
Holaaa.. reader kesayangan, akhir tahun sungguh padat bin ribet, bikin up keteteran, pun ada banyak coment yang tidak sempat di feedback, tapi percayalah, aq akan selalu berusaha up, juga baca coment kalian satu-persatu, karena coment kalian semua mood banget dan menjadi kekuatan tersendiri, serta hiburan yang mahal untuk aq.. 🤗
So, Like & Coment terus yah.. 🥰
...
Didepan pintu ruangan unit gawat darurat, salah satu rumah sakit terbesar yang ada di pusat kota yang masih terkatup rapat, Arshlan terus saja berjalan mondar-mandir kesana-kemari tanpa henti.
Sepasang matanya terlihat memerah dan terus bertelaga, menandakan bahwa dari sana air matanya tak henti tergenang.
Arshlan terlihat sangat kalut dan tidak sabaran, sampai-sampai rasanya dia ingin mendobrak pintu ruangan unit gawat darurat tersebut yang senantiasa terkatup rapat meskipun ia sudah mondar-mandir disana nyaris empat puluh menit, dengan kondisi keseluruhan dari penampilannya yang terlihat kusut-masai, kacau-balau tak beraturan.
"Tuan, minum dulu." Asisten Jo mendekati Arshlan dengan sebotol air mineral kemasan ditangan.
Tanpa menjawab Arshlan pun menerimanya, meneguknya sedikit tanpa suara, masih dengan raut wajah yang panik dan pucat.
"Tuan, sebaiknya Tuan duduk disitu saja." ucap Asisten Jo lagi sambil menunjuk bangku yang berjejer tak seberapa jauh dari sana.
"Tidak. Aku akan tetap menunggu disini." tolak Arshlan, ia menggeleng tegas menandakan keberatannya untuk meninggalkan pintu ruangan unit gawat darurat, dimana Lana berada didalamnya dengan kondisi akhir yang masih tidak sadarkan diri.
Ceklek.
Mendengar suara tersebut, Arshlan sontak menoleh begitu pintu ruangan unit gawat darurat mendadak terbuka.
Seorang pria berpakaian putih dengan stetoskop tergantung dileher nampak keluar dari sana dengan ekspresi wajah yang datar.
"Dokter Gunawan, bagaimana kondisi istriku..?" tanpa aba-aba, Arshlan langsung menghambur kearah pria tersebut.
Pria yang biasa disapa dokter Gunawan itu terlihat menatap Arshlan untuk beberapa saat sebelum akhirnya menghembuskan nafasnya dengan berat. "Maafkan aku, Tuan, tapi aku harus mengatakannya bahwa kondisi Nyonya Lana saat ini masih kritis.."
Arshlan bahkan harus menyandarkan tubuh kekarnya kedinding rumah sakit yang dingin, jika tidak ingin tubuhnya yang tiba-tiba menjadi tak bertenaga itu merosot kelantai.
"Lana.." lirih Arshlan dengan bibir yang bergetar. Sudut matanya kembali menganak sungai, hatinya hancur mendengar kondisi Lana yang tak kunjung membaik.
"Tuan Arshlan, kita harus bicara.."
Kalimat bernada pesimis milik dokter Gunawan membuat wajah Arshlan terlihat semakin muram.
Arshlan seolah bisa menebak, bahwa permintaan serius dokter Gunawan menandakan kondisi Lana sedang tidak baik-baik saja.
"Dokter, ada apa..? tolong katakan yang sebenarnya tentang keadaan istriku.."
"Tuan, mari kita bicara diruanganku saja. Ini sangat urgent." ajak dokter Gunawan lagi.
"B-baiklah.." Arshlan yang sempat terpaku mendengar kalimat tersebut, akhirnya memilih mengangguk pasrah.
Sepasang kaki Arshlan terayun lunglai, mengikuti langkah dokter Gunawan menuju ruangannya.
XXXXX
__ADS_1
"Saat ini Nyonya Lana berada dalam kondisi koma.."
"Akibat dari benturan keras di area kepala pada saat terjadinya kecelakaan, Nyonya Lana mengalami cedera kepala serius, dimana kondisi tersebut mengakibatkan kerusakan salah satu bagian otak yang bisa bersifat sementara maupun permanen.."
"Bagian otak yang mengalami kerusakan pada penderita koma adalah bagian yang mengatur kesadaran seseorang, dan kerusakan tersebut dapat terjadi dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.."
"Seseorang yang mengalami koma masih dapat bernapas dan memiliki denyut jantung yang teratur, namun meskipun demikian, kami sudah memutuskan untuk memakai alat bantu pernapasan serta memberikan obat-obatan penopang denyut jantung.."
...
Arshlan masih terduduk lunglai diatas kursi. Disana ia telah terpekur lama seraya menyalahkan diri, usai mendengar penjelasan panjang dokter Gunawan mengenai kondisi Lana yang mengalami koma.
'Ini semua salahku. Kalau aku tidak menyuruhnya pergi, maka Lana tidak akan mengalami kecelakaan seperti ini..'
Arshlan menenggelamkan wajahnya kedalam dua telapak tangannya sekaligus. Kedua bahunya terlihat berguncang.
Sesaat setelah Lana melangkah keluar dari pintu rumahnya.. Arshlan bahkan telah merasakan hidupnya hampa dalam sekejap.
Separuh jiwanya terasa mati namun ia tak berdaya untuk mencegah kepergian Lana, demi kebahagiaan dan masa depan gadis itu dikemudian hari.
Yah.. demi kebahagiaan dan masa depan Lana, Arshlan bahkan tidak ingin gadis itu menyia-nyiakan cerlang masa mudanya bersama pria tua seperti dirinya.
Kata siapa Arshlan tidak terluka..?
Hatinya bahkan teramat sangat sakit saat harus menerima kenyataan bahwa dirinya tidak pantas bersama Lana. Seberapa keras Arshlan berusaha memantaskan diri.. pada kenyataannya Lana masih begitu belia. Apakah Arshlan harus se-egois itu untuk merampok semuanya..? adilkah semua itu untuk Lana..?
Meskipun cintanya berpendar hebat..
Kasih sayangnya meluap-luap..
Pengorbanannya tak terbatas..
Arshlan bahkan harus tetap berdiri tegak menjadi seorang pria menyebalkan, brengsek, dan kejam, untuk mengingkari semua perasaannya untuk Lana.
Hari ini, Arshlan hanya meyakini satu hal. Bisa saja Lana merasakan patah hati atas keputusannya, tapi Arshlan yakin bahwa waktu akan menyembuhkan hati gadis periang itu.
Namun menerima kenyataan tentang kondisi Lana seperti ini membuat Arshlan diliputi penyesalan yang luar biasa. Arshlan tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa bertahan jika terjadi hal yang buruk, dan bagaiamana ia bisa bertahan jika kehilangan gadis itu dengan cara seperti ini.
Kalau saja ia tidak membiarkan Lana pergi.. kalau saja ia tidak terlalu berkeras hati..
"Tuan Arshlan, ada satu hal lagi yang harus anda ketahui.."
Arshlan tidak serta merta menjawabnya. Rasanya ia mulai tidak mampu menerima kenyataan demi kenyataan pahit yang menimpa Lana, yang diakibatkan oleh sebuah keputusan sepihaknya atas masa depan Lana.
Sungguh Arshlan menyesalinya. Arshlan mengutuk dirinya sendiri. Arshlan bahkan merasa tidak bisa memaafkan dirinya atas semua yang menimpa Lana.
"Ini, Tuan harus melihatnya.." dokter Gunawan menyerahkan sebuah gambar yang kelihatannya seperti sebuah hasil pemeriksaan ultrasonografi.
Ragu Arshlan menerimanya, namun setelah memperhatikan sejenak ia tetap saja tidak bisa mengartikannya.
__ADS_1
"Apa maksudnya semua ini dokter..?" ujar Arshlan, pada akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Itu adalah hasil USG nyonya Lana, yang menggambarkan adanya dua kehidupan.."
"D-dua kehidupan..?" kedua alis Arshlan terlihat semakin bertaut satu sama lain.
Dokter Gunawan terlihat mengangguk yakin.
"M-maksud dokter..?"
"Dari hasil pemeriksaan ultrasonografi kami menemukan bahwa didalam tubuh Nyonya Lana terdapat dua kehidupan. Nyonya Lana sedang hamil, Tuan, bayinya kembar.."
Terhenyak. Arshlan bahkan telah terlonjak begitu saja dari duduknya.
"A-apa..?! k-kau.. kau b-bilang apa dokter Gunawan..??"
Suara Arshlan tergeragap. Bukan hanya itu saja, sepasang mata Arshlan bahkan nyaris keluar dari cangkangnya, mulutnya terbuka, tubuhnya bergetar..
"H-hamil.. L-Lana.. anakku.. k-kembar.. L-Lana.. d-dia.." kalimat Arshlan amburadul tak beraturan. Arshlan bahkan harus menahan tubuhnya yang nyaris limbung di tepian meja milik dokter Gunawan.
Perasaan Arshlan semakin bercampur aduk. Kebahagiaan yang ia rasakan terbalut kesedihan serta rasa bersalah yang menggunung, membuat pandangannya buram dipenuhi air mata saat melihat kembali hasil USG yang tadinya nyaris terlepas dari genggaman tangannya.
"Dokter.. tolong selamatkan nyawa istriku dan kedua buah hatiku.." suara Arshlan bergetar pilu, seraya menatap dokter Gunawan penuh permohonan.
Dokter Gunawan menghela nafasnya berat, berusaha menyampaikan semuanya dengan sebaik-baiknya, mengingat betapa terpukulnya pria dihadapannya saat ini.
"Begini Tuan, karena Nyonya Lana sedang berada dalam kondisi hamil muda, maka kami memutuskan untuk menunda melakukan tindakan operasi. Saat ini keadaan Nyonya Lana sedang kritis, jika ingin mempertahankan kedua janin maka kami akan berusaha membuat keadaan Nyonya Lana tetap stabil. Melakukan tindakan operasi pada saat ini akan berpengaruh pada kondisi kedua janin. Dengan kata lain, memaksakan tindakan operasi, kemungkinan besar dapat membuat Nyonya Lana kehilangan kedua janin, serta akan mempengaruhi kondisi rahim. Kedepannya.. Nyonya Lana akan kesulitan hamil kembali jika.."
"Kalau begitu lakukan operasinya sekarang." pungkas Arshlan tanpa berpikir dua kali.
"Tuan Arshlan, pikirkanlah dulu dengan baik sebelum memutuskan.."
"Lakukan operasinya sekarang, dokter. Selamatkan nyawa istriku lebih dulu." titah Arshlan tegas tanpa keraguan, namun wajahnya telah dipenuhi air mata.
Arshlan paham betul pertimbangan apa yang sedang ingin disampaikan dokter Gunawan.
Bahwa ia akan kehilangan dua calon kehidupan miliknya sekaligus, serta kemungkinan terbesarnya, kedepannya, dirinya pun akan kesulitan untuk kembali memiliki keturunan bersama Lana.
Namun meskipun demikian, tekad Arshlan telah begitu bulat saat memutuskan semua itu.
Karena demi Lana..
Arshlan bahkan rela memberikan nyawanya.. sebagai gantinya..
...
Bersambung..
Support terus yah.. untuk yang belum Like bab sebelumnya, yuk.. bantu Author genapin performa.. 🤗
__ADS_1