
Tok.. tok.. tok..
Bunyi ketukan beberapa kali dipintu kamar membuat Lana mengangkat wajahnya.
'Itu pasti Lin..'
Lana bergumam dalam hati, karena Lin memang mempunyai kebiasaan untuk menerobos kamarnya nyaris setiap malam, hanya untuk bisa ngobrol ngalor-ngidul seperti kebiasaan mereka berdua selama ini.
"Masuk saja, Lin..!" teriak Lana sedikit keras agar terdengar.
Benar saja, tak berapa lama wajah Lin telah muncul dari balik pintu, dengan seulas senyum, namun senyum itu berganti dengan wajah keheranan begitu mendapati Lana sedang berada diatas kasur sambil memijat kakinya sendiri dengan sebotol minyak zaitun.
"Lana, kau sedang apa?" Lin mendekati Lana dengan alis bertaut.
"Kau tidak liat? aku sedang memijat diriku sendiri.." jawab Lana dengan wajah cemberut.
Lin tertawa melihat wajah mencebik milik Lana, tapi kemudian wajahnya telah dipenuhi tanda tanya. "Lana, bukannya tadi kau pergi dengan Tuan Arshlan..? lalu kenapa bukannya senang wajahmu malah cemberut seperti ini?" tanya Lin sambil mendekati ranjang Lana dan duduk ditepian.
Lana menaruh botol minyak zaitun keatas meja yang ada disisi ranjang, sambil melipat kedua kakinya yang jenjang.
"Aku menyesal ikut dengannya, Lin. Kalau tau aku hanya disia-siakan seperti itu, masih lebih baik aku pergi denganmu dan Madam Lori berbelanja kekota.." Lana menatap Lin sambil bergumam penuh penyesalan.
Tentu saja Lana sungguh menyesal.
Setiap weekend seminggu sekali, biasanya merupakan jadwal Madam Lori untuk berbelanja semua kebutuhan villa dikota, dan kesempatan itu pun sangat ditunggu oleh setiap pelayan yang bertugas di villa karena merupakan kesempatan untuk bisa keluar melihat dunia luar.
Namun Lana malah memilih menggoda Tuan Arshlan agar bisa ikut ke peternakan, yang buntut-buntutnya dirinya malah ditinggalkan begitu saja, sehingga Lana harus berjalan melintasi padang rumput yang maha luas, ditengah teriknya matahari, belum juga Lana harus berjalan kaki dari peternakan ke villa Black Swan yang jaraknya lebih dari lima kilo meter.
Huhhf.. kalau mengingat kejadian buruk yang menimpanya tadi siang, rasanya Lana ingin sekali mencakar wajah tampan nan arogan milik Tuan Arshlan..!
"Kau sendiri, kapan kau dan Madam Lori kembali? mengapa kalian lama sekali?"
"Kami baru saja kembali.." imbuh Lin dengan wajah berbinar.
"Selarut ini..? memangnya kalian berbelanja apa hingga nanti pulang selarut ini..?"
"Kalau berbelanja sih cuma sebentar, tapi aku menemani Madam Lori pergi ke rumah sakit untuk menjenguk saudaranya yang sedang sakit.."
"Begitu yah.." desis Lana perlahan, semakin diliputi sesal karena tadi pagi tidak memilih ikut bersama Lin dan Madam Lori saja.
__ADS_1
"Kau sendiri.. kenapa wajahmu cemberut seperti ini? bukannya kau tadi sangat bahagia karena bisa bersama Tuan Arshlan?"
"Cihh.. bahagia apanya? yang ada akhirnya aku menderita. Coba lihat, kakiku sampai lecet seperti ini karena berjalan begitu jauh.."
"Astaga.. lalu.. Tuan Arshlan..?"
"Dia telah meninggalkan aku begitu saja hanya karena aku tidak mau menyerahkan kesucianku kepadanya.."
"A-appa.?" Lin membekap mulutnya, terhenyak mendengar kalimat Lana yang meluncur mulus tanpa hambatan.
"Lana, Tuan Arshlan sangat kejam, tapi kenapa kau tetap bersikeras untuk menyukainya?" ujar Lin iba separuh bergidik, tapi Lana malah mengangkat kedua bahunya dengan acuh.
"Entahlah.."
"Maaf Lana, bukannya aku ingin memandang dirimu sebelah mata, tapi pria seperti Tuan Arshlan, tidak mungkin menyukai pelayan rendahan seperti kita.."
"Justru karena aku adalah pelayan rendahan, makanya aku nekad menyukainya. Lin, kau tidak tau bahwa hidupku ini sungguh sulit, sehingga aku ingin sekali merubah nasibku. Kalau aku bisa membuat Tuan Arshlan menyukaiku, maka aku akan punya banyak uang, dan yang paling utama tidak akan ada lagi orang yang bisa semena-mena kepadaku.." Lana berucap dengan wajah sendu.
Bayangan kekasih ayah yang sering menjambaknya dan kemudian memutar balikkan fakta didepan ayah sehingga ayah tega balik menyalahkan bahkan memukulinya, belum lagi bayangan menakutkan kekasih ibu yang sudah beberapa kali mencoba memperkosa dirinya, yang pada akhirnya akan berakhir dengan tuduhan sebaliknya bahwa dirinyalah yang menggoda lelaki pengangguran itu.
Semua itu ibarat sebuah kaset rusak yang terus dicoba di rewind berkali-kali, setiap hari, setiap saat. Rasa sakitnya sangat menyiksa bathin.. dan membekas hingga kedalam kalbu..!
Detik berikutnya Lana seolah tersadar dan mengangkat wajahnya tinggi-tinggi. Sesungguhnya Lana merasa benci setiap kali terlihat lemah seperti ini, untuk itulah sehari-harinya dia memilih bersikap absurd, keras kepala, dan tidak tau malu. Semata-mata karena ingin terlihat ceria dan kuat, sama sekali tidak ingin terlihat lemah dimata siapapun, itu saja!
Sepanjang hari ini pikiran Arshlan hanya dipenuhi oleh sosok Lana. Disudut hatinya tak bisa dipungkiri, Arshlan sungguh menyesal, karena akibat kemarahannya yang tidak berdasar, ia telah meninggalkan Lana dikaki bukit itu begitu saja, seorang diri.
Arshlan menyambar sebuah remote dan mengarahkannya kesebuah layar monitor yang besar hingga nyaris sebesar dinding kamarnya, yang dengan seketika menampilkan Lana yang sedang berbicara dengan temannya yang sesama pelayan.
Arshlan mengeraskan volumenya, dan suara Lana pun bergema dikamarnya..
"Lin, aku tidak peduli Tuan Arshlan akan membenciku sebesar apa. Sekalipun dia menganggap aku sampah.. yang penting aku bisa menjadi kekasih orang tajir.."
Tanpa menunggu waktu lebih lama, Arshlan menekan kembali tombol remote yang barusan ia tekan. Mematikan layar monitor hasil tangkapan kamera cctv dari kamar tamu villa Black Swan tersebut.
Arshlan nampak menggemeretakkan giginya dengan keras, menandakan kemarahannya yang telah kembali berkobar.
Sungguh ia merasa sangat menyesal, seharian ini bahkan tidak fokus bekerja hanya karena dikejar rasa bersalah telah meninggalkan Lana begitu saja.
Tapi mendengar penuturan gamblang bocah itu lewat cctv yang terpasang dikamar Lana malah membuat darah Arshlan mendidih dalam dalam hitungan kurang dari satu detik.
"Dasar bocah licik! jadi ucapanmu yang selalu mengatakan mencintaiku itu hanya omong kosong belaka rupanya! kau hanya gadis mata duitan yang sengaja membuatku penasaran, padahal kau hanya menyukai harta serta popularitasku saja yah..?!"
__ADS_1
Brakkk..!!
Saking kesalnya Arshlan telah menggebrak meja kecil yang ada didekatnya.
"Baiklah Lana.. kau tidak keberatan menjadi sampah kan? cihh.. aku bahkan akan menjadikan dirimu bukan hanya sebagai sampah, melainkan kotoran! kotoran yang bahkan jika itu terinjak oleh alas sepatuku.. maka sepatuku masih lebih berharga daripada nyawamu sekalipun..!!"
Arshlan mengeluarkan ponselnya dari saku celana, kemudian menekan angka dua.
"Her, siapkan sebuah pernikahan untukku. Besok aku akan menikah!" titahnya dengan wajah yang mengeras kejam.
"Aaa.. apa Tuan..? apa aku tidak salah mendengar..?" diseberang sana, Her asisten Arshlan nampak terhenyak mendengar kalimat pembuka itu.
"Aku yakin kau tidak tuli..! Cepat urus segala sesuatunya, besok pagi jam sepuluh, aku mau semuanya harus siap..!"
"Baik Tuan. Tapi.. mempelai wanitanya.."
"Lana."
"Lana..?"
"Yah. Lana. Bocah ingusan yang bar-bar itu.." ujar Arshlan.
"Baik, Tuan.."
Arshlan melempar ponselnya keatas tempat tidur king size, tempat dirinya berencana membantai Lana pada besok malam.
Membayangkan hal itu saja, sudah membuat Arshlan menyeringai, dengan wajah sinisnya..
.
.
.
Bersambung..
Support yang kenceng doooongg.. 😅
Thx and Lophyuu all.. 😘
__ADS_1
Follow my Ig. @khalidiakayum
Follow my FB. Lidia Rahmat