TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 69. Lawan yang Seimbang


__ADS_3

"I got you."


Leo menyeringai begitu ia selesai menerima telepon seorang pria yang sengaja ia tugaskan khusus untuk mencari tahu tentang segala sesuatu.


Tentang keberadaan lokasi pelaksanaan family gathering yang melibatkan seluruh karyawan Mega Florist, sampai pada semua agenda kegiatan yang akan mereka lakukan.


Pagi tadi, dengan menggunakan tiga unit bus besar, seluruh karyawan dengan membawa para anggota keluarga inti mereka masing-masing, telah bertolak menuju pantai xx.


Bos mereka yang bernama Luna, bahkan rela menyewa belasan unit kamar hotel sekaligus, yang berlokasi disekitar pantai yang sangat elok.


Meskipun orang suruhan Leo telah meyakinkan bahwa Lionel Winata tidak terlihat keberadaannya bersama rombongan, namun Leo yakin seribu persen, kelak pria itu pasti akan muncul disana!


"Paul." Leo memanggil asistennya yang baru saja selesai bicara dengan salah seorang crew manajemen milik Leo, tepat di bingkai pintu.


Paul langsung menoleh mendengar panggilan sang majikan. "Ada apa Tuan Leo?" tanya pria itu sembari mendekat.


"Aku hanya ingin tahu, bukankah aku memiliki jadwal pemotretan di pantai xx?" tanya Leo to the point.


"Iya, Tuan, itu memang benar. Pemotretan itu sudah masuk kedalam jadwal agenda Tuan Leo sejak Minggu lalu."


"Kapan tepatnya pelaksanaan pemotretan itu?"


"Besok sore, Tuan ..." ujar Paul lagi, namun tak urung ia kembali membuka ponselnya untuk memastikan jadwal Leo.


"Aku mau melakukannya sekarang."


"Egh ... apa??" Paul yang terhenyak mendengar permintaan spontan Leo, sontak mengangkat wajahnya.


"Tidak hanya itu, Paul. Aku juga mau kau mengatur bagaimana caranya agar aku bisa menginap di hotel xx lantai tiga."


Alis Paul semakin mengerinyit mendengar permintaan Leo yang semakin aneh, namun seperti biasa tidak ada yang bisa Paul lakukan untuk menolak permintaan apapun dari sang majikan, selain berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengabulkannya.


"Baik, Tuan, akan aku usahakan." ujar Paul pada akhirnya, meskipun kepalanya langsung sakit saat memikirkan betapa mumet dirinya, yang harus menggeser dua hari kerja dari agenda kerja Leo, agar bisa berkesesuaian dengan keinginan pria itu.


"Aku tahu aku bisa mengandalkanmu, Paul. Kalau kau bisa mengatur semuanya dengan baik, maka aku akan memberikan dirimu bonus."


Sepasang mata Paul langsung bersinar terang mendengar iming-iming Leo.


Bukan rahasia lagi kalau majikan Paul itu terkenal sangat loyal kepada bawahan seperti dirinya, apalagi jika keinginannya terpenuhi.


"Serahkan semuanya padaku, Tuan. Aku pasti akan mengatur semuanya untuk dirimu."


Paul tersenyum semringah, terlebih saat melihat Leo mengangkat jempol kearahnya, membuat Paul tidak lagi imgin membuang waktu.


Paul pun bergerak gesit secepat peluru, demi bonus menggiurkan yang dijanjikan.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Tuan, aku baru saja diberitahukan oleh Eva, bahwa saat ini dimeja resepsionis lantai satu, ada seorang wanita yang sangat memaksa untuk diperkenankan menemuimu."


Todd yang baru saja masuk ke ruangan Luiz langsung memberitahukan informasi yang baru saja ia dapatkan dari Eva, yang merupakan sekretaris Luiz di kantor pusat.


"Seorang wanita?" Luiz bertanya tanpa mengangkat wajahnya.


"Iya Tuan. Resepsionis sudah mengatakannya dengan jelas bahwa untuk bertemu Tuan harus membuat jadwal bertemu terlebih dahulu, tapi wanita itu tetap bersikeras."


Sebagian besar konsentrasi Luiz yang masih tertuju pada layar laptop miliknya membuat pria itu terlihat sedikit tidak menyimak pembicaraan Todd.


"Namanya Florensia. Wanita itu telah berpesan, bahwa asalkan Tuan mendengar namanya disebut, maka ia yakin Tuan akan mengijinkan dirinya bertemu langsung."


Benar saja, karena hanya dengan menyebut nama wanita itu, ternyata memang ampuh mencuri segenap konsentrasi Luiz untuk berpindah.


"Florensia ...?" ulang Luiz dengan mimik terhenyak yang kentara. Detik berikutnya alis Luiz pun bertaut tegas "Astaga ... Todd, cepat persilahkan dia masuk."

__ADS_1


Dengan berucap demikian, Luiz pun langsung menyisihkan laptop yang ada dihadapannya.


Florensia, adalah wanita yang telah menjadi satu-satunya kandidat mommy Lana untuk Luiz, dan itu berarti, Luiz tidak mungkin bisa mengecewakan mommy Lana begitu saja.


Meskipun pada awalnya Luiz merasa sangat enggan menerima keputusan serta keinginan agar dia bersedia melakukan penjajakan dengan Florensia, namun mau tak mau Luiz harus menjalaninya.


Luiz pun mencari tahu seluk-beluk, serta latar belakang Florensia.


Yah, Luiz memang harus melakukannya, guna menemukan cara agar bisa menolak keberadaan wanita itu didalam hidupnya.


Karena bagaimanapun caranya, Luiz telah bertekad untuk terbebas dari jerat perjodohan sebelum kelulusan Dasha, agar bisa menepati janji yang telah terikrar, kendati Luiz terlalu sering mengecewakan Dasha.


Masih untung saat ini Dasha berada dalam kondisi yang terisolasi dari dunia luar. Karena kalau tidak, Luiz pasti akan semakin kelimpungan!


Setelah menugaskan seseorang yang profesional untuk mencari cela seorang Florensia, pada kenyataannya Luiz harus menerima bahwa Florensia adalah wanita yang baik, nyaris tak bercela. Namun sebuah kenyataan telah membuat Luiz bernafas lega.


Florensia, tidak mungkin menyukai Luiz, karena wanita itu telah menambatkan hatinya untuk pria lain ...!


Perfecto ...!


Bathin Luiz bersorak-sorai kegirangan, penuh kemenangan, saat mengetahui kenyataan tersebut.


Tok ... tok ... tok ...


Pintu ruangan Luiz diketuk sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya terbuka lebar.


Todd datang menghampiri Luiz yang duduk tenang di kursi kebesarannya, dengan tangan terlipat serta senyum keramahan.


Dibelakang Todd, seorang wanita cantik bertubuh ramping semampai, masuk kedalam ruangan Luiz juga dengan segaris senyum yang menawan.


Luiz pun segera berdiri menyambutnya dengan tangan terulur ramah, memutus niat Todd yang baru saja berniat ingin memperkenalkan sang wanita kepada sang bos besar.


"Kau pasti Florensia. Perkenalkan, aku Luiz."


"Senang mengenal anda, Tuan Luiz."


"Panggil saja aku Luiz." pungkas Luiz ramah.


"Baiklah, Luiz." Florensia tersenyum, begitu percaya diri.


Sejujurnya Luiz sangat menyukai tipe wanita yang penuh kepercayaan diri seperti Florensia.


Tapi sayangnya, semua itu tidak lagi berarti manakala hatinya telah terpaut pada pacar kecilnya yang tak kalah cantik, lucu dan manja.


Todd telah pamit mengundurkan diri, disaat mereka berdua telah selesai berjabat tangan, namun masing-masing dari mereka masih saja berdiri tegak berantarakan meja biro milik Luiz.


"Silahkan duduk," ujar Luiz mempersilahkan Florensia yang mengangguk.


Kemudian Florensia terlihat menghempaskan tubuhnya yang tinggi semampai itu keatas kursi, tepat berhadapan dengan Luiz yang juga kembali duduk di kursi kebesarannya. Setiap gerak yang wanita cantik itu lakukan terlihat tegas, namun tetap gemulai dan elegan.


"Sejujurnya aku sungguh tidak menyangka bahwa hari ini, kau bisa menjadi tamuku dengan datang kesini dan menemuiku secara langsung. Apakah ada sesuatu yang sangat penting yang ingin kau bicarakan terlebih dahulu ...?" tanya Luiz usai berucap panjang lebar, berusaha membuka percakapan diantara mereka dengan ramah, layaknya tuan rumah yang baik.


"Hhmm, begitulah."


Luiz belum berniat menyanggahnya, ia sengaja diam demi memberikan Florensia kesempatan untuk mengutarakan maksud kedatangannya ke kantor Luiz hari ini.


"Luiz, kau pasti sudah mengetahui segala sesuatu yang sedang direncanakan para orang tua kami, bukan?"


Luiz manggut-manggut, namun lagi-lagi tak kunjung mengucap sepatah katapun, seolah terus memberikan Florensia kesempatan untuk mengungkapkan segenap maksud dan tujuan yang melatar belakangi kedatangannya untuk menemui Luiz.


"Bisakah aku mendapatkan jawaban tentang apa pendapatmu tentang semua ini? Aku ingin mendengarnya langsung dari dirimu tanpa intervensi sedikit pun, terlebih saat kita harus mengambil keputusan, disaat kita berada dihadapan para orang tua masing-masing ..."


Luiz sedikit tercekat. Ia tahu Florensia adalah tipe wanita pemberani juga bernyali. Namun Luiz tidak menyangka jika Florensia akan berucap blak-blakan seperti saat ini.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan dirimu?" ucap Luiz balik bertanya.


"D-diriku ...?"


"Iya, bagaimana dengan dirimu?"


Hening sejenak, sebelum kepala wanita itu menggeleng perlahan.


"Aku tidak bisa. Hatiku tidak bisa menerimamu, namun aku tidak bisa menolak dan mengecewakan kedua orang tuaku ..."


Berucap lembut, namun tegas.


Luiz nyaris tertawa, saat menyadari bahwa secara tidak langsung dirinya baru saja ditolak oleh seorang wanita, yang sama sekali tidak tertarik dengan semua kehebatan yang ada di diri seorang Luiz.


Beruntung penolakan tersebut justru melegakan dirinya!


"Lalu kau mau aku bagaimana?" tanya Luiz kalem. Ia sengaja tidak berupaya mendesak, dan membiarkan Florensia yang bertindak dan menolak dirinya dengan tegas, seperti dugaan awalnya.


Helaan nafas Florensia terdengar sepenuh rongga, dan sepasang matanya yang indah telah menatap Luiz lekat-lekat.


"Luiz, mari bekerja sama."


Luiz tertawa kecil mendengarnya.


"Berikan aku alasan, mengapa aku harus setuju dengan ..."


"Jangan bercanda, karena aku sudah mengetahui segalanya."


Luiz terdiam mendengar sanggahan itu.


Sepasang mata milik Luiz dan Florensia kembali beradu, seolah tak ada satupun yang ingin mengalah, menandakan keduanya sama-sama memiliki watak yang keras kepala.


"Dasha ..."


"Lionel Winata ..."


Berucap bersamaan.


Gadis dihadapan Luiz tersenyum jumawa, sementara Luiz malah termanggu sejenak.


'Astaga ...'


'Rupanya bukan hanya aku yang telah berusaha mencari tahu seluk-beluk Florensia ...!'


'Pada kenyataannya, wanita ini juga melakukan hal yang sama terhadap diriku ...'


'Bahkan mengetahui rahasia terbesarku ...'


'Tanpa aku menyadarinya sama sekali ...!'


'Sungguh diluar dugaan ...'


'Karena ternyata ... Florensia adalah lawan yang seimbang ...!'


Luiz baru menyadari, bahwa dirinya telah salah menilai kemampuan seorang Florensia hanya sebatas kulit luarnya saja ...


Bahkan sempat meremehkannya ...


...


Bersambung ...


Jangan lupa di LIKE, ditunggu juga hadiah dan vote-nya, sebagai penambah imun ... πŸ˜€

__ADS_1


__ADS_2