
"Terima kasih sudah datang menjenguk Lana, Nyonya. Maaf karena tadi pagi kami berdua tidak bisa turun untuk sarapan bersama.."
"Tidak.. Tidak apa-apa, Tuan. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah mengijinkan aku untuk tinggal sementara bersama Lana disini.." Marina tersenyum manis meskipun dalam hati ia masih terkesima dengan kehadiran Lana yang terlihat bergayut manja di lengan Tuan Arshlan begitu pintu lift terbuka.
'Benar-benar bocah yang beruntung. Bagaimana ceritanya sampai Lana bisa menikah dengan pria setampan dan sekaya Tuan Arshlan..?'
Marina membathin dengan rasa dengki yang mencapai seribu persen. Sungguh dirinya tak habis pikir.
"Tidak apa-apa Nyonya Marina. Anda adalah ibu dari istriku, Lana. Tentu saja anda bisa datang mengunjungi istriku kapan saja.."
Lana tidak bisa berbuat apa-apa mendengar pembicaraan yang terdengar sangat formal antara Arshlan dengan Marina.
Masih untung Lana bisa membujuk Arshlan agar mau menyapa Marina, karena pada awalnya pria itu pun keberatan menemui Marina secara langsung.
Arshlan bicara dengan Marina dengan nada sambil lalu, tak ubahnya seperti orang yang ia kenal dijalan saat berpapasan.
Tidak ada sama sekali kesan jika pria itu merasa perlu menghargai Marina, yang notabene ibu mertuanya, Arshlan bahkan dengan santai menyebut Marina dengan sebutan "Nyonya".
"Tuan, kalau anda berkenan, aku akan menyiapkan makan siang khusus sebentar.. anggaplah sebagai rasa terima kasihku karena.."
"Tidak perlu repot-repot Nyonya Marina, selama ini aku tidak pernah pulang kerumah untuk makan siang." tolak Arshlan mentah-mentah, meskipun bibirnya tetap tersenyum.
"Bagaimana kalau makan malam..?"
"Tidak perlu. Kesibukanku membuatku sering pulang larut malam. Lagipula Nyonya tidak perlu repot mengurusi dapur karena dirumah ini dapurku punya beberapa chef yang handal untuk menyiapkan hidangan istimewa setiap hari."
"Benarkah..?" tanya Marina dengan kikuk.
'Si al.. semua kebaikanku tidak satu pun yang diterima. Baiklah.. mungkin sekarang kau menolak Tuan besar, tapi jika putriku yang bodoh dan jelek ini bisa membuat anda tertarik.. aku bahkan bisa melakukannya dengan lebih baik..!'
Marina merutuk lagi didalam hati, tapi sama dengan Arshlan, bibirnya terus tersenyum meskipun sakit hati.
"Nyonya, aku pamit dulu. Silahkan bersenang-senang.." ujar Arshlan yang disambut anggukan kepala Marina.
"Baiklah, Tuan.. terima kasih." ucap Marina sambil menunduk takjim.
"Lana, aku pergi dulu.." Arshlan telah merengkuh pinggang Lana yang mungil, mendaratkan kecupan di dahi serta sedikit melu mat bibir Lana sejenak.
"B-baiklah.." Lana mengangguk kikuk, saat menyadari sepasang mata Marina yang mengawasi semua itu dengan lekat, nyaris tak berkedip.
Entah kenapa Lana merasa malu dicium seperti itu tepat didepan hidung Marina.
"Disini saja temani ibumu, tidak usah mengantarku kedepan.." bisik Arshlan kali ini diakhiri dengan kecupan-kecupan kecil dibeberapa bagian wajah Lana sekaligus.
Lana mengangguk sambil menatap kepergian Arshlan, yang dalam sekejap telah menghilang dibalik dinding yang memisahkan ruang demi ruang yang ada didalam istana megah milik seorang Tuan Arshlan.
XXXXX
__ADS_1
Begitu punggung kekar milik Arshlan menghilang dari pandangan, detik berikutnya Lana telah menatap Marina. Dari raut wajahnya terlihat sebuah penyesalan.
"Ibu, maafkan sikap suamiku yang.."
"Sssttt.. sini.. sini.. kita bicara dikamar ibu saja." tukas Marina secepat kilat sambil menggandeng lengan Lana, menyeretnya untuk beranjak begitu menyadari asisten Jo sedang berdiri mengawasi tak jauh dari mereka.
Marina tau persis, dia harus menjaga kelakuannya dihadapan pria paruh baya dengan kacamata itu, karena sepertinya pria yang kerap disebut Asisten Jo itu adalah orang kepercayaan Tuan Arshlan yang memiliki hak istimewa didalam rumah ini.
Lana pun hanya menurut saat Marina menarik lengannya tanpa sabar kearah kamar tamu yang telah Marina tempati sejak kemarin.
"Lana, mulai sekarang kau harus berhati-hati saat bicara dengan Ibu."
Lana mengerinyitkan kedua alisnya saat ia menatap Marina yang baru saja menutup pintu kamar dan memutar kenop rosetnya.
"Kau harus tau, bahwa saat ini kau bukanlah Lana, seorang gadis yang biasa-biasa saja, melainkan kau adalah istri Tuan Arshlan. Kau tidak boleh bicara sembarangan apalagi mempercayai orang dengan mudah. Kedepannya kau harus lebih berhati-hati..!" kalimat Marina telah memberondong Lana dengan begitu banyak.
"Ibu ini bicara apa..? dirumah ini semuanya adalah orang-orang kepercayaan Tuan Arshlan. Mereka tidak mungkin melakukan hal buruk kepadaku.." ujar Lana dengan wajah polosnya seperti biasa.
"Ck.. ck.. ck.. Lana, jangan naif seperti itu. Betapapun mereka adalah orang kepercayaan Tuan Arshlan tapi kau tetap harus mewaspadainya. Apakah kau tau..? diluar sana.. namamu ada disetiap headline berita.. dan hubunganmu dengan Tuan Arshlan yang telah terbuka terus menjadi trending topik sejak pesta dimalam itu. Saat ini, semua mata sedang menuju kepadamu. Kau adalah wanita yang sangat dicari keberadaannya dengan seluruh hal yang menyangkut dirimu, tidak terkecuali latar belakangmu..!" ucap Marina sengaja memulai untuk menyulut api.
Lana terdiam.
'Benarkah..?'
Bathin Lana bertanya.
Tapi semisal semuanya benar.. Lana tak bisa memungkiri bahwa dirinya pun merasa sangat penasaran ingin mengetahui dan mendengarnya secara langsung.
"Kau tidak percaya..?" usut Marina mendapati wajah sanksi Lana. "Baiklah. Ini.. kau boleh melihatnya sendiri kalau kau tak percaya."
Marina menyodorkan ponselnya kearah Lana, namun yang ada Lana hanya menatap benda pipih itu tanpa bergerak sedikitpun.
Lama Lana hanya membisu.. sebelum akhirnya kepalanya telah menggeleng begitu kesadarannya datang menyapa.
"Tidak.. Ibu.. aku tidak mau melihatnya, dan aku tidak peduli dengan semua pemberitaan diluar sana.." tolak Lana dengan tegas, membuat sepasang mata Marina benar-benar ingin keluar dari cangkangnya, menyadari keteguhan hati Lana.
XXXXX
"Tuan memanggilku..?" Her telah berdiri tegak dihadapan Arshlan.
"Hhmm.. duduklah, Her."
Her pun menurut. Ini bukan yang pertama kalinya Tuan Arshlan memanggilnya seperti ini, meskipun hal ini sangat jarang terjadi. Karena jika tebakan Her tidak salah, maka itu berarti Tuan Arshlan sedang membutuhkan teman bicara, sebelum memutuskan sesuatu yang membuatnya bimbang.
"Kau pasti sudah bisa menebaknya kan, mengapa aku menyuruhmu datang dan duduk dihadapanku sekarang..?" tanya Arshlan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Her nampak mengangkat wajahnya menatap Arshlan. "Apa Tuan ingin membicarakan sesuatu..?" ujar Her memilih balik bertanya.
__ADS_1
Arshlan terlihat mengangguk. "Yah.. aku mengijinkanmu untuk bicara, memberi ide, bahkan membantahku, karena kali ini aku benar-benar butuh seseorang yang bisa membantuku menemukan sebuah pencerahan.."
Ekspresi wajah Her terlihat tenang mendengar kalimat Arshlan. "Tuan, apakah ini menyangkut uang seratus juta rupiah yang diminta kedua orang tua Nyonya Lana..?"
Arshlan tersenyum kecut. "Bagaimana menurutmu, Her..? apa kau yakin dalam dua minggu istriku yang polos itu bisa menyadari kebodohannya..?"
"Aku bahkan berpikir yang sebaliknya, Tuan.."
"Maksudmu..?"
"Nyonya Lana memang terlihat polos. Mungkin pada awalnya Nyonya tidak akan menyadarinya, tapi Nyonya cukup pintar untuk bisa memahami rencana licik Robi dan Marina.."
"Aku malah merasa was-was."
"Aku tidak." geleng Her terlihat begitu yakin.
"Kau..? kenapa kau bisa dengan mudah mempercayai gadis ingusan..?!" Arshlan nampak mulai kesal menerima bantahan Her sejak awal.
Her menarik nafasnya berat, namun sepertinya ia memang tidak punya pilihan kalimat yang tepat untuk menyadarkan pria arogan dihadapannya ini.
"Karena dirimu, Tuan."
"Aku..? memangnya ada apa denganku..?"
"Apakah Tuan tidak sadar, betapa seringnya Nyonya Lana membodohi Tuan dengan begitu mudah, lalu bagaimana bisa Robi dan Marina sanggup membodohinya..?"
"Apa kau bilang..?!" Arshlan terlonjak dari tempat duduknya mendapati kejujuran Her. "Beraninya kau mengatai diriku seperti itu..? kau mau mengatakan aku mudah dibodohi..?? apa kau mau mati..?!"
"Tuan, kau sudah mengijinkan aku untuk mengatakan apapun."
Mendengar kalimat kalem Her, mau tak mau dengan pasrah Arshlan kembali menghempaskan tubuhnya keatas kursi kebesarannya, urung mencengkram kerah kemeja Her akibat amarahnya yang spontan menggelegar.
"Kurang ajar.."
Desis Arshlan jengkel seraya menatap Her dengan geram, sebelum akhirnya ia kembali berucap.
"Baiklah.. kau menang Her. Aku akan mendengarnya. Teruskan saja omong kosongmu..!!"
...
Bersambung..
Ada yang belum baca PASUTRI..?
Bab pendek (75 Bab), dan bisa bikin Baper tingkat kelurahan.. 🤪
__ADS_1
Mampir yah guysss.. 😍