TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 68. Family Gathering


__ADS_3

"Dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini, aku lihat florist milikmu berkembang sangat pesat." ucap El, yang siang ini kembali berada di dalam kantor Luna, adik perempuan El satu-satunya.


Setelah beberapa hari tidak menampakkan batang hidungnya yang diakibatkan kesibukan pekerjaannya yang begitu padat, hari ini El merasa begitu ingin datang kembali ke Mega Florist.


Kenapa ...?


Astaga, kenapa harus bertanya 'kenapa' ...?


Sudah jelas, bahwa dirinya begitu ingin bertemu seseorang, yang telah membuat dirinya sedikit penasaran.


Siapa lagi kalau bukan seorang wanita bernama Victoria?


El tidak bisa memungkirinya, bahwa sejak awal bertemu Victoria, dirinya sudah merasa sangat tertantang.


Sehari setelah peristiwa makan siang yang membuat El mengantarkan Victoria kembali ke florist kira-kira dua minggu yang lalu, pada beberapa hari kemudian El telah begitu rajin mengunjungi Mega Florist dengan berbagai alasan, yang buntut-buntutnya akan mengarah kepada Victoria.


Yah, lagi-lagi Victoria.


Victoria yang hanya akan mengiyakan jika Luna yang mengajaknya, sehingga mereka bertiga akan makan siang besama, dan wanita itu akan menolak dengan tegas jika hanya El yang mengajaknya.


Wanita itu ... hatinya seolah tak terjamah.


Tidak seperti wanita kebanyakan yang selalu mendamba, bisa berduaan dengan seorang Lionel Winata.


"Kau benar El, aku bahkan tidak menyangka, bahwa bisnis kecil-kecilan yang awalnya aku jalankan hanya karena hobby ... malah bisa berkembang drastis seperti ini ..." kilah Victoria dengan wajah berbinar.


El memang berkata benar. Setiap hari Mega Florist nyaris kewalahan karena kebanjiran orderan, baik orderan kecil maupun proyek besar.


Luna bahkan tidak menyangka jika Mega Florist yang awalnya hanya ia jalankan sebagai usaha kecil-kecilan karena ia yang sangat menyukai bunga itu, saat ini justru berkembang dengan pesat.


"Kalau aku jadi kau, sudah pasti semua karyawan akan aku berikan reward khusus."


Luna yang sedang memperhatikan beberapa laporan penjualan yang barusan ia terima dari seorang karyawan itupun kembali mengangkat wajahnya sekilas, begitu mendengar kalimat El tersebut. Ia menaruh tumpukan map tersebut ke samping meja terlebih dahulu, sebelum akhirnya memberikan perhatian sepenuhnya kepada pria yang bersandar nyaman ditempat duduknya.


"Aku memang sudah memikirkan hal yang sama. Mereka pantas mendapatkan reward seperti katamu."


Kemudian Luna menambahkan lagi.


"Akhir bulan ini aku telah menjanjikan bonus, dan mereka semua sangat antusias mendengarnya." ucap Luna lagi dipenuhi senyum kebanggaan.


Luna memang telah melakukan hal yang di idekan El, dengan menjanjikan bonus khusus untuk seluruh karyawan di akhir bulan.


"Hanya itu? Hanya bonus berupa uang?" El sengaja menabur mata kail berisikan umpan.


"Apa maksudmu, El? Apakah menurutmu semua itu masih kurang?"


Luna menatap El dengan seksama, sedang mencari tahu hal apa yang sedang dirancang El untuk kembali mendekati Victoria seperti yang selama ini mati-matian El lakukan, namun sepertinya belum membuahkan hasil yang memuaskan.

__ADS_1


Kali ini kakaknya itu seolah kena batunya. Pria dingin yang seumur hidupnya telah terbiasa dikejar semua wanita, kini malah berbalik mengejar seorang wanita saja.


"El ..."


"Hhmm ..."


"Kau jangan bicara setengah-setengah. Menurutmu, aku harus melakukan apa lagi dalam situasi seperti ini ...?"


Melihat kesungguhan dimata Luna membuat El tertawa berderai. Pancingannya untuk Luna berhasil dimakan dengan sempurna. Karena Luna, meskipun ia menyadari El memiliki maksud untuk mendekati Victoria, namun disisi lain Luna juga memerlukan ide cemerlang dari El.


"Apakah kau tidak berpikir untuk membuat sebuah party kecil-kecilan? Yah ... semacam family Gathering?" ujar El lagi dengan senyum penuh maksud.


"Family Gathering?" alis Luna bertaut nyata, sementara El langsung mengangguk mengiyakan.


"Berwisata keluarga dengan menginap semalam di puncak, atau di pantai ..."


"Pantai." sanggah Luna dengan wajah berbinar. "Alisha sangat suka pantai. Aku akan minta Dimitri untuk menyisihkan waktu di akhir pekan ini, agar kita bisa pergi bersama." ucap Luna lagi sembari menyebut nama putri kecilnya beserta sang suami.


"Beautifull idea," El berucap kalem.


"Kau akan ikut El?"


"Bercanda ...?" ucap El sambil melirik Luna yang menatapnya dengan senyum. "Of course, dear ... mana mungkin aku akan melewatkan kesempatan emas begitu saja?"


"Dasar modus." cibir Luna, sebelum keduanya tertawa berderai.


🌸🌸🌸🌸🌸


Semalam, begitu Leo pulang, Victoria telah meminta ijin Leo, untuk rencananya berpergian ke pantai xxx, dalam rangka acara family gathering bersama dengan seluruh crew Mega Florist, tempat Victoria bekerja.


Sejauh ini, Victoria tidak pernah berpergian, apalagi sampai meminta ijin Leo kamana pun.


Sebenarnya Leo pun enggan mengiyakan, namun di sisi lain Leo tidak enak menolak keinginan Victoria, juga merasa gengsi jika terlihat mulai over protective.


Yang di khawatirkan Leo hanya satu, tak lain dan tak bukan adalah kehadiran Lionel Winata.


Leo merasa dirinya tidak boleh meremehkan pria yang sering disapa El tersebut, karena sangat terlihat kegigihan El dalam mendekati Victoria, meskipun Victoria tidak menyadarinya, tidak juga menanggapinya, dan hanya mencoba berlaku sopan.


"Kapan kau kembali?" tanya Leo memecah keheningan.


"Besok."


"Jadi kalian akan menginap semalaman ...?!"


"Kenapa kau terkejut seperti itu? Aku kan sudah mengatakannya sejak kemarin ...?"


Leo terkesiap. Ia benar-benar tidak menyangka jika Victoria dan kawan-kawannya akan menginap semalam.

__ADS_1


"Acara family gathering seperti itu seharusnya dihadiri oleh seluruh anggota keluarga. Bukan seorang diri seperti yang kau lakukan sekarang." sindir Leo dengan raut wajahnya yang kesal, namun Victoria tidak menggubrisnya.


Dengan acuh Victoria menaikkan resleting hand bag berukuran sedang yang merupakan andalannya, dan menaruhnya disisi meja.


Detik berikutnya wanita itu mulai menyapukan pelembab dan foundation tipis-tipis ke wajahnya, mulai memoles make up minimalis di kulit wajahnya yang halus.


"Vic, kau mendengarku tidak?" tanya Leo dengan nada gemas, atas suguhan sikap datar Victoria yang seolah tak terpengaruh dengan sikap Leo yang mulai menyebalkan.


"Iya,"


"Apanya yang iya?"


"Iya, aku mendengarmu."


Gigi Leo bahkan bergemeretak saking kesalnya dengan sikap acuh istrinya itu.


"Apa kau tidak malu menghadiri family gathering seperti ini seorang diri? Kau tidak malu datang kesana tanpa seseorang yang mendampingimu? Kau ini tahu tidak sih konsep family gathering yang sesungguhnya? Kau ..."


"Leo kau ini kenapa sih?!" pungkas Victoria yang serta merta berbalik menatap Leo yang berdiri dengan wajah keruh. "Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, maka katakan dengan jelas. Sejak tadi kau bicara ini dan itu ... apa maumu yang sebenarnya?"


Leo mematung.


'Mauku yang sebenarnya ...?'


'Apa ...? Apa mauku yang sebenarnya ...?'


Mendadak pikiran Leo buntu menerima pertanyaan aneh dalam benaknya.


"Kau tidak perlu khawatir kalau aku pergi seorang diri tanpa pasangan, karena diluar sana statusku adalah wanita lajang. Jadi tak masalah jika aku datang sendirian."


Glek.


'Wanita lajang ...?'


'Semua orang menganggap dirinya wanita lajang?'


Untuk yang pertama kalinya Leo merasa kesal saat menyadari bahwa Victoria memang benar.


Victoria ...


Diluar sana ...


Adalah seorang wanita lajang!


Itu berarti semua pria bisa mendekatinya, dan untuk yang pertama kalinya, Leo membenci kenyataan tersebut!


...

__ADS_1


Bersambung ...


Maafkan author yang slow up. Karena kondisi kesehatan menurun pada beberapa hari terakhir. πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2