
Double up
...
Rasanya sudah lama sekali, dan tanpa sengaja, semuanya seolah telah menjadi sebuah rutinitas.
Selama lima tahun terakhir, Luiz telah membiasakan dirinya.
Berusaha keras melupakan bayangan-bayangan liar nan ero tis, saat dirinya sedang mencumbu dengan penuh gai rah, bayangan yang seolah tak pernah sekalipun berhenti mengejar Luiz disetiap malam.
Sungguh, sekian lama bathin Luiz telah menahannya sedemikian rupa, bak sebuah penyiksaan yang sempurna.
'Si al, kenapa bathinku harus tersiksa seperti ini hanya karena seorang bocah?!'
Luiz tak pernah bisa berhenti merutuk diri.
Pada awalnya, Luiz telah bekerja keras seperti orang gila, guna melupakan has rat yang tentu saja terlarang untuknya.
Pada awalnya juga, semua itu rasanya cukup berhasil, karena ritme pekerjaan yang melimpah, membuatnya bisa sedikit mengalihkan segenap kerinduan yang gila dan menggelora.
Waktu itu, Luiz sangat senang, jika dirinya selalu pulang ke apartemen dengan tubuh yang lelah, sehingga disetiap malamnya, ia akan langsung tertidur seperti orang mati.
Namun semua itu hanya bersifat sementara, karena lambat laun, semuanya tetap kembali ke pengaturan awal.
Biar bagaimana pun, Luiz adalah seorang pria normal, yang mulai tak bisa lagi dipuaskan hanya dengan gelembung sabun dan bermain solo hingga lemas.
Sebuah pesta seorang kolega bisnis menjadi awal petualangan seorang Luiz.
Saat itu dirinya begitu mabuk, terbawa suasana pesta begitupun juga perasaan.
"Luiz ... Leo ingin menceraikan aku ..."
Sore tadi, Luiz memang telah mengangkat sebuah panggilan dari sebuah nomor tak dikenal, yang tidak terdaftar dalam daftar kontaknya.
Tak disangka ... pemilik nomor tersebut ternyata Victoria.
Luiz tersenyum kecut saat menyadari, siapa gerangan wanita bersuara sendu yang ada diseberang sana.
Sejujurnya sejak awal kepergian Luiz, ia telah memblokir akses kontak milik dua orang wanita sekaligus dari ponselnya.
Yang pertama adalah Dasha ... dan yang kedua Victoria.
Luiz sama sekali tak menyangka, setelah beberapa bulan berlalu, Victoria bisa berpikir, untuk mengganti nomor ponselnya dengan nomor yang baru, demi bisa menghubungi Luiz kembali.
"Aku baru saja mengalami keguguran, selang infus bahkan masih menancap diurat nadiku. Tapi Leo ... Leo malah begitu tega memaksaku, untuk menandatangani surat cerai ..."
Suara tangis Victoria telah memecah sedemikian pilu dari ujung sana.
Luiz membisu.
__ADS_1
Sekalipun ia tidak pernah lagi berminat untuk melibatkan diri dari drama rumah tangga siapapun, apalagi itu menyangkut rumah tangga Leo dan Victoria.
Persoalan hatinya saja bahkan cukup pelik, mana mungkin ia punya waktu memikirkan persoalan pribadi orang lain, kendati pun itu menyangkut masa depan rumah tangga Victoria ... yang adalah cinta pertamanya yang kandas, dan Leo ... yang notabene merupakan saudara kembarnya.
"Victoria, maafkan aku, tapi sungguh aku pun tidak tau bagaimana caranya agar aku bisa meringankan kesedihanmu ..."
Victoria tidak menjawab, hanya isak tangisnya yang terus terdengar lirih ditelinga Luiz.
"M-maaf ... maafkan aku, Luiz, seharusnya aku memang tidak menelponmu. Saat ini, pikiranku sangat kalut. Aku tidak tau lagi harus mengadu dan bicara dengan siapa. Lalu ... tiba-tiba saja aku telah memikirkanmu, dan ..."
Mengambang.
Kemudian Luiz mendengar hembusan nafas berat yang terdengar sangat perlahan.
"Maaf ... maafkan aku Luiz, aku menyesal telah mengatakan semua ini. Seharusnya aku memang tidak berusaha menghubungimu. Maafkan aku ..."
Luiz tertegun lama, saat menyadari panggilan itu telah diputuskan Victoria secara sepihak.
Meskipun ragu dan merasa enggan, namun hati nuraninya membuat Luiz tetap mencoba men-dial kembali nomor tersebut, namun yang terdengar kemudian hanyalah jawaban dari seorang wanita operator seluler.
Sejak saat itu, Victoria tidak pernah sekalipun menghubungi Luiz lagi, dan Luiz pun telah kehilangan jejak wanita itu.
Malamnya pikiran Luiz sungguh sangat bertumpuk-tumpuk. Ia telah menegak minuman keras dan mencoba berpesta untuk melupakan keresahan.
Saat sang kolega menawarkan seorang gadis cantik untuk menemani malam yang tersisa, tanpa berpikir dua kali Luiz langsung menerimanya.
Seseorang yang sudah pasti belum mengetahui apa makna dari sebuah kepemilikan.
Seseorang yang sudah membuat hidup Luiz jungkir balik tak beraturan.
Sungguh konyol.
Bagaimana mungkin Luiz berpikir untuk bisa menaruh hatinya pada gadis belia seperti Dasha?
Dasha bahkan belum bisa mengartikan arti sentuhan seorang pria, dan bahwa semua itu seharusnya tidak boleh ia lakukan.
"Lihatlah ... bagaimana aku telah tergila-gila, dengan seorang gadis, yang bahkan ia sendiri belum mengetahui apa makna sebenarnya dari hubungan seorang pria dan wanita, terlebih arti sebuah kepemilikan ..."
Tanpa sadar Luiz bergumam perlahan, sedikit sebal, manakala langkahnya yang sedang menuruni anak tangga, telah terjeda saat menyaksikan pemandangan yang ada dibawah sana.
Yah ...
Disana ...
Dibawah sana ...
Tiga orang remaja sedang duduk diam diatas sofa, sambil memandang kesatu titik.
Sebuah laptop dengan ukuran layar kira-kira tujuh belas inchi berada diatas meja, tepat ditengah, menandakan ketiganya sedang menonton sebuah film yang telah menguras semua konsentrasi mereka, hingga tidak menyadari kehadiran Luiz disana ...
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Dasha, lihat itu ... lihat ... di scene ini Tuan Leo terlihat sangat tampan. Oh astaga, aku sangat menyukai pria itu, aku suka ...!" Mona memekik tertahan sambil memeluk lengan Dasha yang berada disampingnya.
"Aku melihatnya biasa saja. Aku malah jauh lebih tampan darinya." kali ini suara Devon yang terdengar.
"Tidak mungkin. Tuan Leo jauh lebih tampan dari dirimu! Iya kan, Dasha ... ayo katakan pendapatmu, jangan biarkan Devon merendahkan idola kesayangan kita ..."
"Ehemm ...!"
Hanya sebuah dehemen, namun cukup membuat ketiga remaja labil itu terlonjak sempurna, terlebih saat menyadari Luiz yang telah menuruni anak tangga satu persatu, dengan wajah dinginnya yang khas.
"T-Tuan Luiz ..." ketiganya telah bergumam secara bersamaan, dengan wajah yang dipenuhi kegugupan yang nyata.
"Luar biasa ... aku menyuruh kalian belajar, tapi kalian malah menonton film ..."
Kedua kepala milik Mona dan Devon, langsung tertunduk dalam, tak berani menentang sepasang mata Leo yang menghujam tajam.
Hanya tersisa Dasha yang berani menentang kilau mata Luiz.
"Ada apa kau melihatku seperti itu? Cepat matikan laptopnya!" titah Luiz sambil menunjuk laptop yang berada diatas meja, yang sedang dipakai untuk menonton salah satu film lawas milik Leo, oleh ketiga abg labil yang ada dihadapannya.
"Tuan, ini adalah akhir pekan, masa menonton saja tidak boleh? Kami telah memutuskan untuk menonton di laptop, karena kami takut meminta ijinmu ..."
Alis Luiz bertaut.
'Akhir pekan ...?'
'Astaga ... benar juga ... ini memang akhir pekan ...'
'Seharian ini aku terlalu sibuk bernegosiasi dengan Mommy Lana dan pihak sekolah, dalam mengurus kepindahan Dasha dari asrama, sampai-sampai aku melupakan bahwa malam ini adalah malam minggu!'
Luiz memijat pelipisnya sejenak, melirik jam yang melekat disalah satu dinding.
Rasanya masih ada kesempatan untuk bersiap dan pergi bersenang-senang seperti kebiasaannya selama ini, namun entah kenapa kali ini Luiz tidak berhasrat lagi, untuk menghubungi satu dari sekian banyak wanita yang sudah pasti bersedia meskipun hanya dijadikan kekasih sesaat.
"Tuan Luiz, bukankah ini waktu yang tepat untuk kau pergi bersenang-senang?" tanya Dasha lagi semakin berani.
"Apa maksudmu?"
"Ahh ... tidak ... aku hanya berpikir kalau Tuan ingin pergi kesuatu tempat, maka pergi saja. Tuan tidak perlu mengkhawatirkan kami. Begitu Tuan ..."
Dasha yang terlihat cengengesan dihadapannya justru membuat Luiz semakin curiga. Apalagi ditunjang dengan ulah kikuk dua remaja yang sejak tadi hanya menunduk sambil sesekali saling menyikut kecil satu sama lain.
"Kenapa aku merasa kau seperti sengaja ingin mengusirku dari apartemenku sendiri?" usut Luiz, terang-terangan mencurigai maksud terselubung dari Dasha, dan kedua minionnya yang ada dbelakang sana.
"Aahhh, tidak, tidak seperti itu Tuan, mana mungkin aku bermaksud seperti itu?" terlihat semakin cengengesan bercampur gugup, membuat Luiz bertambah curiga ...
... NEXT
__ADS_1