
"Beri aku waktu satu bulan, dan aku akan meminjamkannya." itu kalimat Arshlan, saat kepala Lana rebah diatas dada bidang yang bersimbah peluh.
"Aaaa ... Tuaaann ... Kenapa harus menunggu satu bulan ...? Kenapa tidak sekarang saja ...?" Lana telah merajuk diatas Arshlan, sambil memberondong wajah Arshlan dengan ciuman yang random, sampai-sampai Arshlan tertawa mendapati tingkah polah Lana yang lucu dan kekanak-kanakkan, ibarat bocah yang ingin dituruti kemauannya.
"Dasar tidak sabaran." Arshlan mencubit dagu Lana dengan gemas. "Aku sudah cukup berbaik hati, tapi kau malah tidak bisa bersabar ..."
"Baiklah, kalau begitu jangan sebulan. Bagaimana kalau dua minggu?" rayu Lana lagi.
"Kenapa sekarang kau jadi lebih ngotot dibandingkan ibu dan ayahmu ...?" tukas Arshlan sambil mengerinyitkan kedua alisnya.
Mendengar itu Lana terpaku. Sepasang matanya telah mengawasi Arshlan dengan sinar yang tak bisa Arshlan pahami. Lama Lana terdiam, sebelum ia berucap perlahan.
"Tuan, sejujurnya, aku begitu ingin menyombongkan diriku dihadapan ayah dan ibu ..."
"Menyombongkan dirimu ...?"
"Hhmm ..." Lana mengangguk sendu. "Seumur hidup aku selalu di cap tidak berguna oleh mereka berdua. Ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk membuktikan diri bahwa aku juga bisa berguna ..." ujarnya gadis itu lagi begitu polos, namun seolah menohok ulu hati Arshlan yang terdalam dengan sangat telak.
"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan meminjamkannya, tapi memberikan. Katakan kepada ayah dan ibumu, kau akan memberikannya cash dalam waktu dua minggu."
Sepasang mata Lana telah melotot sempurna memdengar kalimat yang terucap yakin itu. Bibirnya terlihat gemetar.
"T-Tuan ... K-kau.."
"Bukan aku, tapi kau yang akan memberikannya. Lana, berjanjilah ... Mulai sekarang jangan pernah membiarkan dirimu diremehkan oleh orang lain, siapapun itu, atau aku akan meradang ...!"
"T-tapi Tuan ..." Lana telah terisak mendengar kalimat tegas Arshlan. Ia merasa sangat terharu, bisa mendengar kalimat yang sangat meninggikan dirinya dari mulut suaminya yang arogan itu.
"Aku mengijinkanmu untuk menyombongkan diri, bahwa kau mempunyai suami yang hebat seperti diriku. Kau adalah Nyonya Arshlan, kau bahkan bisa mengambil nyawa seseorang kalau kau mau ...!"
Detik berikutnya Lana telah memeluk erat tubuh Arshlan yang masih terlentang diatas ranjang, Lana benar-benar terisak di sana.
Arshlan menarik napasnya mendapati tubuh yang terguncang penuh tangis diatas tubuhnya. Kedua lengannya memeluk tubuh Lana dengan utuh, sambil terus mengusap punggung gadis itu.
"Tuan ... Dikehidupanku yang terdahulu pasti aku adalah orang yang baik, karena itulah hari ini aku bisa memiliki Tuan ..." lirih Lana diantara isak haru yang tertahan.
Arshlan mengangguk sambil tersenyum. "Dan dikehidupanku terdahulu aku juga pasti orang yang baik, karena itulah hari ini ... Pria tua sepertiku bisa memeluk dan memperistri gadis muda belia, bahkan mampu membuatnya luluh lantak berkali-kali ..."
__ADS_1
"Aaaaa ... Tuaaaannn ...!!" Lana berteriak keras, menanggapi ucapan nyeleneh Arshlan yang memang sengaja ingin menggoda Lana, agar isak tangisnya bisa segera usai.
Dan sepertinya rencana Arshlan cukup berhasil, karena kini wajah cemberut Lana telah menatapnya dengan tatapan kesal ... namun malu-malu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nyonya, sebaiknya anda sarapan lebih dulu, anda tidak perlu menunggu Tuan Arshlan dan Nyonya Lana."
Suara Asisten Jo mampu membuat Marina yang sedari tadi terus saja tertegun lama sambil mengawasi anak tangga yang menuju lantai dua terhenyak.
Marina telah duduk menunggu dimeja makan tersebut nyaris sejam lamanya namun belum ada tanda-tanda sepasang suami istri beda generasi itu turun dari sana.
"Tidak apa-apa, aku akan tetap menunggu mereka agar bisa sarapan bersama ..." ujar Marina sambil tersenyum.
"Tidak, Nyonya, hari ini anda tidak bisa sarapan bersama Tuan Arshlan dan Nyonya Lana."
"Memangnya kenapa?" Alis Marina terlihat bertaut.
"Karena pagi ini Tuan Arshlan ingin sarapan dikamarnya." ujar Asisten Jo lagi, bertepatan dengan kalimatnya yang usai, terlihat dua orang maid sedang mendorong roll table kearah lift, membuat Marina semakin terkesima karena baru menyadari jika rumah megah tersebut juga dilengkapi dengan fasilitas lift ibarat sebuah hotel atau mall.
'Huhh ... Awas saja kalau kau tidak bisa memberikan seratus juta rupiah kepadaku, aku dan Robi akan membuat perhitungan denganmu ...! Dasar anak tidak tahu diuntung ...!'
Marina memaki dengan kalimat yang sama berkali-kali didalam hati, saat menyadari Lana telah memonopoli waktu Tuan Arshlan pagi ini, yang sedianya sangat tepat baginya untuk mencari perhatian sekaligus empati pria tampan yang mapan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arshlan baru saja selesai memakai jam tangan rolex miliknya. Begitu ia melirik Lana ia pun tersenyum kecil saat melihat Lana tengah sibuk memakai kembali dress-nya yang sempat teronggok dilantai.
"Mau aku bantu tidak ...?" tawar Arshlan kali ini telah menatap penuh kearah Lana.
"Tidak ... Tidak usah ... Bisa-bisa hari akan semakin siang, sementara Tuan harus kekantor karena ada meeting pagi ini kan ...?" pungkas Lana cepat.
Lana telah menolak bantuan Arshlan dengan tegas. Bukan apa-apa, Lana hanya khawatir jika alih-alih membantu memakaikan pakaiannya, pria itu akan kembali menyeret tubuhnya yang sudah sangat letih ini keatas ranjang dan kembali meminta jatah.
'Tidak ... Tidak ...'
Kepala Lana ikut menggeleng tegas berkali-kali membuat Arshlan tertawa mendapati segaris kepanikan itu diwajah Lana.
__ADS_1
Setelah sekian kali melakukannya rupanya masih saja menyisakan sedikit trauma, padahal sejauh ini Arshlan sudah berusaha bercinta dengan sangat menahan diri, untuk mengimbangi Lana.
Arshlan mendekat dan memeluk Lana dengan lembut.
"Terima kasih ..."
Lana membalas pelukan yang terasa sangat menenangkan itu.
"Tuan, bukankah seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih ...?"
Arshlan terdiam, hanya mengusap punggung yang ada didalam dekapannya.
Sesaat setelah percintaan mereka usai, Arshlan memang telah menyetujuinya.
Yah, Arshlan setuju, tidak hanya meminjamkan seratus juta rupiah melainkan memberikannya cuma-cuma meskipun harus menunggu dua minggu sebagai syarat.
Lana cukup puas dan sangat senang, meskipun persyaratan Arshlan terdengar sedikit aneh.
Tidak mungkin rasanya kalau seorang Tuan Arshlan tidak bisa memberikan nominal uang tersebut saat ini juga, tapi kenapa harus menunggu dua minggu ...?
Memangnya ada apa ...?
Akh, sudahlah ...
Lana tidak mau memikirkan syarat aneh itu lagi.
Saat ini Lana hanya merasa sedang tidak sabar, karena ingin membagi kabar gembira itu kepada Ibu ... Secepatnya ...!
...
Bersambung..
Ig. @khalidiakayum
Double up loh ini, gak ada rencana ngasih vote, bunga, atau kopi gitu..?? 😅
(ngarep.com 🤪)
__ADS_1