
Sebuah percintaan yang panas telah usai sejak beberapa saat yang lalu.
Diluar sana, hari bahkan terlihat mulai menggelap.
David menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam, sementara Maura nampak sedang mengenakan pakaiannya lagi didepan cermin seolah sedang menatap pantulan tubuhnya sendiri yang memang sangat indah.
'Cantik..'
Dalam hati David ikut memuji.
'Tapi sayang.. hatinya buruk..'
Melengos diam-diam.
"David, apa kau bisa menjamin kau bisa meyakini Arshlan nantinya..?" Maura telah berbalik menatap David.
Seperti biasa, hal yang sangat dibenci David adalah wajah keangkuhan milik Maura yang sok bossy. Dan sifatnya yang suka memerintah.
David bahkan tak tahan menangani pasien gila seperti Maura, kalau saja menangani Maura bukanlah merupakan titah langsung dari Tuan Arshlan.
"Aku hanya akan memberitahukan Tuan Arshlan sesuai kapasitasku sebagai dokter. Selain dari itu, aku tidak bisa menjamin apapun.."
"Kau sudah mengambil keuntungan sekian banyak dan kau bahkan tidak bisa menjamin Arshlan akan mempercayaimu atau tidak..?!" seperti biasa volume suara Maura akan meninggi setiap kali ia tidak bisa mendapatkan keinginannya dalam sekali kejap.
"Kenapa kau menyalahkan aku? bukankah sejak awal aku sudah menyarankan kepadamu untuk jujur kepada Tuan Arshlan? tapi kau sendiri yang malah memilih menipunya.."
"Sudah diam..!"
"Maura, kau jangan membuatku muak.." ujar David sambil menekan rokoknya yang belum habis itu kedalam asbak.
Maura terhenyak. Terlebih saat melihat David yang telah bangkit dari duduknya dan mulai mengambil pakaiannya yang berserakan untuk ia kenakan.
"David, apa kau.. kau akan pergi?"
David tersenyum miring. "Percintaan dan pembicaraan sudah selesai, lalu untuk apa lagi berlama-lama..?"
"Breng sek.." umpat Maura kesal mendengar jawaban David yang acuh tak acuh. "Apa kau pikir aku ini pela cur? yang usai kau pakai kemudian kau tinggalkan begitu saja..?!" sentak Maura dongkol.
Mendengar itu David tertawa. Ia mendekati Maura kemudian menaruh wajahnya begitu dekat dengan wajah mungil bak peri, langsung menghadiahi bibir berwarna merah itu dengan sebuah luma tan yang dalam, yang awalnya terasa enggan ingin menolaknya, namun akhirnya berbalas juga.
"Kau memang pela cur eksklusive buatku, sayang.." bisik David mengejek sebelum akhirnya menarik kembali wajahnya dari sana, tanpa mempedulikan wajah Maura yang memerah menahan geram. "Cepat buka pintunya, karena sudah waktunya aku pergi. Kalau aku terlalu lama mengurung diri denganmu, bisa-bisa ada yang akan mencurigaiku." ujar David lagi setelah melirik kecil jam tangan bermerk yang melingkar di pergelangan tangannya.
Maura naik keatas ranjang dengan mulut yang dipenuhi umpatan.
"Kalau kau tidak bisa meyakinkan Arshlan akan kondisi kaki yang membaik dengan tiba-tiba, aku bersumpah akan membuat perhitungan denganmu, David!" ancam Maura sebelum akhirnya menekan remote pembuka pintu otomatis setelah tubuhnya berada diatas ranjang yang baru saja dipakainya dengan David bercin ta dengan liar.
"Jangan khawatir, aku akan membuat janji khusus dengan Tuan Arshlan, agar bisa membahas tentang kondisimu dengan baik." usai berucap demikian David benar-benar berlalu dari kamar Maura dengan langkah acuh, tanpa menoleh.. tanpa pamit..!
Melihat sikap pongah David yang semena-mena membuat Maura merasa ingin membanting sesuatu, kalau saja ia tidak bisa menahan amarahnya meskipun sangat sulit.
David telah berada diujung anak tangga terakhir manakala sebuah suara terdengar menyapu gendang telinganya.
__ADS_1
"Aku tidak tau apa alasan Arshlan, sehingga ia suka sekali memelihara begitu banyak ular dan memberi makan ular-ular tersebut secara cuma-cuma.."
Saat David menoleh, ia mendapati wajah Nyonya Alexandra yang sedang menikmati secangkir teh.
"Selamat sore Nyonya Alexandra, bagaimana kabarmu?" meskipun wanita tua buruk rupa itu terang-terangan menyindirnya, namun David tetap menyapa terlebih dahulu dengan ramah sebelum akhirnya melontarkan kalimat yang cenderung terdengar datar. "Entah kenapa aku merasa Nyonya seperti sedang menyindirku.."
Nyonya Alexandra malah menatap David dengan tatapan penuh. "Baguslah kalau kau merasa seperti itu.." selorohnya dengan pongah.
David malah tertawa kecil menerima perlakuan tersebut. "Padahal Nyonya tidak perlu seperti itu. Bukankah kalimat seperti itu lebih tepat untuk Nyonya sendiri..? Nyonya telah menjadi tanggungan Tuan Arshlan sekian lama, memangnya apa yang sudah Nyonya berikan?"
"Tidak ada." pungkas Nyonya Alexandra cepat. "Tapi setidaknya aku tidak pernah berniat menjadi pemangsa. Aku adalah peliharaan Arshlan yang penurut. Apakah jawabanku cukup memuaskanmu, dokter?"
David terdiam sejenak, tapi bibirnya tetap tersenyum. Kepalanya kini mengangguk samar.
"Aku cukup senang mendengarnya, Nyonya.." David berucap perlahan. "Baiklah, aku permisi dulu Nyonya. Jangan lupa menjaga kesehatanmu.." ujar David sambil beranjak dari sana, tanpa menunggu respon Nyonya Alexandra yang malah membuang muka dengan acuh.
Mobil yang dikendarai David baru saja meninggalkan halaman besar villa Black Swan, tapi ponselnya telah berdering.
David mendapati nama Tuan Arshlan tertera disana. Ia buru-buru mengenakan earphone sebelum memutuskan untuk menerima panggilan tersebut secepatnya.
"Halo Tuan..?"
"Lama sekali kau mengangkatnya." suara dingin Tuan Arshlan yang khas langsung menyapa gendang telinga David.
"Maaf Tuan, aku baru saja meninggalkan halaman villa."
"Aku tau, makanya aku langsung menghubungimu. Cepat katakan apa yang harus kau katakan."
"Cih.." Arshlan terdengar mendecih kesal. "Setelah sekian lama tidak berhasil menipuku, lalu dia ingin merubah strategi..?"
"Sepertinya pernikahan Anda yang telah membuat Nona Maura kalap, Tuan.."
"Baiklah kalau begitu, David, terus lakukan apa yang harus kau lakukan." titah Tuan Arshlan.
"Aku mengerti, Tuan."
Dan pembicaraan tersebut berakhir sudah.
Masih dengan ponsel ditangan, Arshlan menghela nafasnya sejenak.
Arshlan berpikir bahwa ada gunanya juga ia menikahi Lana, kalau bisa membuat wanita penipu itu menjadi semakin gila.
Sungguh, Arshlan benar-benar muak setiap kali mengingat sosok maura.
Arshlan telah memutuskan, akhir minggu ini, sesuai jadwal ia berencana akan menemui Maura lagi.
Ingin mengetahui skenario apa yang sedang Maura rencanakan, karena selama ini Arshlan pun sangat menikmati melihat wajah Maura yang merasa puas karena berpikir bisa menipu Arshlan sekian lama.
XXXXX
Lana sedang mematut dirinya didepan cermin, sebelum akhirnya tersenyum puas.
__ADS_1
"Baiklah Tuan Arshlan, kita akan lihat siapa yang akan menang. Dan kau Nona Rosalin.. aku pasti akan menjamu dirimu dengan sangat ramah.."
Lana berkacak pinggang didepan cermin dengan penuh percaya diri.
Baju super se xy, dan sapuan make up yang merupakan satu dari sekian banyak keahlian bermanfaat yang ia dapatkan dari Siska, selain keahlian unfaedah lainnya.
"Uhh Lana.. kau sangat muda, cantik dan berseri. Sayangnya mata tua milik Tuan Arshlan sepertinya sudah mulai rabun, sehingga tidak bisa melihat semua kecantikanmu ini.."
Saking puasnya Lana melihat penampilannya, ia bahkan tak berhenti memuji dirinya sendiri, tentu saja sambil mengejek Tuan Arshlan.
Lana memang sengaja melakukannya untuk menghibur diri. Karena kalau tidak begitu seluruh sakit hati yang ia rasakan akibat perlakuan buruk Tuan Arshlan hanya akan membawanya menangis dipojokan, seperti yang sudah ia lakukan nyaris disepanjang hidupnya.
Yah.. setiap kali ia dirundung kesedihan, Lana akan duduk dipojok kamarnya yang gelap, dan menangis sampai puas.
Sekian tahun melakukan kebodohan yang sama, namun tidak ada satu pun hal baik yang datang mendekat. Tidak ada hasilnya sama sekali, yang ada dirinya semakin terpuruk, terabaikan dan semakin mendapat perlakuan tidak adil.
Suara mobil milik Tuan Arshlan yang terdengar dari bawah balkon, serta merta mengusik lamunan Lana.
Lana berlari kecil kearah balkon, diam-diam mengintip dari balik pembatas besi yang berukir.
Tak ayal sepasang mata Lana melotot melihat pemandangan dibawah sana, dimana Tuan Arshlan turun dengan gagahnya dari mobil seperti biasa, namun pria itu tidak sendirian.
Seorang wanita cantik dengan rambut panjang tergerai, memakai dress merah bertali kecil terlihat turun dari sisi yang lain mobil Tuan Arshlan, langsung disambut pria itu dengan senyum menawan.
"Jadi Tuan Arshlan bahkan menjemput langsung ular betina itu..? dasar pria tua mata keranjang!" umpat Lana kesal, begitu melihat drama kemesraan yang terjadi dibawah sana.
Tok.. tokk.. tokkk..
Suara pintu yang diketuk dari luar terdengar, membuat Lana bergegas mendekati bingkai pintu untuk membukanya.
Pintu terbentang, sosok Asisten Jo terlihat berdiri disana. Mata pria itu terbelalak melihat sosok Lana, namun cepat-cepat ia menundukkan pandangannya dengan kikuk.
"Nyonya Lana, Tuan Arshlan dan Nona Rosalin sudah menunggu di meja makan.."
"Baiklah, Asisten Jo, kebetulan aku juga siap. Mari kita turun bersama. Aku sudah tidak sabar memulai pertunjukannya.." seloroh Lana begitu ringan.
'Memulai pertunjukan..?'
Mendadak kepala Asisten Jo terasa pening.
Ia bahkan tidak bisa membayangkan apa tanggapan Tuan Arshlan nanti saat melihat penampilan istri kecilnya yang seperti ini.. yang seolah sengaja ingin memancing huru-hara..
.
.
.
Bersambung..
Like, Comment, Vote.. biar author semangad bikin double up.. 😁
__ADS_1
Lophyuu all.. 😘