TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 24. Apartemen Luiz


__ADS_3

Luiz tidak bisa berbuat apa-apa menerima kenyataan yang ada dihadapannya.


Mau tak mau, ia harus menganggukkan kepalanya dengan pasrah, rela saat harus menyaksikan ketiga remaja berumur belasan itu telah berjejal masuk kedalam mobilnya dengan bersuka ria.


"Kau mau kemana?" Luiz menarik tengkuk Dasha yang baru saja berniat untuk masuk kedalam mobil, mengikuti jejak sepasang remaja yang mengaku bernama Devon dan Mona, yang telah lebih dulu masuk kedalam sana.


"Tentu saja aku mau masuk ke ..."


"Duduk didepan!" titah Luiz dengan wajah masam, sambil membanting pintu mobil jejeran kedua dengan sedikit keras, ganti membuka pintu yang ada dijejeran depan agar Dasha bisa duduk disampingnya. "Apa-apaan, kalian pikir aku sopir pribadi kalian? Masuk!!" pungkasnya sedikit sewot.


Dasha mencebik mendengar kalimat ketus itu. Bibirnya refleks naik dua centi, namun ia tetap mengikuti perintah Luiz dan masuk kedalam mobil lewat pintu yang dibuka pria itu.


"Iya ... iya ..." sungutnya lagi.


Saat memastikan bahwa Dasha benar-benar telah duduk dengan sempurna dikursi depan, barulah Luiz menutup pintu disebelahnya, sebelum akhirnya berjalan kesisi mobil yang lain.


Mobil Luiz pun melaju perlahan, meninggalkan area asrama, menyusuri jalanan sore, dengan kondisi lalu lintas yang padat merayap, khas suasana menjelang akhir pekan ...


🌸🌸🌸🌸🌸


"Kalian berdua bisa menempati satu kamar. Dan kau ... kamarmu ada dibelakang sana."


Luiz menunjuk dua kamar kosong yang pintunya hanya berjarak tak lebih dari dua meter. Yang satunya ia peruntukkan untuk Dasha dan Mona, dan yang satunya lagi untuk Devon.


Kedua kamar yang berada dilantai satu dari apartemen miliknya itu memanglah merupakan dua dari tiga kamar tidur yang tersedia, tentu saja selain kamarnya sendiri yang berada dilantai dua.


Sejujurnya Luiz tidak menyukai kehadiran Mona, apalagi Devon yang notabene adalah seorang pria.


Tapi Luiz malah tidak bisa berbuat apa-apa hanya dengan menyaksikan wajah memelas Dasha, lengkap dengan sepasang mata bulat yang berpendar, seolah mampu menggoyahkan jiwa dan raganya dengan begitu mudah.

__ADS_1


"Baik Tuan, terima kasih." Devon menunduk takjim. Detik berikutnya ia telah menatap Dasha dan Mona. "Kemarikan tas kalian, biar aku yang akan membawanya kedalam kamar dan ..."


"Devon, urus saja dirimu sendiri, nanti biar aku yang akan mengangkat tas mereka berdua." titah Luiz lagi masih dengan suara datarnya.


Devon yang hendak mengambil alih travelbag yang ada ditangan Dasha dan Mona sontak urung mendengar larangan itu.


"Baiklah, baiklah, Tuan Luiz. Kalau begitu aku permisi dulu, aku akan menaruh tas milikku kedalam kamar..." Devon kembali mengangguk dan berucap gugup.


Kemudian dengan gerakan secepat kilat, Devon telah menyambar travelbag miliknya yang teronggok dilantai, langsung memasuki kamar miliknya, berusaha agar bisa berlalu secepat kilat dari hadapan Tuan Luiz beserta auranya yang menakutkan, seolah mengintimidasi.


Sepeninggal Devon, suasana kembali hening.


Tanpa kata Luiz mengambil alih dua buah travelbag yang masing-masing berada dalam genggaman Dasha dan Mona, menaruhnya sekaligus ditangan kiri dan kanannya, dan membawanya masuk kedalam kamar yang nantinya akan ditempati oleh kedua remaja wanita itu dengan acuh.


Tak lama kemudian wajah tampan dengan tubuh tinggi atletis milik Luiz telah kembali keluar, dan berdiri tepat dibingkai pintu.


"Aku telah menaruh tas kalian disisi lemari. Pergilah beristirahat sebentar, dan pergunakan waktu luang kalian untuk belajar. Ingat baik-baik, sebelum jam makan malam tiba, aku tidak mau mendengar suara bersenda gurau, keributan, dan sebagainya. Apa kalian berdua mengerti?"


"Iya, Tuan ..."


Dasha dan Mona berucap berganti-ganti, sambil mencoba melemparkan senyum kikuk yang terasa begitu kaku dan sulit.


"Baguslah kalau kalian berdua mengerti." pungkas Luiz lagi sebelum akhirnya memilih membalikkan tubuhnya dengan acuh, beranjak dari hadapan keduanya.


Luiz menaiki tangga kayu yang berada tak jauh dari pintu kamar, berniat masuk kedalam kamarnya sendiri, yang letaknya ada dilantai dua.


Sepeninggal Luiz, Mona langsung menyikut pelan lengan Dasha, sambil menggerutu perlahan panjang-pendek.


"Dasha, kenapa semuanya menjadi serba canggung dan sangat menakutkan seperti ini?"

__ADS_1


Dasha yang sedang ditatap, hanya bisa mengangkat kedua bahunya dengan pasrah.


Lagipula apa yang harus dirinya lakukan ...?


Ia sendiri bahkan merasa bingung dan tidak tahu lagi harus berbuat apa, saat menyadari setelah lima tahun berlalu Tuan Luiz tetaplah menjadi pribadi yang tak bisa ditolak dan ditawar.


Jika pria itu telah memutuskan sesuatu, maka akan sangat sulit untuk mengubah keputusannya.


Begitulah sepertinya tipikal orang-orang yang memiliki kekuasaan yang besar, mereka cenderung arrogan dan keras kepala.


"Kalau tahu nasib kita tak ubahnya tawanan rumah seperti ini, seribu kali masih lebih mendingan aku tinggal di asrama saja, dan menikmati wajah judes Nyonya Rosana setiap hari." Mona masih betah ngedumel panjang-pendek.


"Maafkan aku, Mona. Tapi kau jangan mengeluh dan menyalahkan diriku terus-menerus. Aku juga kan bernasib sama denganmu, sama-sama merasakan keadaan seperti ini akibat dari keputusan Tuan Luiz ..." ucap Dasha, mencoba membela diri.


"Kalau detik ini kau akan melarangku mengeluh, lalu bagaimana bisa aku mengeluarkan semua unek-unek yang ada diotakku ini ...?"


"Ssstt ... sudah diam, apa kau tega melihatku menderita seorang diri disini? Kita kan berteman, Mona, sudah sepantasnya aku membagi kesusahanku agar bisa dinikmati juga oleh dirimu dan Devon, hi ... hi ... hi ..." Dasha mengakhiri kalimat usilnya dengan terkikik geli, terlebih lagi saat menyaksikan wajah Mona yang terlipat sempurna.


Melihat tingkah Dasha tersebut, tentu saja telah membuat Mona dongkol dan melotot kesal.


Sungguh, Mona merasa jika belum apa-apa ia sudah sangat menyesal, telah mengikuti saran Dasha hanya karena teriming-iming dengan wajah si pria tampan nan rupawan, yang telah mencuri semua hati wanita yang ada di asrama dalam sekejap.


'Haihh, Tuan Luiz memang luar biasa tampan ... tapi sepertinya selera tuan tampan itu sama sekali bukanlah gadis ingusan seperti diriku ...'


Mona membathin kecewa, karena pada dasarnya, Luiz juga tidak pernah terlihat begitu tertarik dengan semua gadis belia yang ia temui di asrama tadi sore, padahal sudah jelas-jelas Luiz telah berhasil mencuri perhatian semua murid wanita, yang pada akhirnya hanya bisa menatap pria dingin itu dengan penuh kekaguman.


"Mona, sebaiknya akan lebih aman jika kita masuk kedalam kamar saja, dan melanjutkan obrolan kita ini didalam sana. Kalau kau terus mengomel disini, bisa-bisa tuan arrogan itu bisa mendengar semua ocehanmu ..." ajak Dasha masih dengan intonasi suara yang mirip bisikan.


Mona pun menganggukkan kepala tanda setuju. Ia telah mengikuti langkah Dasha, yang memasuki kamar yang telah ditunjuk Luiz, untuk ditempat dirinya dan Dasha hingga dua minggu kedepan.

__ADS_1


... NEXT


__ADS_2