TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 31. Infotainment


__ADS_3

Double up.


...


Sebuah televisi layar datar berukuran besar kira-kira dua puluh satu inchi itu, tertempel disalah satu dinding ruangan yang dipenuhi hamparan bunga beraneka macam ragam.


Dari sanalah acara infotainment yang merupakan acara favorite nyaris semua karyawan yang ada disana sedang tayang dilayar kaca.


"Akhir-akhir ini berita tentang Tuan Leo semakin marak yah ..." kalimat seorang karyawan wanita itu mampir ditelinga Victoria begitu saja, yang memilih terus menunduk, fokus pada rangkaian bunga yang cukup besar yang sedang ia kerjakan.


Bukan tanpa alasan, jika setiap karyawan yang sebagian besar wanita itu terlihat begitu antusias membicarakan tentang Leo, yang notabene merupakan suaminya, karena pada kenyataannya, akhir-akhir ini wajah Leo seolah berkali-kali lipat lebih viral dari sebelumnya.


Usai menuai kesuksesan besar lewat film layar lebar bergenre adult romance dengan judul Love Desire, Leo telah menuai berita kontoversial terbaru, terkait dengan isu cinta lokasi yang disinyalir terjadi antara Leo dan Lisa, yang tak lain merupakan lawan main Leo dari film tersebut.


Tak heran mengapa semua media memberitakan hal itu.


Terlepas dari betapa romantisnya potongan-potongan adegan yang terjadi disepanjang film yang katanya berdurasi dua jam lebih tersebut, telah beredar luas disemua media beberapa moment kedekatan manis, yang mengarah pada sebuah spekulasi, dimana Leo dan Lisa kerap tertangkap kamera sedang bercanda akrab disela-sela jalannya syuting film Love Desire sedang berlangsung.


"Aku justru merasa sebaliknya, bahwa semua berita tentang Tuan Leo dan Lisa, tak lebih dari bagian trik pemasaran."


Suara seorang wanita yang lain kembali terdengar, menyela diantara jalannya pemberitaan infotainment yang berlangsung saat ini, lagi-lagi sedang mengupas kehidupan Leo, tak ketinggalan pula dengan jejak-jejak hubungan Leo dengan beberapa wanita yang pernah dekat dengan pria itu dimasa lalu.


Saat ini, para awak media seolah sedang berlomba-lomba menilai 'kepantasan' seorang Lisa, yang bisa dibilang artis pendatang baru berbakat, dengan Leo yang merupakan aktor berkelas papan atas.


"Benarkah? Tapi aku tidak setuju dengan opini tersebut. Kenapa harus 'menjual' berita murahan seperti itu untuk mendongkrak popularitas sebuah film, sementara Love Desire sendiri, telah lebih dahulu menuai kesuksesan yang luar biasa, jauh sebelum isu itu menggelinding ibarat sebuah bola liar ..."


"Aku setuju denganmu, Tuan Leo tidak butuh berita murahan seperti itu, jika hanya untuk mendongkrak popularitasnya saja. Dia memiliki 'kami', fans setianya yang akan selalu mendukung setiap karya Tuan Leo dimanapun kami berada ...!"


Kalimat wanita yang pertama terdengar berapi-api, seolah ingin memastikan bahwa mereka semua adalah barisan para fans Tuan Leo yang sangat militan.


Semua kepala para wanita yang ada disana terlihat mengangguk nyaris serentak, menandakan saking besarnya kecintaan mereka pada sang idola.


"Iya, kau benar. Aku juga sangat mencintai Tuan Leo. Aku tidak terima kalau idolaku dituduh melakukan setingan seperti itu ..."


"Aku juga mengidolakan Tuan Leo sekian lama, dan terus menyukai kepribadiannya yang hangat. Coba lihat, sorot matanya begitu dalam, dipenuhi kehangatan ..."


'Kehangatan ..?'


Tanpa sadar Victoria membathin, sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


'Kalian tidak tau saja betapa dinginnya hati Tuan Leo yang selalu kalian puja itu ...! Dinginnya, bahkan setara bongkahan es dikutub utara!'


Lagi-lagi membathin.


"Aku mepercayai tatapan matanya yang hangat. Pria seperti Tuan Leo, kelak jika dirinya mencintai seseorang, maka dia akan mencintai belahan jiwanya itu, dengan sepenuh jiwa dan raganya ..."


"Owhh so sweet, Tuan Leo ..."


"Kau benar. Aku bahkan merasa, semakin hari perasaanku menjadi berkali-kali lipat menyukai Tuan Leo."


Semua pembicaraan para wanita yang terus saja bersahut-sahutan itu telah membuat Victoria berandai-andai.


Yah, seandainya saja Victoria memiliki sebuah remote ajaib yang memiliki tombol khusus untuk bisa menulikan kedua telinganya sejenak, maka sudah pasti Victoria akan menekan tombol remote ajaib tersebut, setiap kali para karyawan-karyawan wanita itu mulai membahas hal yang sama.


Tuan Leo ... Tuan Leo ... lagi-lagi Tuan Leo ...!


Victoria tersenyum pahit dalam diam. Victoria pun bahkan tidak pernah berniat untuk menyangkalnya.


Bisa jadi, semua yang diucapkan teman-teman sekerjanya itu adalah benar.


Bahwa Leo merupakan tipe seorang pria yang hangat, yang kelak bisa mencintai orang yang ia cintai dengan sepenuh jiwa dan raganya.


"Eh, kalian ... apakah kalian pernah mendengar sebuah isu, bahwa dalam kehidupan nyata, Tuan Leo memiliki banyak rahasia yang tidak diketahui oleh banyak pihak ..."


Victoria menghembuskan nafasnya berat.


Padahal ia telah merasa lega, manakala pembicaraan seputaran Leo, yang sedang dibahas dengan penuh semangat oleh sekumpulan wanita yang duduk bersama dengannya dalam sebuah meja besar, tempat mereka bekerja mendekor bunga itu, sempat terjeda sesaat.


Tapi ternyata, pembicaraan tentang kehidupan Leo, terlebih rahasia percintaannya, merupakan topik pembicaraan yang disukai oleh setiap wanita.


"Aku juga pernah mendengarnya sesekali, selentingan kabar berita mengenai latar belakang kehidupan keluarga Tuan Leo, yang konon katanya berasal dari sebuah keluarga yang kaya raya, bukan keluarga sembarangan ..."


"Aku juga mempercayainya. Wajah Tuan Leo telah menjelaskan semuanya, bagaimana pria itu memiliki aura yang jelas-jelas berbeda ..."


"Egh, tapi ada satu kabar lagi yang menurutku, untuk yang satu ini aku tidak bisa mempercayainya begitu saja ..."


"Isu bahwa Tua Leo sudah menikah?"


"Jadi kau sudah pernah mendengarnya?"

__ADS_1


"Oh tidak, aku merasa patah hati kalau itu memang benar. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Aku lebih percaya hubungannya dengan Lisa saat ini, yang terlihat sangat ber-chemistri didalam akting, dan begitu natural diluar akting adegan film itu sendiri ..."


"Yah, aku setuju denganmu. Aku adalah orang pertama yang akan menyetujuinya, jika Tuan Leo benar-benar memilih Lisa. LIhatlah ... mereka adalah pasangan serasi yang sangat cocok."


"Kau benar, karena aku juga sangat setuju jika asmara Tuan Leo dan Lisa adalah nyata ..."


Dan begitulah Victoria melewati harinya setiap hari ...


Setiap waktu ...


Setiap saat ...


Dimana semua wanita ditempatnya bekerja, semuanya begitu tergila-gila pada orang yang sama, yang tak lain dan tak bukan merupakan suaminya sendiri.


'Sepertinya aku harus membiasakan diri untuk menerima semua ini, karena aku telah berada diantara perkumpulan para anggota fans garis kerasnya Leo ...'


Lagi-lagi, Victoria hanya bisa membathin dalam hati.


"Vic, kau mau tidak masuk menjadi anggota fans clubnya Tuan Leo?"


Seorang karyawan bernama Winda, yang sejak tadi merupakan salah satu anggota yang terlibat aktif dalam pembicaraan tentang Leo, tiba-tiba telah menyapa Victoria yang sontak tergeragap ditodong dengan pertanyaan seperti itu.


"Aku ...?"


"Iya, kau. Mau bergabung tidak?"


"Egh, tapi aku ... aku ..."


Tergeragap, sungguh Victoria tidak menyangka bisa-bisanya mereka menawarkan dirinya untuk menjadi anggota fans club resmi dari suaminya sendiri ...!


Seketika setiap pasang mata yang sedang mengelilingi meja besar itu, sontak menatap penuh kearah Victoria.


"Karyawan yang berada disini, semuanya telah menjadi anggota fans club resmi milik Leo. Tinggal kau saja yang belum, Vic ..." bujuk Winda kemudian, dengan senyum merayu.


"Tapi aku .. aku tidak ..." Victoria telah kesulitan untuk mencari alasan yang tepat.


"Astaga Victoria, jadi kau benar-benar tidak menyukai 'Tuan Leo kami' ...?" mata Winda telah membelalak sempurna, saat menatap Victoria yang entah kenapa harus merasakan sedikit panik, seolah sedang berada didalam sebuah persidangan ...


... NEXT

__ADS_1


__ADS_2