
Kepoin novel Author yang lain dong.. dijamin gak kalah seru & 🔥.. 😀🙏
'Memang itulah tujuan utamaku. Mencampakkanmu kejurang terdalam...'
'Memangnya ada hal apa lagi yang paling menyenangkan untuk aku lakukan saat ini kalau bukan berusaha menjeratmu, sehingga kemudian aku bisa menyingkirkanmu dengan keji...?'
'Dasar penipu kecil yang ulung...! bisa-bisanya aku nyaris tertipu dengan ucapan cinta yang selalu kau lontarkan... padahal yang kau incar hanyalah uang dan popularitasku saja...!'
Lana menyentuh lembut pipi Arshlan. Mengusapnya perlahan.
"Tuan, jangan memikirkan itu lagi, cukup pikirkan bahwa aku benar-benar hanya milik Tuan saja."
"Percuma menjadi milikku, tapi tidak bisa aku miliki..." seloroh Arshlan mulai menebar jaring jebakannya sedikit demi sedikit.
"Nikahi aku dulu baru bisa memiliki semuanya... upss...!!" Lana sontak membekap mulutnya sendiri. "Astaga... kenapa aku malah mengatakannya sih...?"
"Ha... ha... ha..." Arshlan tertawa melihat Lana yang seolah bergumam pada dirinya sendiri usai bicara keceplosan.
"Maaf Tuan..." Lana meringis.
"Jadi itu rupanya yang ada diotakmu sejak tadi yah...? kau ingin aku menikahimu secepatnya? begitu?" ujar Arshlan dengan sisa tawanya.
Arshlan menatap Lana dengan kepala yang sedikit menyamping, karena saat ini gadis itu tengah menyembunyikan wajahnya didada bidang Arshlan, merasa malu dengan ucapannya yang tidak tau malu.
Berharap Tuan Arshlan mau menikahi dirinya..?
Sungguh impian yang berlebihan!
"Dasar bocah nakal... masih kecil sudah berani minta dinikahi pria. Apa kau tidak akan menyesal kalau aku benar-benar menikahimu...? hmmm...?" Arshlan menyentuh dahi Lana dengan dagunya, mengusap-ngusap disana hingga ke pelipis, membuat tubuh Lana bereaksi karena gesekan dagu yang ditumbuhi bulu itu mulai membuat beberapa titik sensor yang ada didalam tubuhnya terusik.
"Kenapa harus menyesal...?" bertanya dengan suara berat, sedikit menarik wajahnya yang terbenam untuk memudahkan Arshlan menguasai dirinya lebih banyak.
"Kamu masih muda, kenapa ingin dinikahi pria yang pernah kau sebut 'tua' ini...?"
Lana terkikik. Separuh karena merasa lucu dengan kalimat Arshlan yang telah menyebut dirinya 'tua' separuh lagi karena ia merasa benar-benar kegelian, saat lidah Arshlan menji lat dan mencumbu cuping telinganya.
"Aku bukan anak kecil lagi, Tuan. Umurku dua puluh tahun..."
Mendengar itu Arshlan menggigit dagu Lana dengan gemas.
"Aww.. Tuan, kenapa Tuan menggigitku...?" protes Lana seraya mengusap dagunya.
"Karena kau suka berbohong." ujar Arshlan perlahan, menarik wajahnya guna bisa lebih leluasa menatap sepasang mata Lana lekat-lekat.
Lana terlihat meringis mendapati tatapan yang seolah sedang menghakiminya itu.
"B-baiklah... mmm... maksudku... nanti diakhir tahun ini umurku sudah genap dua puluh tahun..." akhirnya berucap jujur dan mengakui bahwa saat ini usianya yang sebenarnya adalah masih sembilan belas tahun.
"Dan diakhir tahun ini juga... umurku genap empat puluh tahun." desis Arshlan membuat Lana terkesiap.
__ADS_1
Kepala Lana sontak menggeleng berkali-kali, meragukan pernyataan Arshlan yang jujur. "Ha-ah...?! tidak... tidak mungkin..."
"Kenapa tidak mungkin...?"
"Tuan... kau bahkan tidak terlihat setua itu...''
Sungguh Lana benar-benar merasa kaget. Meskipun ia tau bahwa Tuan Arshlan adalah pria yang tidak muda lagi.. tapi dengan penampilannya yang gagah seperti ini Lana awalnya mengira umur pria itu tidak mungkin lebih dari tiga puluh lima tahun.
"Bagaimana...? masih mau aku nikahi...?" Arshlan terlihat ingin tertawa, namun urung ketika menangkap wajah Lana yang sangat serius.
"Tuan, kau jangan mempermainkan aku seperti ini. Aku bahkan sudah mengatakannya dengan jelas dan mengakuinya bahwa aku benar-benar tergila-gila kepada Tuan, sehingga ingin Tuan menikahiku secepatnya sebelum.."
Mengambang.
"Sebelum apa...?"
"Mmm... sebelum..."
"Katakan..."
"Sebelum... Tuan mau melakukan apa yang ingin Tuan lakukan..." kedua pipi Lana telah merona sempurna.
Arshlan tersenyum. "Bukankah kamu juga ingin aku melakukannya...?" bisiknya begitu intim, membuat bulu kuduk Lana meremang.
"Egh... aku... t-tidak..."
"Kau hanya takut. Tapi sesungguhnya kau terlihat sangat ber gai rah saat aku menyentuhmu.."
"Ish... Tuan..." Lana memekik malu, tapi dasar Lana yang memang memiliki sifat yang tidak tau malu, detik berikutnya dia telah berani menatap Arshlan dengan utuh. Tidak hanya itu, jemari halusnya sudah menempel didada Arshlan, dimana dikancing atas kemeja yang terbuka itu... bulu-bulu halus juga tumbuh meriap disana.
Otak Lana diam-diam mulai travelling lagi.
"Tuan, kau benar, aku memang sangat menginginkanmu. Meskipun aku takut... tapi aku ingin..." bisik Lana dengan penuh kesungguhan.
"Kalau kau sudah tidak tahan, kita bisa menikah sekarang juga..."
"Apa...?!" Lana tersentak bangkit. "Tuan kau... kau..."
"Kita menikah sekarang juga. Kau mau kan...?" tanya Arshlan to the point, seolah tidak ingin membuang waktu begitu mendapatkan celah.
"Tapi..."
"Jawab saja 'ya' atau 'tidak'." desak Arshlan.
"Tapi..."
"Ya atau tidak?"
"Ya..."
"Finally..." Arshlan tersenyum menang.
"Tapiii... aaaaa..." Lana terhenyak saat merasakan Arshlan telah bangkit dari sofa langsung menggendong tubuh Lana ala bridal style.
__ADS_1
"Sudah menjawab 'ya' awas saja kalau kau berubah pikiran." ancamnya sambil melotot kecil.
Arshlan terus melangkah kearah pintu, sambil menggendong tubuh mungil Lana yang terlihat masih shock.
"Tuan kau akan membawaku kemana..?"
"Ke altar pernikahan."
"Apppa...?!"
...
Sementara itu...
Dari jendela sebuah kamar yang ada dilantai dua, sebuah kepalan tangan terkepal kuat saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Arshlan keluar dengan membopong tubuh Lana, pelayan kecil yang sangat dibencinya itu, dan membawanya kedalam mobil.
Maura bahkan bisa melihatnya dengan jelas.. Lana tertawa-tawa genit sambil mengalungkan tangannya dengan mesra keleher Arshlan.
Dan apakah dirinya telah salah melihat...? mengapa dimatanya ia justru melihat Arshlan yang juga terlihat sangat bahagia...?
"Arshlan sia lan...!! tega-teganya kamu mengkhianatiku seperti ini...!!" rutuk Maura geram.
Padahal baru kemarin Arshlan mengatakannya dengan jelas... bahwa pria itu masih tetap memegang janji, untuk tidak menikah dan tidak memiliki kekasih.
Tapi semua itu ternyata hanya berlaku sebelum Arshlan datang semalam, tepat pada jam dua belas.
Awalnya Maura begitu terkejut bercampur bahagia, Maura mengira Arshlan mungkin sedang merindukannya setelah sekian lama, sehingga memaksa datang ditengah malam, disaat kemarahannya yang meluap-luap sejak mengetahui kenekadan Lana yang terus menggoda pria itu bahkan belum juga hilang.
Maura bahkan merasa belum puas meskipun telah melampiaskan seluruh kemarahannya kepada Lana yang bahkan begitu berani mengejeknya.
Namun semua kebahagiaannya sirna manakala mendengar hal yang sebaliknya, saat Arshlan justru mengutarakan keinginannya untuk menikahi Lana!
"Nona... Nona Maura... buka pintunya, ada yang ingin aku sampaikan, Nona... ini sangat penting...!"
Suara tidak sabar Lucy yang berada dibalik pintu terdengar seiring dengan bunyi pintu yang diketuk wanita itu.
Lucy pasti ingin menyampaikan kabar menjengkelkan tentang Arshlan dan Lana. Dengus Maura dalam hati, sambil buru-buru berjalan kearah ranjangnya, memasukkan sebagian tubuhnya kedalam selimut terlebih dahulu sebelum akhirnya menyambar remote khusus yang merupakan pengendali otomatis di kamarnya ini.
Yah... Arshlan memang cukup baik melayaninya selama ini.
Terbukti meskipun pria itu marah dan kecewa pada dirinya yang telah berkhianat, Arshlan tetap memberikan semua fasilitas dan kemudahan untuk Maura, tak terkecuali remote kecil yang ada ditangan Maura saat ini, yang bisa mengendalikan pintu dan tirai jendela hanya dengan menekan tombol yang tersedia disana.
.
.
.
Bersambung..
Pantengin terus.. next updatenya yah 🤗
Follow my IG. @khalidiakayum
__ADS_1
Support jangan lupa yah guys.. Thx and Lophyuu all.. 😘