TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 7. Pria menyeramkan


__ADS_3

"Kau lihat pintu yang disana?"


Luiz menunjuk sebuah bangunan kecil yang berdiri disudut area pom bensin. Tulisan "TOILET" bahkan bisa terbaca dengan jelas dari kejauhan.


"Disana letak toiletnya, pergilah kesana dan cepat kembali. Aku akan menunggumu disini." ucap Luiz lagi kearah Dasha.


Dasha mengalihkan wajahnya yang semula tertuju penuh kearah yang dimaksud jari telunjuk Luiz, kini kembali menatap wajah Luiz lagi. Sorot matanya seolah memancarkan bias keraguan yang terpancar dengan jelas.


"Ada apa? Kenapa kau malah diam?" tanya Luiz dengan alis bertaut.


"Tuan ... aku ... aku takut ..." Dasha terlihat meringis. Separuh menandakan ketakutannya, separuh lagi karena menahan rasa buang air kecil yang rasanya seperti sudah diujung tanduk, semakin tak tertahankan.


"Kau ... takut? Memangnya apa yang kau takutkan?"


"Suasananya terlihat sangat sepi, Tuaaann ... aku takuutt ..."


"Lalu kenapa kalau sepi? baru kali ini aku mendengar ada orang yang ingin buang air kecil ditengah keramaian ..."


Wajah Dasha terlihat cemberut menerima celetukan semena-mena Luiz yang terlontar acuh.


Sejujurnya Luiz juga mengetahui ketakutan Dasha. Gadis itu pasti takut karena penampakan fisik dari bangunan toilet tersebut terlihat sepi dan sedikit terkesan horor, apalagi dengan kondisi hari yang mulai beranjak malam, serta keadaan sekitar yang telah memasuki pinggiran kota, dimana kendaraan yang berlalu lalang pun terlihat semakin jarang yang singgah.


Namun meskipun demikian Luiz terlalu yakin bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Hanya pergi ke toilet untuk buang air kecil sebentar, memangnya apa yang harus ditakutkan ...?


"Pergilah, dan aku akan menunggumu disini." nada suara Luiz terdengar membujuk, namun tegas.


"Tapi, Tuan ..."


"Dasha, jangan membuang waktu lagi. Kalau kau sampai ngompol didalam mobilku, aku benar-benar akan melemparmu kepinggir jalan."


"Iya ... iya ... baiklah ..." Dasha merenggut kecil mendengar ancaman Luiz.


Seolah tak memiliki pilihan lagi mau tak mau akhirnya Dasha keluar juga dari dalam mobil Luiz yang telah sejak tadi menepi, dan berjalan gontai kearah bangunan toilet yang berdiri kaku diujung sana.


🌸🌸🌸🌸🌸


Sunyi.


Itu kesan pertama yang dirasakan Dasha begitu dirinya melangkahkan kaki perlahan memasuki bangunan toilet tersebut.


Sejak awal Dasha telah merasa jika degup jantungnya langsung berpacu dua kali lipat lebih cepat, dan ... entahlah, Dasha bahkan tidak mengerti kenapa tiba-tiba seluruh tubuhnya dilanda ketakutan yang tanpa sebab. Rasanya sangat buruk.


Kepala Dasha mendongak guna menengok palang kecil bergambar, yang berada didepan ruangan yang terpisah dikiri dan dikanan. Palang kecil itu seolah sengaja memberi informasi untuk para penggunanya, ditambah lagi dengan symbol tubuh pria dan tubuh wanita yang berwarna hitam, seolah menjelaskan dengan pasti kemana arah kaki Dasha harus melangkah.

__ADS_1


Tentu saja tujuannya kearah toilet khusus wanita.


Tanpa berpikir dua kali, Dasha bergegas memasuki salah satu bilik toilet wanita yang berjajar rapi tersebut. Sampai-sampai gadis cilik itu bahkan tidak menyadari sama sekali, jika gerak-geriknya sejak tadi sedang diintai dengan teliti oleh sepasang mata yang berada dibalik bilik yang lain.


Wajah itu mengawasi punggung mungil Dasha yang menghilang dibalik pintu sambil menyeringai.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Dasha untuk menuntaskan hajat buang air kecilnya. Area perut yang sejak tadi seolah kram, tersiksa akibat penuhnya isi kantung kemih akhirnya terasa lega.


Dasha menuju wastafel terlebih dahulu untuk mencuci tangannya, namun begitu Dasha berbalik ia telah terkejut setengah mati menyadari sesosok pria paruh baya, dengan penampilannya yang terlihat menyeramkan, acak-acakan dan terkesan kumuh, telah berdiri tegak dihadapannya sambil menyeringai aneh, seolah sengaja ingin memamerkan giginya yang kotor dan berwarna kuning.


Wajah serta penampilan pria itu yang menakutkan membuat nyali Dasha ciut dalam sekejap.


Dasha terdiam, namun tubuhnya telah dipenuhi oleh keringat dingin.


Dengan memberanikan diri Dasha yang sedang gugup setengah mati itu berusaha bersikap acuh sembari mencoba melangkahkan kakinya, hendak berlalu secepat kilat.


"Halo adik manis, kenapa terburu-buru?"


Gerak tubuh Dasha terhenti sempurna manakala pergelangan tangannya telah dicekal dengan kuat.


"L-lepas ..."


"Jangan takut manis, he ... he ... he ..."


"S-siapa kamu?! Aku tidak mengenalmu, tolong lepaskan ...!" ujar Dasha dengan mimik yang panik, sembari berusaha meloloskan diri, namun yang ada cekalan tangan kasar milik pria itu malah terasa semakin menguat.


Dasha terus menghentakkan tangannya, namun lagi-lagi usahanya sia-sia. Dengan mengumpulkan keberanian yang tersisa, Dasha memberanikan diri menentang wajah menakutkan yang terus menyeringai itu.


"B-baiklah, kalau kau hanya ingin mengenalku maka aku akan menyebutnya. Namaku Dasha. Sekarang kau sudah mengetahuinya, kan? tolong lepaskan aku ..." pungkas Dasha tanpa berniat menyembunyikan identitas nama aslinya, dengan harapan bisa segera terbebas.


"Ha ... ha ... ha ..."


Diluar dugaan, bukannya membebaskan Dasha, pria berwajah buruk, disertai aroma tubuhnya yang berbau alkohol bercampur dengan bau busuk yang menyengat itu malah tertawa keras.


"K-kenapa kau malah tertawa? aku sudah memberitahukan namaku. Sekarang kau mau apalagi?!"


"Kau harus ikut denganku, manis ..."


"Aku peringatkan dirimu. Kalau sampai kau berniat buruk kepadaku, maka Tuan Luiz pasti akan memberimu pelajaran!"


"Aku tidak kenal dengan Tuan Luiz mu itu, dan aku juga tidak takut padanya."


Ctek ...!

__ADS_1


Dengan gerakan secepat kilat, sebuah pisau lipat kecil yang berkilau telah ditodongkan pria itu ke-leher Dasha yang baru saja berniat meneriakkan nama Luiz sekuat tenaga.


Tubuh mungil Dasha gemetar hebat manakala ia bisa merasakan lehernya yang terasa perih, akibat ujung pisau yang telah tertanam dipermukaan kulitnya. Mendadak air mata Dasha berlinang dari kedua sudut kelopak matanya.


Dasha menutup mata dan menahan nafasnya, begitu nafas busuk pria itu menerpa wajahnya saat ia berbisik.


"Diam, dan jangan berteriak, nona cantik. Kalau kau berani berteriak ... maka nyawamu taruhannya ...!"


🌸🌸🌸🌸🌸


Untuk kesekian kalinya Luiz telah melirik jam yang berada dipergelangan tangan kirinya.


Dua puluh menit telah berlalu, dan Dasha belum juga menampakkan tanda-tanda kemunculannya.


Luiz menatap pintu toilet, tempat yang sama dimana tadi ia melihat punggung mungil milik Dasha menghilang disana.


'Buang air kecil bisa selama ini? Cihh ... jangan-jangan bocah itu buang air besar juga!'


Luiz membathin sambil kembali menyandarkan tubuhnya ketempat duduk mobil.


Luiz ingin memejamkan matanya guna menghilangkan kejenuhan, namun baru terpejam sejenak kedua kelopak matanya kembali terbuka.


'Tapi ... dua puluh menit telah berlalu. Meskipun buang air besar, apa harus selama ini?'


Luiz membathin lagi, pikirannya mulai diliputi keresahan. Bahkan saat Luiz menengok lagi jam dipergelangan tangannya, waktu seolah semakin cepat berlalu tepat dua puluh lima menit, dan sosok mungil Dasha belum juga terlihat.


"Pak, aku akan turun menyusul Dasha." Luiz telah membuka pintu samping dan keluar dari dalam bilik mobilnya.


"Baik, Tuan."


Langkah kaki Luiz yang lebar telah terayun cepat, seiring dengan perasaannya yang mulai diliputi perasaan tidak enak.


'Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. Oh Tuhan, Dasha ...'


Sirene alarm didalam tubuh Luiz seolah berbunyi serentak, membuat sepasang kaki Luiz kini tidak lagi mengayun tergesa, melainkan benar-benar berlari.


'Dasha ...!'


'Dasha ...!!'


'Dasha ...!!!'


Pikiran Luiz semakin kalut, saat berbagai bayangan buruk ... membombardir benak Luiz tanpa jeda ...

__ADS_1


...


Bersambung ...


__ADS_2