TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 113. Api Cemburu


__ADS_3

Victoria meletakkan lipstick berwarna peach miliknya, yang baru saja ia sapukan ke bibir Dasha.


"Very perfect ..." desisnya seraya menatap Dasha takjub, membuat yang dipuji langsung merona malu.


"Nona Vic, sedari tadi Nona memujiku terus, bisa-bisa aku melayang ke bulan ..."


Victoria tertawa mendengar protes manis yang terlontar dari bibir Dasha.


"Aku tidak sembarang memuji, tapi ini kenyataan, kau memang sangat cantik." kemudian wanita itu meraih kedua bahu Dasha, memaksanya untuk menghadap cermin besar yang terletak di meja rias. "Coba kau lihat sendiri bagaimana hasil riasanku ...? Apakah menurutmu ada yang kurang ...?"


Mendapati wajahnya sendiri yang terpantul sempurna di permukaan cermin membuat Dasha sangat terkejut.


"Astaga Nona Vic, apakah itu aku?"


Ujar Dasha sembari terpukau, nyaris tak percaya.


'Bagaimana bisa wajahku bisa secantik sosok yang terpantul disana?


'Nona Victoria bahkan telah menata rambutku dengan sedemikian rupa ...'


'Gaun pemberiannya juga terlihat sangat mempesona ...'



Dasha seolah tak puas mematut dirinya di cermin, sambil menggerak-gerakkan wajah dan tubuhnya kekanan dan kekiri.


"Bagaimana? Kau suka tidak dengan hasil akhirnya?"


"Suka, Nona! Suka sekali! Oh, astaga, Nona ... ternyata aku jadi semakin cantik karena semua mahakarya Nona Victoria ...!"


Mendengar tanggapan antusias tersebut Victoria tersenyum gembira.


Sungguh ia bahagia mendapati hasil karyanya pada penampilan Dasha disebut gadis itu sebagai mahakarya.


"Syukurlah kalau kau menyukainya. Lagipula kau sudah punya basic wajah yang cantik alami, tak memerlukan kesulitan khusus untukku membuatnya menjadi semakin cantik ..."


Dasha tersenyum senang, ia menatap Victoria yang juga telah berpenampilan sempurna dengan raut wajah yang dipenuhi kebahagiaan.


Dasha bahkan tidak pernah menyangka jika moment kebersamaan dengan Victoria, semakin lama semakin berkali-kali lipat lebih menyenangkan.


"Nona Vic, kau juga sangat cantik. Sepertinya kita berdua telah menentukan gaun yang sangat tepat untukmu, dan aku yakin seribu persen jika Tuan Leo sudah pasti akan semakin terpesona ..." ucap Dasha kemudian, kali ini sepasang matanya bersinar takjub saat menguliti sosok Victoria dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Dasha tak bisa memungkiri bahwa sejak dulu, meskipun awalnya terkesan sangat menyebalkan, namun sosok Victoria memang sangat cantik.


Perihal entah kenapa Leo baru menyadarinya jika sebenarnya ia sangat beruntung mendapatkan istri secantik Victoria, Dasha pun tak habis pikir.


"Dasha, apakah kau yakin bahwa penampilanku ini tidak ada yang kurang ...?"


Dasha tersenyum mendapati nada keraguan dalam suara Victoria.


Tanpa banyak bicara, Dasha telah berdiri dari duduknya dan menarik pergelangan tangan Victoria dengan lembut, mendudukkannya keatas kursi rias yang sejak tadi ia duduki, saat Victoria sedang menata rambut sekaligus merias wajahnya.


"Sebaiknya Nona melihatnya sendiri, bagaimana cantiknya seorang Nyonya Leo ..."


Victoria tertawa kecil mendengar ucapan Dasha, yang dari gestur tubuhnya telah memerintahkan Victoria untuk menatap kearah cermin.


"So beautyfull ..."


Dasha tak hanya sembarang memuji, karena saat ini Victoria memang telah terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya.


Dengan make up yang soft, serta rambut yang dibiarkan tergerai alami, Victoria terlihat sangat memukau. Apalagi gaun bernuansa silver yang melekat sempurna di tubuhnya, terlihat se xy namun teramat elegan.


"Hentikan, Dasha, pujianmu membuat dadaku berdebar ...!"


Usai kalimat tersebut Dasha dan Victoria telah sama-sama tergelak. Tawa mereka nanti mereda setelah bunyi ponsel Victoria yang tergeletak diatas meja terdengar.


"Ini Leo." ungkap Victoria sambil tersenyum. "Aku akan mengangkatnya dulu, pasti dia ingin menanyakan apakah kita sudah bersiap."

__ADS_1


Dasha mengangguk sambil tersenyum. Ia kembali menggantikan posisi duduk Victoria yang memilih beranjak kearah jendela kamarnya, agar bisa lebih leluasa saat bicara dengan Leo.


"Halo ...?" sapa Victoria perlahan, merasa gugup saat menyadari bahwa betapa kerasnya jantungnya berdegup, saat menerima telepon dari suaminya sendiri.


Ini adalah kali pertama Leo menelepon Victoria, saat hubungan mereka membaik dalam beberapa hari terakhir, wajar saja jika Victoria merasa deg-degan.


"Halo, sayang ..." balas suara pria yang sangat dirindukan Victoria di ujung sana. "Kapan kalian akan berangkat ...?"


"Mungkin sebentar lagi ..."


"Sayang, apakah kau sudah bersiap ...?" tanya Leo kemudian dengan nada suara yang lemah lembut.


Victoria mengangguk malu-malu menerima panggilan mesra yang terucap lewat tutur kata yang mendayu, namun kemudian ia tersadar bahwa Leo tidak bisa melihat anggukan kepalanya, sehingga buru-buru ia berucap.


"Sudah, aku dan Dasha merias wajah bersama-sama, dan kami melakukannya dengan gembira ..."


Tarikan nafas lega Leo terdengar diseberang.


Leo tahu persis, meskipun dengan umur yang belum bisa dikategorikan sebagai wanita dewasa, namun Dasha sangat bisa diandalkan untuk hal-hal seperti ini.


Dasha adalah pribadi yang menyenangkan, dan Leo sangat senang karena Victoria telah memiliki hubungan yang baik dengan gadis itu.


"Mendengar ceritamu, aku jadi semakin tidak sabar untuk melihatmu." lirih pria itu kemudian.


Mendengar itu Victoria terdiam, bingung harus berucap apa.


Sejauh ini Victoria bahkan tidak pernah menjawab panggilan 'sayang' Leo kepadanya dengan panggilan yang sama.


Victoria masih merasa sedikit risih ...


Sedikit malu ... dan ...


Sedikit takut juga ...


Entahlah ...


"Vic ..."


"Sejak berpisah tadi aku terus merindukanmu ..."


Lagi-lagi tenggorokan Victoria tercekat.


Bukannya Victoria tidak bahagia mendengarnya, namun mungkin justru sebaliknya, bahwa Victoria terlalu bahagia.


Saking bahagianya ia malah takut jika semua yang didengarnya hanya mimpi belaka.


"Vic ..."


"Egh, iya ...?" lagi-lagi Victoria tergeragap. "Mmmh, iya, ada apa, Leo?"


Nun jauh disana Leo terdiam sejenak, sebelum akhirnya memilih mengalihkan pembicaraan.


"By the way, kau akan ikut mobil Luiz, kan?" tanya Leo kemudian.


"Maaf, Leo, tapi saat makan siang, El mengatakan kepada Luiz bahwa dia akan menyetir mobil sendiri, jadi aku langsung mengiyakan El saat ia menawarkan tumpangannya ..." ungkap Victoria seolah tanpa beban, ia bahkan tak tahu sama sekali jika diseberang sana Leo bahkan nyaris tersedak mendengarnya.


"Kenapa kau malah setuju pergi bersama El?"


"Aku kan tidak sendirian, melainkan bersama Dasha ..."


"Tidak ... tidak ... aku tidak setuju. Kau harus ikut mobil Luiz ..."


"Leo, Luiz sudah setuju, lagi pula aku tidak mau berpisah dengan Dasha. Aku mau semobil dengannya ..."


"Lalu apa masalahnya? Sudahlah ... aku akan menelepon Luiz sekarang dan memarahinya. Enak saja membiarkan istriku naik di mobil El dan duduk bersebelahan dengannya ..."


"Kalau begitu biar saja Dasha duduk didepan bersama El, dan aku dibangku belakang ..."

__ADS_1


"Aku bilang tidak."


"Leo, apakah kau melupakan sesuatu? Kalau aku bersikeras naik mobil Luiz, lalu bagaimana dengan Florensia?"


Mendengar itu Leo pun tersadar.


Victoria benar.


Bagaimana mungkin Victoria memaksa naik ke mobil Luiz yang bertipe sport car coupe, sementara di sisi lain ada Florensia.


Sport car coupe sendiri merupakan mobil yang hanya memuat dua penumpang, sehingga hanya ada dua pintu di sisi sampingnya.


"Baiklah, tapi kau harus berjanji untuk tidak duduk disampingnya." ujar Leo pasrah, karena merasa tak punya pilihan.


Victoria tersenyum mendapati kecemburuan Leo yang sangat terlihat. Ia pun memilih tidak memperpanjang persoalan itu dengan buru-buru mengucapkan janji yang bisa membuat Leo tenang.


"Iya, iya, aku berjanji ... aku tidak akan duduk disamping El. Percayalah ..."


🌸🌸🌸🌸🌸


Saat Victoria dan Dasha tiba diruang tamu, ternyata Luiz, El dan Florensia telah berada disana terlebih dahulu.


"Maaf ... maaf ... apakah kami telah membuat kalian menunggu ...?" Victoria berucap saat menyadari dirinya dan Dasha telah membuat ketiganya menunggu.


"Tidak apa-apa, aku juga baru saja tiba, Vic." ucap El juga dengan senyum, namun sangat terlihat betapa ia terpesona dengan penampilan dua wanita cantik yang datang beriringan itu.


"Wah, kalian cantik sekali ..." Florensia berucap sambil bangkit dari sofa. Sama seperti El, ia pun terlihat terpesona dengan penampilan Victoria dan Dasha, meskipun sebenarnya Florensia sendiri terlihat sangat mempesona dengan penampilannya.


"Kau juga sangat cantik, Nona Flo ..."


"Dasha benar, Nona Flo, kau juga sangat cantik malam ini ..." Victoria menyetujui kalimat Dasha yang memuji Florensia dengan tulus.


"Benarkah? Ah, terima kasih Dasha, terima kasih Nona Vic ..." Florensia terlihat semringah.


Luiz yang sejak tadi berdiri membelakangi, usai menerima sebuah telepon penting akhirnya kembali membalikkan tubuhnya.


"Sebaiknya kita pergi seka ... rang ..." kalimatnya sedikit terjeda, begitu mendapati sosok Dasha yang berdiri tegak dengan outfit serba hitam, sapuan make up yang pas, serta rambut yang tergelung indah.


'Cantik ...'


Luiz sangat terpesona.


Namun keterpukauannya mendadak pecah berhamburan manakala dengan entengnya Dasha telah menarik lengan El, memaksa pria itu untuk segera beranjak dari sana.


"Tuan El, ayo kita berangkat sekarang, jangan sampai kita terlambat."


Suara Dasha yang renyah terdengar menyapu gendang telinga Luiz yang masih membeku, dengan tatapan tajam yang terus mengikuti langkah Dasha yang sedang menyeret paksa El, sedangkan dibelakangnya Victoria mau tak mau ikut membuntuti langkah kedua orang itu.


"Kita juga harus berangkat sekarang, Luiz."


Florensia berucap datar kearah Luiz, berusaha tegar dan tak terpengaruh meskipun wajahnya yang semula semringah kini telah memucat sama persis seperti Luiz, begitu menyaksikan adegan manis yang tersaji antara El dan Dasha.


Tanpa suara Luiz pun mengayunkan langkahnya, begitupun juga dengan Florensia.


"Tuan El, aku akan akan duduk didepan bersamamu, karena Tuan Leo akan cemburu jika Nona Victoria duduk disebelahmu ..." suara riang Dasha kembali terdengar.


"Astaga ... benarkah?" suara takjub Leo terdengar menanggapi kalimat Dasha yang terucap dengan nada lucu.


"Dasha benar, Tuan El, sebaiknya aku duduk di belakang saja. Tolong jangan tersinggung ..."


"Tidak ... no problem. Ada gadis belia yang secantik Dasha duduk disebelahku, malam ini aku adalah pria yang beruntung ..."


Dasha dan Victoria boleh saja terkekeh mendengar gombalan receh El, namun tidak dengan sepasang pria dan wanita yang berjalan dibelakang mereka.


Wajah keduanya terlipat sempurna, termakan api cemburu yang juga tersulut sempurna ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


LIKE and SUPPORT jangan lupa yah ... πŸ₯°


__ADS_2