
Padang rumput itu terhampar luas sejauh mata memandang, seolah tak bertepi.
Lana telah berjalan disana sekian lama, terus menyusuri padang rumput maha luas, namun ia tak kunjung menemukan apapun selain ilalang.
Lana memutuskan berhenti melangkahkan kakinya, saat kembali merasa dirinya terus berputar di titik yang sama, yakni ditengah padang rumput, yang mulai membuatnya ketakutan, ia pun terduduk diatasnya.. hatinya terasa hampa.. kosong.. seolah dibenaknya tak ada apapun yang tertinggal.
Tidak ada masa lalu, tidak mengenal saat ini, tidak berpikir kedepannya.
Yang Lana rasakan hanyalah kesendirian setelah sekian lama berjalan tanpa jeda, mungkin telah beberapa jam lamanya, dibawah sinar matahari yang terasa begitu dekat, namun anehnya ia tak merasakan hangatnya.
Semuanya terasa dingin..
"Lana.."
Lana tersentak.
Untuk yang pertama kalinya setelah beberapa jam hanya dipenuhi keheningan dan kekosongan, Lana terhenyak saat menyadari bahwa saat ini ia tak lagi sendirian.
Sepasang manusia yang tak jauh darinya berjalan semakin mendekat, dari wajah mereka berpendar cahaya terang.
"Lana, anakku.." wanita itu memanggilnya begitu akrab saat jarak yang tersisa terasa begitu rapat.
Tatapannya terasa lembut dan begitu dalam, membuat Lana seolah sedang melihat dirinya sendiri dipermukaan sepasang telaga.
Seolah sedang bercermin, karena wajah sang wanita yang begitu mirip dirinya, terlebih bola mata yang berwarna coklat muda.
"Ibu.." Lana bergumam, padahal ia bahkan tidak mengenal wanita yang sedang tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya, hanya mengikuti instingnya saja.
Refleks Lana menyambut uluran tangan itu, permukaan jemari Lana ikut merasa sejuk, seolah terkontaminasi begitu saja, oleh kesejukan dari permukaan telapak tangan wanita yang telah ia panggil ibu.
Sementara pria tampan paruh baya disebelahnya merengkuh mereka berdua sekaligus kedalam pelukan, yang terasa nyaman. Wajah pria itu begitu bersih dan bersinar.
"Ayah.." sekali lagi bibir Lana berucap sendiri tanpa ia kendalikan.
Lana tak mengenali keduanya, tapi hatinya mempercayai perkataan yang datang dari dalam sanubarinya begitu saja, bahwa itu adalah kebenaran.
Mereka adalah kedua orang tuanya yang sesungguhnya, kedua orang tua yang menyayangi dirinya dengan segenap jiwa dan tanpa syarat.
"Ayah.. Ibu.. aku merindukan kalian, aku rindu.." lirih Lana, kelopak matanya menghangat. Tangisnya memecah lirih, seolah ingin menuntaskan semua rasa sakit yang selama ini terus menusuk disetiap jengkal tubuhnya.
Lama mereka bertiga tenggelam dalam pusaran rasa haru.
"Ayah, Ibu, jangan tinggalkan aku.." lirih Lana diantara tangis.
"Kami tidak pernah meninggalkanmu, Nak, meskipun kami tak terlihat, tapi percayalah, kami selalu ada dikedalaman hatimu.."
Lana tergugu mendengar kalimat lembut Ibu. Ia merapatkan tubuhnya, seolah ingin masuk kedalam jiwa sepasang sosok yang sedang merengkuhnya penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Lana, kau sudah berjalan cukup lama, sudah waktunya kau pulang, Nak. Kembalilah.. karena tempatmu bukan disini.."
Lana tercekat ketika suara pria yang menentramkan jiwanya itu kembali terdengar, diiringi sapuan lembut tangan yang besar dipucuk kepalanya. Lana sontak menggeleng.
"Tidak, Ayah. Aku mau disini saja, aku mau bersama Ayah dan Ibu.."
"Tidak bisa.."
"Kenapa tidak bisa..?"
"Karena ada yang sedang menunggumu pulang.."
"T-tapi.. A-Ayah.."
"Ayahmu benar, Lana. Pulanglah segera karena mereka menunggumu.."
"Tapi, Bu.."
"Temuilah kebahagiaanmu juga cintamu.. kau jangan khawatir, percayalah bahwa Ayah dan Ibu akan terus mengawasimu selalu.."
Bertepatan dengan usainya kalimat itu, kedua sosok yang memeluknya seketika mulai menguap sedikit demi sedikit..
"Tidak Ayah.. Ibu.. jangan pergi.."
"Lana, kami menyayangimu.."
Lana bereriak kencang saat menyadari sosok kedua orang tuanya yang semakin mengabur dan menghilang.
"Tidaakkk..!!" Lana berteriak, menangis dengan keras.
Seiring dengan semua itu, tiba-tiba Lana merasa tempatnya berpijak terasa bergetar hebat bahkan langit diatasnya ikut berputar.
'Apa ini..? apa yang terjadi..?'
Sebuat sinar yang sangat terang nampak muncul dihadapannya, kilaunya begitu menyilaukan mata.
Lana panik begitu menyadari tubuhnya telah terhisap sempurna kedalam kumpulan sinar itu.
"Lana.."
"Lanaaa.."
"Lannaaa.."
Suara seorang pria yang memanggil namanya berkali-kali seperti bergema diatas langit. Membuat Lana terhenyak seolah menemukan ingatannya kembali.
"Tuaann.." air mata Lana meleleh begitu saja saat wajah seorang pria pemilik suara yang bergema memanggil namanya mendadak muncul dipermukaan ingatannya.
__ADS_1
"Lana.."
"Lanaaa.."
"Lannaaa.."
...
"Tuaaann..?! Tuaann Arshlaann..?!"
Suara mereka berdua seolah bergema bersamaan dilangit, bersahut-sahutan seolah saling mencari satu sama lain, mengisi seluruh udara disekitarnya yang telah berputar sempurna ibarat pusaran angin pu ting beliung yang menderu keras.. kemudian lamat-lamat berpadu dengan suara tangisan anak kecil yang mulai memenuhi telinga Lana.. begitu dekat.. semakin dekat..
"Aaakkh..!!"
Lana memekik ketika pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh sesuatu yang mungil.
"A-apa ini..?! t-tangan siapa ini..?!"
Lana tersentak kaget saat melihat dua pasang tangan mungil yang memegang tangan kanan dan kirinya sekaligus, seolah ingin menariknya semakin masuk kedalam pusaran.
Tidak terlihat apa-apa disana, hanya ada dua pasang tangan mungil yang muncul dari balik kabut, dan memegang kedua tangannya erat-erat, sementara pusaran angin didalam sinar yang menyilaukan semakin mengangkat tubuh Lana keatas, berputar semakin kencang.
Suara Lana yang berteriak keras seolah saling beradu dengan tangisan dua anak kecil yang memegang tangannya.
"Lana.."
"Lanaaa.."
"Lannaaa.."
Suara Tuan Arshlan semakin bergema jelas, namun Lana tak bisa menemukan sosok pria yang sangat ia cintai itu.
"Tuuuaaann..!!" Lana berteriak kencang saat merasakan tubuhnya terlempar dengan keras.. kemudian mendarat pada sesuatu yang lembut..
Seperti berada diatas permen kapas..
...
Bersambung..
Double up loh ini.. 😀
Bunga.. Kopi..!! Bunga.. Kopi..!!
Vote.. Vote.. Vote..!! 😀
Lophyuuuu all.. 😘
__ADS_1