TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
21. SUDAH KUPERINGATKAN


__ADS_3

Marina baru saja tiba dirumah, usai menemui customer manakala matanya tertegun mendapati sebuah mobil SUV keluaran terbaru berwarna hitam pekat, bergerak perlahan memasuki halaman rumah megah milik Tuan Arshlan yang super luas.


Tidak seperti biasanya jika disore hari seperti ini suasana rumah akan menjadi sangat ramai sesuai dengan jadwal si kembar bermain diluar rumah. Saat ini suasana menjadi sangat sepi karena nyaris semua penghuninya telah berada di pulau pribadi milik Tuan Arshlan sejak tadi pagi, begitupun dengan Lana dan si kembar Luiz dan Leo.


'Sepertinya itu adalah mobil pribadi Tuan Arshlan. Lalu kenapa bisa ada disini ...? bukankah tadi pagi Tuan Arshlan telah berpamitan untuk berangkat keluar kota bersama Her dan rencananya baru akan kembali besok? lalu kenapa sekarang Tuan Arshlan telah kembali ke rumah ...?'


Marina membathin, seraya memutuskan berdiri diteras untuk memastikan bahwa yang datang itu benar-benar Arshlan.


Detik berikutnya pertanyaan yang berseliweran dibenak Marina terjawab sudah, seiring dengan sosok Arshlan yang melangkah keluar dari dalam mobil tersebut.


"Selamat sore, Tuan Arshlan," Marina telah menyambut Arshlan dengan sapaan yang ramah, tepat dibingkai pintu.


"Selamat sore juga, Nyonya Marina." jawab Arshlan sambil tersenyum, membuat jantung Marina ikut berdegup menerima senyum tersebut.


Tidak biasanya Arshlan bersikap seramah ini kepadanya, apalagi jika berada didekat Lana. Dan karena hal sepele itu saja sudah membuat benak Marina dipenuhi berbagai spekulasi dadakan.


Marina baru berencana untuk menyusun strategi dalam rangka mendekati Arshlan diperjalanan menuju pulau pada besok hari, siapa sangka kesempatan emas justru datang lebih awal dari prediksinya sendiri.


'Semesta alam bahkan sedang berpihak padaku. Aku yakin, semua ini pastilah pertanda baik untukku ...!'


Lagi-lagi benak Marina membathin, kali ini khayalannya telah dipenuhi bayangan indah penuh bunga dan warna.


"Ada apa? sepertinya kau terlihat kaget dengan kehadiranku ...?"


Marina terhenyak.


Sepenggal kalimat Arshlan telah membuat lamunannya buyar.


Marina tersenyum gugup. "Oh, itu ... itu karena aku tidak menyangka Tuan akan kembali secepat ini ..."


"Perjalananku batal, karena klien yang ingin kutemui memilih datang menemuiku langsung."


"Oh ..." Marina mengangguk takjub mendengar penjelasan singkat itu.


'Sulit dipercaya ... ini adalah kebetulan yang langka ...'


"Aku akan masuk untuk mandi dan beristirahat sebentar dikamar. Malam nanti aku harus menghadiri dinner penting dengan seorang klien juga ..." pamit Arshlan yang disambut Marina dengan anggukan.


"Silahkan, Tuan." Marina menunduk takjim, membiarkan langkah Arshlan terayun kedalam rumah mendahului dirinya.


Belum ada lima langkah Arshlan berlalu, sebuah pemikiran telah melintas dibenak Marina begitu saja.


"Egh, T-Tuan Arshlan ..."


Langkah Arshlan terhenti. Pria gagah itu terlihat berbalik menatap penuh kearah Marina, sang mertua, yang kalau dilihat dari umurnya bahkan lebih muda beberapa tahun dari umur Arshlan.


"Tuan, apakah ... Tuan tidak membutuhkan sesuatu?"


Alis Arshlan terlihat mengerinyit jelas.


"Mmm ... maksudku, apakah anda tidak membutuhkan sesuatu, seperti secangkir kopi mungkin?"


Arshlan terlihat berdiri seolah masih memikirkan sesuatu dan menimbangnya, namun Marina tidak ingin membuang kesempatan emas miliknya.


'Kapan lagi aku bisa menguasai waktu pria menawan ini? kalau ada Lana, maka aku tidak punya kesempatan sama sekali. Sekarang lah saatnya aku menunjukkan pesonaku ...'


"Biasanya Lana yang menyiapkan segala sesuatu, tapi saat ini Lana kan sedang tidak berada dirumah dan ..."


"Benar juga. Sepertinya aku memang butuh secangkir kopi." pungkas Arshlan.


"Aku bisa membuatnya untukmu, Tuan."


"Tidak, tidak usah repot-repot ..."


"Membuat secangkir kopi tidak akan merepotkan aku sama sekali. Tuan tidak usah sungkan, akan aku buatkan secangkir kopi yang enak untukmu."


Setelah berucap demikian, Marina dengan bergegas beranjak dari sana secepatnya agar Arshlan tidak lagi memiliki kesempatan untuk menolak perhatiannya.


🍄🍄🍄🍄🍄


Tok ... tok ... tok ...

__ADS_1


Marina mengetuk pintu kamar Arshlan sebanyak tiga kali, namun tak ada respon yang ia dapat.


Tok ... tok ... tok ...


Marina mengulanginya lagi, namun lagi-lagi tak ada respon berarti.


Dengan nekad Marina menyentuh gagang pintu, membuat gerakan membuka dan ...


Ceklek.


Tak disangka pintu kamar tersebut ternyata tidak terkunci.


Marina memberikan diri masuk kedalam kamar yang selama ini diam-diam membuatnya sangat penasaran, dengan nampan berisikan secangkir kopi ditangan.


Seluruh ruangan itu dipenuhi harum aroma oceanic yang terkesan maskulin khas wangi aroma tubuh Tuan Arshlan. Wanginya langsung menyapa indera penciuman Marina, begitu menggoda.


Kamar itu begitu luas, dengan nuansa hitam putih yang elegan.


Penampakan ranjang dengan ukuran super besar yang berada ditengahnya, sanggup membuat titik sensor sensitif Marina berdenyut tak sabar, menanti moment dimana dirinya akan bergulat dengan Arshlan diatas sana.


Marina baru saja menaruh nampan berisi secangkir kopi keatas meja, dengan satu set sofa minimalis yang mengelilinginya, manakala bunyi pintu kamar mandi yang terbuka membuat Marina refleks menoleh dan ...


'Oh my ...'


Dunia Marina terasa oleng dalam sekejap mendapati pemandangan maha sempurna dihadapannya.


Bagaimana tidak?


Disana, tepat didepan pintu kamar mandi, Tuan Arshlan sedang berdiri tegak dengan tubuh yang hanya terbalut bathrobe.


Tetesan air bahkan masih ada yang bergelantungan di ujung helai rambut pria itu, sementara dadanya yang sedikit terbuka menampakkan pemandangan yang sangat memabukkan. Bidang ... keras ... basah ... dengan hamparan bulu yang menyerupai padang ilalang ...


Jantung Marina berdebar tak karuan, tubuhnya bereaksi seperti orang gila, membuat Marina harus menahan kegelisahan hasratnya yang sedang mendamba, ingin menyentuh dan disentuh oleh seorang Tuan Arshlan yang gagah perkasa!


"Tuan, ini secangkir kopi untukmu. Maafkan aku yang telah lancang masuk kekamar karena menyadari pintu kamar yang tidak terkunci."


Arshlan terlihat berdiri linglung menatap Marina, yang tiba-tiba hadir didalam kamarnya masih dengan rambut yang sengaja dibiarkan tergerai, serta tubuh yang kini telah terbalut piyama yang menerawang.


"Sebelumnya aku telah berusaha mengetuk beberapa kali tapi ..."


Marina terdiam, berdiri mematung tanpa kata, namun bola matanya tak pernah lepas dari gerak tubuh Arshlan.


Dan bertepatan dengan Arshlan yang menghirup kopi hitam yang terasa nikmat dengan takaran yang sangat pas, degup jantung didalam dada Marina seolah ikut bersalto ria.


"Ternyata ... anda sangat mahir meracik secangkir kopi." puji Arshlan sambil menyentuh pelipisnya sedikit, namun detik kemudian kembali menyeruput nikmat kopi tersebut.


Kali ini Arshlan tidak sekedar memuji, karena racikan kopi yang dibuat Marina memang sangat pas dengan seleranya.


"Untuk orang yang spesial seperti Tuan, aku akan memastikan untuk membuat yang spesial juga." Marina memberanikan diri menghempaskan tubuhnya tepat disisi Arshlan yang terlihat mulai gelisah, usai menyesap kopi yang nyaris tandas.


Menyadari Arshlan yang terlihat semakin resah membuat jemari Marina terangkat dengan berani, guna menyentuh permukaan kulit dada Arshlan yang keras.


"Kau ... apa yang kau lakukan ..."


"Tuan, aku sangat mengagumimu. Sejak awal, sejak empat tahun yang lalu. Aku sungguh sangat bersabar menunggu hari ini tiba ..."


"Kau ... kau ... tidak mungkin ..." Arshlan menggeleng, berusaha mengendalikan hasratnya yang tiba-tiba terpicu untuk mencari pelampiasan.


"Tuan Arshlan sayangku ... milikilah aku malam ini, lakukan semua yang ingin kau lakukan. Lampiaskan hasratmu didalam diriku, karena mulai hari ini dan selamanya, aku adalah milikmu ..."


Sepasang bola mata Arshlan membeliak lebar, mendapati ucapan Marina yang dibarengi dengan gerak jemari yang menarik simpul piyama miliknya hingga terlepas, membuat sebagian besar tubuhnya terekspos nyata.


"Kau tidak tahan melihatnya kan sayang?" rayu Marina, semanis madu.


Marina tersenyum saat menyaksikan jakun Arshlan yang mulai turun naik tak beraturan.


"Jangan menahannya, sayang, aku tau persis bahwa sekarang kau sangat berhasrat untuk bercinta dan menggila ..."


"Marina, kau ... apa yang kau lakukan? kenapa tubuhku seperti ... oh sh it, kopi ini ...beraninya kau mengerjaiku dengan kopi ini?" Arshlan melotot kearah Marina, namun bukannya ciut Marina malah tertawa kecil saat menyadari deru nafas Arshlan yang terdengar semakin memburu dan mulai tak terkendali.


Gestur tubuh kekar pria itu pun semakin terlihat gelisah, kedua tangan Arshlan bahkan telah meremas permukaan bathrobe-nya sendiri seolah menandakan jiwanya sedang bertengkar didalam sana antara bertahan untuk terus mengendalikan tingkat kesadarannya yang semakin menipis, atau mengikuti pijar gai rah yang telah menguasai dan mendominasi.

__ADS_1


"Marina, jangan lakukan ..." lewat sisa kesadarannya yang tersisa, Arshlan menangkap kedua tangan Marina yang hendak melucuti b r a miliknya.


Kemana perginya piyama Marina jangan ditanya, karena pakaian mini dan menerawang itu telah sejak tadi teronggok dilantai kamar yang dingin.


"Aku mohon, jangan Marina. Kasihanilah Lana ..." sepasang mata Arshlan bersinar memohon dengan sangat, seolah menjadi usaha terakhir dari pertahanan dirinya yang telah diperbudak hasrat oleh karena racikan kopi milik Marina yang bereaksi begitu cepat.


"Cih, kenapa aku harus mengasihani dirinya?"


"Karena dia putrimu ..." nafas Arshlan tersenggal.


"Dia bukan putriku. Apa sekarang kau puas setelah mendengarnya?" Marina terlihat melengos sambil tertawa mengejek.


"Marina, jangan mengada-ngada!"


"Aku tidak mengada-ngada! Lana bukan putriku! dia hanyalah anak yatim piatu penghuni panti asuhan yang tidak diketahui asal usulnya ...!"


Sejujurnya Arshlan tidak terkejut mendengarnya. Sejak awal ia telah mengetahui bahwa Lana memanglah bukan anak kandung Robi dan Marina, namun meskipun begitu Arshlan tak habis pikir, bagaimana bisa Lana tidak mendapatkan cinta Robi dan Marina sama sekali?


Lana yang malang ...


Kehadirannya untuk Robi dan Marina hanya dianggap sebagai benalu semata. Tidak lebih.


"Bagaimana, sayang ...? setelah mengetahui semuanya bahwa aku bukanlah ibu kandung Lana, dan Lana bukan putriku, apa semua itu bisa membuatmu tenang? apa sekarang kita bisa mulai bercinta ...?"


Mendapati Arshlan yang termanggu membuat Marina memiliki kesempatan untuk meloloskan dirinya dari cekalan tangan Arshlan.


Tanpa membuang waktu Marina naik ke pangkuan Arshlan dengan gerakan secepat kilat.


"Marina, hentikan ..."


"Aku tau kau menginginkan diriku ..." bisik Marina begitu intim.


Tubuh Marina bergerak ero tis, sementara kedua tangannya menangkup kedua pelipis Arshlan, bersiap melu mat bibir yang ia dambakan sekian lama.


"Katakanlah bahwa kau menginginkan aku, seperti juga aku yang sangat mendambakan dirimu ..."


"T-tidak ..."


"Katakan ..."


"Tidak. Marina, kau gila ..."


Marina malah tertawa mendengar umpatan Arshlan yang terlontar dengan nada suara yang semakin memberat.


"Marina, aku peringatkan dirimu. Kau akan menyesal ..."


"Tidak akan ..."


Arshlan menggeleng lemah, mencoba berkelit dari bibir Marina yang telah berjarak kurang dari lima centi diatas bibirnya. Sebelum kemudian ...


"Aaaaaaaa ...!!"


Teriakan Marina terdengar melolong panjang, seiring dengan rambutnya yang dijambak dengan kuat. Saking kuatnya, kepala Marina ikut tersentak kebelakang dengan keras.


"Dasar pela cur, tua ...!"


Sepasang mata Marina nyaris keluar dari cangkangnya mendapati umpatan kasar dari sosok yang telah berani menjambaknya dengan kasar, sehingga leher Marina terasa nyaris patah.


"K-kau ... k-kalian ..."


Marina semakin terkejut saat melihat Arshlan.


Pada detik yang lalu Arshlan terlihat sangat mabuk dan luar biasa bergairah, tapi kini pria itu telah berdiri tegak seolah tak terjadi apa-apa.


Arshlan bahkan tersenyum mengejek kearah Marina.


"Padahal sudah kuperingatkan sejak awal bahwa kau akan menyesal. Salah sendiri kenapa kau keras kepala ...!"


...


Bersambung ...

__ADS_1


Semoga votenya nambah. Amin ... 🙏


Ahahaha ... 😅


__ADS_2