
Double up.
...
Luiz yang menyusul Florensia terlihat berdiri sambil menautkan alis dengan wajahnya yang bingung.
"Dua tiket free ...? Flo, untuk apa kau menanyakan dua tiket free sekaligus ...?"
Leo yang ingin menanyakan pertanyaan yang sama, malah telah keduluan oleh Luiz.
"Tentu saja untuk kau dan aku. Memangnya untuk siapa lagi ...?"
"Ada. Jika itu untuk dirimu dan Luiz, tentu saja ada ...!"
Leo telah menjawabnya dengan cepat, sebelum saudara kembarnya Luiz melakukan penolakan.
Luiz melotot kearah Leo yang justru melebarkan senyumnya.
"Sempurna, kalau kalian bisa pergi berlima, maka aku akan semakin tenang melepas Victoria, jika bersama kalian semua ..." pungkas Leo cepat.
Tentu saja Leo setuju jika Luiz bisa berada disana, karena sejujurnya Leo belum bisa mempercayai El sepenuhnya. Hatinya masih saja cemburu jika mengingat El yang sempat mengejar atensi Victoria secara terang-terangan.
Luiz memijat pangkal hidungnya, sadar bahwa dia tak lagi memiliki kesempatan untuk menolaknya.
"Luiz, kau bersedia kan?" tanya Leo memastikan dengan ekspresi wajah penuh harap.
"Baiklah ..." ujar Luiz pasrah.
"Jadi kita akan pergi berlima? Wah, membayangkannya saja sudah terasa sangat seru ..." El terkekeh kecil sambil menyandarkan tubuhnya dengan santai kesandaran kursi.
Wajah Victoria terus berbinar membayangkan rencana nonton bareng besok malam, sedangkan Dasha menyembunyikan senyum kecutnya, saat menyadari Luiz dan Florensia yang juga akan ikut serta.
'Besok malam, pasti mereka berdua akan sengaja pamer kemesraan, membuat semua mata yang melihatnya akan merasa sakit ...!'
Dasha mengumpat dongkol dalam hati.
Florensia menghempaskan tubuhnya keatas kursi kosong yang ada disebelah Dasha, dari wajahnya yang memerah, wanita itu terlihat sedikit mabuk.
Luiz yang awalnya masih setia mematung, akhirnya melakukan hal yang sama, menarik sebuah kursi dan mendudukinya.
"Oh ya, El, aku dengar dari desas-desus para pengawal sore tadi, katanya kau sangat mahir menunggang kuda ..." Leo telah berucap kearah El, sambil mengalihkan pembicaraan yang sejak tadi ingin ia tanyakan.
"Tidak bisa dikatakan sangat mahir, tapi yang jelas, aku memang suka berkuda." ungkap El dengan penuh kerendahan hati.
"Bagaimana kalau besok pagi kita beradu kemahiran dalam berkuda?" usul Leo bersemangat, yang langsung dibalas anggukan kepala dari El.
"Boleh juga."
"Biasanya aku sering berkuda dengan Luiz, namun kebetulan sekali jika besok pagi bisa menemukan lawan baru yang katanya seimbang ..."
"So ... apakah besok hanya akan ada kita berdua atau ...?"
Mengambang.
Sudut mata El melirik Luiz, sengaja menantang pria itu untuk ikut serta dalam kompetisi iseng-iseng tersebut.
"Bagaimana kalau kita bertiga menjajal kemampuan masing-masing?" Leo menyambut umpan yang ditebar El, sambil menatap Luiz.
"Usul yang bagus. Luiz kau setuju, tidak?" tantang El, juga sambil menatap Luiz.
Luiz yang merasa telah di tantang oleh dua pria sekaligus akhirnya mengangguk tanpa berpikir dua kali.
__ADS_1
"Deal. Aku memang tidak terlalu sering berkuda, tapi kau bahkan tidak selalu menang dari diriku dengan mudah ..." ungkap Luiz sambil tersenyum remeh kearah Leo.
"Wah, belum apa-apa kau sudah meremehkan aku ..." celetuk Leo tak terima dengan pernyataan Luiz.
"Kalian tidak perlu berdebat. Cukup pikirkan bagaimana caranya agar aku tidak menjadi pemenang diantara kalian berdua ..."
mendengar ungkapan kepercayaan diri yang tak tanggung-tanggung tersebut, Leo dan Luiz pun terlihat saling tatap.
Detik berikutnya keduanya telah menoleh kearah El seraya berucap secara bersamaan ...
"Jangan mimpi!"
πΈπΈπΈπΈπΈ
Karena malam semakin larut, Leo pun berpamitan agar dia dan Victoria bisa lebih dahulu untuk kembali ke kamar.
Leo tidak ingin Victoria kelelahan, dan tidur terlalu larut, karena semua itu tidak baik untuk kesehatan janin yang berada di dalam perut istrinya itu.
Tapi karena Leo dan Victoria telah berniat mengundurkan diri dari kebersamaan di malan itu, pada akhirnya mereka semua memilih untuk mengakhiri pesta tersebut, apalagi besok pagi ketiga pria tampan itu akan beradu kemahiran dalam menunggang kuda.
"Kenapa kau meminta dua tiket free kepada Leo, tanpa menanyakan pendapatku terlebih dahulu?" tanya Luiz yang saat ini memutuskan untuk mengantarkan Florensia hingga kedepan pintu kamar tamu yang ditempati Florensia.
Bukan karena Luiz begitu perhatian, melainkan karena Luiz tahu bahwa saat ini Florensia terlihat agak mabuk, diakibatkan beberapa gelas wine yang telah wanita itu teguk.
Semuanya terlihat jelas, karena Florensia bahkan berjalan dengan sedikit sempoyongan
"Tentu saja karena aku juga ingin menonton Love Desire 2. Aku juga penggemar Leo, lalu apa salahnya ...?"
"Kalau memang demikian, kenapa kau harus membawa namaku? Apakah kau tahu bahwa aku tidak suka menonton film?" protes Luiz kesal.
"Hanya dua jam kurang lebih. Anggap saja kau sedang memberikan dukunganmu untuk Leo di karya terakhir karirnya ..." imbuh Florensia acuh.
"Aku mencurigai niatmu."
"Tapi disana ada El ..."
"Jangan lupa, pacar kecilmu juga akan berada disana ..."
"Jadi kau memang sengaja ingin berada diantara mereka?"
Luiz melotot, namun Florensia malah menyeringai.
"Jadi kau keberatan? Apakah itu berarti, kau benar-benar ingin memberikan kesempatan kepada mereka berdua, agar menjadi semakin dekat satu sama lain?"
Luiz membisu, menyembunyikan kepalan tangannya yang terkepal kedalam kedua saku celana jeans yang sedang ia kenakan.
"Florensia, bukankah kau sendiri yang bilang, bahwa kau akan mencoba menjalani hubungan denganku?!"
"Kenapa kau bertanya padaku? Luiz, seharusnya kau tanyakan semua itu pada dirimu sendiri. Kau sendiri tidak memperlakukan aku dengan baik, bagaimana aku bisa menjalaninya?!"
"Kau ..."
Mengambang. Rasanya Luiz ingin meninju dinding saking kesalnya.
"Baiklah ... maafkan aku ..."
Florensia membuang wajahnya, mencoba mengalihkan sepasang bola matanya yang hendak berair.
Florensia menyadari, bagaimanapun ia menahannya, pada akhirnya ia memang tidak akan pernah bisa menatap sosok lain selain El, kendatipun sosok lain itu adalah Luiz yang maha sempurna sekalipun.
Sepanjang malam ini hati Florensia sungguh sakit, dan terluka.
__ADS_1
Padahal Florensia telah mendengar sendiri bagaimana El mengatakan bahwa pria itu menyukainya, menginginkannya, menyesal pernah mengecewakannya ... bahkan El telah mengukuhkan diri sebagai pemilik hatinya ...!
Namun semua itu tidak membuat segalanya serta merta berubah. El tetap menjadi sosok yang hatinya begitu tinggi untuk bisa digapai.
Seperti saat ini, jika memang El benar-benar menyukainya, seharusnya kebersamaannya dengan Luiz bisa mengacaukan hidup pria itu.
Tapi ternyata El bukanlah pria yang mudah terluka hatinya.
Bukannya patah hati dan cemburu melihatnya begitu dekat dengan Luiz, El malah sibuk tertawa dengan Dasha, menggoda Victoria, bercanda dengan Leo ... serta berakrab ria dengan para maid dan pengawal yang turut bergabung diakhir pesta.
"Pergilah tidur, dan jangan telat bangun. Besok kita harus sarapan bersama kedua orang tuaku ..."
Usai berucap demikian Luiz pun berbalik, meninggalkan Florensia yang masih setia mematung di bingkai pintu kamarnya ... sambil memandang punggung lebar milik Luiz yang semakin menjauh.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Pergilah tidur, dan jangan lupa, besok kau harus jadi supporter eksklusive-ku ..."
Dasha melirik El yang berjalan disampingnya.
"Tidak mau." tolak Dasha tanpa ragu.
"Kenapa tidak mau?"
"Karena besok aku akan menjadi penonton yang netral." kilah Dasha dengan cueknya.
"Kau tidak kasihan padaku? Kalau kau menolak berada dipihakku, lalu siapa lagi yang akan menjadi penyemangatku ...?" pungkas El kemudian, sedikit memaksa.
Kini langkah mereka telah berhenti tepat didepan pintu kamar Dasha.
"Dasha ...,"
"Sudah aku bilang, bahwa aku netral. Aku tidak ingin memberikan support hanya untuk salah seorang dari kalian ..."
"Kau tega sekali ..."
"Bodo amat."
El mengerling kesal, menghadapi sikap Dasha yang tetap pada pendiriannya.
"Baiklah, kalau begitu terserah padamu." ujar El dengan nada kecewa, sambil membalikkan tubuhnya, berniat hendak meninggalkan Dasha yang gagal dibujuk.
Padahal El sengaja meminta gadis belia itu untuk memihaknya, karena El tahu persis, bahwa kehadiran Dasha telah menyulut api kecemburuan di wajah cantik milik Florensia sepanjang malam.
"Dua batang cokelat silverking ..."
Tawaran tersebut membuat langkah El sontak terhenti.
El berbalik guna mendapati wajah Dasha yang tersenyum penuh makna, usai melontarkan sebuah negosiasi.
"Maksudmu ...?"
"Kalau kau mau aku mendukungmu, tentu saja kau harus memberi imbalan yang sepadan ..."
"Deal ...!"
Mendengar itu El langsung menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dirinya setuju dengan nominal kesepakatan yang ditawarkan Dasha.
Lagipula hanya dua batang cokelat silverking ... El bahkan sanggup membeli pabrik cokelat tersebut, kalau dirinya ingin ...!
...
__ADS_1
Bersambung ...
Ditunggu dukungan LIKE, Comment, Bunga dan Kopi, serta Vote-nya yah ... π₯°