
Arshlan menyesap kopi hitam yang ada diatas meja. Pagi ini ia kembali menikmati sarapan dikamarnya, enggan menuju meja makan dan bertemu wanita bernama Marina disana.
Arshlan tau persis dirinya bukanlah pria yang cukup sabar akan segala hal. Mengetahui bahwa Marina dan Robi jelas-jelas memiliki niat buruk untuk memerasnya lewat Lana, sementara disisi lain dirinya harus menahan diri serta bersikap seolah tidak tau apa-apa, tentu saja hal itu membuat Arshlan sangat kesulitan.
"Lana, kemarilah.." titah Arshlan kepada Lana yang sibuk menyisihkan bekas peralatan makan yang digunakan saat sarapan barusan.
"Ada apa, Tuan?"
"Duduklah disini, ada beberapa hal penting yang ingin kubicarakan denganmu." ujar Arshlan lagi sembari mengisyaratkan Lana agar duduk bersama dengannya di sofa panjang.
Lana pun menurut sambil tersenyum. "Baiklah Tuan, aku juga punya sesuatu yang ingin aku sampaikan pada Tuan." ucapnya riang begitu tubuhnya terhempas sempurna disisi Arshlan.
"Oh ya? apa itu..?" alis Arshlan bertaut mendengarnya.
"Tuan dulu.."
"Tidak. Kau saja lebih dulu."
Lana menghela nafasnya sejenak, sambil melayangkan pandangan penuh pemohonan kearah Arshlan. "Tuan, hari ini Ibu mengajakku bertemu Ayah.." ujarnya lirih.
"Lalu..?"
"Lalu..? ya.. tentu saja aku ingin tau apakah Tuan akan memperbolehkan aku keluar jika bersama Ibu untuk menemui Ayah..?"
Mendengar pertanyaan itu Arshlan pun menatap Lana sejurus. "Kau sendiri, apakah kau ingin pergi?"
Kepala Lana terlihat mengangguk cepat, tapi detik bertikutnya tatapannya bersinar ragu. "Hanya jika Tuan mengijinkan. Kalau tidak aku tidak akan memaksa. Aku akan mengatakan kepada Ibu kalau.."
"Kalau kau memang mau bertemu ayahmu, hari ini aku bisa memberimu dispensasi."
Lana terhenyak ditempatnya usai kalimat Arshlan. Ia menatap pria itu seolah tak bisa mempercayai indera pendengarannya.
"Aaaa Tuann, kau.. kau tidak sedang bercanda, kan?"
"Kau bahkan tau aku tidak suka bercanda seperti itu." imbuh Arshlan sambil mengalihkan tatapannya dari wajah berseri milik Lana, yang kerap membuat sanubarinya bergetar acap kali sebuah hal sepele saja, mampu membuat Lana terlihat sangat bahagia.
Yah.. gadis itu.. Lana.. memang sangat mudah untuk Arshlan bahagiakan.
Tanpa hadiah, tanpa uang, tanpa pemberian apapun dari Arshlan. Lana bisa bahagia tanpa semua itu.. hanya dengan perlakuan kecilnya saja.
"Aku mengijinkanmu karena hari ini aku akan keluar kota." Arshlan kembali berucap, saat teringat kembali rencana pertemuannya dengan Siska malam ini, disebuah kamar mewah presidential suite hotel Marion, yang membuatnya sengaja membohongi Lana.
"Apa itu berarti.."
"Pekerjaanku sangat banyak, bisa aku pastikan malamnya aku tidak mungkin pulang kerumah." pungkas Arshlan secepat kilat.
Tatapan Lana mengarah sendu mendengar kalimat Arshlan, namun bibirnya tak mengucap sepatah katapun.
"Karena itulah aku memberimu ijin pergi dengan Ibumu. Anggaplah sebagai sedikit refreshing agar kau tidak perlu merindukan aku.."
__ADS_1
Mendengar kalimat Arshlan tidak serta merta membuat hati Lana menjadi senang.
Entahlah..
Lana selalu merasa seluruh perputaran harinya telah terbiasa berputar disekitar pria itu. Atas dasar itu pula Lana bahkan selalu bertindak konyol setiap malam, jika dirinya rindu. Karena Lana selalu merasa sangat sedih setiap kali tidak bisa memeluk tubuh Arshlan dan terpisah jauh.
"Ada hal yang juga tak kalah penting dari sekedar perjalanan bisnisku hari ini."
"Apa itu, Tuan..?" tanya Lana seraya mengangkat wajahnya yang muram.
Arshlan terdiam sejenak, sambil mengatur nafasnya. "Siang ini, Maura akan datang menemuimu."
"No.. Nona Maura..?"
Lana terhenyak, suaranya bahkan terdengar tergeragap. "Tapi.. untuk apa Nona Maura ingin bertemu denganku..?"
"Tidak apa-apa, dia hanya ingin sedikit berbincang denganmu."
Lana terdiam. Sibuk memikirkan alasan Nona Maura yang ingin menemuinya.
"Lana, bisakah kau menjaga sikapmu?" suara Arshlan kembali memecah hening.
"Apa maksud, Tuan?"
"Kau pasti belum lupa bahwa kau pernah menamparnya, memukulnya.."
"Itu karena di telah berusaha menggoda Tuan.."
"Bermaksud baik..? T-tapi Tuan.."
"Aku hanya memintamu untuk menjaga sikapmu, dan tidak pernah beusaha 'menyentuh' Maura."
Lana menatap Arshlan dengan tatapan nanar.
'Menjaga sikapku..?'
'Apa saat ini Tuan Arshlan sedang berusaha melindungi Nona Maura..?'
'Sepertinya Tuan Arshlan sangat khawatir jika Nona Maura terluka..'
'Lalu kenapa aku yang harus menjaga sikapku..?'
'Kenapa bukan ular betina bernama Nona Maura itu..?'
XXXXX
Lana belum tuntas menghabiskan makan siangnya namun ia telah menaruh sendok dan garpunya keatas piring.
Lana merasa naf su makannya ikut menghilang setelah seharian ini benaknya terus diliputi berbagai pertanyaan tanpa jawaban, perihal permintaan Tuan Arshlan yang ingin dirinya menjaga sikap dan tidak berusaha 'menyentuh' Nona Maura yang ingin menemuinya.
__ADS_1
Lana sadar dirinya adalah sosok asing yang tiba-tiba hadir ditengah kehidupan seorang Tuan Arshlan.
Pria itu telah menjalani kehidupannya sendiri selama tiga puluh sembilan tahun sebelum bertemu Lana saat ini.
Lana buta dengan segala hal yang menyangkut Tuan Arshlan.
Yang Lana ketahui hanyalah Tuan Arshlan sangat kaya raya dan berkuasa sehingga bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan, wajahnya tetap tampan dan fisiknya mempesona meskipun tidak lagi berusia muda, sikapnya dingin dan arogan tapi begitu panas, liar dan lihai saat bermain diatas ranjang.
Terlepas dari sebuah pengkhianatan yang keji dari Nona Maura, serta Tuan Arshlan yang diam-diam melakukan pembalasan dendam dengan sempurna hingga lima tahun lamanya, pada kenyataannya kedua orang itu terus terhubung satu sama lain tanpa canggung.
Tuan Arshlan dan Nona Maura telah bersama, jauh sebelum Lana masuk dalam kehidupan Tuan Arshlan.
Ibaratnya.. mereka berdua adalah dua orang yang tidak bisa dipisahkan dengan mudah, dan sialnya Lana baru menyadari hal itu. Ia telah begitu meremehkan kehadiran Nona Maura, hanya karena mengira Tuan Arshlan membencinya atas pengkhianatan lima tahun yang lalu.
Ck.. ck.. ck.. sungguh naif..!
Apakah saat ini Lana sedang cemburu..?
Iya, benar. Lana memang sedang cemburu.
Maura bahkan bebas menemui Tuan Arshlan hingga ketempat pria itu bekerja, sementara Lana bahkan tidak bisa menyentuh pintu keluar dari rumah ini.
Seorang pengawal nampak memasuki ruang makan, sejenak menunduk hormat kearah Lana sebelum akhirnya mendekati Asisten Jo yang seperti biasa terus berada disekitar Lana sepanjang hari.
Usai pengawal tersebut berlalu, Asisten Jo terlihat mendekati Lana.
"Nyonya Lana, Nona Maura telah tiba." ucap Asisten Jo sambil menunduk takjim.
Lana mengangguk sambil menghembuskan nafasnya perlahan namun dalam sekali hentakan. Ia bangkit dari duduknya sambil terus berusaha mengumpulkan kekuatan untuk hatinya sendiri.
Nona Maura sangat licik, dan Lana berani bertaruh. Meskipun Lana masih belum tau persis apa yang diinginkan Nona Maura sehingga merasa perlu datang menemuinya, tapi wanita itu pasti sengaja datang, untuk menyayat luka.
"Nyonya.." suara Asisten Jo yang perlahan mampu membuat langkah Lana tertunda sejenak.
"Iya..? ada apa Asisten Jo..?"
"Jangan bimbang."
"A-apa..?"
"Menghadapi Nona Maura.. Nyonya harus melakukannya dengan baik."
Lana tersenyum mendengarnya. "Asisten Jo, kau sedang mengkhawatirkan aku rupanya.." desis Lana sambil tersenyum. Hatinya terharu menerima kepedulian Asisten Jo meski tidak terucap secara terang-terangan, dan Lana merasa terhibur serta mendapat kekuatan ekstra hanya karena sepenggal kalimat Asisten Jo yang bernada positif untuknya.
"Terima kasih, Asisten Jo, aku akan mengingatnya. Jangan bimbang, kan..? tenang saja.. aku cukup percaya diri. Aku nyonya rumahnya, aku tidak ingin wanita itu menghancurkan diriku dengan mudah.. dirumahku sendiri.."
...
Bersambung..
__ADS_1
Loophyuu all.. 😘