
Lima bulan telah berlalu..
Arshlan memasuki kamar rawat inap pasien VIP dengan wajahnya yang lelah.
"Kalian boleh keluar.." ujarnya kearah dua orang perawat khusus yang malam itu bertugas menjaga Lana.
Keduanya pun menunduk takjim.
"Baiklah, Tuan.. tapi kalau Tuan memerlukan bantuan, seperti biasa, kami ada didepan." seorang perawat berucap sopan.
"Hhhhmm.." Arshlan mengangguk pelan.
Begitu kedua perawat tersebut keluar, Arshlan pun berjalan mendekat kearah ranjang dengan jemari yang sibuk melonggarkan dasinya, serta membebaskan dua buah kancing teratas dari kemejanya.
Arshlan menarik sebuah kursi yang ada didekat ranjang hingga berada tepat disisi ranjang, dimana tubuh Lana terbaring disana dengan wajah yang tenang.
"Sayangku.. bagaimana keadaanmu hari ini..?" ujar Arshlan sambil mencium dahi dan kedua pipi Lana yang putih.
Arshlan menghempaskan tubuhnya perlahan diatas kursi, tangannya menyentuh jemari Lana yang tergolek disisi tubuhnya, menaruhnya dalam genggaman tangannya dengan penuh kelembutan.
Hari ini kesibukan Arshlan bisa dibilang cukup padat. Sejak pagi Arshlan telah meninggalkan kamar VIP ini untuk bertemu investor asing, siangnya ia menghadiri undangan makan siang khusus dari seorang pejabat tinggi pemerintah, dan malamnya Arshlan meresmikan LA Twins Residence yang tak lain merupakan apartemen mewah miliknya yang dibangun dalam waktu super duper singkat, kurang dari empat bulan.
LA Twins Residence terdiri dari dua buah gedung apartemen kembar di area yang sama, yang masing-masing terdiri dari sembilan belas lantai dengan penataan ruang dan dekorasi yang sama persis.
Yah.. sama persis. Karena kedua gedung tersebut adalah sebuah dedikasi tertinggi Arshlan untuk wanita pemilik keseluruhan jiwanya yang justru betah tertidur sekian lama.
Awalnya Arshlan ingin Lana yang meresmikan apartemen kembar persembahan khusus Arshlan untuk gadis itu, namun sayangnya hingga pembangunan dua buah gedung itu selesai, Lana tak kunjung siuman dari tidur panjangnya.
Mengingat semua kesendirian yang ia rasakan selama ini membuat Arshlan kembali terpekur dan terpuruk.
"Lana.. sayangku.. tidakkah semua ini sudah cukup..? tolong jangan siksa aku lagi. Kau boleh marah padaku atas semua ini.. tapi berjanjilah, jangan pernah berniat melepaskan tanganku.. aku mohon.."
Arshlan menelungkupkan wajahnya ditepi ranjang. Hati dan jiwanya sungguh lelah, namun tak pernah terbersit sedikitpun kata menyerah dalam benaknya, meskipun disudut hatinya terdapat kecewa.
Lima bulan yang lalu, Arshlan telah memilih dengan berat hati, mengorbankan dua kehidupan miliknya dan Lana demi menjemput kesadaran Lana.. tapi setelah semua itu, Lana tetap tak ingin bangun dari tidur panjangnya, anehnya menurut dokter, kondisi tubuh dan kesehatan Lana semakin membaik dari hari ke hari.
Lalu kenapa Lana tak ingin kembali..? apakah Lana sengaja ingin menghukum Arshlan atas semua yang telah ia lakukan..? apakah gadis itu masih marah..?
__ADS_1
"Aku pantas menerima semua hukuman ini, sayangku. Kau telah menghukumku dengan cara yang paling baik.."
Arshlan mengangkat wajahnya yang kusut masai, kali ini jemarinya terangkat menyentuh wajah Lana.
"Lana sayang.. aku percaya suatu saat kau mau membuka matamu, menatapku dengan penuh cinta.. dan menerima semua permintaan maafku.." lirih Arshlan lagi dengan keyakinan yang tak pernah berkurang.
"Kembalilah sayang, kalau kau kembali, aku berjanji akan menunjukkan semua cinta yang ada dimuka bumi ini untukmu.."
Arshlan terpekur, tapi mulutnya tak henti bermonolog, menceritakan berbagai hal yang ia lalui setiap hari, mengucapkan kata cinta dan kerinduan, berharap Lana bisa mendengarnya dan membuat semua itu menjadi sebuah kekuatan untuk terus bertahan.
"Lana.."
"Lanaaa.."
"Lannaaa.."
Arshlan memanggil nama Lana berkali-kali.. terus memanggilnya..
Suara lirih Arshlan memenuhi ruangan yang hening, seolah menjadi pengantar tidur untuk dirinya sendiri sebelum bunyi Patient Monitor tiba-tiba berdengung keras, membuat Arshlan terlonjak bangun dari duduknya.
Wajah Arshlan memucat dalam sekejap, begitu menyadari tubuh Lana terlihat kejang berkali-kali..
"Apa yang terjadi..?! dokter apa yang terjadi..?!"
Arshlan panik.
Ia telah berteriak panik seperti orang gila saat memanggil para perawat dan dokter jaga, atau siapapun.. manakala dirinya yang sedang terisak ditepian ranjang Lana tersentak kaget oleh bunyi keras tak beraturan dari Patient Monitor, yang merupakan alat yang digunakan untuk memantau berbagai kondisi sinyal tubuh Lana.
Selama beberapa bulan terakhir ini keseluruhan tubuh Lana memang telah bergantung sepenuhnya pada beberapa parameter sekaligus, serta selang nasogastric, yang berfungsi untuk menyuplai makanan dan minuman langsung ke lambung, akibat kondisi medis Lana yang sudah pasti tidak memungkinkan dirinya untuk menelan makanan.
"Tuan Arshlan, tenangkan diri anda, dokter sedang berusaha memeriksa kondisi Nyonya Lana.."
Seorang perawat nampak berusaha menghalangi Arshlan yang panik dan hendak mendekat kearah dokter Gunawan yang kebetulan juga bertugas dimalam itu, sedang serius memeriksa keadaan Lana, sementara bunyi nyaring Patient Monitor masih terdengar menggema, membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya pasti akan meremang.
"Lana..!! Lanaaa.. tidakkkk..!!" Arshlan berteriak keras begitu tubuh Lana yang senantiasa diam kini kembali terlihat kejang beberapa kali.
Dua orang perawat pria nampak ikut menghalangi pemberontakan Arshlan saat menyaksikan seorang perawat wanita yang sejak tadi menghalanginya mulai kesulitan menenangkan pria kekar itu.
__ADS_1
"Lanaa..! lepaskan aku..!!"
"Tuan tenanglah, dokter sedang berusaha.."
"Lepaskann akuuu..!!" Arshlan terus memberontak, namun usahanya terlihat sia-sia.
Pada akhirnya tubuh Arshlan yang tinggi besar itu telah merosot tak bertenaga diatas lantai yang dingin, saat melihat dokter Gunawan mulai melakukan tindakan dengan metode push hard push fast, yakni menempelkan bagian pangkal telapak tangan di dinding dada, serta memompa jantung dengan keras dan cepat, dengan kecepatan seratus sampai dengan seratus dua puluh kali permenit.
"Lana.." wajah Arshlan dipenuhi air mata, saat menatap pemandangan menakutkan didepan matanya tanpa berkedip.
Setelah melakukan hal yang sama berulang kali, dokter Gunawan telah menghentikan tindakannya seiring dengan bunyi Patient *M*onitor yang terdengar normal kembali.
"Dokter, apa semuanya baik-baik saja..?" Arshlan bertanya, sambil berusaha bangkit dengan susah payah.
Dokter Gunawan terlihat menarik nafasnya sejenak sebelum menjawab perlahan. "Tuan Arshlan.. sepertinya kita harus melakukan tindakan sc sekarang juga. Aku khawatir jika menunda lebih lama, kondisi Nyonya Lana yang tidak stabil akan kembali mengalami shock seperti tadi dan itu akan sangat membahayakan.."
"Lakukan, dokter. Lakukan semua yang terbaik.." pungkas Arshlan lagi-lagi penuh keyakinan seperti saat ia memutuskan tindakan operasi untuk Lana pada lima bulan yang lalu.
"Baiklah, Tuan. Nanti akan ada beberapa dokumen prosedur yang harus ditandatangani terlebih dahulu sebelum melakukannya. Aku akan menugaskan seorang perawat untuk mengurusnya."
Arshlan mengangguk dengan wajah kuyu.
"Persiapkan tindakan sc.."
"Baik, dokter.."
Kalimat dokter Gunawan kepada para perawat disambut anggukan sigap oleh beberapa perawat yang ada.
Arshlan mendekati Lana lagi, ia berlutut disana sambil tergugu, sebelum memutuskan memeluk tubuh Lana.. berbisik lirih ditelinga gadis itu sambil menangis tanpa henti..
"Lana aku mohon.. jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan kami. Kami semua sudah bertahan sejauh ini untukmu.. tolong bertahanlah juga demi kami.."
Tangis Arshlan semakin tersendat lirih, manakala menyaksikan dua buah bulir bening mengalir turun dari sudut mata yang senantiasa terpejam..
Lana menangis..
...
__ADS_1
Next boleh, tapi Like jangan ketinggalan, karena setiap double up, Like bab awalnya pasti lebih sedikit dari bab kedua.. 😌