TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 27. Waktu yang Tepat


__ADS_3

"Ada apa? Kenapa kalian semua menatapku seperti itu? Apakah selama ini kalian belum pernah melihat pria tampan sebelumnya?"


Baik Dasha, Mona, maupun Devon, ketiganya pun serentak terhenyak mendengar kalimat super narsis yang terlontar dari bibir Luiz.


Mereka bertiga tidak menampik jika saat ini Luiz memang terlihat sangat tampan, namun mendengar ucapan narsis barusan telah membuat ketiganya bergidik serentak.


Luiz sendiri telah berjalan acuh melewati ketiganya yang masih berdiri terpukau, sambil memain-mainkan kunci mobil mahal miliknya ditangan kanan.


Sepertinya wajar saja jika ketiga remaja itu terpukau melihat Luiz. Sosok kaku Luiz yang datang ke asrama tadi sore dengan stelan jas lengkap, sangat berbeda dengan tampilan dan stylenya saat ini, yang terkesan teramat sangat casual.


"Dasha, kalau melihat penampilan Tuan Luiz yang seperti ini, rasanya aku bisa naksir kepadanya dalam sekejap ..." seperti biasa, jika merasa geregetan, Mona akan langsung memeluk lengan Dasha dengan gemas.


"Kau ini bicara apa? Aku peringatkan dirimu, jangan pernah mencoba untuk mendekati apalagi menyukai Tuan Luiz ..." Dasha balas berbisik kearah Mona yang kini tengah menatap punggung Luiz dengan penuh kekaguman.


"Memangnya kenapa tidak boleh?"


"Tentu saja karena Tuan Luiz sudah ada pemiliknya." berbisik lagi dengan senyum yang terkesan aneh dan misterius dimata Mona.


"Jadi Tuan Luiz sudah punya kekasih?" Mona menatap Dasha penuh rasa ingin tahu.


"Mona, sadarlah. Pria setampan dan semapan Tuan Luiz, mustahil tidak disukai oleh banyak wanita diluar sana ..." kali ini Devon yang menyela pembicaraan, masih dengan nada berbisik-bisik.


Mona ingin balas menyela kalimat Devon, namun urung manakala suara berat Luiz terdengar memecah bisik-bisik ketiganya dengan serentak.


"Kalian bertiga mau menonton, atau mau mengobrol terus sampai besok pagi?"


"Akh ... i-iya, Tuan ..."


"Tentu saja kami ingin menonton ..."


"Maafkan kami, Tuan Luiz ..."


Terdengar bersahut-sahutan jawaban tersebut, namun tak urung dengan langkah serentak, ketiganya akhirnya membuntuti langkah Tuan Luiz, yang terus terayun tanpa merasa perlu untuk menoleh kebelakang.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Apa semuanya sudah beres, Asisten Todd?"


Dasha, Mona dan Devon berdiri dengan rapi dibelakang Luiz, sambil mengawasi pembicaraan yang sedang terjadi dihadapan mereka.


Seorang pria dengan penampilan necis, lengkap dengan jasnya yang kelihatan berkelas, serta disapa dengan nama Asisten Todd oleh Luiz itu, sejak awal kedatangan mereka memang telah berada lebih dahulu disana.


"Semuanya beres, Tuan." Asisten Todd mengangguk yakin, sambil kembali berucap. "Apa ada lagi yang Tuan Luiz butuhkan?"


Luiz terlihat berpikir sejenak. Ia memang hanya beberapa kali datang ke bioskop untuk menonton, itupun sudah sejak beberapa tahun yang lalu, saat Leo melakukan debut untuk yang pertama kalinya dilayar lebar, hingga beberapa film lawas milik Leo diawal-awal karirnya.


Beberapa tahun terakhir ini Luiz menjadi sangat sibuk dari waktu ke waktu, karena harus mengurus semua bisnis yang diwariskan Daddy Arshlan untuk ia kelola kedepannya. Mana bisa lagi punya waktu untuk datang ke bioskop dengan tujuan sekedar menonton sebuah film yang sedang tenar, kendatipun film itu diperankan oleh Leo, saudara kembarnya sendiri.


"Tunggu sebentar, Asisten Todd ..."

__ADS_1


Luiz membalikkan tubuhnya, guna mendapati wajah Dasha, Mona dan Devon yang sedang berdiri berjejer dengan tertib dibelakangnya.


"Apakah ada sesuatu yang kalian inginkan? Kalau ada katakan saja kepada Asisten Todd agar ..."


"Caramel popcorn!" sambut Dasha dengan bersemangat.


"Baiklah, pesankan Caramel Popcorn, Asisten Todd." ujar Luiz kearah Asisten Todd, yang langsung mengangguk tanggap.


Kemudian Luiz kembali menatap ketiganya kembali.


"Masih ada lagi?" tawarnya dengan wajahnya yang super datar seperti biasa.


"Mmmm ... Tuan Luiz, boleh tidak kalau aku menambahkan pesanannya dengan french fries ...?" ucap Mona sedikit malu-malu.


"Tentu saja boleh." jawab Luiz. "Asisten Todd, tambahkan french fries juga."


"Baik Tuan,"


"Devon, kau tidak memesan sesuatu?" tanya Dasha kearah Devon yang sejak tadi diam saja, hanya memperhatikan bagaimana Dasha dan Mona telah menyebut masing-masing cemilan favorite mereka setiap kali menonton.


"Devon, bukankah biasanya kau suka memesan chesnut?" Mona menatap Devon yang masih salah tingkah.


"Asisten Todd, tambahkan chesnut juga." ujar Luiz tanpa menunggu jawaban Devon.


"Baik, Tuan."


"Tentu saja. Pesankan mineral water, sekalian denganku juga, Asisten Todd." imbuh Luiz lagi tanpa merasa perlu mengiyakan permintaan Devon terlebih dahulu.


Kali ini, Asisten Todd telah memilih untuk mengeluarkan ponselnya untuk mancatat semua pesanan yang semakin lama semakin bertambah saja jenisnya.


"Tuan, tambahkan juga java tea untukku, he ... he ... he ..." ucap Mona malu-malu sambil terkekeh kecil.


"Aku juga! Tuan, aku juga mau java tea dan ..."


"Tunggu. Tunggu sebentar."


Luiz telah memotong kalimat Dasha yang baru saja mulai merancang apa-apa saja yang ingin ia pesan dari menu-menu lezat khas bioskop yang biasanya tersedia di counter makanan.


"Asisten Todd, kemarilah."


Luiz menarik bahu Asisten Todd, membuat pria itu mengikuti kemauan sang bos besar yang menginginkan dirinya berada tepat dihadapan ketiga remaja labil itu.


"Daripada kalian membuatku pusing dengan sejumlah permintaan kalian yang selalu bertambah satu persatu, maka sebaiknya kalian mengatakan langsung semua keinginan kalian itu kepada Asisten Todd."


"Tuan Luiz, aku tidak salah mendengarnya, kan? Tuan baru saja mengatakan 'semuanya' ...? Apakah itu artinya ..."


"Iya, semuanya. Itu artinya kalian bisa saja memesan seluruh isi cafetaria, asalkan kalian mampu menghabiskan semuanya." ucap Luiz cuek.


"Waahh, Tuan Luiz, terimakasih karena ternyata kau sangat murah hati. Kalau begitu, aku juga ingin menambahkan hot dog sekalian. Asisten Todd, tambahkan hot dog yah ..."

__ADS_1


"Baik, Nona ..."


"Dasha jangan lupakan nachos ..." Mona menyeletuk dengan wajah yang tak kalah semringah.


"Nachos, boleh juga ..."


"Aku ... sepertinya kita butuh permen ..." Devon akhirnya tak bisa menahan diri untuk menambah daftar panjang dari catatan Asisten Todd, apalagi saat ia menyadari diam-diam Tuan Luiz telah beranjak menjauh dari keberisikan mereka, mendekati sofa yang berada disudut lobby.


"Permen? Ah, iya permen ..."


"Licorice lebih tepat ..."


"Aku setuju."


"Baiklah, permen licorice. Tambahkan itu juga Tuan, Asisten Todd ..." Dasha berucap dengan senyum manis yang tersemat indah, terlebih saat menyaksikan betapa khusyuknya Asisten Todd dalam mencatat semua pesanan makanan dan minuman mereka yang kali ini benar-benar out of control.


Mumpung tidak patungan dan ada Tuan kaya raya, yang dengan senang hati telah membuka kesempatan bagi mereka bertiga untuk memesan sesuka hati.


Sementara itu ...


Luiz tak bisa menahan senyumnya saat menyadari jika diam-diam tingkah polah ketiga bocah yang berada tak seberapa jauh dari dirinya itu terlihat sangat lucu dan cukup menghibur.


Sejauh ini, diam-diam Luiz memang menikmati dan menyukai keadaan ini. Bisa jadi karena ia merasa seolah kembali menjadi muda dan bersemangat, bisa juga semua itu karena kehadiran Dasha.


"Gadis itu telah menjadi semakin cantik ..." Luiz bergumam pelan, sibuk mengagumi Dasha yang terlihat begitu bahagia tertawa diantara kedua temannya yang seumuran dengannya.


Hari ini Luiz sungguh bahagia, setelah dalam waktu singkat ia telah berhasil mengetahui bahwa selama ini, Dasha tidak pernah memiliki seseorang yang special, meskipun telah ada begitu banyak pria yang mengungkapkan kata cinta.


Semua itu cukup membuat perasaan Luiz saat ini terasa sangat nyata, lega, bercampur ge-er.


'Dasha sudah ada pemiliknya'.


Itu adalah sebuah alasan jitu, setiap kali gadis itu menolak ungkapan cinta seorang pria.


'Dia sedang membicarakan aku, kan? Yang dimaksud sebagai pemiliknya ... sudah jelas-jelas itu aku, bukan ...?'


Lagi-lagi Luiz tersenyum semringah, tak bisa lagi menolak hatinya yang berbunga-bunga, acap kali mengingat semuanya.


Meskipun setelahnya Luiz merasa sedikit kalut, manakala ingatannya kembali membentur kenyataan yang berada tepat didepan matanya, perihal Dasha.


Untuk bisa memiliki gadis itu seutuhnya, Luiz tidak tahu harus berapa lama lagi dirinya menanti?


Memikirkan setelah ini Luiz akan kembali berada dekat, bahkan akan kembali tinggal seatap dengan Dasha saja sanggup membuat Luiz gelisah.


Dasha bahkan masih bersekolah, lalu kapan kira-kira waktu yang tepat itu akan tiba ...?


Dengan hanya membayangkan satu hal itu saja, Luiz sudah merasa otaknya hendak meledak ...


... NEXT

__ADS_1


__ADS_2