TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 111. Kenyataan Mencengangkan


__ADS_3

Jangan lupa LIKE dan SUPPORT dulu Bab sebelumnya yah ... 🙏


...


"Kau curang ...!"


"Aku berlomba dengan adil. Dimana kecuranganku ...?"


Florensia melengos.


El, pria dihadapannya ini. Lima tahun lebih Florensia telah mengenal El.


Selama lima tahun lebih menjadi penggemar terang-terangan, selama itu pula Florensia gemar mencari tahu semua titik perkara apapun yang menyangkut kehidupan El.


Tentang keseharian pria itu, tentang kesukaan El, juga tentang apa yang tidak El suka.


Florensia bahkan nekad menjadi penguntit yang sukses membuat El illfeel kepadanya, hanya demi memuaskan hasrat keingintahuan Florensia akan sosok menawan El.


"Berkuda adalah hobbymu, dan showjumping adalah keahlianmu. Pastinya, kau pun sudah bisa menebak sejak awal jika kau yang akan memenangkan kompetisi itu dengan mudah."


"Lalu apa salahku, Flo? Kau bahkan mendengarnya sendiri bahwa yang menantang untuk adu ketangkasan adalah Leo, dan bukan diriku ..."


"Tapi kau pasti sudah tahu bahwa kau akan menang!" semprot Florensia.


Tak disangka El malah mengangkat kedua bahunya. "Aku memang sepercaya diri itu. Lalu apa masalahnya ...?"


"Kalau sudah yakin menang, lalu kenapa kau sangat memerlukan seseorang untuk mendukungmu?"


"Maksudmu Dasha?" tanya El kalem.


"Kau bersikeras ingin membuat Dasha berada dipihakmu ... kau membuat Dasha tidak memihak Leo maupun Luiz ... kau bahkan memberikan Dasha dua puluh empat batang cokelat dan ... kau ... kau ..."


"Dan kau ingin menunjukkan kepadaku, betapa saat ini kau sedang sangat cemburu karena semua itu."


"Siapa yang cemburu?!"


"Jangan marah. Aku juga bisa memberimu cokelat yang lebih banyak dari Dasha, jika hal itu telah membuatmu marah ..."


"Memangnya siapa yang mau cokelat ...?!!" sepasang mata Florensia nyaris keluar dari cangkangnya, mendapati tanggapan santai El atas kecemburuannya yang gila-gilaan.


"Ssstttt ..."


"Apa?!" sentak Florensia galak.


"Flo, jangan berteriak, kalau ada yang mendengar bagaimana ..."


Florensia menatap El yang masih bisa berdiri tenang dihadapannya. Melihat wajah pria itu yang seolah tak menanggapi setiap jengkal kemarahannya justru membuat Florensia semakin kesal saja.


"Jadi kau sengaja ingin membuatku cemburu? Begitu?" nafas Florensia turun-naik tak beraturan.


"Heemm ..."


"A-app ... pa ...?!"

__ADS_1


Florensia melotot lagi, akibat jawaban El yang kelewatan jujur, tanpa berniat gengsi dan menutupi hal tersebut sama sekali.


'Benar-benar pria yang aneh ...!'


Florensia membathin sambil membuang pandangannya yang kembali salah tingkah, namun tetap saja ia gagal menyembunyikan semburat merah yang memenuhi seluruh wajahnya.


"Aku memang sengaja melakukannya untuk membuatmu cemburu." El tersenyum saat berucap, terlebih saat ia tahu bahwa Florensia sedang tersipu karena kejujurannya.


"Kau pikir semua itu lucu ...?" desis Florensia berupaya sok acuh.


Meskipun sesaat yang lalu El telah berhasil membuatnya tersipu, tapi sekarang Florensia malah berpikir jangan-jangan El kembali berniat memberikannya harapan palsu.


Akhir-akhir ini, El selalu mengatakan hal yang mampu membuat Florensia merona. El bahkan tak segan mengatakan, betapa ia ingin Florensia menjadi miliknya.


Tapi sekalipun perkataannya nyaris sanggup meluluhlantakkan semua pertahanan Florensia, tetap saja El seolah tak pernah benar-benar mau menunjukkan, bagaimana caranya ia mewujudkan keinginannya.


Yang ada malah Florensia selalu dibuat terbakar karena perhatian El untuk Dasha, begitupun kebaikannya yang tak berkurang untuk Victoria ...!


"Aku tahu kau selalu meragukanku. Mungkin kau juga menganggap bahwa aku hanya menggombal dan tidak serius ..."


El terlihat menarik nafasnya sejenak, seolah ia bisa membaca semua keraguan yang sedang berkutat dalam benak Florensia.


Detik berikutnya El menaruh tiga ayunan langkahnya sekaligus hanya demi merapatkan dirinya dengan Florensia, yang tentu saja terkejut dengan pergerakan gesit pria itu.


"Maaf, karena aku tidak butuh waktu lima tahun seperti dirimu, jika hanya untuk memastikan perasaanku ini tidak akan pernah goyah ..."


"Sekarang kau malah berani menyindirku? Kau menyentil perasaanku yang sedang berusaha aku alihkan untuk Luiz setelah sekian lama aku dikecewakan olehmu? Begitukah ...?"


El tersenyum. Tak peduli jika saat ini Florensia sedang meledak karena tersinggung berat.


"Florensia ... kau harus tahu. Bahwa saat ini, kau boleh saja memuaskan rasa kesalmu kepadaku lalu menunjukkan kebersamaanmu dengan Luiz didepan mataku sebanyak yang kau mau ..."


El mengatur nafasnya sejenak, agar tetap tenang dan tidak memburu.


"Kalau kau ingin tahu apakah hatiku sakit karena semua itu maka aku katakan dengan sejujurnya bahwa hatiku sangat sakit. Tapi tak mengapa, Flo ... aku justru berharap, bahwa setelah semua rasa sakit ini, semoga kemarahanmu akan segera pergi ..."


Florensia tercengang mendapati kalimat El. Ia bahkan nyaris tidak mempercayai jika ia bisa melihatnya dengan jelas, bagaimana pria itu ... seorang Lionel Winata ... terlihat terluka begitu dalam, lewat kedua manik matanya.


Kali ini El telah memundurkan langkahnya kembali, hingga beberapa langkah sekaligus, membuat jaraknya dengan Florensia menjadi semakin lebar.


"Pergilah, Flo,"


"El ...?"


"Teruslah sakiti aku sampai dibatas tertinggi yang kau ingin, sampai kau bisa merasakan bahwa sakit hatimu selama ini telah terbayar lunas ..."


"El, kau ..."


Florensia terhenyak mendapati tantangan gila itu. Tantangan gila yang terucap tenang tanpa sedikitpun emosi didalamnya.


"Kau boleh melakukan apapun, tapi jangan pernah memintaku pergi ..."


"Bagaimana kalau aku justru ingin kau pergi ...?" tantang Florensia dengan berani, meskipun saat berucap demikian, bibirnya gemetar.

__ADS_1


"Aku tidak bisa."


"Kalau kau ingin aku bahagia, maka kau harus pergi."


El menggeleng tegas, dengan sinar matanya yang menyorot lurus, tepat ke manik mata milik Florensia.


"Aku sudah berjanji akan membuatmu bahagia, tapi tidak dengan pergi. Kau harus bersamaku terlebih dahulu, Florensia ... setelah itu barulah kau akan tahu apa itu kebahagiaan ..."


Untuk yang kesekian kalinya Florensia telah dibuat terhenyak.


Kalimat El terdengar begitu yakin, mengintimidasi, egois ... sekaligus memaksa.


Florensia bahkan sempat berpikir ... bagaimana mungkin ada pria yang bisa mengucapkan kalimat aneh seperti yang diucapkan El barusan?


Berbeda dengan Florensia yang masih betah tertegun, El yang ada dihadapan Florensia kini tertawa kecil, seolah tak ada sedikit pun beban yang memberati hatinya.


Florensia tak pernah tahu, bahwa pada kenyataannya hati El bak sedang dihantam badai.


Hancur ... dan porak-poranda karena penyesalan.


El tahu ia harus memiliki nyali super demi menebus semua kebodohannya di masa lalu, yang pernah menyianyiakan Florensia, wanita yang kini sedang menampakkan wajahnya yang terlipat karena cemberut.


...


Sementara itu ...


Tepat didepan bingkai pintu kamar tamu yang sedang ditempati El, seorang gadis belia dengan wajahnya yang polos serta rambutnya yang tergerai tengah mematung disana dengan wajah bengong.


"Astaga ... apa-apaan ini ...?"


"Pemandangan apa ini ...?"


"Kenapa aku bisa melihat Nona Florensia masuk kedalam kamar Tuan El ...?"


Dasha menepuk-nepuk kedua pipinya, kemudian mengucek-ngucek kedua matanya, terakhir ... Dasha nekad mencubit punggung tangannya sendiri dan ...


"Aawww ... oooppss ...!"


Secepat kilat Dasha membungkam mulutnya yang nyaris menjerit panjang, dengan cara membekapnya dengan kedua telapak tangannya.


Dasha sedang berada dalam pelarian dari hadapan Luiz. Ia bahkan harus berlari dengan kencang saking ingin secepatnya berlalu.


Tak disangka malah menemukan sebuah kenyataan mencengangkan, dimana sekelabat bayangan sosok Florensia terlihat masuk kedalam kamar El dengan tergesa, langsung menghempaskan pintu tersebut dari dalam dengan keras.


"Diantara Tuan El dan Nona Florensia, pasti ada sesuatu ..."


Desis Dasha lagi penuh keyakinan, sembari bertekad untuk mencari tahu dengan lebih jelas lagi, hubungan apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara kedua tamu keluarga Arshlan ...


El ... dan Florensia ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


Dukung terus karya ini, berikan LIKE, Comment, Gift dan Vote, jangan lupa 🙏 Terima kasih ... 🥰


__ADS_2