TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 90. Cinta Yang Sempurna


__ADS_3

Victoria yang sedang duduk di sofa panjang dengan sebuah novel di tangan, sontak mengangkat wajahnya saat menyadari pintu kamar yang terbuka.


Sosok Leo muncul dari sana, lengkap dengan senyumnya yang khas.


"Kau dari mana saja?" alis Victoria mengkerut begitu pria itu mendekat kearahnya.


"Ada apa? Kau merindukan aku yah?"


"Cih ... ge-er ..."


Leo tertawa. Ia mendekati Victoria yang duduk di sofa panjang, langsung mendaratkan ciuman di dahi sebelum akhirnya menghempaskan tubuh kekarnya tepat disebelah Victoria.


"Kau tidur terus sepanjang hari, makanya tadi aku keluar sebentar untuk menghirup udara segar. Mulutku juga terasa kaku karena tak ada yang bisa aku ajak bicara ..."


"Mulutmu terasa kaku apakah semata-mata karena tak ada yang bisa kau ajak bicara, atau berdebat ...?" sindir Victoria, mengingatkan Leo pada hari-hari sebelumnya, dimana Leo selalu saja berusaha membuat hal sekecil apapun untuk bisa dijadikan alasan pertengkaran.


Victoria sepertinya belum sepenuhnya menyadari bahwa sosok Leo hari ini sudah jelas berbeda dengan sosok suami menyebalkan seperti hari-hari kemarin.


Victoria juga pasti tidak akan pernah menyangka, bahwa saat ini, Leo bahkan bisa memberikan seisi dunia jikalau Victoria memintanya.


"Aku tadi bertemu El yang sedang menikmati pemandangan di sekitar villa. Jadi sekalian saja aku mengajaknya sedikit berkeliling, melihat-lihat suasana sekitar." Leo mengalihkan pembicaraan begitu saja.


"Ohh ..." Victoria manggut-manggut.


Detik berikutnya wanita itu telah kembali membuka novel yang sejak tadi dibacanya, berniat meneruskan kembali kisah romantis yang sempat terjeda karena kehadiran Leo.


"Kau tidak penasaran dengan topik apa yang kami bicarakan?" tanya Leo saat menyadari Victoria tidak bicara lagi setelah tanggapan singkat barusan, bahkan lebih memilih meneruskan kembali aktifitasnya membaca novel, tanpa terusik dengan kehadiran Leo yang berada disampingnya.


"Memangnya kalian bicara apa?" tanya Victoria sekenanya.


Leo terus menatap lekat wajah mulus Victoria dari samping, yang bahkan tidak menatapnya.


"Kami membicarakan banyak hal, dan sembilan puluh sembilan persennya adalah tentang dirimu ..."


Leo bicara demikian seraya merebahkan dirinya ke sofa, dengan posisi kepala yang berada diatas paha Victoria.


Berusaha mendapatkan perhatian wanita itu sepenuhnya, yang mau tak mau menutup kembali novel ditangannya dan menaruhnya ke atas meja.


Sementara itu, Victoria tersenyum jengah mendapati sikap Leo.


Pria itu bukannya tidak pernah bersikap kolokan seperti ini, karena pada kenyataannya, seburuk apapun perlakuan Leo kepadanya, namun Leo tetaplah seorang pria manja yang selalu ingin diperhatikan ... apalagi jika ada maunya!


Hanya saja entah kenapa acap kali mendapati kemanjaan pria itu, Victoria selalu saja merasa malu.


"Pipimu ..." Leo mengangkat tangannya guna menyentuh sebelah pipi Victoria.


"Kenapa dengan pipiku?"


"Bersemu ..."


"Ada-ada saja. Mana ada ...?" Victoria membuang wajahnya kesamping, tapi yang ada rasa panas di pipinya terasa semakin menjalar.


Leo tertawa mendengar bantahan itu. Sikap malu-malu dan salah tingkah khas Victoria sudah dihafal Leo diluar kepala, dan diam-diam Leo sangat menyukainya.


"Kalian ... maksudku kau dan El membicarakan apa saja?"


"Kan sudah aku bilang bahwa sebagian besar pembicaraan kami adalah tentang dirimu ..."


"Apa pentingnya membicarakan tentang aku ...?"


"Tentu saja penting."


Leo melipat kedua lengannya keatas dadanya, mengawasi wajah Victoria dari bawah sana tanpa berkedip.


"Karena aku harus benar-benar memastikan, bahwa dia sudah seharusnya menyerah untuk mendekatimu ..."


"Leo, kau ini bicara apa ...?"

__ADS_1


"Kau tidak sadar bahwa selama ini El selalu berusaha menarik perhatianmu?"


"Itu tidak benar,"


"Bagaimana bisa kau sama sekali tidak merasakannya, bahwa kau sedang didekati pria lain secara terang-terangan ...?" tanya Leo lagi.


Gelengan kepala Victoria telah membuat Leo menjadi semakin bertambah gemas, menyadari seberapa polos wanita yang menjadi istrinya itu.


"Hhhh, sudahlah ... yang terpenting sekarang adalah El sudah mengetahui kebenarannya. Kalau dia masih mencoba mendekatimu lagi, maka aku tidak akan segan membuat perhitungan!"


"Kau ini bicara apa ..." desis Victoria lirih.


Sepasang mata Leo kembali melotot menyadari seberapa naif-nya Victoria, sementara Victoria tetap saja menunjukkan wajah polosnya yang mencerminkan ketidak-percayaan dirinya, atas apa yang barusan diungkapkan Leo.


'Tidak masuk diakal, mana mungkin Tuan El menyukaiku ...?'


Victoria benar-benar meyakininya, bahwa kali ini Leo sedang berada dalam fase kecemburuan yang berlebihan ...!


🌸🌸🌸🌸🌸


"Oh ya, Leo, seharian ini aku tidak melihat Dasha. Kemana perginya bocah itu?" tanya Victoria saat mengingat hal yang sejak tadi bercokol dalam benaknya.


Dalam keluarga Arshlan, kehadiran Dasha adalah bagian yang seolah tak terpisahkan.


Karena tidak hanya kedua mertuanya, gadis itu bahkan bisa memenangkan hati Luiz dan Leo dengan begitu mudah.


Victoria tahu betul, betapa istimewanya kehadiran Dasha ditengah-tengah keluarga suaminya. Saking istimewanya, Victoria bahkan sempat merasa cemburu karena selalu kalah bersaing dengan bocah kecil yang sangat usil dan gemar menjahilinya itu. Apalagi jika mengingat setiap kali amarahnya terpancing atas keusilan Dasha, Victoria selalu menjadi orang yang disalahkan.


Hubungan Victoria dan Dasha baru saja membaik di moment ulang tahun Victoria yang ke tiga puluh tahun kemarin, saat Dasha membawa sebuah kue ulang tahun sekaligus permintaan maaf dengan mimik wajah yang tulus.


Bukan hanya hubungannya dengan Dasha yang membaik setelah moment tersebut, melainkan hubungan Victoria dengan Lana juga, yang tak lain merupakan ibu mertuanya.


Seiring waktu berlalu akhirnya Victoria menyadari satu hal, tentang mengapa keluarga Arshlan terlebih Lana, selalu memperlakukan Dasha dengan sangat baik.


Bukan karena pilih kasih, melainkan karena sang mertua sangat berterima kasih.


Asisten Jo adalah sosok penting yang selalu mendukung dan berada di pihak mommy Lana, di awal perjuangan bahtera rumah tangganya dengan daddy Arshlan yang penuh gelombang. Kebaikan dan ketulusan hati Asisten Jo, membuat posisi pria itu sudah selayaknya ayah bagi mommy Lana.


Sejak menjadi sebatang kara, Dasha telah menjadi tanggung jawab keluarga Arshlan sepenuhnya.


Gadis itu tumbuh dalam lingkup tanggung jawab yang besar daddy Arshlan, kasih sayang yang tak berkurang dari mommy Lana, perhatian yang sempurna seorang Luiz yang berhati dingin, serta partner kehebohan yang perfect dari suaminya Leo.


"Saat ini, kau tidak akan bisa menemukan Dasha, karena bocah nakal itu sedang menghadapi ujian nasional. Pihak sekolah mewajibkan semua murid kelas tiga tanpa terkecuali untuk di asramakan, agar mereka lebih fokus belajar."


"Pantas saja aku tidak melihatnya ..." imbuh Victoria.


Leo memejamkan matanya sambil tertawa, terlebih saat seraut wajah menggemaskan Dasha melintas dibenaknya.


"Tenang saja, kau akan segera melihat bocah nakal itu karena hari ini adalah hari terakhir ujian, dan mommy telah menelepon Luiz agar menjemputnya sore ini ..." ucap Leo dengan wajahnya yang tenang, serta kedua mata yang kini terpejam.


"Waktu cepat berlalu. Bahkan Dasha sudah beranjak dewasa tanpa terasa ..." lirih Victoria perlahan, sambil menatap lekat wajah Leo yang terpejam di pangkuannya, terlihat begitu damai.


Entah mendapat kekuatan darimana sehingga Victoria memberanikan dirinya untuk mengangkat tangan kanannya, guna membelai lembut rambut hitam Leo yang lebat.


Mendapati sentuhan Victoria, tak ayal sebuah senyum pun sontak menghiasi bibir Leo, meskipun kelopak matanya terus terpejam, seolah sedang meresapi sepenuh hati rasa nyaman yang diakibatkan jemari lentik milik Victoria, yang sedang menari diantara helai rambutnya.


Hening itu bertahta tak begitu lama, manakala sepasang mata Leo yang tadinya terpejam kini menatap wajah Victoria dengan tatapan penuh makna.


"A-ada apa?" tanya Victoria risih, mendapati tatapan Leo yang lekat padanya.


"Aku menginginkanmu ..."


Blush.


Bisikan lirih namun to the point itu sukses membuat seraut wajah Victoria merah padam dan salah tingkah.


'Leo adalah Leo ...'

__ADS_1


'Leo tetaplah Leo ...'


'Pria yang tak pernah malu berterus terang, setiap kali hasratnya sedang menggebu ... menginginkan istri cantiknya seorang ...'


🌸🌸🌸🌸🌸


Leo telah memastikan pintunya terkunci dengan baik, sebelum ia naik keatas ranjang, dimana Victoria duduk ditengahnya dengan ekspresi gelisah.


Sesaat yang lalu usai mengucapkan keinginannya untuk Victoria, Leo telah bangkit dari rebahannya, langsung membopong tubuh Victoria yang masih begitu ramping meskipun telah 'berisi'.


"Kenapa kau kelihatan gelisah?" jemari Leo mengelus pangkal lengan Victoria.


Wanita itu menggeleng, namun wajahnya terlihat tidak baik-baik saja.


"Vic ... katakan ada apa?" tanya Leo lembut, sambil mengecup lembut sudut bibir yang terasa manis.


"Aku ... aku takut melakukannya ..." ujarnya lirih, membuat Leo menarik diri sesaat, sambil memperhatikan wajah pias Victoria.


"Apakah dokter John melarangnya?" usut Leo was-was.


Bukan apa-apa, meskipun mereka berdua belum melakukan pemeriksaan khusus dengan dokter obygyn, sesungguhnya sejak mengetahui kehamilan Victoria pada beberapa jam yang lalu, diam-diam Leo telah mencari tahu berbagai hal yang menyangkut kehamilan wanita, tak ketinggalan pula dengan aktifitas suami-istri.


Dari beberapa penjelasan medis yang didapat Leo dari mesin pencarian yang ada di ponselnya, disitu jelas-jelas mengatakan bahwa tidak ada larangan dalam melakukan hubungan se xsual, kecuali dalam kondisi tertentu.


Victoria terlihat menggeleng dengan wajah bersemu.


"Kalau dokter John tidak melarangnya lalu apa yang kau khawatirkan, Vic?"


"Mmm ... itu karena ..."


Mengambang.


"Karena ...?" usut Leo.


"Karena ..."


Mengambang lagi.


"Katakanlah, karena apa ...?" tanya Leo lagi gemas, karena semakin tak tahan menahan hasratnya.


Victoria terlihat meringis kecil. "Dokter John memang tidak melarangnya, tapi ... kau ... kau harus berjanji, kau tidak boleh melakukannya dengan kasar ..."


Victoria merasa sangat malu saat mengatakannya, namun mau bagaimana lagi karena ia sendiri tak tega melihat wajah Leo yang sangat memelas.


Karena itulah ia telah mengatakan hal yang menurut dokter John bisa saja mereka lakukan, namun Victoria harus bisa meyakinkan Leo agar tidak melakukannya dengan brutal seperti kebiasaan pria itu acap kali mereka bercinta.


Mendengar itu kini gantian wajah Leo yang terlihat bersemu.


Leo paham betul apa maksud Victoria, mengingat betapa bersemangat dirinya jika sedang bercinta.


"Aku berjanji, akan melakukannya dengan lembut."


Leo merengkuh bahu Victoria dengan penuh kelembutan, berusaha mencairkan ketakutan Victoria untuk memuluskan niatnya yang sangat ingin bermesraan dan mencurahkan segenap cinta serta kasih sayangnya.


"Lagipula aku tidak mungkin menyakiti milikku yang ada didalam sini, kan?" bisik Leo, berusaha semaksimal mungkin meyakinkan Victoria, disertai luma tan lembut di bibir yang terasa candu, membuat Victoria luluh hanya dalam hitungan detik.


Dalam waktu singkat, Leo benar-benar menepati janjinya kepada Victoria, untuk bercinta dengan penuh kelembutan.


Leo melakukannya secara konvensional, berusaha sekuat tenaga membuat Victoria nyaman.


Leo juga meniadakan posisi-posisi ekstrim seperti yang kerap di praktekkannya selama ini, pria itu bahkan selalu mengecek kondisi Victoria, memastikan wanita itu terus merasa nyaman dengan pertautan tubuh mereka yang mulai mengundang peluh, namun sarat akan makna cinta yang mendalam ...


Cinta yang utuh ...


Cinta yang sempurna ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2