
"Luiz, aku nyaris tidak percaya jika Dasha baru saja mengalami hal yang buruk."
Leo menyandarkan tubuhnya disebatang pohon, sambil menatap Luiz yang sedang memperbaiki simpul kuda yang terikat disalah satu dahan yang rendah.
Sejak tadi mereka berempat telah berkuda mengelilingi area ranch yang luas, sebelum kemudian berakhir dikaki bukit, tempat dimana sebuah sungai kecil mengalirkan air dari celah batu.
"Siapa yang mengatakannya?"
"Mommy."
Luiz diam tak menanggapi, namun tangannya terus bergerak menyelesaikan simpul terakhir.
"Bagaimana kau bisa begitu ceroboh, membiarkan Dasha masuk ke toilet umum seorang diri?"
"Mana aku tahu kalau didalam ada orang jahat?"
"Setahuku kau tidak pernah melakukan hal yang ceroboh, dan biasanya kau juga sangat peka, apalagi jika menyangkut Dasha ..."
Wajar saja Leo merasa heran, karena dirinya bisa saja menjadi partner Dasha dalam melakukan hal yang konyol, tapi sejak awal Dasha begitu tergantung kepada Luiz.
Bagi Luiz sendiri, meskipun ia tidak pernah terlihat benar-benar menyukai kehadiran Dasha sejak awal, namun mau tak mau Luiz harus membiasakan diri karena tanggung jawab yang telah dibebankan Mommy Lana dipundaknya.
"Suasananya begitu sepi, aku malah berpikir tidak mungkin ada orang didalam sana." pungkas Luiz pada akhirnya.
Terlihat sekali jika Luiz merasa kesal, mungkin karena Luiz menyadari bahwa Leo berkata benar.
Luiz nyaris tidak pernah melakukan hal yang salah, dan pria itu selalu bisa mengendalikan segala hal.
Wajar jika Luiz merasa geram dengan peristiwa yang menimpa Dasha, karena peristiwa tersebut telah berhasil membuatnya lengah dan nyaris kecolongan.
Keheningan kembali menyapa.
Tatapan Luiz dan Leo sama-sama tertuju kearah yang sama, dimana seorang gadis cilik dengan wajahnya yang ceria, terlihat begitu bersemangat saat mengacaukan aliran air sungai yang mengalir jernih, dengan kedalaman yang hanya sedikit diatas mata kaki.
Luiz dan Leo terus memperhatikan Dasha, meskipun disisi yang lain ada Victoria yang sedang sibuk ber-selfi ria, namun keberadaan gadis cantik itu, justru tidak menarik perhatian kedua pria itu sama sekali.
"Oh ya, Luiz, aku cukup kaget saat mengetahui, bahwa Victoria ternyata pernah datang ke ranch ini sebelumnya."
"Hanya dua kali," pungkas Luiz acuh.
"Tapi dia datang bersamamu."
"Lalu apa istimewanya?"
Leo terdiam lagi, diam-diam mengerling kearah Luiz yang masih menampakkan wajahnya yang datar.
"Luiz, apakah sebelum ini ... hubungan kalian ..."
"Tidak ada. Tidak ada hubungan apa-apa." tukas Luiz seolah tidak ingin memberikan kesempatan bagi Leo untuk mengira-ngira, hubungan seperti apa yang sebenarnya pernah terjadi antara dirinya dan Victoria, sebelum Leo hadir diantara mereka.
__ADS_1
Lagipula hubungan seperti apa?
Pada kenyataannya diantara Luiz dan Victoria, memang tidak pernah ada hubungan, apalagi sebuah komitmen.
'Wanita butuh pengakuan.'
Luiz sering mendengar quotes seperti itu, namun hanya menganggapnya angin lalu.
Ternyata quotes itu benar adanya. Karena meskipun Luiz telah memberikan perhatian, serta selalu berada disisi Victoria disetiap suka dan duka, namun sepertinya semua itu tidak pernah cukup bagi Victoria untuk bersabar menunggu Luiz memantapkan hati.
Bisa jadi perasaan Victoria memanglah belum begitu dalam ...?
Entahlah ...
Buktinya, hanya dalam sekejap, Leo bahkan bisa mendapatkan semuanya yang ada didiri Victoria.
Semuanya, yang justru telah dijaga Luiz sekian lama.
Heh ...
Sungguh miris.
Sekian lama menjaga seorang wanita, yang justru tidak bisa menjaga dirinya untuk pria lain.
Lalu siapa yang salah?
Tidak ada.
"Lalu kenapa harus menjauh?"
Alis Luiz terangkat, saat menerima pertanyaan Leo yang terdengar aneh. "Siapa yang kau maksudkan?"
"Tentu saja dirimu."
"Aku tidak menjauh."
"Lalu?"
"Hanya bersikap wajar, seperti sikap yang sudah seharusnya."
"Tapi kenapa?"
"Kenapa? setelah kau bersamanya, kau mau aku bersikap seperti apa?"
Kali ini Luiz telah menatap penuh kearah Leo yang balik terdiam.
"Kalau kau menyukai Victoria, kau tidak perlu sungkan. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Kita tidak pernah berkencan dalam artian yang sebenarnya, hanya beberapa kali pergi bersama dalam rangka pekerjaan, termasuk mengunjungi ranch ini sebanyak dua kali."
"Sayangnya aku pun tidak tertarik padanya." kilah Leo sambil meringis kecil.
__ADS_1
"Itu urusanmu, Leo." Luiz berucap acuh, sambil melipat kedua lengannya diatas dada. " Satu hal yang pasti, entah itu Victoria atau wanita manapun diluar sana, entah kau benar-benar menyukai mereka atau tidak ... aku tidak mau berada diantara wanita, yang memiliki hubungan denganmu atau pria lain. Aku hanya menginginkan wanita ... yang hanya bisa menatapku seorang ..."
"Kalau seperti itu, kau sudah memilikinya." kilah Leo secepat peluru.
Alis Luiz bertaut saat menyadari wajah Leo yang kini sedang menyimpan senyumnya yang terkesan usil.
"Siapa yang kau maksud?"
"Disana ..." dengan bibirnya yang terangkat Leo telah menunjuk kearah gadis mungil yang terlihat semakin bersemangat mengacaukan aliran sungai yang mengalir syahdu.
"Dasha?" sepasang mata Luiz melotot sempurna.
"Dia adalah gadis yang selalu menatapmu, meski kau selalu memarahinya setiap saat ...! Ha ... ha ... ha ..." tawa Leo pecah begitu saja.
"Kau sudah gila ya?!" wajah Luiz terlihat merah padam menahan kesal.
Detik berikutnya Luiz telah melemparkan ranting kecil yang ada ditangannya kearah Leo, yang saat ini telah tergelak sempurna.
"Egh ... egh ... tunggu, Luiz, apa yang kau lakukan?!" Leo berteriak panik, saat dengan gerakan cepat yang tak terbaca, Luiz telah bangkit guna memiting lehernya dengan keras.
"Berkata yang tidak-tidak lagi, akan kuberi kau pelajaran yang lebih menyakitkan dari ini!" ancam Luiz kearah Leo, yang meringis sambil mengelus batang lehernya.
"Iya, iya, aku tidak akan mengatakannya lagi. Aku berjanji!!" pungkas Leo demi meredam kekesalan Luiz yang langsung mencapai ubun-ubun, menerima kelakar Leo menyangkut Dasha.
"Awas saja kalau kau menjadikan hal itu sebagai bahan bercandamu lagi!" ancam Luiz seolah ingin menegaskan bahwa dirinya sedang tidak bermain-main, yang malah dihadiahi kedipan mata yang usil dari Leo.
Leo malah terlihat melambaikan tangannya kearah Dasha yang kebetulan menoleh kearah mereka, seolah gadis itu mendapatkan feeling bahwa dirinyalah yang sedang menjadi topik pembicaraan kedua pria kembar yang tampan dan menawan itu.
"Ayo kembali, nanti keburu malam." sungut Luiz, tak ingin berlama-lama dengan Leo yang mulai terlihat semakin ingin berbuat usil jika dirinya tidak cepat menghindar.
"Baiklah, lagipula nanti malam akan ada pesta barbaque. Mungkin setelah ini, kita tidak akan sering bertemu mommy dan daddy dalam waktu yang lama." ucap Leo berubah sendu, kali ini wajahnya terlihat serius saat mengingat rencana kedua orang tua mereka yang akan pergi keluar negeri, dalam rangka mengurus perusahaan yang baru dibangun agar bisa berjalan dengan maksimal ditahun-tahun pertama.
"Heiiii Dashaa, sudah waktunya pulang. Jangan bermain air lagi, nanti bajumu basah!!" teriak Leo kearah Dasha.
Mendengar titah tersebut tidak hanya Dasha yang akhirnya memutuskan untuk mendekat, karena Victoria juga terlihat mendekat kearah Luiz dan Leo.
"Hore ... akan ada pesta barbeque ...!" wajah Dasha terlihat berbinar.
"Jangan senang seperti itu. Seharusnya kau sedih karena malam ini adalah pesta perpisahan daddy dan mommy, sebelum mereka berangkat keluar negeri. Apa kau lupa?" tukas Leo berpura-pura galak.
Tangan kanan Leo yang telah terangkat untuk menoyor kepala mungil Dasha mendadak terhenti diudara, karena tangan besar milik Luiz telah menahannya terlebih dahulu.
"Jangan bercanda lagi, ayo kita kembali." pungkas Luiz dengan intonasi suara yang datar.
Luiz naik keatas pelana kuda setelah menghempaskan tangan Leo yang telah gagal mencapai sasaran.
Pria dingin itu bahkan tidak merasa perlu untuk menunggu Leo, Dasha, apalagi Victoria, karena begitu tubuhnya mendarat sempurna diatas pelana kuda, Luiz telah melesakkan cambuknya, meninggalkan ketiganya begitu saja ... tanpa menoleh ...!
...
__ADS_1
Bersambung ...
Supportnya mana akaaakk ... 😍