TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 74. Sabotase


__ADS_3

Bertepatan dengan berakhirnya sunset dengan warnanya yang kemerahan dan begitu indah, Victoria telah berpamitan kepada Winda untuk kembali kekamarnya lebih dulu.


"Kenapa terburu-buru, Vic?" tanya Winda dengan kedua alis bertaut.


"Aku merasa sedikit pusing," jawab Victoria jujur, dengan wajahnya yang terlihat lesu.


"Kau sakit?"


Victoria menggeleng. "Hanya sedikit pusing, Win. Mungkin karena efek kurang tidur ..." jawab Victoria asal-asalan, yang penting bisa memuaskan keingintahuan Winda, meskipun Victoria sendiri merasa heran kenapa akhir-akhir ini ia selalu merasa pening setiap saat.


"Tapi nanti malam kau akan datang kan?" Winda kembali memastikan sebelum Victoria benar-benar beranjak.


"Tentu saja aku akan datang. Mana mungkin aku mengabaikan dinner dengan serangkaian acara menarik tersebut."


"Iya, Vic, jangan sampai terlewat. Karena akan ada beberapa hiburan menarik juga banyak doorprize ..." ucap Winda bersemangat.


Victoria mengangguk guna lebih meyakinkan Winda, bahwa ia tak mungkin melewatkan kesempatan tersebut.


Tentu saja.


Karena bagaimanapun keadaannya, Victoria telah bertekad untuk tetap hadir meskipun saat ini ia harus merebahkan diri terlebih dahulu usai menegak sebutir aspirin sebagai pereda pening yang terus menggerogoti kepalanya belakangan ini.


Winda pun merelakan langkah Victoria yang terayun menjauh, sementara ia sendiri bahkan belum benar-benar rela beranjak dari bibir pantai yang mulai temaram, begitupun dengan semua orang yang ada disana.


Seperti para karyawan Mega Florist pada umumnya, Winda juga datang menghadiri family gathering hari ini bersama sang suami. Sedangkan Victoria adalah satu-satunya karyawan wanita yang datang seorang diri sehingga ia menempati kamar seorang diri pula di hotel tempat mereka menginap.


Begitu sampai di hotel, langkah gontai Victoria telah membawanya mendekati lift yang berada disisi kanan lobby hotel tersebut.


Victoria pun langsung masuk begitu saja ke bilik lift yang terbuka itu seorang diri, sambil menekan angka tiga pada panel besi.


Begitu pintu lift tertutup tubuhnya langsung bersandar lesu ke dinding, sambil memijat kedua alisnya.


"Kepalaku ini kenapa yah? Mengapa akhir-akhir ini aku sangat sering merasa pusing bahkan mual tanpa sebab ...?" Victoria berdesis lirih pada dirinya sendiri. Bingung dan mereka-reka.


Tak berapa lama kemudian pintu lift itu terbuka tepat di lantai tiga, dan Victoria pun bergegas keluar dari sana.


Langkahnya yang gontai kembali terayun menyusuri lorong yang lenggang, dengan deretan pintu kamar yang terkatup dikiri dan kanan, hendak menuju kamarnya yang berada disisi kanan sambil terus memijat kedua alisnya.


Namun belum juga sampai dipintu yang dimaksud, Victoria telah dikejutkan oleh kehadiran seorang pria bertubuh tinggi kekar, yang telah menghalangi jalannya secara terang-terangan.


Pria itu mengenakan jaket kulit, topi, kaca mata, juga masker. Namun tetap saja sejumlah penyamaran itu tidak mungkin bisa mengecoh Victoria, karena Victoria bahkan tidak memerlukan waktu lama untuk bisa mengenali siapa gerangan pria yang berada dalam penyamaran sempurna itu, kurang dari satu detik.


"Leo ... k-kau ...?"


"Ikutlah denganku sebentar."


"Tapi ..."


"Jangan membantah. Sebelum ada yang memergoki dan mengenali diriku."


Victoria tidak menjawab lagi, hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Ia bahkan tidak lagi mengajukan protes begitu Leo mengambil pergelangan tangannya dan menariknya menuju pintu kamar yang berada tak begitu jauh dari tempat mereka berdiri.


"Kamar siapa ini?" wajah bingung Victoria tercetak jelas begitu mereka telah berada didalam sebuah kamar, seiring dengan gerakan kepalanya yang celingak-celinguk kesana kemari, mengawasi setiap sudut kamar.


"Kamarku."


Mendengar itu fokus Victoria langsung mengarah penuh kearah pria yang sedang berusaha membuka jaket kulit miliknya. Sementara topi, kaca mata, begitupun dengan masker yang dikenakan Leo rupanya telah ditanggalkan pria itu terlebih dahulu.


"Apa maumu mengajakku kesini?"


"Tidak ada."

__ADS_1


"Apa?" Victoria mendelik mendengar jawaban cuek itu.


"Apa aku harus butuh alasan jika mengajakmu kemanapun aku mau?" Leo terlihat berkacak pinggang dihadapan Victoria yang masih betah dengan sepasang mata yang membola.


"Leo, kalau kau tidak memiliki urusan apapun denganku maka sebaiknya aku pergi saja." ujar Victoria mengalihkan wajahnya dari sikap pongah Leo yang ada dihadapannya.


"Pergi kemana?"


"Tentu saja ke kamarku."


"Ini adalah kamarmu."


"Jangan konyol. Semua barang-barangku ada di ..."


"Maksudmu barang-barangmu yang itu?" jawab Leo cuek, sambil mengarahkan telunjuknya keatas meja rias, dimana semua perlengkapan kecantikan untuk tubuh dan wajah milik Victoria yang seingatnya berada diatas meja kamarnya, kini telah berjejer rapi diatas meja yang ada dikamar Leo, begitupun dengan handbag miliknya.


Victoria terbelalak. Bagaimana mungkin semua barang-barang yang ada dikamarnya bisa berpindah begitu saja ke kamar ini ...?


"Mengapa semua barang-barangku ada disini?" tanya Victoria yang menyadari, bahwa Leo telah melakukan sabotase atas dirinya, begitupun dengan semua barang-barang miliknya.


"Kenapa kau bertanya? Bukankah sudah seharusnya semua barang-barangmu terlebih dirimu, berada dikamarku?" pria itu terlihat menjawab pongah sambil melemparkan tubuh atletisnya keatas ranjang.


"Leo, kau ini bicara apa?"


"Kau kan istriku, untuk apa tidur dikamar hotel seorang diri ...?"


Victoria membuang wajahnya keki menerima sikap keras kepala Leo yang tidak ia ketahui apa maunya ini.


Kepala Victoria yang pening terasa semakin pening saja, sehingga membuatnya sedikit meringis saat harus memijat kembali kedua alis.


Melihat pemandangan tak biasa itu Leo pun mengerinyit, pria itu bangkit begitu saja dari atas ranjang dan mendekati Victoria dengan wajah bingung.


"Ada apa?"


"Vic ..." Leo menyentuh lengan Victoria, memaksa seluruh tubuh wanita itu agar menghadap kearahnya.


"Sudah kubilang, tidak apa-apa ..." tepis Victoria, berusaha menghindar dari tatapan mata elang Leo yang selalu mampu membuatnya meleleh.


Usaha Victoria tersebut sia-sia, karena kekuatan Leo membuat Victoria tak mampu menepis pria itu dengan mudah.


"Kenapa wajahmu pucat seperti ini?" tangan besar Leo menangkup wajah mungil Victoria yang tak bisa lagi menghindar.


Detik berikutnya hanya ada keheningan yang ada, manakala sepasang mata mereka masing-masing saling beradu begitu dekat tanpa kata.


Victoria merasakan bibirnya begitu kelu mendapati manik mata Leo yang seolah tidak bisa ia selami kedalamannya.


Namun saat mendapati mimik kekhawatiran yang terlihat menggantung jelas diwajah tampan Leo, Victoria bahkan tidak bisa mempercayai hal tersebut.


"Aku akan memanggil dokter."


"Tidak perlu."


Gestur tubuh Leo yang berniat hendak menjauh pun kini tertahan, manakala pergelangan tangannya yang berada di pipi Victoria telah dicekal oleh jemari yang halus, membuat kedua tangan Leo seolah terpatri untuk tetap membingkai wajah mungil itu.


"Vic ..."


"Aku hanya lelah."


"Tapi ..."


"Leo, tolonglah ... aku tidak mau berdebat. Kepalaku pusing ..."

__ADS_1


"Baiklah, baiklah kalau begitu. Ayo kemari ..." pungkas Leo sambil menuntun tubuh Victoria mendekati ranjang, mendudukkannya disana terlebih dahulu sebelum ia beranjak kearah nakas.


Leo menuangkan segelas air mineral kedalam gelas dan membawanya kepada Victoria.


"Minumlah." ucap Leo lembut.


Kali ini Victoria tidak membantah. Ia menurut saat Leo menyodorkan segelas air mineral dan meneguknya nyaris tandas.


Leo mengembalikan gelas itu kemeja kecil yang ada disisi ranjang, kemudian ia kembali dan menghempaskan tubuhnya tepat disisi Victoria yang membisu.


Wajah Victoria terlihat sangat lesu seolah tanpa gairah, membuat Leo tak tahan untuk meraih bahu wanita itu dan membawanya kedalam pelukan, kali ini tanpa perlawanan sama sekali.


"Vic, kita pulang saja yah." bujuk Leo perlahan, tangannya terangkat guna membelai rambut Victoria yang tergerai.


Hening, namun kemudian Leo bisa merasakan kepala Victoria yang menggeleng dalam dekapannya.


"Vic ...?"


"Tidak bisa Leo. Aku harus menghadiri acara puncak ..."


Leo terdiam sesaat mendengar jawaban itu sebelum akhirnya menarik nafasnya berat seraya menggeleng.


"Tidak. Aku tidak mengijinkannya."


"Tapi ..."


"Jangan membantah."


Dengan terpaksa Victoria menarik dirinya dari dalam pelukan yang begitu hangat, nyaman dan wangi khas Leo yang selalu mampu menentramkan jiwa, berganti menatap wajah mengeras Leo dengan tatapan memelas.


"Lalu aku harus bagaimana? Kalau aku tidak datang, mereka pasti akan curiga dan mencari keberadaanku di ..."


"Telepon-lah bosmu, katakan kau sudah pulang lebih dahulu karena ada urusan yang penting."


"Tapi Leo ..."


"Kalau kau menolaknya, maka aku yang akan menelepon." titah Leo dengan sorot mata yang setajam belati, seolah hendak menembus ke ulu hati.


Seperti biasa Leo harus mengancam Victoria terlebih dahulu, agar wanita itu mau tunduk pada keinginannya.


"Tidak ... tunggu ..." pungkas Victoria yang langsung panik mendengar ancaman tersebut. Kepalanya menggeleng berkali-kali.


Bukan apa-apa, karena pada kenyataannya Victoria tahu persis bahwa jika sudah bersikap demikian, itu berarti Leo tidak lagi main-main dengan perkataannya.


"Huhhf ... baiklah kalau begitu ..." ujar Victoria lagi. Seperti biasa selalu dirinyalah yang pada akhirnya harus tunduk dan mengalah jika sudah berhadapan dengan sikap keras kepala Leo.


Dengan terpaksa Victoria mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana jeans yang ia kenakan, bertepatan dengan ponselnya yang tiba-tiba berbunyi.


Nama 'Bos Luna' tertera jelas di layar ponsel milik Victoria, menandakan panggilan masuk dari Owner Mega Florist yang cantik itu.


"Luna menelepon." lirih Victoria kearah Leo.


Leo menyentuh kembali pipi Victoria yang halus, semakin berusaha menggiring keyakinan wanita itu, agar mau menuruti apapun yang ia titahkan.


"Angkat, dan katakanlah seperti yang telah aku katakan sebelumnya." ujar Leo dengan nada suara yang dalam, sarat dengan intimidasi.


Victoria pun hanya bisa menarik nafasnya perlahan hingga sepenuh rongga, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya patuh.


Dengan keyakinan yang telah didapat Victoria dari sentuhan lembut Leo disebelah pipinya, Victoria telah memutuskan untuk menggeser icon hijau diatas permukaan layar ponselnya, menguatkan hati untuk menerima panggilan Luna ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


Support plis, yang kencang yah 🙏


__ADS_2