
Yuk mampir, dan dukung karya author lainnya :
...
"Aku tahu kau pasti kesal, tapi aku tidak menyangka jika kau akan sekesal ini melihat semuanya ..."
Florensia tersenyum kecut mendengar selorohan Luiz, setelah untuk beberapa saat lamanya tidak terjadi pembicaraan apapun diantara mereka di dalam mobil bertipe sport car coupe milik pria itu.
Meskipun terkesan enggan membalas langsung kalimat yang lebih mirip ejekan tersebut, namun tak urung dalam hati Florensia bahkan telah mencibir balik.
Luiz boleh saja mengejek dan tertawa remeh kepadanya secara terang-terangan, namun Florensia tahu persis bahwa sesungguhnya saat ini pria itu pasti juga sedang tidak baik-baik saja.
Saat hendak berangkat Dasha telah menyeret lengan El dengan begitu akrab sampai ke mobil.
Semua pemandangan itu telah membuat Florensia sangat cemburu, lalu bagaimana mungkin Luiz tidak ...?
"Ternyata hatimu masih tidak kemana-mana. Baguslah ... itu artinya kau adalah wanita yang cukup setia serta memegang komitmen ..." imbuh Luiz lagi kali ini dengan nada yang sok optimis.
"Luiz, kalau yang kau khawatirkan hanyalah kesepakatan diantara kita, maka kau tidak perlu repot-repot memikirkannya. Aku yang lebih tahu apa yang harus aku lakukan."
Luiz menyeringai mendengar jawaban acuh Florensia. Namun meskipun senyum mengejek tetap bertengger dibibirnya, kali ini Luiz lebih memilih fokus kejalan raya yang ada dihadapannya, tentu saja sembari terus mengawasi spion, dimana sebuah mobil SUV berwarna hitam milik El, setia membuntuti mobilnya.
Luiz menyembunyikan bunyi giginya yang bergemeretak menahan kesal, saat menyadari bahwa saat ini Dasha pasti berada disisi El.
Kira-kira mereka sedang membicarakan apa sepanjang perjalanan?
Luiz sudah bisa menebak bahwa pastinya suasana yang ada di dalam mobil El jauh lebih menyenangkan saat terisi celoteh keceriaan Dasha yang khas. Tidak seperti yang dialaminya saat ini, duduk diam dengan wanita menyebalkan, sekalinya mereka bicara hanya berdebat saja.
'Tuan ... karena kau sangat kejam, maka aku pun ingin mematahkan sesuatu yang ada didalam sini ...'
'Hatimu. Aku akan mematahkan hatimu, Tuan Luiz ... aku bersumpah akan mematahkannya ...'
Kalimat Dasha pada pembicaraan terakhir mereka terus terngiang di otak Luiz.
'Mematahkan hatiku ...?'
Luiz tersenyum kecut.
'Dasha ... apakah kau memang harus berniat sekeras itu?'
'Seharusnya kau tidak perlu melakukannya, karena saat ini hatiku tidak hanya patah, melainkan hancur ...'
'Aku hancur, hanya dengan melihatmu tertawa pada seorang pria ... yang bukan diriku ...'
Dalam diam Luiz terus membathin masygul, sementara ingatannya selalu melayang ke wajah mungil milik Dasha, yang senantiasa menghantui benaknya ... bahkan mimpinya disetiap malam ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Nona Vic, kau yakin akan duduk disana dan tidak ingin bertukar tempat?"
Untuk yang kesekian kalinya Dasha menengok kebelakang, guna memastikan keadaan Victoria.
"Dasha, kau kan bisa melihatnya sendiri bahwa sejak tadi aku duduk dengan nyaman ..." imbuh Victoria dengan senyum, seolah dengan senyumnya itu ia ingin semakin meyakinkan Dasha bahwa dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
"Baiklah, tapi Nona harus berjanji bahwa jika ada sesuatu jangan sungkan untuk mengatakannya yah ..."
Victoria terlihat mengangguk. "Iya, iya, aku pasti akan mengatakannya. Sudahlah, tegakkan saja dudukmu. Kalau kau terus-menerus menengok kebelakang bisa-bisa sampai di tujuan nanti punggungmu sakit ..."
"Victoria berkata benar, Dasha. Punggungmu akan sakit kalau kau terus berada di posisi seperti itu." kali ini El yang berucap guna mendukung kalimat Victoria.
Mendengar saran yang sama, pada akhirnya Dasha pun mengalah. Ia kembali duduk dan menegakkan punggungnya ke sandaran tempat duduk mobil El yang empuk.
"Vic, kalau kau butuh sesuatu jangan sungkan untuk mengatakannya." El berucap sambil melirik sejenak kearah spion tengah, guna mendapati wajah Victoria disana.
Bukan apa-apa, melainkan El merasa bahwa ia memang harus ekstra hati-hati karena sedang mengemban sebuah tanggung jawab yang tidak main-main, menyangkut keberadaan Victoria selaku menantu keluarga Arshlan. Apalagi saat ini Victoria juga diketahui sedang mengandung cucu pertama dari orang terkaya di negeri ini.
"Iya, El, aku berjanji aku pasti akan mengatakannya kepada kalian berdua. Tapi untuk saat ini ... sungguh aku sedang baik-baik saja."
El terlihat mangut-manggut. Ia percaya bahwa Victoria pastilah lebih memahami kondisi fisiknya sendiri dibandingkan orang lain.
"Oh iya ... Nona Vic, aku sering mendengar, katanya orang yang sedang hamil sering mengalami mual dan kehilangan nafsu makan. Apakah itu benar?" lagi-lagi Dasha tidak kuat untuk menahan diri agar tidak selalu menoleh kebelakang, meskipun kali ini ia tidak berlama-lama melakukannya.
"Itu semua benar, Dasha. Aku juga sempat merasakan morning sickness, dan rasa malas melakukan semua hal sehingga ingin terus-menerus tidur sepanjang hari. Tapi dua hari terakhir ini, anehnya aku malah tidak mengalaminya sama sekali ... dan kondisi tubuhku juga sangat sehat ..."
"Benarkah Nona? Kalau begitu syukurlah, aku juga ikut lega mendengarnya ..." Dasha mengusap dadanya sambil tersenyum lega.
"Vic, aku pernah mendengar, bahwa perasaan tenang dan bahagia bisa mensugesti diri sendiri. Mungkin itulah penyebabnya kondisi tubuhmu berada dalam keadaan terbaik ..." ucap El kemudian seolah ikut berkontribusi dalam pembicaraan Victoria dan Dasha.
"Sepertinya kau benar El. Karena sejatinya sugesti pribadi memang dapat mempengaruhi pikiran sadar juga alam bawah sadar kita."
Dibelakang kemudi El terlihat manggut-manggut mendengar perkataan Victoria tersebut.
"Lagipula Leo memang sangat terlihat mencintaimu. Meskipun memang ia sangat posesive tapi percayalah, Vic ... kau sungguh beruntung mendapatkan pria sebaik Leo ..."
Victoria pun mengangguk dan mengiyakannya dengan senyum penuh kebahagiaan.
Kali ini celetukan bersungut milik Dasha yang menyeruak diantara pembicaraan El dan Victoria.
"Lihat saja sekarang, masa iya Tuan Leo bahkan bisa cemburu dan tidak mengijinkan Nona Victoria duduk di depan bersama Tuan El ...? Dasar bucin ...!"
Dari kursi belakang, suara tawa renyah Victoria terdengar menanggapi ocehan Dasha yang tiba-tiba saja sudah mengomeli Leo, sementara El yang duduk disebelahnya hanya mengulum senyum sambil melirik Dasha sekilas.
"Seharusnya kau tahu apa alasannya, mengapa Leo bisa se-posesive itu kepada Victoria ..." pancing El, yang langsung mendapat respon dari kepala Dasha yang langsung menoleh kearahnya dengan sepasang mata cerah yang membola karena penasaran.
"Aku tidak tahu. Memangnya Tuan El tahu apa alasannya?" usut Dasha tak sabar.
"Tentu saja."
"Apa ...?"
"Karena aku sangat tampan."
"Ha-ah?!"
El tertawa mendapati wajah bengong Dasha dalam menanggapi kenarsisan dirinya.
Reaksi alami Dasha yang terlihat terang-terangan tidak hanya sukses membuat El tergelak, melainkan Victoria juga.
"Hei, Dasha ada apa dengan wajahmu? Memangnya kau sangsi kalau aku tampan?"
Dasha menggeleng, namun matanya masih setia mengawasi wajah El tanpa berkedip.
Sesungguhnya dalam hati Dasha juga mengakui bahwa El memang sangat tampan, hanya saja ia tak pernah mengira bahwa El bisa mengakui ketampanannya sendiri dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Jangan menatapku terus, aku bisa salah tingkah kalau kau tidak berhenti menatapku seperti itu. Lagipula, kalau kau tidak berhenti sekarang ... bisa-bisa kau juga bakal naksir kepadaku ..."
"Ha-ah ...!" Dasha terpekik ngeri. "Tidak ... tidak ..." sanggahnya cepat, sambil mengalihkan kepalanya secepat mungkin dari sosok El yang menyetir sambil tertawa terpingkal, karena merasa sukses menggoda Dasha.
Sementara dibelakang sana, Victoria juga tak berhenti tertawa, karena selalu saja merasa lucu acap kali menyaksikan interaksi konyol El dan Dasha yang ada didepan hidungnya.
Perjalanan menuju acara gala premiere dari film Leo yang berjudul Love Desire 2 jadi terasa menyenangkan untuk Victoria, karena hatinya yang senantiasa terhibur oleh ulah kocaknya El dan Dasha di sepanjang perjalanan.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sesuai perkiraan, tiket film Love Desire 2 di seluruh bioskop telah habis diserbu oleh para penikmat film yang bergenre action romansa tersebut.
Beruntungnya pihak penyelenggara sangat profesional, sehingga meskipun situasi sangat ramai dipenuhi manusia, namun suasananya sangat tertib dan kondusif.
Kendatipun demikian Leo dan Luiz juga sangat waspada.
Diam-diam mereka juga telah menaruh pengawalan ekstra tanpa sepengetahuan semua orang, demi memastikan bahwa kenyamanan Luiz dan rombongan kecilnya dari awal kedatangan hingga akhir acara.
"Tuan Leo, apa pendapat anda tentang Premiere Love Desire 2 saat ini?" seorang wartawan telah melontarkan sebuah pertanyaan di penghujung acara sebelum pemutaran film dimulai.
Leo yang berdiri dengan mic ditangan nampak tersenyum manis kearah semua orang.
"Buatku pribadi, premiere adalah sebuah perayaan. Perayaan atas kerja keras dan totalitas baik itu dari rumah produksi, sutradara, pemain, dan segenap kru yang terlibat didalam suksesnya sebuah film. Tapi melihat antusiasme saat ini aku sangat yakin, bahwa Love Desire 2 telah dinantikan oleh kalian semua ..."
Tepuk tangan para penggemar terdengar membahana menyambut kalimat apik dari Leo.
"Kalau dari Nona Lisa sendiri bagaimana?" tanya wartawan yang sama kearah Lisa, yang berdiri tepat disisi Leo, juga dengan mic di tangan.
"Sama seperti yang diungkapkan Tuan Leo barusan. Bahwa hal pertama yang membuatku sangat senang melangkahkan kaki ke gala premiere film Love Desire 2, adalah saat aku membayangkan betapa bangga dan bahagianya melihat karya ini dinikmati dan diapresiasi oleh banyak orang ..." ungkap Lisa dengan senyumnya yang khas. Wanita itu terlihat sangat cantik dalam balutan gaun berwarna dominan putih, yang membungkus tubuh rampingnya.
Sesi tanya jawab wartawan seharusnya sudah berakhir, manakala seorang wartawan yang sejak tadi terlihat sangat ingin bertanya nampak buru-buru berdiri meminta waktu kepada panitia dengan wajah penuh permohonan.
"Silahkan ..." Leo telah memberi ijin terlebih dahulu tanpa berkonfirmasi, karena merasa kasihan melihat wartawan yang terlihat berusia paruh baya tersebut.
"Tuan Leo terima kasih atas kesempatannya, saya hanya ingin bertanya, khusus untuk Tuan Leo saja ..." pria itu berdiri tegak menatap Leo, wajahnya juga ikut terpampang di layar monitor besar dan terlihat dengan sangat jelas.
"Silahkan ..." jawab Leo singkat.
"Tuan Leo, sungguh saya sangat penasaran. Ada isyu yang mengatakan bahwa Love Desire 2 merupakan proyek mahakarya terakhir dari Tuan Leo. Apakah benar begitu ...?"
Leo tercenung mendengar pertanyaan yang tak terduga tersebut. Seluruh ruangan yang luas dan berjubel manusia itu pun sontak menjadi hening.
Leo menatap kebawah sana, ke jejeran paling depan, dimana Victoria duduk disana dengan tatapan yang selalu tertuju pada dirinya seorang, disertai senyum yang tak pernah lekang, seolah terus memberikan kekuatan yang membuat Leo mampu menatap dunia dan menghadapinya.
"Benar."
Singkat.
Hanya satu kata ...
Namun mampu membuat keheningan yang semula bertahta berganti menjadi suara-suara riuh rendah ... dari setiap hati semua orang ... yang terguncang mendengarnya ...
...
Bersambung ...
Support jangan lupa yah π€
Maaf baru up, karena asam lambung adalah musuh semua orang ... π π
__ADS_1
.......