TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 29. Bertengkar


__ADS_3

Triple up.


...


"Mona, sebenarnya ada apa dengan mereka ...?" Devon berbisik ditelinga Mona, dengan suara yang sangat perlahan.


Mona mengangkat kedua bahunya serta-merta. "Mana aku tahu, Devon? Kau kan tau sendiri bahwa sejak tadi aku terus bersamamu." kilah Mona dengan raut wajah yang tak kalah penasaran dengan wajah Devon.


Mona memang berkata benar. Bagaimana mungkin dirinya tahu hal apa yang sebenarnya telah terjadi.


Seingat Mona, usai mereka bertiga menyibukkan Asisten Todd yang sepertinya merupakan asisten pribadi Tuan Luiz, Dasha telah meminta dirinya dan Devon untuk menunggunya didepan pintu masuk.


Belum ada sepuluh menit berlalu, pada akhirnya bukan Dasha yang datang, melainkan Asisten Todd, yang telah muncul dihadapan mereka dengan wajahnya yang kaku, mengatakan bahwa Tuan Luiz telah membatalkan begitu saja acara nonton bioskop, tanpa ada alasan yang jelas.


"Asisten Todd, sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba rencana menontonnya dibatalkan begitu saja?"


Asisten Todd tidak menjawab pertanyaan Devon, yang telah berusaha keras untuk mensejajari langkahnya yang panjang dan terlihat terburu-buru, keluar dari gedung bioskop dan langsung mengarah kearea parkiran.


Wajah pria yang selalu kelihatan serius itu kini bahkan terlihat berkali-kali lipat lebih serius dibandingkan sebelumnya.


Begitu mereka tiba diparkiran, Devon dan Mona sama-sama terhenyak mendapati pemandangan aneh yang sedang terjadi dihadapan mereka, dimana Luiz dan Dasha terlibat sebuah adu mulut.


Tepatnya sih bukan adu mulut, karena sangat terlihat sekali bahwa sebenarnya sahabat mereka yang bernama Dasha dengan sifat dan sikapnya yang agak bar-bar itu, terlihat mengomel panjang-pendek tak berkesudahan, sementara Tuan Luiz lebih kearah membujuk meskipun yang terlihat pria itu pastinya menemukan kesulitan saat melakukannya.


Dasha memiliki pribadi yang cukup unik dan sedikit keras kepala. Untuk bisa membujuk dan berusaha mengambil hatinya, Tuan Luiz tentu saja memerlukan usaha yang extra keras.


"Kalian tunggulah disini terlebih dahulu, hingga semuanya terlihat sedikit reda. Aku harus kesana untuk memastikan, bahwa tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan diantara mereka berdua." pungkas Asisten Todd guna menjeda langkah Devon dan Mona.


Asisten Todd memang harus melakukannya agar Devon dan Mona tidak berada terlalu dekat dan mengambil jarak, sehingga perdebatan sang majikan dengan gadis bernama Dasha itu tidak bisa sampai ketelinga Devon dan Mona, apalagi terdengar oleh keduanya.


Asisten Todd telah melangkah mendekat dan baru berhenti serta berdiri tegak, manakala dirinya sudah berada tak jauh dibelakang sang majikan.


Pria itu mematung disana dengan wajah tertunduk, menjadi saksi hal yang sama yang masih saja menjadi topik perdebatan sejak awal.


Sesungguhnya Asisten Todd nyaris tidak percaya jika disepanjang umur karirnya ia mendampingi Tuan Luiz, baru kali ini Asisten Todd menemui pemandangan sang bos besar bertengkar dengan seorang gadis layaknya percintaan anak remaja.


"Dasha, aku kan sudah minta maaf berkali-kali. Kenapa kau masih keras kepala seperti ini?" Luiz terlihat berucap nyaris putus asa.


"Enak saja minta maaf. Setelah wanita itu mendorongku dengan kasar, Tuan bahkan dengan entengnya minta maaf atas nama dirinya ...!"


"Lalu kau mau aku bagaimana, Dasha?"


Dasha membuang mukanya kesal.


Yah. Dasha memang kesal, karena peristiwa pada beberapa saat yang lalu, yang diawali dengan pemandangan Tuan Luiz yang sedang dipeluk seorang wanita di sofa yang ada dilobby bioskop.


Dasha telah membubarkan kemesraan yang menyakitkan matanya itu.


Dasha bukannya tidak menyadari kesalahannya, yang karena rasa kesalnya telah mengumpat dan menyebut Melanie dengan sebutan 'Nenek Tua'.


Melanie, si Nenek Tua yang tidak terima diejek oleh seorang bocah itu pun telah berdiri dari duduknya dan mendorong tubuh Dasha dengan kasar hingga nyaris terjerembab.


Dasha yang begitu marah tentu saja hendak membalas dengan balik mendorong tubuh Melanie dengan keras, namun apa boleh buat, Luiz malah telah memeluk tubuhnya terlebih dahulu, mencegah Dasha yang hendak menggila.

__ADS_1


Menyaksikan Dasha yang terus memberontak karena tetap berniat membalas perlakuan Melanie, Luiz malah dengan nekad menggotong tubuh Dasha seperti menggotong sebatang kayu diatas pundaknya.


Luiz mengabaikan dan meninggalkan Melanie begitu saja, yang masih setia berdiri bengong dengan sejuta spekulasi dan keheranan dibenak wanita itu.


Luiz memilih terus membawa tubuh Dasha keluar dari gedung bioskop yang lumayan ramai dengan langkah acuh, berusaha menebalkan wajahnya menahan rasa malu, karena diatas pundaknya ... Dasha tak berhenti memberontak penuh amarah.


"Tuan Luiz, aku benci padamu. Kau ... kau pasti sengaja melindungi wanita itu, agar aku tidak bisa memukul wajahnya!" tuduh Dasha lagi dengan wajah yang nyaris menangis, saking besarnya rasa kesal yang menggerogoti hatinya saat ini oleh karena sikap Luiz yang dianggapnya tidak berpihak padanya.


Luiz membuang nafasnya perlahan. Seumur hidup ia tidak pernah membuang tenaga hanya untuk bertengkar dengan seorang wanita.


Tidak pernah, dan Luiz baru mengetahui, bahwa ternyata bertengkar dengan seorang wanita rasanya sungguh melelahkan, bahkan jauh lebih melelahkan daripada bercinta hingga beberapa ronde sekaligus!


"Hhhffh ... memangnya untuk apa aku melindungi Melanie?"


"Lalu kenapa Tuan Luiz tidak membiarkan aku membalasnya ...?!" berteriak lagi dihadapan Luiz, dengan nada yang semakin kesal.


Luiz terdiam sejenak, bingung memilih kalimat apa yang tepat untuk membujuk gadis dihadapannya, yang terus saja mengulang persoalan yang sama.


Selama ini Luiz tidak pernah membujuk wanita. Untuk apa ...?


Tapi dengan Dasha, semua keangkuhan hatinya itu seolah tidak ada satu pun yang berguna!


"Dasha, aku melakukannya bukan untuk Melanie ..."


"Omong kosong!"


"Melainkan demi dirimu ..."


"Aku tidak ingin kau mengotori tanganmu dengan melakukan hal yang buruk kepada orang lain ..."


"Helloooww ... aku hanya ingin membalas. Tapi dia yang memulai lebih dahulu ...!"


"Itu karena kau juga yang lebih dulu mengejeknya dengan sebutan 'Nenek Tua' ..."


"Baiklah, jadi pada akhirnya aku juga yang bersalah." Dasha melipat tangannya kedada, kembali manyun.


Luiz menggaruk tengkuknya sejenak, sebelum kemudian melirik jarum jam tangannya sekilas sambil berucap lirih.


"Belum terlambat kalau kita masih ingin menyaksikan Love Desire ..." ujarnya lagi, berusaha kembali membujuk.


"Maaf, Tuan, tapi malam ini aku tidak lagi berminat menonton apapun!"


Luiz kembali menghembuskan nafasnya perlahan.


Sungguh, ini adalah kesabaran terbesar seumur hidupnya.


Tentu saja.


Selama ini ego dan sifat Luiz yang dingin tidak bisa dikalahkan oleh siapapun, Leo bahkan selalu lari jika harus berurusan pelik dengan dirinya.


Namun dihadapan Dasha, lagi-lagi ... semua itu tidak berguna!


Hati Luiz begitu cepat luruh, meskipun dalam bersikap ia tetap mengontrolnya agar tidak lost control.

__ADS_1


Untuk sejenak Luiz memilih mendiamkan Dasha yang masih berdiri tegak dihadapannya, sambil membuang muka dengan tangan yang masih terlipat didada.


Sesungguhnya, Luiz benar-benar telah tunduk dihadapan Dasha, meskipun gadis itu tidak menyadarinya sama sekali.


🌸🌸🌸🌸🌸


Tatapan Devon dan Mona masih tertuju kearah yang sama, yakni pada dua sosok yang tadinya sedang beradu mulut diparkiran bioskop yang lumayan lenggang, namun kini terlihat membisu berjenak-jenak, berhadap-hadapan tanpa ada kata.


Asisten Todd juga masih berada disana, dengan jarak yang tak lebih dari lima meter dari keduanya, berdiri tegak dengan kepala yang sedikit tertunduk, menandakan bahwa pria yang kelihatannya seumuran Tuan Luiz itu pun terlihat tidak nyaman berada dalam kondisi yang serba salah, namun tetap pasrah saat harus terus berada disana, dan menyaksikan sang bos besar yang bersitegang dengan seorang bocah, dari awal hingga akhir.


"Mona, ayo kita segera kesana." ucap Leo menyikut kecil lengan Mona, begitu menyadari Luiz sedang melambaikan tangan kearah keduanya, mengisyaratkan agar mereka mendekat.


Bergegas Devon dan Mona mendekati Luiz, sementara Dasha masih membisu dengan wajah yang terus berpaling kearah lain.


"Asisten Todd, pergilah pulang dan beristirahat. Maafkan aku karena telah mengganggu weekendmu."


"Tidak apa-apa, Tuan Luiz. Baiklah, aku mohon pamit sekarang."


Asisten Todd nyaris mengundurkan diri dari sana, namun urung sejenak manakala teringat sesuatu.


"Oh, iya Tuan, aku sudah mengemas semua orderan makanan dan minuman tadi, di bagasi belakang. Siapa tau kalian semua ingin memakannya diapartemen nanti."


"Baiklah, Asisten Todd terima kasih." ujar Luiz lagi.


"Aku permisi Tuan Luiz, Nona Dasha, Nona Mona dan Tuan Devon." pamit Asisten Todd sambil menyebut semua nama yang berada disana tanpa ada yang terlewat, sebelum akhirnya ia benar-benar berlalu dari hadapan Luiz dengan kepala tertunduk takjim.


Sepeninggal Assisten Todd suasananya kembali berubah hening dan canggung.


"Devon, kau bisa menyetir, kan?" tanya Luiz memecah keheningan yang ada, langsung ditanggapi Devon dengan sebuah anggukan.


"Aku bahkan sudah memiliki surat ijin mengemudi resmi. Memangnya ada apa Tuan?"


"Kemudikan mobilku," ujar Luiz tanpa membuang waktu, langsung saja melemparkan kunci kontak mobilnya kearah Devon yang menangkapnya dengan sigap.


"Mona, mmm ... sebaiknya kau duduk didepan saja bersamaku ..." usul Devon yang telah memahami maksud Luiz yang sebenarnya.


Tapi tak disangka Mona yang tidak paham malah terlihat menggeleng tegas. "Aku akan duduk dibelakang saja bersama Da ..."


"Jangan keras kepala. Ayo duduk saja didepan bersamaku ...!" pungkas Devon sambil menggeret lengan Mona, memaksa tubuh gadis itu untuk masuk kepintu jejeran depan yang telah dibuka Devon terlebih dahulu, namun lagi-lagi Mona memberontak tak paham.


Sejak tadi, Mona terlalu fokus dengan wajah kesal Dasha yang terus membisu, sehingga otak polosnya tidak memahami situasi yang sedang terjadi.


"Lepaskan Mona, dan biarkan saja kalau Mona ingin duduk dibelakang bersamaku ..."


"Tidak."


Suara Luiz yang dingin tiba-tiba menyeruak, menghentikan kalimat Dasha sekaligus adegan sikut menyikut antara Devon dan Mona didepan pintu mobilnya.


"Mona, duduklah didepan bersama Devon, karena aku yang nantinya akan duduk dibelakang ... bersama Dasha ...!"


...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2