TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 43. Butuh Bukti


__ADS_3

Sepasang mata Arshlan tengah mengawasi Lana yang sedang termanggu didepan cermin.


Merasa penasaran dengan apa yang sedang menjadi buah pikiran wanita yang telah menemani hidupnya selama lebih dari dua puluh enam tahun itu, membuat Arshlan beringsut mendekat, berdiri dibelakang Lana sambil memegang kedua bahu yang mungil.


"Apalagi yang sedang kau pikirkan? Besok putra kesayanganmu akan tiba, tapi kau masih saja berdiam diri seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat."


Lana menatap ke permukaan cermin.


Disana, tatapan matanya bersatu dengan sorot mata Arshlan yang teduh, namun memancarkan rasa ingin tahu yang mendalam.


Lana menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Sayang, aku sedang memikirkan tentang sikapku. Apakah selama ini aku tidak sedikit keterlaluan padanya?" imbuh Lana seolah sedang bicara pada dirinya sendiri.


Kedua alis Arshlan bertaut sempurna. "Siapa yang sedang kau bicarakan? Victoria?" lagi-lagi Arshlan bisa membaca dengan mudah jalan pikiran Lana dengan baik.


Lana terlihat mengangguk kecil.


"Setelah lima tahun, pada akhirnya besok kau bisa memeluk putramu lagi. Luiz telah kembali, seharusnya kau juga harus mengakhiri semuanya ..."


Lana termanggu mendengar petuah Arshlan.


Dalam hati Lana mengakuinya. Memang asal muasal kekesalan Lana, merupakan suatu kumpulan kekesalan yang telah diakibatkan oleh Victoria, karena gadis itu sendiri telah mengabaikan peringatannya.


Sejak awal Lana telah mengatakan dengan jelas, bahwa ia tidak bisa menerima kehadiran wanita itu didalam keluarga Arshlan, tapi yang ada Victoria datang dengan pernyataan kehamilannya, disaat karir Leo sedang begitu cemerlang.


Bukan hanya tentang Leo, bahkan kepergian Luiz telah membuat kekesalan Lana kepada Victoria menjadi berlipat ganda, terlebih saat harus menerima kenyataan, tentang Luiz yang enggan kembali dalam kurun waktu lima tahun!


Lalu, ibu mana yang tidak kesal, bila berada diposisi Lana?


Hidup kedua putra kembar kebanggaannya, telah dibuat jungkir balik dalam satu masa, oleh seorang gadis yang sama!


Tapi setelah lima tahun ...


Setelah pada akhirnya Luiz akan kembali kepelukannya ...


Dan karir Leo terus menanjak tanpa rintangan ...


Dengan Victoria yang terus bertahan dengan sikap keras kepalanya ...


Baru kali ini Lana bisa melihat dengan jelas, meskipun hanya sekelebat.


Bahwa disana ...


Di sepasang mata Victoria yang selama ini selalu terlihat percaya diri dan seolah begitu angkuh menantang dunia ...

__ADS_1


Lana telah melihat sebuah luka yang menganga, tepat di saat Leo sedang membicarakan seorang wanita.


Itu adalah luka yang diakibatkan oleh cinta, dan sejenak Lana seolah melihat kilas masa lalu dalam diri Victoria.


Tatapan mata yang sama, yang dipenuhi cinta sekaligus kepedihan, seperti yang ia alami pada beberapa puluh tahun yang silam.


"Victoria ... mencintai Leo ...?" Lana berucap lirih, membuat Arshlan tersenyum mendengarnya.


"Sayangku, kau seharusnya sudah bisa melihatnya sejak lama."


Lana tertunduk dalam diam. Melihat itu Arshlan tersenyum, seraya mengusap lagi kedua bahu Lana secara bersamaan, sebelum kembali berucap ...


"Karena tidak ada seorang pun yang bisa bertahan untuk tersakiti sekian lama ... jika bukan karena cinta ..."


🌸🌸🌸🌸🌸


Leo sudah sejak tadi memperhatikan pergerakan Victoria, namun sepertinya ada saja yang selalu dikerjakan wanita itu sehingga terus mengacuhkan dirinya.


Mulai dari masuk keluar kamar mandi, melipat pakaian Leo yang berantakan didalam sebuah lemari besar, membersihkan wajahnya didepan meja rias, kembali melipat pakaian di lemari yang satunya, masuk kamar mandi, keluar lagi ... begitu terus sampai leher Leo merasa sakit hanya dengan mengawasi wanita itu, yang seolah tak berhenti beraktifitas, namun tak kunjung mendekati ranjang, tempat Leo duduk diatasnya dengan ponsel ditangan.


"Victoria ..." tidak tahan akhirnya Leo telah menyebut nama itu.


Tidak menjawab, hanya menoleh.


"Memangnya kenapa? Aku kan tidak mengusikmu?"


Mendengar ungkapan acuh itu membuat pupil mata Leo telah membesar. "Kau ini kenapa? Sepertinya kau sangat kesal. Kau marah padaku yah? Apa karena kau mendengar bahwa aku telah mengundang Lisa?" berucap to the point tanpa dosa.


Victoria berjalan mendekat, dan baru berhenti tepat didepan ranjang besar, dimana Leo duduk bersandar diatasnya.


"Leo, sejak tadi aku hanya diam, tidak mengatakan apa-apa, tapi kau telah menyimpulkan banyak hal."


Mendengar perkataan Victoria tersebut, membuat Leo tertawa kecil. "Oh ... jadi saat ini kau sedang cemburu?"


Victoria membuang wajahnya yang memerah oleh karena ejekan itu.


"Jangan cemberut seperti itu dan sebaiknya kau tidur. Besok kau akan bertemu Luiz dan juga banyak orang. Bagaimana kalau mereka berpikir bahwa aku tidak bisa membahagiakanmu?"


"Cih, memangnya kau pernah melihatku bahagia selama bersamamu?"


Leo tertawa lagi mendengar kalimat sindiran itu.


"Memangnya selama ini kau tidak bahagia?"


Perlahan Leo beringsut turun dari ranjang, berdiri tegak dihadapan Victoria dengan kedua tangan terlipat didada.

__ADS_1


"Aneh ... padahal dulu kau sendiri yang mengatakannya, asalkan menjadi istriku semua itu sudah cukup membuatmu bahagia."


"Leo, berhenti mengejekku seperti itu!" kecam Victoria dengan kekesalan diiubun-ubun, namun Leo malah menjawabnya dengan ringan ...


"Kau yang memulainya."


Sepasang mata VIctoria telah membeliak sempurna. Dadanya turun naik seolah sedang terhimpit batu.


"Aku? Jadi hanya aku yang memulainya?" sepasang mata Victoria terlihat memerah. "Lima tahun yang lalu, aku meminta pertanggung jawaban atas perbuatanmu sendiri. Jadi karena itukah aku menjadi orang yang salah hingga detik ini?!"


"Aku sudah bertanggung jawab, lalu kau mau apalagi? Cinta? Hah?! Kau saja mencintai orang lain, lalu bagaimana bisa kau mengharapakan aku mencintaimu ...?" ucap Leo acuh, dan sikap acuh dari Leo itulah, yang membuat Victoria geram bukan kepalang.


Saking geramnya, Victoria bahkan tidak menyadari jika ada sekelebat rasa kecewa, yang sempat melintas dari tatapan mata Leo yang nyaris dipenuhi kekesalan seutuhnya.


"Leo, kau bahkan tahu dengan pasti bahwa kau adalah orang pertama yang aku serahkan semua yang ada pada diriku, begitupun dengan hidupku. Lalu apalagi yang harus aku buktikan?!" pekik Victoria dengan suara yang tercekat di tenggorokan.


"Aku tidak pernah memintamu untuk membuktikan apapun. Kau dan aku telah sepakat untuk berbagi kesenangan, sebelum kau datang memintaku bertanggung jawab!"


Balas Leo kalem. Kalimatnya telah menusuk seluruh jiwa dan raga milik Victoria, meskipun bukan hanya sekali dua kali ia menerima penghinaan yang sama.


Bagaimana mungkin Leo tidak pernah merasa bersalah atas apa yang menimpa dirinya?


Victoria bahkan pernah mengandung darah daging pria itu, tapi tak sedikitpun dirinya menerima empati!


Sungguh, rasanya sudah begitu lama hati Victoria ingin menyerah, namun entah mengapa pada akhirnya ia selalu bertahan.


Apa alasannya?


Entahlah ...


Entah jika itu yang dinamakan cinta, karena pada akhirnya ia telah menghabiskan waktu begitu lama, lima tahun, hanya untuk mendapatkan belas kasihan Leo yang tak kunjung ia dapatkan.


"Kalau aku katakan aku mencintaimu apakah aku bisa mendapat hakku?" lirih Victoria lagi, untuk yang kesekian kalinya sepenggal harga dirinya kembali ia tanggalkan dibawah mata kaki.


Leo terlihat menyeringai penuh kemenangan, setiap kali nada suara Victoria kembali melemah.


"Aku butuh bukti, bukan hanya kata-kata ...!" imbuh Leo sambil menatap kedua manik mata Victoria lekat-lekat. "Lepaskan aku, Vic. Karena selagi kau begitu egois, dan tidak bisa membiarkan aku bahagia tanpa dirimu ... maka seumur hidupku aku tidak akan percaya kalau perasaanmu padaku itu nyata!!"


...


Bersambung ...


'Dalam setiap persoalan, selalu ada hikmah didalamnya. Semoga ALLAH menguatkan hati setiap insan, dalam menghadapi cobaan ...'


(From Author with ❀️)

__ADS_1


__ADS_2