TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 72. Drama


__ADS_3

Peraturan singkat telah ditetapkan, dan telah disepakati oleh kedua tim.


Menyesuaikan dengan kondisi hari yang mulai menjelang petang, akhirnya telah disepakati bahwa mereka hanya akan menggunakan sistem lima belas point untuk satu set saja.


Leo dan El telah melakukan suit untuk memilih posisi atau servis awal dan El telah menang dalam adu keberuntungan tersebut.


"Pilih posisi saja, El." ujar Dimitri begitu El meminta pendapatnya.


El memberi tanda oke lewat jempolnya, sebelum kemudian menatap Doni, salah seorang karyawan pria Mega Florist, yang sore itu telah bertindak sebagai wasit.


"Aku memilih posisi." ucap El, seraya mengambil tempat membelakangi mentari sore.


Dengan demikian Doni sebagai wasit, telah melempar bola kearah Leo, yang kemudian menangkapnya dengan sigap.


Bersama Luiz, Leo akhirnya harus rela menempati posisi yang menghadap langsung kearah matahari senja.


Memang sedikit menyulitkan, namun mau bagaimana lagi, semua itu telah menjadi konsekwensi sebuah permainan.


Saat melintasi lapangan, lewat ekor matanya Leo bisa melihat Victoria yang berdiri di sisi Luna, dengan wajah tanpa ekspresi.


"Kau dan Victoria, kenapa kalian bisa berada ditempat yang sama?" bisik Luiz yang ternyata juga sedang memperhatikan tindak-tanduk pasangan suami istri yang saling canggung satu sama lain itu.


"Kau sendiri, untuk apa kau ada disini? Bukankah pekerjaanmu sangat banyak?" balas Leo acuh.


Luiz menyeringai. "Aku kemari justru untuk bekerja, bukan tanpa alasan."


"Aku juga baru selesai melaksanakan pemotretan. Kau pikir hanya kau saja yang sedang bekerja?" sungut Leo lagi, sedikit kesal karena menyadari Victoria tetap mengacuhkannya seolah tak mengenal sama sekali, malah sibuk bertepuk tangan untuk El dan Dimitri bersama Luna dan teman-temannya yang mendukung tim lawan.


"Ucapanmu terdengar sangat kesal. Sepertinya kau sedang marah yah? Atau ... cemburu mungkin ...?"


Leo melotot kearah Luiz yang malah melemparkan senyum mengejek yang sangat kentara untuknya.


Luiz bahkan telah menyadari bahwa sepertinya El juga menaruh perhatian lebih kepada Victoria, sementara Leo tidak bisa berbuat apa-apa.


"Omong kosong ..." Leo membuang wajahnya yang dipenuhi raut jeolous, sementara Luiz masih betah tertawa kecil melihat kedongkolan Leo.


"Kalau begitu, jangan sampai kau kalah oleh sainganmu ..."


"Dia istriku, dan aku tidak perlu bersaing dengan siapapun!"


Lagi-lagi Luiz tergelak, ia malah menyempatkan diri menepuk bahu Leo beberapa kali sebelum memisahkan dirinya dengan berjalan sedikit kesisi kiri.


Kini keempat pria tampan itu telah berdiri di posisi masing-masing, sementara sorak sorai penonton mulai terdengar riuh rendah guna menyemangati tim idola masing-masing.


Nama Leo, Luiz, El dan Dimitri pun terdengar bersahut-sahutan di udara, menambah ceria suasana senja yang mulai menua.


"Ayo sayang, kamu bisa ...!" Teriak Luna begitu nyaring dan percaya diri, demi menyemangati Dimitri.


Kendati pun Luna sangat mengidolakan Leo, namun ia telah memilih untuk berada di pihak suaminya sendiri daripada sang idola.


"Semuanya sudah siap?" ujar Doni yang berdiri disisi kanan net, yang membentang tepat ditengah lapangan.


"Sipp ...!"


Keempatnya mengangguk sambil mengangkat jempol masing-masing.


Priiittttt ...!

__ADS_1


Bunyi peluit yang ditiup Doni untuk pertama kalinya telah membuat Leo bergerak melakukan servis atas, dimana ia telah melempar bola ke udara terlebih dahulu sebelum kemudian memukulnya dengan keras.


Dimitri yang seolah belum begitu siap seperti terkejut menerima bola yang melesat kencang kearahnya, sehingga membuat hasil passingnya melenceng keluar lapangan.


Sorak sorai pendukung Luiz dan Leo pun terdengar meriah, mendapati point pertama yang telah didapat dengan begitu mudah.


"Satu-kosong ...!" teriak Doni.


"Sorry, El ..."


"Just slow down, bro ...!" El menyemangati adik iparnya, sementara diujung sana Leo terlihat menyunggingkan senyum puas, namun tatapannya justru mengarah kesosok yang berdiri disisi lapangan.


'Lagi-lagi pria itu mengawasi Victoria ...'


El kembali membathin.


Priiittttt ...!


Bunyi peluit milik Doni kembali terdengar, dan Leo kembali melesakkan servis atas andalannya.


Kali ini Dimitri telah sangat siap mengantisipasinya dengan passing yang terarah, memberikan El kesempatan untuk melakukan umpan toss yang membuat Dimitri leluasa melakukan smash ke area kosong yang tidak bisa dijangkau Luiz.


Sorak sorai Luna dan pendukung keduanya pun membahana, mengiringi satu point yang membuat keadaan imbang satu sama, dan servis pun berpindah.


Kali ini El yang akan mengambil servis dengan model floating overhand service.


Namun saat El melambungkan bola dengan posisi di depan atas lebih tinggi dari kepala oleh tangan kirinya, tiba-tiba saja suara merdu seorang wanita terdengar dari sisi lapangan ...


"Semangat Luiz ...!"


Tangan kanan El tetap bisa saja menjangkau dan memukul bola tersebut dengan keras, namun konsentrasinya telah terbagi tanpa ia inginkan.


Alhasil bola yang melambung tersebut tidak terarah dengan baik sehingga membentur net, sebelum akhirnya jatuh dibidang permainan mereka sendiri.


"Damn ..."


El memaki kesal.


Pekik kegembiraan merajalela di kubu pertahanan Luiz dan Leo yang terlihat melakukan tos kecil, karena point mereka bertambah seiring dengan perpindahan servis yang kali ini akan dilakukan oleh Luiz.


Dan begitulah seterusnya, waktu terus berlalu, point demi point terus bertambah dan terus berkejaran satu sama lain.


Pada kenyataannya, kemampuan kedua tim memang terlihat seimbang, meskipun sedikit kaku di awal-awal.


Mendekati injury time, papan skor telah menunjukkan the lucky number, yakni angka tiga belas sama, tepat saat El melesakkan spike keras yang gagal dikembalikan Leo dengan sempurna.


Riuh rendah suara suporter semakin ramai membahana, karena semua keseruan tersebut kini tidak hanya dinikmati oleh karyawan Mega Florist saja, namun telah menyedot perhatian semua pengunjung pantai di sore itu.


Kehadiran empat pria tampan dengan tubuh yang berkilau bersimbah keringat di tengah lapangan volley pantai, rupanya jauh lebih menarik perhatian dibandingkan sunset yang selama ini telah menjadi daya tarik pantai xx yang tak terkalahkan.


Pendukung Luiz dan Leo pun menjadi dua kali lipat lebih banyak, saat semua pengunjung telah menyadari bahwa seorang aktor papan atas telah ikut serta dalam pertandingan ciamik tersebut.


Euphoria yang luar biasa itu mampu membuat Victoria yang awalnya merasa tidak enak hati dan malu jika harus menyoraki Dimitri dan El, pada akhirnya ikut larut dalam kemeriahan bersama Luna dan tim pendukung El dan Dimitri.


Dengan bola ditangan kiri, Dimitri terlihat berdiri tegak di belakang garis belakang lapangan. Ia sedang menunggu bunyi peluit Doni untuk melakukan servis.


Priiittttt ...!

__ADS_1


Dimitri mengepalkan tangan kanannya dengan kuat agar bisa melakukan servis bawah yang sempurna, sehingga pukulannya menjadi keras begitu bola mencapai sejajar dengan pinggang.


Leo yang menerima servis tersebut melakukan passing sempurna untuk Luiz yang balik mengumpan bola dengan toss, betujuan agar Leo bisa melompat dan melayangkan smash keras untuk menyambut umpan sempurna Luiz.


Melihat itu El pun melompat tinggi untuk melakukan block, namun kerasnya pukulan Leo tidak terbendung, baik untuk El, maupun Dimitri yang sempat berusaha menyelamatkan bola agar tidak menyentuh pasir.


Sorak sorai kembali terdengar riuh, seiring dengan berubahnya papan skor Leo dan Luiz menjadi angka empat belas.


Match point ...!!


El melirik kesal saat Florensia secara terang-terangan telah bersorak kegirangan, seolah begitu percaya diri bahwa Luiz dan Leo bisa menutup permainan di sore itu dengan kemenangan.


Saking kesalnya, El bahkan telat menyadari saat Leo kembali melompat tinggi didepan net dan menghantam bola dengan keras, tepat kearahnya dan ...


Bugh ...!


'Akhir yang sempurna ...!'


Leo menyeringai puas saat ia berhasil menutup permainan di sore itu dengan sebuah smash keras yang nyaris menghantam wajah El.


Beruntung pria itu masih sempat menghalanginya dengan lengan kanan yang bergerak refleks.


Memang terkesan agak kurang sportif, tapi apalah daya Leo benar-benar tidak sanggup menahan emosi sepanjang permainan berlangsung, terlebih khusus saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa besarnya dukungan Victoria untuk tim lawan.


Namun seringai kepuasan Leo itu pun tidak bertahan lama manakala ia melihat diseberang sana, Victoria telah bergerak refleks mengejar langkah Luna yang mendekati El, memeriksa keadaan pria itu, bahkan menyentuh lengan El yang bersimbah peluh ...


Mendadak pekik kemenangan yang memenuhi telinga Leo menjadi tak berarti, manakala rahangnya telah memperdengarkan bunyi bergemeretak, menahan amarah ...!


🌸🌸🌸🌸🌸


"Kendalikan dirimu,"


Bisikan yang berada tepat ditelinga Leo cukup ampuh menyadarkan amarah Leo, sementara cengkeraman kuat dipangkal lengannya pun berhasil mengurungkan niat langkahnya yang hendak terayun mendekat ke seberang sana.


Saat Leo menoleh, ia telah melihat Luiz yang berdiri disampingnya sambil menggelengkan kepala.


"Kalau ingin memutuskan sesuatu, sebaiknya kau juga memikirkan konsekwensinya. Karena kalau kau belum siap menghadapi dunia dengan kenyataan, maka aku sarankan kau menunda amarahmu terlebih dahulu ..."


Kalimat Luiz telah mewakili semuanya, dan Leo pun menunda langkahnya sejenak. Tersadar akan status pernikahannya yang sampai detik ini masih menjadi sebuah rahasia didepan khalayak.


"Nikmatilah dulu kemenangan ini, karena kau bahkan tidak tau, bahwa pria itu tak lebih pintar dari dirimu."


Leo menatap Luiz sejurus. "Apa maksudmu?"


"Lionel Winata."


Alis Leo semakin bertaut.


"Percayalah, Leo, dia telah dikalahkan dua kali dalam satu waktu, namun dia bahkan tidak menyadarinya." ucap Luiz sambil menepuk bahu Leo sesaat.


Detik berikutnya Luiz terlihat beranjak kesisi lapangan untuk menemui dan bergabung dengan keceriaan Florensia, beserta para suporter mereka lainnya yang bersorak-sorai gembira atas kemenangan lima belas point, yang dipenuhi dengan drama ...


...


Bersambung ...


Maaf, masih slow up. Next author pasti akan menggantinya dengan crazy up πŸ™.

__ADS_1


__ADS_2