
Siska masih terlihat shock, dia hanya berdiri mematung dihadapan Lana, tanpa bisa berkata apa-apa.
'Apakah aku sudah gila..? bagaimana mungkin aku bisa salah mengingatnya..?'
'Tidak.. aku tidak mungkin salah. Aku tau persis bahwa sebelum kesadaranku seolah menghilang dalam sekejap, pada awalnya aku memang sedang bercum bu dengan Tuan Arshlan..'
'Lalu kenapa aku malah berakhir dengan Om Romi sih..?'
'Pasti ada sesuatu, namun yang jelas aku memang sedang dikerjai.'
'Dua gelas champagne itu..'
'Sial, itu pasti bukan champagne biasa.. melainkan racun! racun yang membuat kesadaranku hilang dalam waktu sekejap!'
'Dan semua itu pasti ada hubungannya dengan Tuan Arshlan..! brengsek..! ternyata sejak awal Tuan Arshlan tidak pernah tertarik padaku, melainkan hanya ingin menjebakku..!!'
'Sial..! sial..!! aku dijebak.. dan dengan bodohnya aku terjebak..!"
Untuk beberapa saat lamanya, Siska masih sibuk mengumpat pada dirinya sendiri, hingga membuatnya seperti orang yang kehilangan akal.
"Pergi." suara dingin Lana telah memecah segala kesunyian dikamar itu.
Wajah Siska nampak memucat saat menyadari seraut wajah lana yang memerah karena amarah yang sedang coba diredam dengan susah payah.
"Lana.."
"Pergi sebelum aku berubah pikiran dan memilih menghajarmu sampai mati."
"Lana dengar.. aku dijebak. Suamimu telah menjebak aku..!"
"Apa kau tuli..?!"
Siska tercekat mendengar suara bariton yang telah memangkas ucapannya begitu saja.
"Nyonya Lana sudah berbaik hati mengampunimu dan kau masih mau berdiri disini..?!" hardik Romi dengan suara yang menegas.
Tanpa ragu Romi telah menyeret lengan Siska keluar dari kamar mewah tersebut.
"Lepaskan aku..!" pekik Siska dengan tatapan memohon namun Lana berdiri tegak tak menggubris. Kelihatan sekali bahwa dirinya sama sekali tidak peduli dengan permohonan Siska yang menghiba.
Dalam sekejap, suara Siska yang melolong kencang tak terdengar lagi. Dan setelahnya Lana bahkan merasa tubuhnya nyaris ambruk kelantai yang dingin, diantara keheningan yang seolah abadi.
Setelah tidak mendapati keberadaan Tuan Arshlan diatas ranjang yang sama milik Siska, seharusnya Lana merasa lega. Tapi yang ada justru sebaliknya.
Lana merasa hatinya malah merasakan kesedihan luar biasa, yang tak kunjung reda.
"Nyonya.."
Lana kembali menyusut sudut matanya yang berair, begitu menyadari Om Romi telah kembali usai menyingkirkan Siska dari depan hidungnya.
"Ada apa Om Romi..?"
"Tuan Arshlan telah menunggu Nyonya dikamar yang lain.."
XXXXX
"Tuan pasti tau aku akan datang, kan? buktinya saat ini Tuan berada tepat disebelah kamar mereka.."
Arshlan terhenyak mendengar kalimat pembuka yang terdengar sangat datar, sedatar hujaman tatapan sepasang mata milik Lana yang tertuju lurus untuknya.
Dugaan Arshlan meleset.
__ADS_1
Karena awalnya ia menduga akan mendapatkan ungkapan terima kasih berupa pelukan manis dari Lana, karena dengan kejadian barusan, mata gadis itu telah terbuka, 'setulus' apa seorang Siska dalam mengartikan makna persahabatan.
Alih-alih mendapatkan pelukan, yang ada Lana bahkan memilih tetap berdiri disaat ia memerintahkan gadis itu duduk disofa yang sama, yang ia duduki saat ini.
"Tuan sangat lihai menyelamatkan diri. Aku salut."
Arshlan melotot mendengarnya. "Kau ini sedang bicara apa..?"
"Aku membicarakan tentang rencana pengkhianatan Tuan dengan sahabatku Siska..!" saat berucap demikian sepasang mata Lana nyaris berkaca.
"Sudah tau seperti apa jalan ceritanya, masih saja mau menyebutnya sahabat.." desis arshlan kesal sambil menatap Lana sejurus. "Sudahlah..! jangan bicara yang tidak-tidak..!"
Lana membuang wajahnya yang jutek kearah lain, membuat tenggorokan Arshlan nyaris tercekat sempurna, namun ia lebih memilih mengendurkan urat syaraf demi Lana.
"Kemarilah.." titah Arshlan dengan intonasi suara yang lebih rendah, namun pada akhirnya sepasang matanya kembali melotot jengkel karena mendapati penolakan Lana.
"Aku tidak mau..!!"
Arshlan terhenyak. "Apa kau bilang..?!"
"Aku tidak mau..!!"
"Wah.. berani sekali kamu mengatakan tidak untukku.." pungkas Arshlan sambil bangkit dari duduknya dengan gemas, langsung membopong tubuh Lana yang terkejut mendapati ulah nekad Arshlan.
"Lepaskan..!! lepaskan aku.. brengsek..!!" umpat Lana dengan sangat geram, namun tak diindahkan.
Arshlan membawa tubuh mungil itu ketengah ranjang super besar, dan begitu terhempas tubuhnya pun ikut menyusul Lana disana.
"Sejak kapan kau menjadi begitu berani menentangku.. hmmm..?" bisik Arshlan dengan tatapan yang menusuk kemanik mata Lana yang terlihat masih saja tak gentar.
"Padahal sudah jelas-jelas kau melihat Romi yang berada disana dan bukan aku.."
Mendengar itu Lana malah melengos. "Tuan.. bahkan sampai saat ini, bau parfum Siska masih menempel sempurna disekujur tubuh Tuan.." Lana mendesis sinis, kemudian ia telah menambahkan lagi, kali ini dengan nada luar biasa mengejek. "Sudah tua.. tapi masih saja berbuat nakal.."
Tentu saja Arshlan melotot mendengarnya. "Apa kau bilang..?! barusan kau mengatai diriku tua..?!"
"Tuan memang sudah tua..!"
"Kau.. astaga.. bocah ini.. kau memang benar-benar harus aku beri pelajaran.."
Arshlan bangkit dengan gusar, langsung melucuti satu persatu yang melekat ditubuhnya.
"Tuan kau mau apa..?!" Lana memekik ngeri saat melihat aura kemarahan pria itu.
Bayangan tentang dirinya yang akan digempur tak bersisa sepanjang malam langsung melintas diotak Lana.. membuat Lana bergidik ngeri.
"Tidak Tuan, jangan.. aku tidak mau.."
"Tidak mau..?" cibir Arshlan yang kini telah bertelanjang dada, hanya menyisakan boxer ketat yang merupakan penghalang terakhir sebelum tubuh pria itu naked sempurna.
"I-iya.. aku tidak mau melakukannya, aku kan sedang marah.. aku tidak mau bercinta..!" tolak Lana dengan raut wajah yang panik.
"Tidak mau ya.. baiklah.. setelah ini, coba saja tolak aku kalau kau bisa.."
Dan Arshlan langsung melu mat paksa bibir mungil Lana, sementara tangannya menyelusup menurunkan resleting dress dengan gerakan yang gesit.
"Hhmmph.. mmmhh.. tid.. akk.." Lana masih berusaha memberontak, berusaha meloloskan bibir mungilnya dari kulu man bibir Arshlan yang begitu rakus.
__ADS_1
Dengan nekad Lana mendorong wajah Arshlan menjauh dari wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kau.." Arshlan menggeram marah melihat penolakan Lana yang kukuh meskipun ia telah mengecap bibir mungil itu habis-habisan.
Tak kehilangan akal Arshlan meremas salah satu bongkahan didada Lana dengan sedikit kasar, begitu gaun Lana berhasil ia lucuti secepat kilat.
Jemari Arshlan bergegas memainkan pucuk bongkahan sebelahnya, membuatnya saling beradu cepat dengan ujung lidahnya pada bongkahan yang satunya.
Kepala Lana sempat terlempar kesana kemari saat harus menahan nikmatnya penyiksaan yang Arshlan berikan, tapi meskipun demikian, gadis itu tetap saja menolak Arshlan.
"Mmmhh.. Tuaaannn.. tidak.. tidak.."
Arshlan melotot kesal mendapati penolakan yang lagi-lagi ia terima.
Tanpa berpikir panjang tangannya langsung berpindah target kearea bawah. Jemari besarnya langsung berpetualang mencari ujung kecil, dari tempat berkumpulnya semua syaraf.
"Awww..!!" Lana memekik saat merasakan inti tubuhnya sedang dicubit.
Wajah Lana memerah, namun saat menatap wajah Arshlan yang menyeringai penuh naf su mendadak kekesalan hatinya kembali bertambah dan menguasai jiwa, membuat Lana beringsut mundur mencoba menjauh dari jebak rayu kenikmatan yang mulai menguasainya.
"Jangan harap kau bisa lolos dariku.." ujar Arshlan sambil menangkap pinggul Lana dengan kedua tangan kekarnya, menariknya paksa, mendekat, kemudian membenamkan wajahnya disana.. diantara kedua paha yang merupakan pusat dari segala petualangan.
"Aaaa.. shhhh.." Lana mendesis kuat, saat ujung lidah Arshlan menyentuh sempurna ujung dari inti syarafnya, bergerak cepat seolah sedang memetik dawai gitar berirama metal.
"Ouhh.. mmhh.. mmhh.." kedua jemari Lana mencengkeram permukaan bed cover yang terbuat dari sutera nan halus, saat menyadari gua keramatnya ikut diobrak abrik oleh dua jari yang besar sekaligus.
Lidah, bibir, bahkan gigi Arshlan pun ikut memperlakukan miliknya dengan begitu menakjubkan.
"Tuaaannn.. akh.. teruss.. mmh.. teruss.." Lana mengutuk mulutnya yang telah berkhianat, begitupun dengan hati, otak dan seluruh organ tubuhnya. Semuanya telah sepenuhnya mendamba.. mengkhianati pemiliknya tanpa tersisa..!
Arshlan mengangkat wajahnya, tersenyum penuh kemenangan. "Bagaimana..? masih mau menolakku lagi..?"
Lana menggeleng pasrah. "Tidak Tuan.."
"Tadi kau bahkan mengejekku sebagai pria tua.."
"Tuan.. jangan bahas itu lagi. Karena sekarang aku benar-benar menginginkannya.." tepis Lana semakin tak sabar.
Tak ada lagi yang bisa Lana lakukan selain mengalah. Saat ini ia sangat menginginkan pria itu untuk memenuhi seluruh tubuh dan jiwanya dengan segera.. karena kalau tidak, rasanya Lana bisa gila..!
Arshlan masih betah tersenyum puas menyaksikan wajah Lana yang memerah dan mulai berkeringat, tapi sepasang mata gadis itu terlihat melotot kesal kearahnya.
"Ada apa lagi..?" tanya Arshlan lembut masih dengan senyum yang sama.
"Masih bertanya dan malah tersenyum.. cepat lakukan..!" titahnya.
"Melakukan apa..?" Arshlan malah sengaja menggoda dengan memasang tampang blo'on.
"Tuaaann, cepat lakukan..! aku sudah tidak tahan..!" hardik Lana galak, membuat Arshlan tercekat.
Detik berikutnya tawa Arshlan pecah begitu saja menyadari ketidaksabaran Lana atas dirinya.
"Tuaaaann.." pekik Lana lagi sambil merengek manja.
"Baiklah, Sayang.. kali ini kau bosnya. Aku akan memuaskanmu.. dan melakukan apapun yang kau inginkan.." bisik Arshlan dengan suara berat yang begitu intim, sebelum akhirnya menyatukan tubuh mereka dibawah sana..
...
Bersambung..
Bantu author untuk tembus pop menuju 1 M, biar kayak author pemes.. ðĪŠ
__ADS_1
Gak yakin bisa, tapi kalau sering di vote dan dikasih hadiah.. pasti bisa.. ð
(Kode keras bosskuuhh.. ð)