
Follow my Ig. @khalidiakayum
...
"Kau benar-benar tidak bisa menunggu untuk makan siang dulu?" Victoria bertanya dengan tubuh yang bergelung dalam selimut.
Sejak tadi Victoria hanya berdiam diri seraya memperhatikan kesibukan Leo yang mondar-mandir kesana-kemari didalam kamar mereka, guna mempersiapkan dirinya.
Setelah seluruh urusan pria itu nyaris rampung, barulah Victoria berani membuka mulut dan bertanya.
"Tidak, sayang, aku tidak punya banyak waktu. Lagipula ... aku kan sudah mendapatkan 'jatah makan siang istimewaku' ..." ujar Leo lagi penuh makna, sambil melirik nakal kearah Victoria yang masih betah berada dibawah selimut.
Victoria masih polos, dan terlihat belum mau melakukan apa-apa. Sepertinya wanita itu memang kelelahan, demi menghadapi keinginan suaminya yang super mesum itu di siang bolong seperti ini, karena pada kenyataannya Leo memang telah meminta 'jatah makan siang khusus' kepada istrinya Victoria, sebelum pria itu kembali ke kota guna menyelesaikan semua tugas dan pekerjaan yang tersisa, terutama menyangkut aktifitas promosi Love Desire 2, yang akan tayang perdana malam nanti.
"Kau ini ... aku bicara sungguh-sungguh, kau malah bercanda. Bagaimana mungkin kau akan pergi tanpa makan siang terlebih dahulu ...?"
Victoria terlihat berusaha bangkit dari tidurnya, kemudian ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang dengan kedua kaki menjuntai ke lantai, sementara tubuhnya hanya terlilit selimut.
Melihat itu, Leo yang semula tengah mematut dirinya didepan cermin sontak berbalik.
Ia menyongsong Victoria, dan duduk tepat disamping wanita itu. Mengambil sebelah jemari Victoria dan meremasnya lembut ... lalu mengecupnya beberapa kali.
"Aku akan makan dijalan, dan aku telah memerintahkan seorang maid untuk mengemas bekal makan siang untuk kubawa." ungkap Leo kali ini dengan intonasi suara yang jauh lebih serius.
Tatapan mata Leo menghangat saat ia menatap wajah kusut Victoria.
"Berjanjilah, bahwa malam nanti kau akan datang dan duduk di jejeran terdepan, agar aku bisa melihatmu dari atas panggung ..."
Victoria mengangguk kecil, kemudian tiba-tiba ia telah memeluk erat-erat tubuh Leo tanpa kata.
"Ada apa?" bisik Leo sambil tersenyum, saat mendapati pelukan dua lengan yang semakin lama semakin kencang melingkari tubuhnya.
Victoria menggeleng perlahan tanpa mengangkat wajahnya, menyembunyikan sepasang kelopak matanya yang sedang berair didada Leo.
"Vic ..."
Masih tak ada sahutan, namun Leo bisa merasakan kulit dadanya yang terasa lembab, seolah dibasahi oleh sesuatu.
Menyadari hal itu Leo menangkup kedua bahu Victoria, memaksanya untuk mengangkat wajahnya, meskipun Victoria tetap bersikeras.
'Basah ... dan hangat ...'
'Itu adalah air mata ... Victoria sedang menangis ...!'
Bathin Leo cemas, begitu ia tersadar.
"Vic, ada apa? Kenapa kau menangis? Apa yang membuatmu sedih?"
"T-tidak ... aku tidak sedih ..."
"Katakan, Vic, apakah aku membuat kesalahan?"
Victoria menggeleng.
"Apakah ... apakah yang barusan ... aku menyakitimu ...?" ujar Leo lagi, masih berusaha keras memaksa Victoria untuk mengangkat wajahnya.
Tak ada jawaban, dan diamnya Victoria telah membuat Leo semakin frustasi meskipun kini secara perlahan, pada akhirnya wanita itu mau mengangkat wajahnya yang muram, berusaha menentang sepasang mata Leo yang juga bersinar redup.
__ADS_1
"Tidak ... tidak apa-apa ..." Victoria menyentuh sebelah pipi Leo.
Leo menggelengkan kepalanya, seolah ingin Victoria tahu bahwa jawaban Victoria tidak bisa ia percayai. "Kalau tidak apa-apa, lalu kenapa kau menangis ...?" imbuh Leo lagi dengan raut wajahnya yang gundah.
Victoria membisu. Ia masih enggan mengungkapkan apa saja yang saat ini sedang mengganjal dihatinya.
Tentang ketakutannya atas segala sesuatu yang menyangkut hubungannya dengan Leo, tentang betapa indahnya beberapa hari yang terlewat, dan Victoria takut jika semuanya akan berakhir atau kembali lagi ke awal, dimana ia akan kembali menemukan Leo yang dulu.
Leo yang acuh, Leo yang tidak peduli, serta Leo yang selalu menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang tidak penting sama sekali.
Sungguh Victoria teramat sangat takut membayangkan, jika kelak Leo akan kembali pada sifatnya yang dulu, yang tak pernah menganggap Victoria ada apalagi berharga.
"Vic ... sayangku ... tolong jangan seperti ini. Aku tidak bisa pergi jika keadaanmu seperti ini ..."
Leo menangkup kedua pipi Victoria. Ia bahkan mendekatkan wajahnya, merapatkan kedua dahi mereka satu sama lain, hingga pucuk hidungnya ikut menyentuh pucuk hidung Victoria yang mancung.
"Vic, kau tidak boleh menangis karena apapun suasana hatimu, kelak bisa mempengaruhi baby-nya. Kau pasti tidak mau 'dia' merasa sedih karena melihat mommynya sedih, kan?" bujuk Leo dengan nada suaranya yang lembut.
Mendengar itu Victoria pun menggeleng cepat.
Leo benar, ia memang tidak boleh bersedih apalagi sampai menangis, karena saat ini ia tak lagi sendiri.
Ada kehidupan lain yang juga berada didalam dirinya, yang sudah pasti bisa ikut merasakan apa pun perasaan yang sedang ia rasakan.
"Vic sayang, katakan padaku apa yang sedang kau pikirkan. Kenapa kau jadi sedih seperti ini?"
"Aku ... aku ..."
"Katakan ..." Leo membelai lembut kedua pipi yang lembab milik Victoria. Tatapannya yang teduh seolah memberi kekuatan ekstra.
"Aku hanya merasa ... sedikit cemas ..."
"Aku takut jika saat ini kau pergi, aku akan menemukan dirimu yang seperti dulu ... yang dingin ... yang acuh ... yang ..."
Victoria tak kuasa meneruskan kalimatnya, dan ia pun menubruk tubuh Leo lagi, memeluk erat, membenamkan seluruh wajahnya kedalam dada yang bidang ... kembali terisak.
Sekuat tenaga Victoria berusaha tegar, namun yang ada seluruh ketegaran hatinya seolah lenyap tak bersisa. Victoria terlalu takut menghadapi kenyataan, seperti yang selalu ia hadapi selama hidupnya bersama Leo.
Leo termanggu ditempatnya dengan hati yang mencelos. Ungkapan hati Victoria terasa menohok ulu hati Leo dengan telak.
'Perbuatanku sungguh tak terpuji, dan perlakuanku kepada Victoria selama ini sangatlah buruk!'
'Ternyata ... Victoria tertekan karena bayangan suram masa lalu, dan semua itu karena diriku ...'
Leo membathin sendu.
"Maaf ... maafkan aku sayang ..." ucap Leo dengan suaranya yang bergetar. "Kau menjadi sedih seperti ini, semuanya karena diriku. Tapi meskipun begitu aku sangat berharap ... maafkanlah aku, dan tolong enyahkan semua kenangan yang buruk itu dari benakmu. Demi Tuhan Victoria ... aku sangat menyesal pernah memperlakukan dirimu dengan begitu buruk serta semena-mena. Atas semua kesalahanku, kau boleh saja menghukumku ... tapi pliss ... jangan pernah membuat dirimu sedih lagi ..."
Leo menjatuhkan tubuhnya kelantai, sementara kepalanya tertelungkup diatas pangkuan Victoria.
Sepasang bahu Leo bergetar hebat, punggungnya pun bergetar hebat. Semua pemandangan itu telah membuat Victoria terhenyak.
Victoria tak menyangka jika Leo bisa menangis tersedu seperti saat ini diatas pangkuannya.
"Leo, kau ..."
"Apakah aku bisa dimaafkan?"
__ADS_1
"Leo kau bicara apa ...?"
"Aku adalah pria yang buruk. Aku adalah suami yang buruk ..."
"Tidak, bukan begitu maksudku, aku ... aku hanya ... aku hanya takut. Semua ini terlalu indah, aku takut jika semua ini hanya mimpi dan ..."
Mengambang. Victoria bahkan bingung harus berkata apa, terlebih saat menerima kenyataan, betapa terpukulnya Leo saat ini.
Detik berikutnya Leo telah menengadah, guna mendapati wajah Victoria yang juga banjir air mata.
"Bukan mimpi, melainkan kenyataan. Tidak akan pernah ada yang berakhir ... tidak lagi, sayang, karena mulai sekarang, kau adalah bagian dari hidupku. Aku tidak akan bisa menatap hari esok, jika tidak bersamamu ..."
Ucapan Leo ibarat sebuah ikrar, yang terucap dengan penuh keyakinan, hingga air mata Victoria pun terus meluncur tak terbendung.
Leo kembali menjatuhkan kepalanya kepangkuan Victoria, sementara kedua jemari Victoria telah mengusap setiap helai rambut pria itu yang meriap diatas pangkuannya ...
Terus membelai, dengan segenap rasa sayang yang ia punya ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
El yang hendak kembali kekamarnya, sedikit terkejut mendapati sosok Florensia yang terlihat berdiri tepat didepan bingkai pintu kamar.
Mendapati pemandangan tersebut langkah El refleks terhenti. Ia memilih menyandarkan tubuhnya ke dinding, sambil mengawasi gerak-gerik gelisah Florensia dari belakang punggung wanita itu.
Florensia yang sejak tadi ingin mengetuk pintu kamar El, namun berkali-kali urung, sama sekali tak menyadari jika kini seluruh pergerakannya sedang terpantau seutuhnya oleh El.
'Ketuk, tidak, ketuk ..., tidak ...,'
Florensia terus menimbang dalam hati, namun pada kenyataannya ia belum juga memiliki keberanian untuk mengetuk pintu kamar tersebut.
Sambil menghentakkan kedua kakinya ke lantai berkali-kali dengan gelagat yang terlihat sangat menggemaskan dimata El, pada akhirnya Florensia menyerah.
Florensia hendak beranjak dari sana, manakala sebuah suara berat yang sangat ia kenali sukses membuat tubuhnya terlonjak.
"Kenapa tidak jadi mengetuk pintunya ...?" wajah kalem El terlihat berhias senyum menggoda.
"Oh astaga ... kau mengagetkan aku, El ...! Kau sengaja ingin membuatku mati karena terkejut ...?! Kenapa kau berdiri disitu tanpa bersuara ...?!" wanita itu menyemprot kesal, karena ia benar-benar telah dibuat kaget oleh kehadiran El.
El terkekeh sejenak mendapati wajah menggemaskan Florensia. "Kau ini aneh sekali. Kau marah aku berdiri disini, lalu bagaimana denganmu?"
"Memangnya aku kenapa?!"
El berdecak mendengar sanggahan manja khas Florensia yang seolah tak mau mengakui kenyataan yang sesungguhnya.
"Kau tidak sadar dimana kakimu berpijak sekarang? Kau bahkan berada tepat di bingkai pintu kamarku dan menghalangi jalanku. Lalu bagaimana bisa sekarang justru kau yang berbalik marah ...?" ujar El lagi dengan raut wajahnya yang cool seperti biasa.
Namun berbeda dengan Florensia, mendapati kalimat kalem tersebut, lebih dan kurangnya telah sanggup mengembalikan kesadaran dirinya.
Florensia benar-benar baru tersadar bahwa saat ini ia telah tertangkap basah.
El telah memergokinya, yang sedang berada tepat didepan pintu kamar pria itu ...!
...
Bersambung ...
Kepoin dan ramaikan yuk, karya terbaru aq "NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN" yang baru rilis hari ini. Cekidoooott ... π€
__ADS_1