TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
MEMADU ASMARA


__ADS_3

"Aku akan pulang."


"Apa aku harus memberitahukan Nyonya Lana, Tuan..?"


"Tidak perlu."


"Baiklah Tuan."


Itu adalah pembicaraan Arshlan dan Asisten Jo kira-kira sejam yang lalu saat Arshlan baru saja keluar dari club malam tempat ia bertemu dengan Mister John, sang investor dari luar negeri.


Tepat jam satu dinihari Arshlan tiba dirumah megahnya disambut Asisten Jo diambang pintu.


"Nyonya Lana tertidur dikamar lantai empat, Tuan." ucap Asisten Jo tanpa diminta.


"Hhhmm.." Arshlan hanya berdehem acuh namun sedikitpun tak menyurutkan langkahnya untuk masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Asisten Jo yang berdiri bingung diambang pintu yang telah terkatup, masih tak bisa mempercayai kalau kali ini Arshlan sanggup mengabaikan Lana.


Keheningan telah menyapa Arshlan begitu ia tiba didalam kamarnya yang luas. Sepasang mata Arshlan langsung tertumbuk begitu saja keatas ranjang besar yang kosong melompong.


Lana tidak berada disana.


Gadis itu benar-benar telah memutuskan tidur dikamar lantai empat yang merupakan kamar yang ia tempati diawal ia tiba dirumah besar milik Arshlan.


Kamar itu pula yang diam-diam telah digunakan Arshlan untuk mengerjai Lana dengan mengurung gadis itu sehari semalam tanpa makan, sehingga Lana hanya mengganjal perutnya yang lapar dengan air keran.


Mengingat semua perbuatan buruk yang pernah ia lakukan tanpa sadar tubuh Arshlan telah bergerak begitu saja, kembali memutar kenop pintu dan bergegas keluar dari kamarnya.


Begitu arshlan keluar, ia langsung disuguhi pemandangan wajah Asisten Jo yang yang sedikit terhenyak mendapati kemunculan wajah sang majikan lagi.


"Tuan.."


"Aku akan pergi keatas. Beristirahatlah Asisten Jo, tidak perlu mengantarku." titah Arshlan sambil beranjak menuju lift, dan menghilang disana.


XXXXX


Tidur Lana sungguh tak nyenyak. Mungkin baru sekitar setengah jam yang lalu kepalanya terkulai sempurna diatas bantal manakala Lana kembali tersadar jika ada sebuah lengan kekar yang melingkari tubuh mungilnya dengan utuh.


Jemari Lana meraba dan menyusuri perlahan seolah ingin memastikan dengan tidak sabar.


"Tuaaann..?" tanpa membuang waktu ia telah berbalik secepat kilat, dan sepasang matanya berbinar mendapati seraut wajah Arshlan berada disana.. begitu dekat.. juga sedang menatapnya..!


"Kenapa kau malah bangun..?" tanya Arshlan dengan wajah datarnya yang khas.


"Kenapa Tuan tidur disini..?" tanya Lana yang tak mengindahkan pertanyaan Arshlan untuknya.


"Kau sendiri, kenapa kau juga tidur disini..?" kali ini gantian Arshlan yang bertanya balik, tanpa mengindahkan pertanyaan Lana juga.


Lana terdiam sejenak, namun jemarinya telah terangkat mengusap lembut sebelah pipi Arshlan.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan Tuan, dan kamar Tuan membuatku semakin merasa rindu. Saking rindunya aku sampai menangis.." ucap Lana sendu, berusaha merapatkan tubuhnya agar semakin masuk dalam dekapan tubuh Arshlan yang begitu nyaman.


"Memangnya kalau tidur disini, kerinduanmu padaku akan hilang?"


"Tidak Tuan.. tidak hilang.. tidak juga berkurang.. aku terus merindukan Tuan.." ucapan manja Lana terlontar jujur seiring dengan bibirnya yang menyusuri setiap inchi permukaan kulit dada Arshlan yang bisa terjangkau oleh sapuan bibirnya.


"Kalau begitu kau tidur disini pun adalah tindakan konyol yang sia-sia.." desis Arshlan. Hatinya kesal mendapati tingkah Lana yang absurd, namun ia menikmati apa yang sedang gadis itu perbuat saat ini, yakni menciumi permukaan kulitnya, hingga mau tak mau membuat sekujur tubuhnya mulai meremang tak terkendali.


"Maaf Tuan, apa aku telah membuat Tuan marah..?" mendengar itu Lana telah menghentikan aktifitas intimnya dengan mengangkat wajahnya. Gadis itu telah menatap wajah Arshlan penuh permohonan.


"Jangan berhenti." pungkas Arshlan yang seolah keluar dari pembahasan awal.


"Apa..?"


"Sentuh aku terus seperti tadi." desis Arshlan yang merasa kehilangan saat Lana berhenti menggerayangi sebagian kecil tubuhnya.


Alis Lana yang bertaut telah mengendur, wajahnya kini berganti senyum begitu tersadar apa yang sedang Arshlan butuhkan sekarang, meskipun pria itu tidak memintanya secara terang-terangan.


Lana tau, Arshlan kini sedang mendambakan dirinya dan semua kerinduan pria itu cukup membuat hati Lana bahagia karena merasa masih diinginkan.


Lana bangkit dari dalam pelukan. Sepasang bola matanya telah menatap lembut dengan jemari yang membelai dada bidang Arshlan.


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita pindah kekamar Tuan saja..?" tawarnya perlahan seolah memberi alternatif.


Kepala Arshlan menoleh kearah jendela yang terpentang, dimana kedua tirainya terus bergoyang dihembus sang angin malam.


"Tuan.."


Arshlan menggelengkan kepalanya yang kembali menatap lurus kearah Lana. "Tidak.." tolaknya masih dengan wajah yang minim ekspresi.


"Tapi ranjangnya tidak sebesar.."


"Aku ingin melakukannya disini.." ujar pria itu, kemudian tangannya yang nakal telah bergerak cepat demi menyingkap gaun tidur tipis yang Lana kenakan, membuat pemandangan dua bukit kembar tanpa b r a milik Lana terlihat bergelantungan dengan indah.


"Sempurna.." puji Arshlan sambil mengangkat sedikit tubuhnya agar mulutnya bisa meraih sebuah pucuk keras berwarna coral muda, sementara sebelah tangannya yang lain memilin pucuk yang satunya.


"T-Tuan.. jendelanya.." Lana berucap sedikit panik dengan nafas yang tersenggal keras, diantara gelombang asmara yang mulai mendobrak jiwa.


"Ini lantai empat, tak mungkin ada orang yang melihatnya.." ujar Arshlan kali ini sambil melu mat bibir ranum milik Lana, yang hanya bisa pasrah saat Arshlan mulai melucuti satu persatu apapun yang melekat ditubuhnya.


"Hari ini aku sangat lelah tapi aku sangat ingin bercinta.." bisik Arshlan kembali memberikan tanda kepemilikan diatas tulang selangka milik Lana untuk yang kesekian kalinya.


Mendengar lenguhan itu Lana telah mengambi inisiatif untuk mendorong lembut tubuh kekar Arshlan hingga kembali terlentang diatas ranjang.


"Kalau begitu, biarkan aku yang akan memuaskan Tuan.." ucapnya penuh percaya diri, tanpa sungkan ia naik keatas tubuh kekar Arshlan yang dipenuhi tonjolan otot keras.


Kedua pahanya telah terbuka diantara sebuah jamur raksasa yang telah tegak sempurna.

__ADS_1


"Lakukanlah Sayang, tunjukkan padaku bahwa kau adalah gadisku yang menggai rahkan.." bisik Arshlan dengan suara serak menahan naf su yang menggelora.


"Sssshh.." Lana mendesis tertahan saat mencoba menurunkan pinggulnya, berusaha membuka lebar gerbang surgawi miliknya agar bisa melahap jamur raksasa milik Arshlan yang begitu keras ibarat kayu jati yang bertekstur solid.


Berbeda dengan Arshlan yang malah memilih mengangkat kedua lengannya untuk menumpu kepalanya dengan santai, sambil menatap puas pertunjukkan memabukkan, yang tersaji didepan hidungnya.


Adegan tubuh telan jang Lana yang sedang berusaha keras memuluskan perjalanan jamur raksasa miliknya agar bisa menembus kedalam gua keramat yang hangat dan licin, sungguh merupakan adegan yang indah.


Luar biasa, Arshlan bahkan telah dibuat mabuk kepayang hanya dengan menyaksikan wajah meringis nan bergai rah milik Lana.


Begitu kepala jamurnya terbenam sempurna, Lana langsung memompa kepala jamurnya dengan ritme cepat.


"Ahh.. ahh.. sshh.." belum apa-apa bibir mungil itu telah mende sah hebat bak orang kepedesan, seiring dengan tenggelamnya batang jamur raksasa kelembah yang basah nan hangat.


Dua bukit kembar yang kelihatan semakin mon tok dari hari kehari nampak berguncang kesana kemari dengan keras, seiring dengan hentakan tubuh Lana yang seolah sedang menunggangi kuda jantan yang perkasa.


"Tuaaann.. mmhh.. akhh.."


Arshlan tersenyum menang mendapati wajah kemerahan Lana yang tengah berada dipuncak tertinggi, membuat Arshlan akhirnya meraih pinggul gadis itu yang seolah ingin terlempar oleh arus penglepasan yang dashyat.


"Menyerah..?" Arshlan terkekeh begitu tubuh Lana terkulai lemas diatas dadanya.


"Tuan, belum ya..?"


"Kau meremehkanku..?'' pungkas Arshlan dengan senyum jumawa.


"Maaf Tuan.." Lana bergelung manja didada Arshlan, membuat Arshlan mau tak mau kembali terkekeh.


"Bersiaplah, karena aku akan menghancurkanmu.." bisik Arshlan.


"Eghh.. Tuan.."


Arshlan tak mengindahkan keterkejutan Lana begitu ia bangkit, sambil menekan punggung gadis itu keatas ranjang, mencegahnya agar tidak bisa berbalik badan.


"Tuaaann.. akhh.."


Lenguhan panjang Lana terdengar memenuhi sudut kamar yang terbuka, saat jamur raksasa milik Arshlan kembali melesak masuk kegerbang yang sama.


"Oh.. Lana.." wajah Arshlan bersimbah peluh, tubuhnya juga, namun pria itu terus memacu dari belakang punggung Lana yang juga tak henti-hentinya melenguh penuh kenikmatan.


Angin malam masih terus berhembus pelan dan mendayu, namun dinginnya sama sekali tak terasakan, oleh dua insan yang sedang memadu asmara tanpa letih..


...


Bersambung..


Follow yah, Ig. @khalidiakayum

__ADS_1


Jangan karena udara malam lagi dingin, kalian melupakan untuk support authornya.. Double up loh hari ini.. 😍


__ADS_2