
Double Up nih..! 😀
...
"Aku sudah selesai." ujar Arshlan sambil berdiri dengan wajah dingin.
"Arsh.." Maura yang terhenyak dengan tanggapan Arshlan ingin menghalanginya, namun Arshlan malah menatap Lana yang sedang mengunyah makan malamnya dengan perlahan.
"Lana, kalau kau sudah selesai.. cepat kembali kekamar."
Lana belum sempat menjawabnya, namun pria itu telah berlalu dan berjalan menuju tangga, mengacuhkan tatapan semua orang yang menatap punggungnya yang berlalu, dengan tatapan lekat.
'Tuan Arshlan sedang cemburu..'
Sulit dipercaya, namun nyatanya ungkapan diatas telah memenuhi tiga buah benak sekaligus.
Benak Maura yang berbunga-bunga,
Benak Nyonya Alexandra yang merasa geram dengan tingkah Maura,
Begitupun juga dengan benak Lana yang dipeluk oleh sejuta kecemburuan.
Tidak ada yang menyangka jika kemarahan Arshlan justru terpicu dengan diamnya Lana yang sejak awal telah mengalah dengan memilih duduk bersisian dengan Nyonya Alexandra, begitu mendapati Maura yang begitu percaya diri duduk disisinya.
Lana bahkan hanya diam begitu mendapati Maura mengambil alih perannya saat melayani dirinya dimeja makan.
"Arshlan tidak terlalu suka bagian sirloin, melainkan tenderloin. Singkirkan itu dan ambil saja untuk dirimu sendiri." begitu ucapan Maura saat menyingkirkan makanan yang disediakan Lana untuknya dengan gaya pongah.
Lana terlihat terdiam sesaat sebelum kemudian mengambil alih piring yang barusan ia letakkan dihadapan Arshlan dari tangan Maura tanpa berkata apa-apa. Gadis itu bahkan benar-benar menuruti titah Maura dengan mengambil alih dan memakan makanan yang seharusnya ia peruntukkan untuk Arshlan.
Melihat semua itu, untuk yang kesekian kalinya, Arshlan merasa geram, pemandangan dimana bocah itu diam saja, saat diperlakukan semena-mena oleh Maura, sungguh membuat Arshlan merasa dirinya diliputi rasa kesal yang membuncah.
XXXXX
Suasana kamar sangat hening, meskipun dua orang yang menghuninya masih terjaga.
Arshlan tengah berbaring menelungkup diatas ranjangnya, menampakkan punggung beserta kedua bahunya yang lebar, sementara Lana duduk disisi kedua kaki pria itu, memijat kedua kaki tersebut dengan telaten.
"Aku pikir karena kau sedang marah padaku, maka kau akan menolak memijatku.." ucap Arshlan setelah sekian lama diantara mereka hanya diisi oleh keheningan.
"Aku memang marah, Tuan, tapi aku sengaja tidak ingin menampakkannya.." tukas Lana lewat nada bicara yang datar.
Tentu saja. Saat ini Lana merasa dirinya sangat marah, namun Lana memilih menahan diri.
Melihat seorang ja lang menari nyaris telan jang dihadapan suaminya sendiri, kemudian mendapatkan ultimatum untuk membuatnya harus tunduk pada semua keinginan Tuan Arshlan sebagai syarat agar bisa tetap berada disamping pria itu, belum lagi harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Tuan Arshlan bahkan tidak keberatan perannya untuk melayani pria itu dimeja makan diambil alih sepenuhnya oleh Nona Maura.
__ADS_1
Mana mungkin mendapatkan semua perlakuan tidak adil tersebut dalam waktu yang bersamaan membuat Lana tidak marah?
Lana bukan seorang malaikat. Ia bahkan tau bahwa saat ini Tuan Arshlan sedang mengerjai dirinya dengan jalan sengaja menyakiti hatinya begitu rupa.
Baiklah.. saat ini Lana hanya sedang mengikuti laju arusnya saja, tapi jangan harap jikalau ia berdiam diri, maka semudah itu pula dirinya akan menyerah dan tunduk, serta menerima begitu saja perasaannya yang tulus dijadikan bahan permainan.
Lana hanya sedang menimbang langkah apa yang harus ia lakukan, sehingga tidak salah memprediksi sikapnya yang nantinya akan membuat Tuan Arshlan menang dengan mudah.
"Oh ya..?"
Suara Arshlan terdengar lagi.
"Kalau kau benar-benar tidak ingin menampakkan kemarahanmu, lalu kenapa saat ini kau irit bicara..? kenapa juga disepanjang makan malam kau diam saja..? kenapa kau tidak melakukan apa-apa? aku tidak percaya kalau kau benar-benar tidak cemburu saat melihat Maura mendominasi semuanya.." kalimat beruntun Arshlan seperti sebuah pancingan, yang diungkapkan Arshlan dengan lugas, masih dengan tubuhnya yang menelungkup sambil meresapi pijatan yang rasanya begitu menyenangkan.
"Bukankah itu memang maumu, Tuan? aku kan tidak diijinkan melakukan apapun atas apa yang dilakukan Nona Maura, sepanjang kau senang menerimanya.. dan selagi kau menikmatinya.."
Arshlan terdiam.
Headshoot..!
Baiklah. Jadi semua ini memang ibarat memakan buah simalakama.
Melihat Lana kalap Arshlan merasa dirinya kesal, melihat Lana diam saja.. dirinya semakin bertambah kesal..!
'Cihh..! aku ini benar-benar pria tua tidak berguna. Kenapa sih aku harus tunduk justru dihadapan bocah sekecil ini..?!'
"Tenang saja Tuan, mulutku memang hanya diam. Tapi percayalah.. didalam hatiku, aku sudah menyumpah serapah wanita pelakor itu dengan nama seisi kebun binatang tanpa terkecuali.."
Mendengar itu Arshlan langsung tergelak, sampai-sampai Arshlan langsung melupakan emosi yang tadinya mulai menjalari sekujur tubuhnya.
Arshlan tidak tahan lagi untuk tidak membalikkan tubuhnya guna mendapati pemandangan itu sepenuhnya, dimana Lana yang duduk bersimpuh dibawah sana masih dengan tangan yang tak berhenti memijat, lengkap dengan bibir mungil yang naik dua centi.
'Benarkan..? bahkan perasaanku bisa menjadi se-labil ini seperti seorang abg tulen. Dalam sekejap merasa marah, dalam sekejap merasa kesal, dan dalam sekejap aku bisa tertawa tergelak.. semuanya lagi-lagi dikarenakan bocah dihadapanku ini..!'
Bathin Arshlan kembali bermonolog.
"Kemari.." titah Arshlan lagi sambil tersenyum.
Lana mendongak.
"Mendekatlah kesini dan pijat dadaku.." kali ini suara Arshlan terdengar jauh lebih lembut.
Lana tidak membantahnya, ia pun beringsut mendekat, menuangkan minyak kedada bidang pria itu, dan kembali memijatnya tanpa suara.
"Lana.."
__ADS_1
"Hhmm.."
Dalam diam Arshlan mulai menguliti semua pemandangan sosok mungil itu.
Rambutnya yang tergerai.. kulitnya yang seputih susu.. jemarinya yang menari dengan lentik diatas dadanya..
Sungguh terlihat sangat manis, begitu se xy, teramat ero tis.. dan.. menggai rahkan.. padahal Lana sedang tidak melakukan apa-apa, hanya memijat dalam diam.
'Gadis muda belia.. oh, tentu saja..! dan aku adalah pria tua beruntung, karena bisa memilikinya..'
'Sh it, bocah ini benar-benar candu..!'
Merasa tak tahan lagi Arshlan pun bangkit begitu saja dari pembaringan, mendekap tubuh Lana yang terkejut dengan gerak Arshlan yang secepat kilat telah membalikkan tubuh mereka hingga berganti posisi, namun semua gerakan pria itu terasa sangat lembut.
Arshlan menatap Lana yang juga sedang menatapnya.
"Bagiku, kau.. ibarat dermaga.." ujar Arshlan sambil mengecup sesaat bibir Lana yang masih terkesima, sebelum tatapan mereka berdua kembali beradu begitu dekat.
Saking dekatnya mereka seolah berbagi udara saat bersama-sama menarik nafas.
'Dermaga..'
Bathin Lana, membuat alisnya ikut bertaut. Sementara diatasnya, Arshlan sedang tersenyum seolah tau apa yang kini sedang memenuhi pikiran Lana.
"Tidak mengerti juga..?" bisik Arshlan begitu dekat, mesra, dengan suara yang semakin berat.
Lana menggeleng perlahan, namun mulai terbuai keintiman.
"Kau ibarat dermaga.. karena asalkan kau kuat, maka aku berjanji, aku akan tetap berlabuh pulang padamu.."
Ujar Arshlan sambil menenggelamkan dirinya dipusat kelembutan bibir yang merekah dan terasa manis.
Sangat manis..
Bahkan terlalu manis..
Setiap kali Arshlan mengecapnya..
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Like and vote! vote! vote! yang banyak yah.. 😀
Thx and Loophyuu all.. 😘