TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
INGIN BERDAMAI


__ADS_3

Arshlan tidak sedang berbohong. Sejauh ini, Arshlan telah bersama sekian banyak wanita. Mereka memuja dan menyukai dirinya, dan ungkapan cinta setiap wanita untuknya.. adalah hal yang terlalu sering Arshlan dengar, meskipun hatinya tidak pernah tergetar.


Karena itulah Arshlan hanya bisa mengajak wanita bercinta, lalu melemparkan uang. Sama sekali tidak tertarik dengan urusan berbagi perasaan.


Maura adalah wanita yang dikenal Arshlan jauh sebelum dirinya menjadi baji ngan. Berawal dari hubungan pertemanan, lama kelamaan menjadi semakin dekat karena sering bersama.


Arshlan tak bisa memungkiri, Maura telah mengajarkan dirinya tentang banyak hal dalam kehidupan, dari sisi positif dan negatif sekaligus. Mendewasakan dirinya dari sisi yang unik, membuatnya tangguh tanpa ia sadari. Mungkin karena semua itu pulalah disetiap pembalasan dendam Arshlan untuk Maura, tidak pernah ada yang sempurna.


Bagaimanapun kisahnya, Arshlan tetap tak bisa memungkiri, bahwa wanita yang ada dihadapannya ini.. benar-benar telah berbuat banyak didalam hidupnya, membuat Arshlan memutuskan untuk melakukan gencatan senjata.


"Apa kau masih berhubungan dengan Marco..?"


"Entahlah, Arsh.. kami masih bertemu, tapi sepertinya tak ada satu pun dari kami yang ingin serius. Semuanya omong kosong.."


Arshlan terdiam mendengarnya.


"Arsh.. aku menyesal. Aku menyesal pernah mengkhianatimu.. kemudian menipumu.. mengkhianatimu lagi.. menipumu lagi.."


"Lupakan." tepis Arshlan singkat.


"Tidak. Aku ingin menebusnya. Aku mohon, Arsh.. kedepannya aku ingin berubah menjadi wanita yang lebih baik. Aku akan menerima nasibku jika kau ingin aku berbagi cinta dengan bocah bar-bar itu, juga dengan kekasih barumu yang baru saja keluar dari ruanganmu.."


Arshlan tersenyum kecut. "Itu tidak mungkin lagi. Jangan membuang waktumu untukku.. juga untuk Marco. Kami berdua bukan pria yang tepat bagi wanita yang ingin berubah menjadi lebih baik."


"Tapi Arsh.."


"Aku sudah terlalu jauh melangkah, Maura, tidak bisa kembali lagi ke garis awal. Tapi meskipun begitu.. aku juga ingin melihatmu menjalani hidup yang benar-benar baru. Maura, mari berdamai denganku dan keadaan ini.."


Arshlan menarik nafasnya sejenak, sebelum kembali menghembuskannya perlahan, saat menyadari Maura masih diam, tertunduk dihadapannya tanpa kata.


"Dua bulan yang lalu aku mengambil alih kepemilikan sebuah butiq terkenal yang ada di Milan.."


Maura yang tersentak mendengarnya, sontak mengangkat wajahnya. "M-Milan..? kau memiliki butiq di Milan..?"


Sejak dulu Maura memang tertarik dengan dunia fashion. Maura bahkan menimba ilmu di bidang yang sama dan memiliki keahlian seorang designer handal. Tapi gemerlap kehidupan membuatnya mengabaikan prestasinya, Maura menjadi sibuk berfoya-foya tanpa arah dan tujuan.


Arshlan terlihat mengangguk. "Dulu.. kau pernah bilang bahwa impian terbesarmu adalah ingin tinggal di Milan, dan mempunyai sebuah butiq terkenal disana.."


"K-kau masih mengingatnya, Arsh..?"

__ADS_1


"Tentu saja. Aku tidak hanya sekedar mengingatnya, tapi aku mengambil alih butiq itu untuk dirimu.."


Air mata Maura bergulir.. "Jangan bercanda, Arsh..!" pungkasnya menatap Arshlan dengan tatapan mengabur, tapi ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang hendak melonjak kegirangan.


"Apa kau pernah melihat aku bercanda seperti ini..? aku serius. Butiq itu.. tentu saja akan menjadi milikmu."


"Arsh.. kau.. kau.." Maura tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaannya. Ia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi saking senangnya.


"Jangan senang dulu.." pungkas Arshlan sambil tersenyum. "Kau harus memenuhi tiga syarat terlebih dahulu sebelum kau.."


"Katakan..!" pungkas Maura tak sabar. "Katakan, Arsh, dan akan aku penuhi keinginanmu..!" ujar Maura berapi-api.


"Pertama, keluar dari ranah pribadiku. Dikemudian hari kita hanya akan menjadi partner bisnis biasa, kita bukan teman, apalagi terlibat asmara. Just business."


"Sudah kuduga." lirih Maura sambil tersenyum sendu, namun kepalanya telah mengangguk pasrah. "Baiklah, Arsh, aku setuju."


Arshlan tersenyum jumawa, jawaban Maura sudah bisa ditebaknya.


Maura memang harus memilih dengan pintar, karena setelah keluar dari tanggung jawab Arshlan, ia bahkan bingung harus memulai kehidupannya darimana.


Selama ini hidupnya telah bertumpu sempurna pada pria itu, Maura bahkan lupa ia telah membuang waktu lima tahun sia-sia dalam upaya menipu Arshlan, sementara di saat yang sama usianya terus bertambah.


Dunia modelling yang dulu membesarkan namanya tidak bisa lagi Maura masuki dengan mudah, karena disana.. para gadis belia telah menjadi primadona, tidak ada lagi tempat yang tersisa untuk wanita dewasa sepertinya.


"Kedua, temui Lana dan minta maaflah padanya."


Kali ini sepasang mata Maura telah melotot sempurna. "Apa? tidak.. tidak.." Maura telah menggeleng tegas, duduknya pun terlihat gelisah mendengar syarat yang kedua.


Masih lekat dalam ingatan Maura bagaimana gadis bar-bar itu memukulnya, menamparnya, menginjak.. membanting..


"Maura.."


"Tidak. Aku bilang tidak..!! jangan gila, Arsh..! aku tidak mau mati konyol ditangan istri kecilmu yang seperti harimau lapar itu..!! tidak..!! aku tidak mau..!!" ucap Maura panik.


Arshlan tertawa kecil menyaksikan raut ketakutan diwajah Maura. "Maura, tenanglah.. selama kau tidak sedang mencoba merayuku seperti kejadian waktu itu, maka aku pastikan nyawamu aman.." ujar Arshlan masih dengan sisa tawanya.


"Tidak, Arsh.. aku tidak mau bertemu dan berbicara empat mata dengan gadis itu..!" tolak Maura ketus.


"Begini saja.. aku akan memperingatkannya terlebih dahulu agar tidak berbuat kasar padamu, dan aku akan memerintahkan Asisten Jo untuk terus mengawasi saat kalian bicara."

__ADS_1


"Arsh.. kau gila..!"


"Itu adalah syarat kedua.."


"Baiklah..! tapi kau harus berjanji untuk memperingatkan istrimu itu agar tidak mencoba menyentuhku..!" pungkas Maura lagi, terlihat sekali jika Maura benar-benar masih trauma dengan perlakuan Lana yang bisa dikategorikan pernah melakukan penganiayaan berat kepada dirinya.


"Aku berjanji." ujar Arshlan meyakinkan Maura.


"Baiklah, Arsh, aku bersedia."


Maura tertunduk lesu, pasrah dengan keadaan sambil mencoba menguatkan nyalinya agar bisa memenuhi syarat kedua Arshlan, demi sebuah kehidupan baru yang akan dimulainya kelak lewat hadiah pria itu yang luar biasa.


"Maura, kelak saat kau berada di Milan, berjanjilah untuk membuka lembaran hidupmu yang berbeda. Kau harus ingat, bahwa kau bukan lagi seorang gadis muda yang bisa terus bermain-main sepanjang waktu. Diluar sana kehidupan semakin keras, jangan lagi membuang waktumu percuma, untuk sesuatu yang sia-sia, dan buatlah hidupmu berarti dengan mencari kebahagiaan." Arshlan bersandar dikursi miliknya, sambil menatap Maura lekat dengan kedua tangan terlipat didada.


"Nasehati dirimu sendiri..!" pungkas Maura. "Kau bahkan jauh lebih tua dariku, tapi masih saja bermain-main, dan menolak bahagia..!" sindir Maura dengan wajah yang jutek.


"Aku seorang pria." imbuh Arshlan santai.


"Lalu apa bedanya..?"


"Baiklah, terserah apa katamu dan pergilah temui Lana secepatnya."


"Aku akan menemuinya besok." Maura mengangguk, tapi saat ia hendak bangkit mendekati Arshlan, ia mengerinyit saat mengingat sesuatu. "Arsh, bukankah katamu tadi syaratnya ada tiga..?"


Arshlan tersenyum kecil, sebelah tangannya telah bergoyang berkali-kali seolah ingin mengusir Maura.


"Tidak boleh ada kontak fisik sama sekali. Itu adalah syarat ketiga."


"Tapi aku hanya ingin menjabat tanganmu.."


Maura berdiri bingung, tak menyangka bahkan niatnya mendekati Arshlan untuk benar-benar menjabat tangan telah ditepis pria itu tanpa ampun.


Arshlan terlihat terus menggeleng berkali-kali.


"Tidak. Tidak perlu.. pergilah.."


...


Bersambung..

__ADS_1


Support dong akaaakk.. 🥺


🤭🤭🤭


__ADS_2