
Untuk yang kedua kalinya Arshlan akhirnya berhasil juga menyematkan cincin cantik bermata ruby yang terlihat begitu pas di jemari Lana.
Iya benar.
Untuk yang kedua kalinya.
Karena dikesempatan pertama setelah Lana mengucapkan kalimat 'I will..' gadis itu terlihat menghindar begitu Arshlan mendekat hendak memasangkan cincin tersebut
"Tunggu Tuan.. tunggu sebentar.."
Detik berikutnya Lana terlihat berlari kearah lemari pakaiannya, kemudian ia terlihat mengeluarkan sebuah pakaian dari sana.
Arshlan hanya bengong mendapati tingkah laku Lana yang kini telah berbalik kearahnya dengan tatapan malu-malu.
"Pasang cincinnya nanti setelah aku selesai mandi ya Tuan.. aku tidak mau dilamar dalam keadaan buruk seperti ini.."
Usai berucap demikian Lana sudah kembali melesat kedalam kamar mandi tanpa bisa tercegah lagi, meninggalkan Arshlan yang berdiri bengong ditengah kamar dengan kotak cincin ditangan.
Sesaat Arshlan merasa dirinya seperti habis ditolak.
"Tuan, ini cantik sekali.." suara Lana yang mengungkapkan rasa takjubnya kembali terdengar. Gadis itu terlihat tak bisa berhenti mengagumi benda mungil yang telah melingkar dijari manisnya itu.
Yah.. tak berapa lama setelah meninggalkan Arshlan yang seolah masih tak menyangka jika dibalik rasa antusiasnya Lana malah memilih bergegas mandi terlebih dahulu ketimbang menerima cincin lamaran Arshlan secepatnya.
'Dia benar-benar mengabaikan cincinku ini.. apa dia tidak takut aku berubah pikiran yah..?'
Arshlan membathin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dan setelah beberapa saat menunggu akhirnya gadis itu keluar juga dengan wajah serta tubuh yang jauh lebih segar, rambutnya bahkan masih terlihat lembab.
Aroma wangi shampoo yang bercampur seimbang dengan aroma sabun mandi yang segar dan lembut menyeruak hingga kedalam indera penciuman Arshlan.
Seperti biasa Arshlan selalu merasa dalam keadaan apapun, entah kenapa Lana selalu mampu mengacaukan aliran darah sekaligus fokusnya dalam sekejap.
Dengan wajah yang berhiaskan senyuman, tanpa keraguan sedikit pun dan tanpa membuang waktu lebih lama, Lana langsung mendekati Arshlan, mengalungkan kedua lengan mungilnya dileher Arshlan dan mendaratkan kecupan lembut yang random disekujur wajah Arshlan yang keseluruhan rahang tegasnya ditumbuhi bulu halus.
Lana terus mengecup semuanya yang bisa terjangkau oleh bibir mungilnya hingga berkali-kali, sebelum kembali menatap Arshlan dengan tatapan hangat penuh dengan rasa cinta yang berpendar.
Sungguh perlakuan yang teramat manis.
Semua kemanjaan Lana seperti ini entah kenapa selalu membuat Arshlan merasa nyaman tanpa alasan dan sedikit malu untuk mengakui.
Bahwa pria player dengan usia dewasa seperti dirinya bisa-bisanya harus menyembunyikan rasa tersipu setiap saat, menghadapi sikap Lana yang kekanak-kanakan, namun sangat menyenangkan hatinya.
__ADS_1
Kalau mau jujur rasanya baru kali ini ada wanita yang memperlakukan Arshlan seperti ini.
Kemanjaan yang unik, ibarat seorang anak kecil polos yang ingin mencuri perhatian. Namun mungkin karena itu pula Arshlan justru merasa menjadi sosok dominan yang mampu menguasai setiap jengkal gadis itu, meskipun pada kenyataanya.. tidak.
Sh it..!
Lana pasti tidak tau jika semua yang ia lakukan sanggup membuat Arshlan merasa seperti bongkahan es batu yang sedang meleleh sedikit demi sedikit karena balutan kehangatannya.
"Sepertinya pilihanku sangat tepat, karena yang kulihat kau sangat menyukainya.." Arshlan memilih mendudukkan tubuhnya diatas sofa yang tadi ia duduki. Dari sana ia tersenyum saat mendapati Lana yang masih saja menatap jari manisnya dengan bangga.
"Tentu saja aku menyukainya. Tuan, coba lihat.. bagaimana bisa cincin ini bahkan sangat pas dengan ukuran jemariku ?"
"Benarkah..?" ujar Arshlan. "Coba kemari.. aku mau melihatnya dari dekat.." Arshlan menepuk pahanya beberapa kali sebagai isyarat agar Lana mau mendekat dan duduk dipangkuannya.
Lana pun mengangguk patuh. Ia bahkan terlihat semakin senang saat berada dipangkuan Arshlan, yang bersandar santai sambil berpura-pura serius mengamati cincin yang tersemat sempurna di jari manis.
Kebahagiaan Lana sudah tidak bisa lagi terkatakan. Bisa melihat pemandangan wajah tampan milik Arshlan langsung dari atas pangkuan pria gagah itu membuat hati Lana semakin cenat-cenut.
"Tuan.. kau sedang tidak bercanda kan?" berbisik penuh harap.
"Kau ingin aku membuat pembuktian seperti apa lagi, sayang..?"
Pipi Lana langsung merona mendengar panggilan 'Sayang' untuk pertama kalinya yang terlontar begitu manis dari bibir sexy milik Arshlan yang dikelilingi oleh bulu halus yang seolah tertata dengan sangat rapi, menambah kesan jantan pria yang umurnya dua kali lipat dari umurnya itu.
"Padahal tadi kau sudah mencubit punggung tanganmu sendiri. Masa masih saja ragu jika semua ini adalah kenyataan..?"
"Hhmmm.. dan seandainya semua ini hanya mimpi, aku bahkan tidak rela terbangun. Semua nya terasa sangat indah Tuan.. aku benar-benar masih sanksi hingga detik ni.."
"Kalau begitu coba katakan apa yang harus aku lakukan agar bisa membuatmu percaya bahwa semua ini benar adanya, dan aku sedang bersungguh-sungguh..?"
Lana terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menyunggingkan sebuah senyum nakal dibibirnya.
"Wah.. sepertinya kau sedang memikirkan sebuah hal yang luar biasa diotak kecilmu itu.." Arshlan berdecak saat menyadari garis senyum usil milik Lana yang terlihat seperti sedang merancang sesuatu.
Karena itulah meskipun terlihat tersenyum, namun sesungguhnya secara diam-diam Arshlan sedang waspada mendapati senyum yang khas itu.
Mengenal Lana dalam waktu singkat, bersama untuk beberapa saat, sudah cukup buat Arshlan untuk bisa mengetahui seluk-beluk, hal-hal yang menyangkut Lana.
Arshlan juga tau jika sedang tersenyum seperti itu, adalah pertanda jika Lana sedang memikirkan sesuatu yang tidak biasa diotak polosnya yang licik alami.
Mendengar kalimat Arshlan membuat Lana terkikik. Lana kembali mengalungkan kedua lengannya dileher Arshlan, bergelayut manja dan mesra disana.
"Ayo katakan.. kau sedang memikirkan apa..?" desak Arshlan.
__ADS_1
"Ahh tidak.. aku tidak mau mengatakannya.."
"Kenapa tidak mau..?"
"Karena aku takut jika itu akan membuat Tuan marah kepadaku lagi seperti kemarin.." rajuk Lana seraya menaruh kepalanya dipundak Arshlan.
"Kau bahkan masih mengingat kejadian kemarin.." wajah Arshlan berubah lesu padahal dalam hati menyeringai.
'Karena kejadian kemarin itu belum seberapa, Lana sayang.. masih ada begitu banyak hal yang lebih menyakitkan yang harus kau cicipi setelah semua sandiwara manis ini selesai..'
"Tidak Tuan, maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud mengingat kejadian kemarin.."
"Bukan kesalahanmu. Aku memang sudah melakukan tindakan yang berlebihan.."
"Tapi Tuan.."
"Kemarin, aku menjadi tersulut emosi semata-mata karena aku begitu ingin memiliki dirimu seutuhnya.."
Mendengar ucapan penuh damba itu membuat Lana menyurukkan wajahnya semakin dalam dibawah rahang tegas Arshlan. "Seluruh jiwa dan ragaku ini semuanya milik Tuan.." lirihnya bersungguh-sungguh.
"Kenyataanya aku tidak bisa memiliki apapun.." kilah Arshlan.
"Yang aku lakukan selama ini bukan karena aku sedang menolak, melainkan karena aku takut jika Tuan hanya akan mempermainkan aku lalu kemudian mencampakkan aku begitu saja setelahnya.." ujar Lana dengan nada sendu.
Arshlan pasti tidak mengerti, bahwa sama seperti dirinya yang begitu benci menerima penolakan terlebih dicampakkan, Lana bahkan telah merasakan semua penolakan seperti itu sejak lama.
Tidak terkecuali bagi Ayah dan Ibu yang seharusnya menjadi tempat perlindungan teraman bagi Lana.. bahkan rela mencampakkan dirinya demi orang lain..
.
.
.
*B**ersambung*..
Pantengin terus, karena akan ada double up..! 🤗
Follow my IG. @khalidiakayum
Follow my FB. Lidia Rahmat
Support jangan lupa yah guys.. Thx and Lophyuu all.. 😘
__ADS_1