
Arshlan baru saja menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya saat Her muncul dari balik pintu.
"Tuan memanggilku ?" tanya Her sambil mendekati meja Arshlan.
"Bawakan aku kopi.."
"Baik, Tuan.." Her sudah berbalik sebelum benar-benar sampai dimeja Arshlan.
Setelah Her hilang dari pandangannya Arshlan pun mencoba mengistirahatkan pikiran dengan cara memejamkan matanya.
Seharusnya dalam keadaan seperti ini, Arshlan tidak boleh memikirkan apa-apa, tapi yang ada, potongan-potongan adegan kemesraan dirinya dan Lana semalam terus-menerus menguasai benaknya.
Begitu indah, menggai rahkan, sekaligus menyenangkan, padahal kemesraan yang mereka lakukan belum juga sampai di titik percintaan yang sesungguhnya, mengingat jika Lana sedang kedatangan tamu bulanan, yang membuat Arshlan belum bisa melakukan apa-apa hingga seminggu kedepan.
Namun meskipun demikian, mau tak mau Arshlan harus mengakuinya.
Bahwa semua yang ada didiri bocah itu sungguh membuat Arshlan tergila-gila, karena bagi Arshlan, sosok Lana ibarat candu, yang membuat Arshlan tidak pernah puas untuk mengecapnya terus menerus.
Rasanya sungguh berbeda. Mungkin karena selama ini gambaran seorang remaja belia yang naif, bodoh, dan minim pengalaman membuat Arshlan tidak pernah sekalipun menaruh minat.
Tapi Lana berhasil membuat Arshlan mengubah penilaiannya. Ketidaktahuan Lana yang berbanding lurus dengan besarnya rasa sok tahunya menjadi sebuah perpaduan unik yang sanggup membuat Arshlan mabuk kepayang.
Sesaat setelah kembali membuat Lana menuntaskan hasratnya lewat plan b, sebuah pembicaraan antara dirinya dan Lana semalam pun seolah terputar ulang.
"Tuan, aku minta maaf.. tapi sungguh, yang tadi itu aku tidak berniat berbohong.." suara Lana terdengar lirih diatas dadanya.
Mendengar Lana yang kembali mengungkitnya membuat Arshlan yang sedang terlentang dengan kedua lengan yang terangkat guna menopang kepalanya diatas bantal sontak tersenyum masam. "Berniat atau tidak, tapi kau sudah melakukannya. Kau berbohong." pungkas Arshlan seolah tidak bisa ditawar.
"Tapi aku merasa tidak berbohong.."
"Lalu yang kau lakukan barusan itu apa? berpura-pura terlelap hanya agar bisa dibopong olehku dari lantai empat kekamarku ini. Apa itu bukan berbohong namanya..?"
"Tuan, aku hanya sedikit berbuat usil.. tapi tidak bertujuan berbohong untuk menipu. Lagipula aku melakukannya hanya demi mencari perhatian Tuan. Itu saja.."
Wajah Lana terlihat polos saat berusaha menatap Arshlan dengan cara menopang kepalanya dengan sebelah tangannya, sementara sebelah tangannya lagi terbenam diantara bulu-bulu halus yang ada didada Arshlan. Terus mengusap dan membelai disana seolah tidak sudi berpindah seinchi pun.
'Tidak bertujuan membohongiku, tapi rela melakukan apa saja demi mendapatkan pria tajir, tak peduli meskipun pria itu bahkan seumuran ayahnya..!'
Dalam hati Arshlan membathin kesal.
Sesungguhnya kenyataan tentang maksud Lana yang sesungguhnya sangat membuat Arshlan kecewa.
__ADS_1
Yah, Arshlan kecewa hanya karena ia tau persis, bahwa Lana memilihnya menjadi target utama karena Lana begitu menyukai uangnya.. mengincar kekuasaannya.. sama sekali bukan karena bocah itu benar-benar tergila-gila pada dirinya!
'Cih.. aku ini benar-benar tidak tau malu. Bagaimana mungkin aku mengharapkan seorang gadis belia mau menyukaiku dengan tulus..?'
Suara pintu terbuka mengusik lamunan Arshlan yang sedang berkejar-kejaran dibenaknya.
Her muncul disana dengan seorang OB yang membawa nampan, yang diatasnya terdapat secangkir kopi pekat seperti biasanya.
"Tuan, apakah aku harus menambahkan undangan party dari Tuan Marco kedalam jadwal anda?" Her bertanya untuk memastikan, begitu OB tersebut keluar dari ruangan Arshlan.
"Kapan waktunya..?"
"Weekend ini, Tuan.."
Arshlan berpikir sejenak. Sesungguhnya ia sangat tidak tertarik melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan Marco. Tapi jika kali ini dirinya menolak hadir dengan membawa Lana, sudah bisa dipastikan Marco akan menggunakan moment tersebut untuk mengusiknya serta melontarkan hinaan kepada Lana.
"Masukkan saja ke agendaku, Her." putus Arshlan pada akhirnya.
"Apakah Tuan yakin akan menghadiri pesta itu bersama Nyonya Lana, Tuan?"
Arshlan terlihat menarik nafas berat. "Aku tidak bisa membuat Marco menang, hanya karena menganggap aku takut menerima tantangannya."
"Kalau begitu baiklah, Tuan." Her mengangguk. "Oh iya, Tuan, tadi dokter David telah mengkonfirmasi kalau dia sudah berada dalam perjalanan. Mungkin sebentar lagi akan tiba."
Her pun mengangguk paham. "Baik, Tuan."
XXXXX
David telah duduk dihadapan Arshlan sejak tiga puluh menit yang lalu. "Tuan, lalu apa rencana anda untuk Nona Maura?" tanya David kepada Arshlan begitu ia selesai membeberkan semua rencana dan keinginan Nona Maura dihadapan Arshlan tanpa ada yang tersisa.
Arshlan terlihat mengangkat bahunya. "Sedang aku pikirkan.."
Melihat tanggapan Arshlan yang mulai terlihat kurang berminat itu membuat David menautkan alisnya.
David adalah seorang dokter ahli tulang yang sejak lima tahun lalu telah dipercayakan Tuan Arshlan untuk menangani kasus kelumpuhan kedua kaki Maura.
Selama lima tahun juga David telah berperan ganda. Selain menjadi dokter khusus untuk therapi dan pengobatan yang dijalani Nona Maura, David pun sengaja ditugaskan Tuan Arshlan untuk menjadi kaki-tangan yang selama ini tanpa Nona Maura sadari telah mendorong wanita licik itu masuk kejurang jebakan Tuan Arshlan sedikit demi sedikit.
Jadi wajar saja jika David merasa sedikit heran saat melihat Tuan Arshlan terlihat tidak terlalu bersemangat untuk menambah penderitaan Nona Maura seperti biasanya.
"Tuan, apakah masih ada kesempatan bagi Nona Maura untuk bisa mendapatkan maaf..? karena sebenarnya.. dibalik sikapnya yang ambisius, aku melihat sebuah perasaan yang begitu besar untuk Tuan dimata Nona Maura.."
__ADS_1
Arshlan sontak tertawa mendengarnya. "Maaf..?" ujarnya sambil menatap dokter David dalam-dalam. "Lima tahun yang lalu, aku telah memberikan dia maaf. Tapi sayangnya, Maura tidak hanya butuh dimaafkan, melainkan ingin mendapatkan kembali apa yang pernah ia sia-siakan. Aku akui, lima tahun yang lalu.. kesuksesanku mudah disetarakan dengan pengusaha-pengusaha lainnya, begitupun dengan Marco. Tapi sekarang.. aku mulai tidak terkejar, dan semua itu sanggup membuat Maura semakin silau.."
Kemudian pria arogan yang licik itu terlihat melirik David sekilas.
"Lagipula kau ini sedang apa? apa kau ingin menyodorkan wanita yang telah lima tahun menjadi budak naf sumu untukku..?"
David terlihat gelagapan mendengar sindiran Tuan Arshlan untuknya.
"Maaf Tuan, aku sungguh tidak bermaksud menyodorkan Nona Maura untuk Tuan. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Nona Maura sangat terobsesi untuk bisa kembali memiliki Tuan.." ungkap David secepat kilat, tidak ingin Tuan Arshlan salah paham dengan ucapannya.
Arshlan menggeleng. "Maura tidak pernah berubah. Dari dulu selalu mengutamakan ambisi semata.."
Mendengar itu dalam hati David juga mengakui bahwa Tuan Arshlan benar, karena pada kenyataannya Nona Maura memang terlalu serakah..!
"David, sejujurnya aku mulai kehilangan seleraku untuk terus mempermainkan wanita ular itu.." ujar Arshlan lagi sekenanya. "Tapi melihat ia begitu bersemangat untuk menunjukkan pesonanya kembali membuatku kembali penasaran.."
"Nona Maura ingin aku bisa meyakinkan Tuan agar mau menemuinya lagi dalam waktu dekat."
Mendengar perkataan dokter David tersebut Arshlan terlihat melirik jam tangannya. Sebuah ide konyol serentak melintas dibenak Arshlan begitu saja.
"Bagaimana kalau sekarang..?"
Gantian David yang terhenyak mendengar keputusan Arshlan. "Sekarang..?"
"Katakan pada Maura, sesuai keinginannya sore ini aku akan mengunjungi Black Swan.." senyum Arshlan kini terkembang aneh. "Aku rindu mendengar semua ocehan cerita karangan Maura.. dan aku juga penasaran ingin melihat 'sesuatu' yang benar-benar ingin aku lihat.." Arshlan telah menyimpan tawanya begitu wajah bar-bar milik Lana melintas tiba-tiba.
'Dan kau bocah nakal yang sangat suka mengerjaiku.. untukmu aku juga punya kado spesial..!'
Arshlan bergumam dalam hati, memilih tersenyum misterius sehingga membuat David menatap Arshlan dengan tatapan bingung.
.
.
.
Bersambung..
Follow my Ig. @khalidiakayum
Fb. Lidia Rahmat
__ADS_1
Hayolah.. gaskeun supportnya, 😀
Thx and Loohyuu all.. 😘