TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 65. Kejutan Istimewa


__ADS_3

"Dasha, nanti kau saja yang memegang kuenya yah."


Dasha yang sejak awal begitu bersemangat menyaksikan Lana yang berusaha membuka kemasan kotak kue tart yang tadi sore dibawa oleh dirinya dan Luiz, sontak memucat, sementara wajah Lana malah terlihat sebaliknya, berseri-seri.


"Nyonya, kenapa harus aku?"


Lana tertawa kecil mendapati wajah polos Dasha yang memelas dipenuhi kekhawatiran.


Boleh jadi hubungan Lana dan Victoria selama ini berada di fase yang sulit, namun pada kenyataannya Victoria sendiri tidak pernah sekali pun membantah Lana.


Sejauh ini Victoria hanya akan diam seribu bahasa, setiap kali Lana menunjukkan sikap penolakan, namun berbeda hal jika menyangkut Dasha.


Siapapun pasti tahu betapa tidak akurnya Victoria dan Dasha selama ini, jadi wajar saja jika sekarang ekspresi wajah Dasha memancarkan keengganan.


Victoria dan Dasha begitu sering bertengkar, dan merupakan lawan yang seimbang setiap kali berdebat dalam segala hal.


"Kau lupa pesan Tuan Arshlan yah? Kau kan juga harus menunjukkan kepada Victoria bahwa kau ingin hubungan kalian berubah menjadi lebih baik mulai sekarang." ujar Lana beralasan, padahal sesungguhnya didalam hatinya juga ketar-ketir.


Ini adalah kali pertama Lana benar-benar harus menunjukkan perhatiannya untuk Victoria.


Terus terang saja Lana merasa tidak begitu percaya diri, namun untunglah ada Arshlan yang selalu menyemangati dirinya.


"Aaaa ... Nyonya, aku takut ... kalau dia menolakku bagaimana ...?" Dasha merengek, bahkan nyaris menangis.


"Itu tidak akan terjadi."


Suara berat Arshlan telah menyeruak diantara keduanya.


Benar saja, karena begitu Lana dan Dasha menengok kearah yang sama, Arshlan terlihat berjalan mendekat bersama Luiz yang berjalan disampingnya.


Kedua pria itu terlihat menawan dan sangat segar.


"Mana mungkin Victoria akan marah, jika mengetahui kalian berdua telah bersusah payah merancang semua kejutan ini untuknya."


Arshlan berucap lagi dengan yakin, bahwa menantunya tidak mungkin berlaku seperti apa yang sedang dikhawatirknan kedua wanita berbeda generasi dihadapannya.


Arshlan tahu persis bahwa sesungguhnya Victoria adalah wanita yang baik dan cakap.


Victoria telah menjadi sekretaris Arshlan selama beberapa tahun, sehingga Arshlan bisa menilai kepribadiannya.


Jika sebelumnya Victoria bersikap tidak menyenangkan, mungkin itu juga karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang sudah jelas-jelas tidak bisa menerima kehadirannya. Sementara untuk kasus Dasha, karena pada dasarnya Dasha yang masih sangat kekanak-kanakan juga sering sekali mengerjai Victoria.


Sesungguhnya setiap kali melihat keceriaan dan kelincahan Dasha hari ini, Arshlan merasa tak ubahnya dengan melihat Lana, saat istrinya itu masih begitu belia.


Dasha yang berusia enam belas tahun bahkan sepertinya jauh lebih dewasa dari Lana yang berusia sembilan belas tahun pada waktu itu.


"Dasha, kau tidak usah khawatir. Daddy telah menjamin bahwa hal yang kau takutkan itu tidak akan pernah terjadi," ucap Luiz sambil tersenyum, berusaha menambah keberanian Dasha sebagai usaha dalam mencairkan hubungan yang buruk dengan Victoria selama bertahun-tahun lamanya.


Mendengar perkataan Luiz itu pada akhirnya Dasha pun terlihat sedikit tenang.


"Baiklah, karena Tuan Arshlan dan Tuan Luiz yang mengatakannya, maka aku mempercayainya seribu persen." ujarnya kemudian.

__ADS_1


"Nah, begitu kan lebih baik. Kau harus bisa menunjukkan ketulusanmu jika kau benar-benar ingin berbaikan dengan Victoria ..." pungkas Luiz lagi, yang kembali disambut anggukan yang penuh percaya diri dari Dasha.


"Iya, Tuan, aku janji bahwa aku akan berusaha menunjukkan ketulusanku."


Semua yang mendengar tekad Dasha itu pun akhirnya ikut tersenyum lega.


"Baiklah, karena semuanya sudah siap, itu artinya kita tinggal menunggu kedatangan Leo dan Victoria." ujar Arshlan, yang kemudian disepakati oleh ketiganya.


Dasha membantu Lana menyingkirkan kotak kue tersebut dari atas meja, sementara Luiz terlihat berjalan kearah sofa, duduk menunggu disana dengan ponsel ditangan.


"Kau juga, sayang. Kau harus mempunyai keyakinan seperti Dasha." bisik Arshlan ditelinga Lana sambil tersenyum, sebelum kemudian pria itu beranjak kearah sofa yang ada diruang tengah, dimana Luiz telah lebih dahulu berada disana.


'Tentu saja. Tentu saja keyakinanku sudah bulat. Aku harus bisa menebus kesalahanku setelah sekian lama ...'


Dalam hati Lana bergumam, seraya mengumpulkan seluruh tekad yang kelak akan menjadi kekuatannya.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Ada apa ini? kenapa semua lampunya padam?"


Leo bertanya pada seorang pengawal yang berada tak seberapa jauh dari depan pintu masuk.


Disebelahnya Victoria juga telah ikut turun dari mobil dengan kepala yang celingak-celinguk bingung.


"Listrik dirumah ini sedang bermasalah, Tuan." ungkap sang pengawal sambil mengangguk patuh kearah Leo dan Victoria.


"Listriknya sedang bermasalah?" ulang Leo dengan dahi mengkerut.


Seingat Leo, seumur hidupnya dirinya tidak pernah mengalami hal seaneh ini sejak kecil.


"Lalu kenapa kalian tidak menyalakan mesin genset saja?"


"Tadinya sudah diusahakan juga, Tuan, tapi entah kenapa mesin gensetnya juga sedang bermasalah. Jadi tidak bisa dioperasikan ..."


Leo manggut-manggut.


'Sungguh kebetulan yang tidak menyenangkan.'


Bathin Leo usai mendengar penjelasan sang pengawal yang baru saja menguraikan duduk persoalan yang sedang terjadi, yang menjadi penyebab rumah megah kedua orang tuanya kini dilanda gelap gulita.


"Tuan Leo, masuk saja kedalam, karena didalam rumah ada penerangan secukupnya dari lilin."


Leo mengalihkan tatapannya kearah Victoria yang sejak tadi hanya diam menyimak pembicaraan tersebut.


"Sebaiknya kita masuk saja, Vic. Daripada kita berdiri disini terus." ucap Leo yang hanya disambut anggukan kepala tanda setuju oleh Victoria.


Begitu mereka berdua melangkah kedalam rumah, situasinya memang masih cukup temaram.


Hanya terdapat beberapa nyala lilin yang menjadi penerang seadanya, namun demikian semua itu sudah cukup membantu bagi Leo dalam meneruskan langkahnya.


Karena keadaan yang gelap, Leo mengambil inisiatif menggenggam jemari Victoria, guna menuntun wanita itu agar terus berada disekitarnya serta tidak menabrak meja maupun kursi.

__ADS_1


Langkah kaki mereka terus terayun semakin jauh, melintasi ruang tamu yang luas.


Memasuki ruang keluarga keadaan sekitar malah semakin bertambah gelap saja, hanya terdapat dua cahaya lilin kecil yang ada ditengah ruangan dan ...


Klik.


Mendadak situasi yang awalnya gelap gulita, kini menjadi terang benderang.


'Happy birthday to you ... happy birthday to you ... happy birthaday ... happy birthday ... happy birthday to you ...'


Alunan lagu happy birthday tersebut terdengar bergema diruang tengah.


Tidak hanya Victoria, bahkan Leo pun ikut merasa terkejut bukan kepalang, saat menyaksikan adegan yang tak pernah diduga akan terjadi dihadapan mereka.


Lantunan lagu happy birthday tersebut terdengar indah dari bibir Arshlan, Lana, Luiz, juga Dasha.


Keempat orang tersebut telah berkumpul ditengah ruangan, dengan Dasha yang berada ditengahnya sambil memegang kue tart, yang nyala lilinnya menunjukkan angka tiga dan nol.


Victoria sungguh tidak bisa mempercayai pandangannya saat ini. Tangan kirinya yang bebas serentak membekap mulutnya sendiri, dan sepasang matanya langsung berkaca-kaca.


Adegan yang sedang terjadi didapannya ini sungguh teramat sangat manis.


Semuanya seolah mimpi yang indah, namun jika semuanya hanyalah sebuah mimpi ... maka Victoria pun menolak bangun dari tidurnya.


Leo yang tersadar lebih dulu akhirnya berusaha menarik sebelah tangan Victoria yang sejak tadi berada dalam genggamannya.


Masih dengan ekspresi membekap mulut tak percaya, Victoria yang tadinya masih mematung penuh keraguan pun tak kuasa menolak Leo, yang menginginkan mereka agar lebih dekat dengan keluarga pria itu.


"Ayo, kau harus segera meniup lilinnya." ujar Leo bersemangat.


Leo sendiri bahkan tidak menyangka jika seluruh anggota keluarganya akan membuat kejutan seistimewa ini untuk Victoria.


Tanpa sadar dirinya ikut merasa mendapatkan surprise.


Sesaat kemudian Victoria telah berdiri tepat dihadapan Dasha, yang sedang memegang kue tart ulang tahun yang indah.


"Nona Vic, please make a wish ..." gadis yang biasanya sangat usil dan pecicilan itu kini terlihat menatap Victoria penuh kesungguhan serta ketulusan.


"Vic, ayo ..." kali ini suara Arshlan yang menyadarkan Victoria akan lamunannya.


Victoria pun memejamkan matanya sesaat ...


'Tuhan ... kalau boleh aku meminta, aku ingin bisa terus bahagia bersama Leo dan keluarga ini hingga akhir usia ...'


Keinginan dan doa itu, adalah hal yang begitu sering terucap di dalam relung hati Victoria. Namun kali ini saat kembali melafalkannya dalam hati, seisi sanubari Victoria seolah bergetar.


Victoria pun membuka matanya, kemudian meniup lilin yang berada tepat dihadapannya.


"Selamat ulang tahun, sayangku. Mommy akan mendoakan seluruh kebahagiaan agar senantiasa bersamamu ..."


Dua buah bening jatuh tak tercegah dari kedua sudut mata Victoria, saat menyadari tubuhnya telah berada sepenuhnya dalam rengkuhan penuh kasih sayang ... seorang ibu ...

__ADS_1


...


Bersambung ...


__ADS_2