TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
16. MELEMBUTKAN HATI


__ADS_3

Sore ini Arshlan memang sengaja pulang cepat, berhubung karena pekerjaannya saat ini tidak ada yang sedang deadline, karena jika memiliki sedikit saja waktu senggang, Arshlan selalu memilih menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.


Seperti halnya saat ini, di mana dirinya dan Lana duduk santai di teras samping, menikmati secangkir kopi dan cemilan ringan, seraya mengawasi Luiz dan Leo yang bermain bola dengan beberapa orang pengawal.


"Sudah hampir seminggu ini aku tidak melihat Marina. Apa ada sesuatu yang aku lewatkan ...?"


Lana tersenyum mendengar pertanyaan Arshlan yang tiba-tiba menyeruak diantara aktifitas mereka yang menyaksikan kelucuan Luiz dan Leo.


Tak terasa empat bulan telah berlalu sejak Arshlan mengijinkan Marina kembali masuk kedalam kehidupan mereka, dan sejak saat itu Marina selalu rutin mengunjungi Lana dan si kembar.


Nyaris setiap hari Marina selalu mendatangi rumah Arshlan hanya demi bertemu Lana dan si kembar, tak jarang Marina juga membawa oleh-oleh seperti buah-buahan, mainan dan cokelat, sebagai buah tangan untuk Luiz dan Leo.


Rupanya setelah kembali, Marina memilih berbisnis di dunia fashion dengan jalan mendistribusikan tas-tas branded yang merupakan produk luar negeri, yang ia dapatkan dari beberapa kenalan sewaktu ia menjadi sultan dadakan lewat sekoper uang Arshlan berjumlah satu milyar rupiah pada empat tahun yang lalu.


Akhir-akhir ini Marina juga sering disibukkan oleh perkumpulan para wanita sosialita yang sebagian besar telah menjadi pelanggannya. Namun meskipun demikian, ia selalu menyempatkan diri menemui Lana, Luiz dan Leo.


Sejauh ini sikap wanita itu terpantau normal dimata Arshlan, sehingga diam-diam membuat Arshlan sedikit bertanya-tanya karena belum mendapati pergerakan mencurigakan dari Marina.


Apa benar Marina sudah berubah?


Bisa jadi.


Tapi, tentu saja Arshlan tidak bisa mempercayai Marina semudah membalikkan tangan.


"Tumben sekali kau peduli pada ibu?" jawab Lana masih dengan senyum yang sama, kendatipun tadi Lana melihat Arshlan melengos mendengar perkataannya.


"Aku memperhatikan Marina, bukan karena aku peduli. Tapi karena aku mewaspadai setiap gerak-geriknya.

__ADS_1


"Belakangan ini sikap ibu sangat berbeda ..."


"Benarkah?" kalimat Arshlan masih terdengar jauh dari ramah. "Lana, apakah kau tahu? Aku sama sekali tidak mau lagi kecolongan oleh ibumu itu."


Mendengar kalimat Arshlan yang sangat pesimis, Lana malah menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Astaga sayang ... kenapa kau selalu mencurigai ibu? Apa kau tidak melihat bagaimana ibu telah berubah sejauh ini?"


Arshlan menatap Lana dengan tatapan dingin, namun Lana mengacuhkannya.


"Sayang, bahkan waktu tiga bulan yang kau berikan tentang kesepakatan rahasia kita telah berakhir. Empat bulan telah berlalu ... bukankah sudah seharusnya kau menyerah ...?"


Diluar dugaan Arshlan malah tertawa mendengar kalimat Lana.


Lana memang benar. Empat bulan adalah kurun waktu yang telah menjadi kesepakatan dirinya dengan Lana.


Arshlan terlalu meyakini bahwa topeng sandiwara di wajah Marina akan terlepas hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan, tapi pada kenyataannya, Marina tidak berulah seperti yang Arshlan prediksikan. Malah yang ada wanita itu terlihat semakin menunjukkan sikap yang baik dari hari kehari.


Namun sekali lagi, Lana boleh saja terbuai dengan kebaikan Marina tapi tidak dengan Arshlan.


Seperti biasa meskipun terlihat aktif dan sering membuat kenakalan namun sikap Leo terlihat lebih wellcome dengan kehadiran Marina. Leo selalu terlihat girang mendapati semua hadiah yang dibawa oleh Marina, berbeda dengan Luiz yang tetap bersikap dingin seperti biasanya.


Luiz selalu menampakkan sikap yang tidak bisa menerima kehadiran Marina untuk lebih dekat dengannya, sekeras apapun Marina berusaha.


"Mungkin karena sekarang kau menanyakan tentang ibu, maka kau sedang beruntung."


"Apa maksudmu?" kedua alis Arshlan bertaut nyata saat menyadari ucapan aneh Lana yang dibarengi senyum yang terkesan misterius, namun bercampur ekspresi usil.


"Beberapa hari terakhir ini ibu memang tidak bisa datang kesini karena sedang berada diluar kota."

__ADS_1


"Untuk apa Marina pergi keluar kota ...?"


"Masih dalam rangka bisnis jual beli tas yang sepertinya memiliki prospek yang bagus. Ada seorang teman ibu pemilik butik terkenal di sana, dan dia ingin ibu menjadi pemasok tas-tas branded di butik miliknya."


Kemudian Lana tersenyum sambil menatap Arshlan.


"Ibu baru kembali tadi siang, dan rencananya sore ini ibu akan datang. Mungkin sebentar lagi ..."


"Cihh, jadi itu yang kau maksud dengan keberuntunganku akan datang ...?" Arshlan telah melotot kesal, membuat Lana tidak bisa menahan tawanya yang telah memecah begitu saja mendapati wajah dongkol tersebut.


"Sayang, kau harus menepati janji." ucap Lana kemudian masih dengan tawa yang tersisa disudut bibir.


"Memangnya aku telah berjanji apa?"


"Empat bulan yang lalu kau telah mengatakan, bahwa jika dalam kurun waktu tiga bulan ibu terbukti benar-benar telah berubah, maka kau pun wajib merubah sikapmu dan berusaha menerima kehadiran ibu sedikit demi sedikit ..."


"Aku tidak ingat pernah berjanji seperti itu." kilah Arshlan acuh, berpura-pura lupa.


"Lelaki sejati, tidak pernah ingkar janji."


"Huhh ...! Memangnya aku kurang apa sehingga tidak bisa menjadi lelaki sejati dimatamu ...?!"


Lana terlihat menggeser duduknya agar bisa merapat dengan tubuh Arshlan yang wangi aroma oceanic. Langsung memeluk lengan Arshlan, kemudian mendaratkan beberapa kecupan tak beraturan disepanjang lengan kekar itu, sebelum berbisik lirih...


"Tidak. Tidak ada yang kurang, sayangku... karena itulah aku sungguh percaya, kau mau melembutkan hatimu ... untuk ibu ..."


...

__ADS_1


Next...!


Mau di Vote dong, akak... 😀


__ADS_2