TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 122. Tekad Dua Pria


__ADS_3

Follow ig aq yah. @khalidiakayum


...


"Tuan, setelah semua ini, Tuan harus berjanji bahwa Tuan tidak akan menjauhiku lagi ..." Dasha berucap, masih sambil memeluk Luiz yang terlentang menatap langit-langit kamar.


Sesekali jemari lentik Dasha terlihat begitu nakal menyusuri setiap ruas otot yang berada diatas dada bidang itu.


"Memangnya kapan aku menjauhimu?" pungkas Luiz datar.


Sepasang mata indah Dasha terlihat melotot mendengar kalimat yang terucap ringan tanpa dosa.


"Kapan? Tuan bertanya kapan? Masa iya Tuan tidak sadar kalau Tuan selalu melakukannya ...?"


Luiz terdiam, ia bahkan tidak berusaha membalas tatapan lekat Dasha yang sedang menopang dagu diatas dadanya.


Harus Luiz akui, selama ini dirinya memang sudah sangat keterlaluan dalam memperlakukan Dasha, namun untunglah gadis itu memiliki hati yang setegar batu karang, sehingga semu yang Luiz lakukan seolah tak pernah sedikitpun bisa menyakiti hati Dasha begitu saja.


"Tuan, mulai sekarang, kalau aku melihat Tuan berpura-pura bermesraan dengan nona Florensia lagi maka aku tidak akan segan-segan untuk menunjukkan kemarahanku ..." Dasha berucap penuh penekanan, wajahnya terlihat bersungguh-sungguh.


Luiz memicingkan matanya. "Apa katamu? Berpura-pura?"


"Hhmmm ..." Dasha mengangguk yakin.


"Berpura-pura katamu??" ulang Luiz.


"Hhhmmm ...!"


Dasha semakin keras mengangguk, namun kali ini dibarengi dengan sedikit menyeringai.


Tanpa gentar sedikitpun Dasha membalas tatapan Luiz yang seolah sedang menaksir-naksir, menandakan bahwa pria itu belum sepenuhnya yakin dengan arah pembicaraan Dasha.


"Aku tidak bercanda,Tuan. Mulai sekarang, Tuan tidak perlu berpura-pura lagi, dan sebagai gantinya aku juga berjanji ... bahwa akan pun akan berhenti membuat Tuan cemburu ..."


Luiz terhenyak mendengar tawaran negosiasi tersebut.


"A-apa ...? Jadi ... itu artinya kau ... kau memang sengaja memanas-manasi aku dengan El?!" ungkap Luiz menanggapi ucapan Dasha, yang secara tidak langsung telah mengakui, bahwa selama ini gadis itu memang sengaja membuatnya cemburu.


Dasha mengangguk, sambil tersenyum penuh kemenangan.


'Si al, susah payah aku berusaha membohonginya dengan berpura-pura mendekati wanita menyebalkan seperti Florensia, ternyata gadis ini malah mengetahui bahwa semua itu hanyalah sandiwara belaka ...'


Luiz mengumpat dalam hati.


"Tidak hanya itu saja, diam-diam aku juga sering memergoki interaksi antara Tuan El dan Nona Florensia. Saat berada di ranch, aku bahkan pernah melihat Nona Florensia mendatangi kamar Tuan El, dan tidak keluar dari sana dalam waktu yang lama ..." imbuh Dasha ringan.


Kali ini Luiz benar-benar memijat pangkal hidungnya.


Sungguh ia merasa benar-benar bodoh karena telah menyepelekan bocah ingusan, yang saat ini masih betah tersenyum dari atas da danya yang terbuka.


"Tuan ... apakah mereka sepasang kekasih sungguhan yang sedang bertengkar ...?" kali ini Dasha telah bertanya dengan mimik wajah penasaran yang begitu nyata.


"Entahlah ..." jawab Luiz acuh, terkesan tak mau tahu dengan apa yang terjadi antara Florensia dan El.


"Tapi Tuan, aku bisa melihat bahwa dimata mereka ada rasa ketertarikan yang sangat kuat antara satu sama lain ..."


Kali ini Luiz menatap Dasha sedikit galak, "Dasha, berhenti membahas hubungan orang lain, karena aku bahkan tidak peduli dengan apapun yang menyangkut hubungan mereka ..."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu, bagaimana kalau kita membahas masa depan hubungan kita saja ...?" pungkas Dasha, begitu gesit mencari celah.


Luiz terdiam.


Sejujurnya Luiz belum juga memutuskan apa yang hendak dirinya lakukan untuk masa depan hubungannya dengan Dasha, terkait dengan tanggung jawabnya sebagai pria breng sek yang telah merenggut kegadisan Dasha malam ini.


'Sepertinya yang harus aku lakukan pertama kali adalah aku harus jujur terlebih dahulu, kepada mommy dan daddy ...'


Luiz membathin gundah.


"Tuan Luiz ..." panggil Dasha lirih, sambil menatap Luiz penuh harap. "Apapun yang hendak Tuan putuskan, aku mohon dengan sangat untuk tidak pernah melepaskan diriku ... bahkan jika itu menyangkut masa depanku sekalipun ..."


"Tidak akan." pungkas Luiz yakin.


Sepasang mata Dasha terlihat berkaca-kaca, membuat Luiz semakin luluh sehingga ia bangkit dari rebahannya, hanya demi bisa meraih tubuh mungil Dasha seutuhnya kedalam pelukan.


"Bersabarlah sedikit lagi, dan aku akan mencari kesempatan untuk mengatakan semua kebenaran dihadapan mommy dan daddy ..."


Bujuk Luiz sembari mengecup dahi yang menempal di dekat bibirnya dengan sangat lembut.


Keputusan Luiz telah bulat ...


Tekadnya pun telah solid ...


Luiz tak ingin mundur lagi.


Luiz telah memutuskan, bahwa apapun konsekwensi yang harus ia terima pada esok hari, semuanya akan tetap ia hadapi, dengan penuh keberanian ...


🌸🌸🌸🌸🌸


Florensia masih menangis, sedangkan El masih berdiri tegak dibalik dinding, tak bergeming, tertunduk dalam diam dan keheningan ... yang hanya terisi oleh suara isak lirih dari dalam sana.


El takut Florensia belum benar-benar tenang sehingga akan mengusirnya lagi seperti beberapa saat yang lalu.


Pada akhirnya pria itu memilih diam menunggu, sambil menjatuhkan tubuhnya perlahan keatas lantai yang dingin, duduk disana dengan pikiran kalut, masih ditemani suara tangis sesegukan milik Florensia dari balik dinding.


Sementara itu ...


Florensia yang sedang terisak hebat merasa dadanya begitu sesak, seolah ingin pecah.


Kepergian El telah membuatnya patah arang. Florensia sangat menyesal ... sungguh!


Saat ini, Florensia bahkan belum juga memahami, entah apa yang membuat dirinya nekad mengucapkan begitu banyak kalimat buruk, setelah disaat yang sama ia juga telah menerima begitu banyak kebaikan dari El.


"Dia akan membenciku ..." desis Florensia masih dalam isaknya yang belum juga mereda.


"Iya, itu sudah pasti ... El pasti akan sangat membenciku ..."


Kali ini sambil membenamkan wajahnya yang berurai air mata keatas bantal.


"Dasar bodooohhh ...!! Aku benci padamu Lionel Winata ...!! Aku benci ...!! Aku ... aku ..."


Bingung mencari kata yang tepat.


"Hu ... hu ... hu ... aku benci, tapi aku cinta ... lalu aku harus bagaimanaaa ..."


Florensia berteriak kesal, seolah ingin membebaskan perasaan tertekan, yang membuat dadanya seolah terasa sempit bak terhimpit batu besar.

__ADS_1


Ia memukul-mukul bantal empuk yang telah basah oleh air mata, masih dengan wajah yang terbenam didalamnya.


"Hu ... hu ... hu ... El bodoh, kenapa kau malah pergi? Tidak bisakah kau membujukku meskipun aku kesal ...?! Tidak bisakah kau memelukku meskipun aku marah ...?! Tidak bisakah kau ..."


Mengambang.


Dingin sekujur tubuh Florensia saat menyadari ada sebuah tangan besar yang kini telah menyentuh punggungnya, mengusap lembut, seolah paham bahwa Florensia butuh ditenangkan.


"El ...?"


Florensia luar biasa kaget begitu ia mengangkat wajahnya dan mendapati sosok El yang duduk di tepian ranjang, lengkap dengan senyum khas yang menghiasi bibirnya.


Sedikit pun tak ada tanda kemarahan yang Florensia temukan di wajah pria itu.


"El ... k-kenapa ... kenapa kau ... .m-masih berada disini ...? bukankah ... bukankah tadi kau ... kau sudah pergi ...?"


Tergeragap.


Kaget, tapi Florensia tahu ia telah gagal menyembunyikan perasaan senangnya begitu menyadari kehadiran El yang ternyata tidak meninggalkannya seperti yang ia kira.


El menggeleng. "Tidak ..."


"Tapi tadi ... kau ... kau sendiri yang bilang bahwa ... bahwa kau akan pergi ... lalu kenapa ... kenapa kau ... masih disini ..."


El tersenyum menanggapi kalimat Florensia yang tersendat dan terpatah-patah, yang diakibatkan sisa-sisa tangisnya yang begitu hebat.


"Aku tidak mungkin pergi meninggalkanmu, dalam keadaan seperti ini, Flo ..."


Kali ini Florensia tak mampu lagi berucap. Hanya sepasang matanya yang indah, nampak bergerak-gerak gelisah saat mengawasi wajah El dengan lekat, seolah masih belum bisa percaya sepenuhnya bahwa pria itu benar-benar nyata, dan kini berada tepat dihadapannya.


"Apapun yang terjadi sudah seharusnya aku tetap berada disini, karena aku ingin membujukmu meskipun kau kesal ... dan karena aku juga ingin memelukmu meskipun kau marah ..." ujar El, menirukan kalimat Florensia yang terucap sesaat yang lalu, manakala wanita itu terlihat begitu kacau menumpahkan isi hatinya, sambil menangis dengan keras.


Wajah Florensia memerah mendengar perkataan El. Baru sadar bahwa seluruh curahan hatinya pasti telah didengar oleh El tanpa sedikitpun yang tersisa.


Hanya dalam hitungan kurang dari sedetik, tubuh Florensia telah berada didalam pelukan El yang langsung merengkuhnya utuh.


Florensia merasa lidahnya kelu, namun ia tak bisa membohongi hatinya yang telah luluh seketika, oleh karena semua kehangatan yang telah memeluk seluruh hatinya tanpa cela.


"Maaf ..."


Hanya satu kata, karena Florensia tak lagi sanggup mengatakan apa-apa.


Tangis Florensia kembali pecah dalam dekapan El, yang memilih mengusap punggung bergetar milik Florensia penuh kelembutan.


Dalam diam El telah membenarkan perkataan mommy Laras, saat melarangnya pergi dan menyuruhnya kembali kepada Florensia.


'Mommy benar ...Florensia harus tahu bahwa aku bukanlah pria yang bisa pergi begitu saja, dan bisa menyerah dengan sangat mudah ...'


Bathin El dengan tekad bulat, yang terasa begitu solid dan terpancang kuat.


Masih dalam diam pula El telah berikrar didalam hati, bahwa kedepannya ia akan lebih gigih, demi bisa memenangkan kembali hati serta kepercayaan Florensia untuknya.


'Florensia, aku bersumpah ... akan aku tunjukkan kepadamu, bahwa kau adalah satu-satunya wanita dalam hidupku, yang benar-benar ingin aku perjuangkan hingga akhir ...'


...


Bersambung ...

__ADS_1


LIKE and SUPPORT-nya selalu ditunggu ... πŸ€—


__ADS_2