florensia ...'
El kembali menatap Luiz sejurus. "Aku tidak peduli seperti apa hubunganmu dengan Florensia, tapi kau harus tahu tentang satu hal, Luiz, bahwa Florensia hanya mencintaiku."
"Tapi kau telah menyianyiakan semuanya ..."
"Aku akan berusaha memperbaikinya dan ..."
"Terlambat."
"Apa?"
"Malam ini Florensia dan ayahnya akan datang. Seharusnya aku ingin membuatmu terkejut ... tapi akhirnya aku merasa kasihan padamu. Sepertinya kau harus tahu lebih awal, agar kau bisa mulai mempersiapkan hatimu dari sekarang ..."
Sepasang mata El membola mendapati kalimat provokasi dari Luiz.
"Luiz, jangan bilang bahwa kau ... kalian ..."
"Sayang sekali, El. Karena aku dan Florensia sudah bersepakat untuk mencobanya. Untuk itulah aku sangat berharap, bahwa di pesta nanti ... kau tidak akan pernah mengacaukan semuanya ..."
...
Bersambung ...
Follow my ig. @khalidiakayum
Jangan lupa di support yah π
__ADS_1